Kamis, 13 November 2014

Jokowi Memang Harus Jadi “Pedagang” di KTT APEC






14158908471657551531
Presiden Jokowi ketika menyampaikan presentasinya di forum KTT APEC, Beijing, Tiongkok, Senin, 10 November 2014 (Kompas.com)

Apa yang terjadi jika ada politikus oportunis pragmatis membuat pernyataan yang menilai strategi bisnis luar biasa yang dilakukan oleh CEO kelas dunia? Jawabnya adalah terjadilah pamer ketidakcerdasan dan kekonyolan, yang membuat mual dan sakit perut orang yang mendengarnya. 

Melecehkan Pidato Jokowi di KTT APEC 

Itulah yang terjadi ketika kita mendengar pernyataan dari dua politikus masing-masing Mahfudz Sidiq dari PKS dan Desmond J Mahesa dari Partai Gerindra ketika mereka membuat pernyataan menilai pidato yang disampaikan oleh Presiden Jokowi di forum KTT  Asia Pasicif Economic Cooperation ( APEC) Economic Leaders’ Meeting,  Beijing, Republik Rakyat Tiongkok pada Senin, 10 November 2014.

Mahfudz Sidiq dan Desmond sama-sama mencela cara berpidato Jokowi yang dikatakan mengedepankan ekonomi ketimbang politik, yang hanya seperti sales marketing, penjaja atau pedagang produk Indonesia,  hanya mau gagah-gagahan, sok bisa bahasa Inggris, tanpa misi dan visi politiknya. 

Mahfudz menilai misi pemasaran Presiden Jokowi di forum KTT APEC di Beijing itu minim visi politik karena seharusnya menyatakan juga visi dan sikap politiknya yang mendasari semua tawaran kerjasama ekonomi dan investasi.

“Misalnya poros maritim dari politiknya bagaimana. Garis kebijakan yang harus dinyatakan agar kedaulatan NKRI tetap terjaga dan dihormati,” kata Mahfudz.
Dia sangat menyayangkan kesempatan yang ada di forum resmi maupun tidak resmi di APEC tidak digunakan Jokowi untuk menyampaikan dan menegaskan visi dan sikap politik Indonesia.

“Tawaran kerja sama dan investasi dengan para aktor besar dan presentasi di forum CEO lebih gambarkan visi presiden sebagai marketing officer,” cela Mahfudz (antaranews.com).

Yang lebih melecehkan adalah Desmond J Mahesa (Gerindra). Dengan nada sinis Desmond merendahkan nilai pidato Jokowi di forum KTT APEC itu. Kata dia, “Mengomentari penampilan Jokowi, saya sulit sekali karena yang tampil itu sebagai Presiden atau Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal)?” 

Desmond menuturkan, dibandingkan kepala negara lain yang lebih mengedepankan seremonial dan soal kebijakan (politik) luar negerinya, Jokowi justru lebih menekankan pada produk Indonesia. Kesannya, pidato seperti penjaja, pedagang barang,” imbuh dia, Rabu, 11 November 2014 di Gedung DPR.

“Apakah mendatangkan hasil untuk Indonesia atau tidak, ini ditunggu. Ini bukan forum gagah-gagahan dipuji karena bisa berbahasa Inggris,” ucap Desmond (Kompas.com).
Siapa yang tidak mual dan sakit perut mendengar pernyataan konyol dua orang politikus ini?

Jokowi Marketing Leader untuk Indonesia

Jelas-jelas APEC adalah forum internasional pertemuan para pimpinan negara-negara Asia Pasifik bersama dengan para economic leader untuk membahas kerjasama ekonomi di kawasan Asia Pasifik, kenapa harus mengedepankan atau membahas persoalan politik?
Jokowi itu berbicara di hadapan para economic leader, termasuk 1.500 CEO perusahaan multinasional. Mereka pasti tidak terlalu tertarik dengan kebijakan-kebijakan politik pemerintah, yang kerap dibahas dengan cara-cara normatif, seremonial, basa-basi, dan sebagainya itu.  Aneh sekali, Desmond kok malah bilang, seharusnya Jokowi lebih menampilkan politik seremonial? 

Para CEO di forum APEC itu sejatinya adalah para investor dan pengusaha kelas internasional. Otak investor, dan pengusaha itu di mana-mana pada intinya sama, yaitu tidak suka dengan segala hal yang sifatnya seremonial, normatif, birokratif, basa-basi, bertele-tele, dan seterusnya. Yang dicari dan yang dibutuhkan para investor itu adalah informasi yang tepat guna, yang langsung pada sasarannya mengenai peluang, kemudahan, prospek bisnis dan investasi, serta jaminan kepastian hukum mengenai kelangsungan investasinya itu di setiap negara.

Jadi, sungguh sangat tepat cara Jokowi tampil dengan presentasinya itu. Ya, sebenarnya, lebih pas pidato Jokowi itu, disebut sebagai presentasi. Yaitu, presentasi tentang peluang investasi di Indonesia, daripada sebuah pidato, yang disampaikan pada waktu dan tempat yang sangat tepat. Jokowi sendiri beberapa kali mengatakan bahwa yang disampaikan itu adalah “my presentation”.

Untuk itu Jokowi perlu tampil sebagai seorang marketing leader bagi negaranya sendiri,  yang memasarkan peluang investasi dan bisnis berskala internasional di Indonesia kepada para investor asing. Di KTT APEC, Beijing itu mereka semua berkumpul, dan di sanalah waktu itu Jokowi menyampaikan presentasinya. Benar-benar mengena pada sasarannya.
Beberapa kali Jokowi mengatakan: “This is your opportunity” kepada para CEO dari 1.500 perusahaan raksasa dunia itu. Jelas Jokowi bermaksud menekankan kepada para CEO itu bahwa saat ini Indonesia adalah negara yang sangat tepat dan sangat besar prospek investasinya karena segera akan membangun beberapa proyek raksasa sesuai dengan program pemerintahnya. Di antaranya, pembangunan sejumlah bendungan, pelabuhan kapal laut berbagai ukuran, bandara, pusat pembangkit tenaga listrik, rel kereta api, dan proyek tol laut yang menghubungkan dengan  secara berkesinambungan ujung barat Indonesia sampai dengan ujung timur Indonesia. 

Kendala-kendala yang selama ini menjadi momok para investor asing di Indonesia, seperti masalah perizinan yang bertele-tele (dipersulit), pembebasan lahan, infrastruktur, pungli dan sebagainya dijamin tidak bakal ada lagi. Soal perizinan, misalnya, Jokowi jamin dalam tiga hari sudah bisa diselesaikan.

Jadi, “Saat inilah peluang besar paling menguntungkan bagi anda semua untuk berinvestasi di Indonesia! Kami tunggu kedatangan anda!”  Itulah yang Jokowi tekankan untuk meyakinkan kepada para CEO internasional itu pada presentasinya itu.
Untuk memasarkan Indonesia dengan strategi yang tepat guna (efektif dan efesien) kepada para CEO perusahaan-perusahaan multinasional diperlukan juga CEO pemasaran kelas dunia, itulah dia Jokowi. Jokowi adalah CEO Marketing  Indonesia.

Dunia Investor Mengapresiasi

Rupanya bagi Desmond J Mahesa seorang Presiden tidak pantas melakukan penawaran investasi langsung ke dunia seperti yang disampaikan oleh Jokowi. Menurut dia itu sesuatu yang merendahkan dan memalukan, kok Presiden jadi seperti pedagang? Padahal justru komentarnya itu yang sangat memalukan, bikin orang mau muntah. Karena Presiden yang berpikiran ala seorang pebisnis dalam menjalankan roda perekonomian negara saat ini adalah yang paling diperlukan. 

Politik memang perlu untuk stabilitas negara, tetapi dalam keadaan negara normal, justru ekonomilah yang harus dikedepankan, rakyat harus diberi cukup pangan dan papan, sejahtera, dan makmur terlebih dulu, dengan demikian stabilitas politik negara pasti akan menjadi sangat kuat. Negara yang telah mencapai posisi demikian, pasti akan semakin maju lagi ekonominya, demikian juga dengan politiknya, pertahanan negaranya, dan sebagainya, yang akan menempat posisinya sebagai negara besar yang disegani. Untuk mencapai semua itu, pimpinan suatu bangsa dan negara harusnya seorang yang mempunyai jiwa penguasaha, yang rela menjadi marketing leader bagi negaranya.

Pidato atau presentasi Jokowi itu sangat diapresiasi para CEO dunia yang yang hadir di sana. Begitu Jokowi selesai menyampaikan presentasinya itu, mereka semua melakukan standing ovation. Kemudian ketika Jokowi hendak meninggalkan ruangan, mereka justru terlihat berebutan memotret dan mengajak selfie bersama Jokowi. Itu artinya mereka benar-benar tertarik dan menghargai apa yang baru disampaikan Jokowi tersebut. Mereka merasa menemukan apa yang selama ini yang betul-betul mereka cari. 

APEC juga mengunggah lengkap presentasi Presiden Jokowi itu di akun resmi mereka di YouTube.

Sedangkan di Indonesia IKADIN dan Apindo yang note bene terdiri dari para pelaku ekonomi skala besar/raksasa juga merasakan adanya angin segar iklim investasi yang dihembus oleh Jokowi dari Beijing itu. Mereka memuji pidato Jokowi itu sebagai pidato yang bagus, singkat, jelas, dan langsung ke sasarannya. Sesuatu yang sesuai dengan sifat dasar para pengusaha dan investor yang tidak suka dengan hal-hal yang seremonial semata, yang bertele-tele, lamban, terlalu birokratis, terlalu banyak basa-basi, normatif, dan sebagainya.

Maka itu sangat aneh luar biasa, presentasi Jokowi yang diapresiasi sampai sedemikian rupa di APEC, dan banyak kalangan itu justru dilecehkan oleh Mahfudz Sidiq dari PKS  dan Desmond J Mahesa dari Gerindra itu. Kelihatannya hanya dari para hater Jokowi. Bagi orang-orang ini, apa pun yang dilakukan Jokowi, harus dicela.

Presiden sebagai Marketing Leader

Tidak heran, bahkan seorang tokoh manajemen perubahan nasional sekaliber Rhenald Kasali pun sampai tak tahan, ketika diminta pendapatnya terhadap pernyataan Desmond J Mahesa yang dengan sinis menilai pidato Jokowi di APEC itu hanya seperti seorang pedagang penjaja barang saja itu.
“Kalau membuat pernyataan itu hendaklah cerdas!” komentar Rhenald singkat di TV Berita Satu, Rabu malam, 12 November 2014,  ketika diminta pendapatnya tentang pernyataan Desmond itu.

Rhenald Kasali yang malam itu tampil di acara diskusi TV Berita Satu dengan judul “Marketing Jokowi di APEC” bersama Ketua Umum KADIN Suryo Bambang Sulisto itu justru memuji gaya dan cara Jokowi menyampaikan presentasinya menawarkan peluang investasi di Indonesia kepada para CEO dunia itu. 

Rhenald mengatakan bukan sesuatu yang aneh, bahkan sudah seharusnya seorang Presiden pun menjadi marketer untuk perekonomian negaranya. Dia lalu mencontoh Bill Clinton, yang ketika masih menjadi Presiden Amerika Serikat pun ikut turun tangan langsung untuk memasarkan pesawat Boeing, ketika perusahaan pembuatan pesawat terbang raksasa milik negara itu mengalami kesulitan bersaing dengan Air Bus. 

Bill Clinton, kata Rhenald, ketika menjadi Presiden AS pun menyatakan selalu siap menjadi pemasar produk barang dan jasa dari negaranya ke seluruh dunia.
Lalu, saya juga teringat dengan apa yang pernah dilakukan oleh Presiden AS yang lain, yang saat ini masih sebagai Presiden AS, Barrack Obama. Yang juga memposisikan dirinya sebagai marketing investasi bagi negaranya yang nota bene adalah negara yang paling maju ekonominya sampai saat ini.

Pada 18 November 2011, di sela-sela KTT APEC di Bali,  dilakukan penandatangan perjanjian Boeing Co dengan Lion Air untuk pembelian 230 unit pesawat Boeing 737 senilai 21,7 miliar Dollar AS. Ini adalah rekor transaksi pembelian pesawat terbesar dalam sejarah Boeing. Pembelian pesawat sebanyak itu juga dengan sendirinya akan menyerap banyak tenaga kerja di AS. Presiden Obama sampai merasa perlu tampil ikut serta menyaksikan penandatangan perjanjian tersebut, dan dalam pidatonya dia ikut mempromosikan peluang investasi di negara-negara Asia Pasifik.

“Penandatangan ini merupakan contoh hebat peluang perdagangan, investasi dan komersial di kawasan Asia Pasifik. …Beberapa hari terakhir, saya berbicara tentang bagaimana memastikan kehadiran kami di wilayah ini, yang dapat langsung berkaitan dengan lapangan pekerjaan di negara kami,” kata Obama dalam pidatonya itu.

Perjanjian ini menurut Obama akan melahirkan banyak kesempatan kerja baru bagi warga AS. “Dan apa yang kita lihat di sini, kesepakatan bernilai miliaran dolar antara Lion Air, salah satu maskapai penerbangan dengan pertumbuhan tercepat tidak hanya di wilayah ini, namun di dunia, dan Boeing, akan menciptakan lebih dari 100.000 lapangan kerja di Amerika Serikat untuk jangka waktu panjang.”

“Inilah contoh bagaimana kami mencapai tujuan jangka panjang yang saya tetapkan termasuk meningkatkan dua kali lipat ekspor Amerika Serikat dalam beberapa tahun mendatang,” kata Obama mempromosikan peluang bisnis dan investasi di negaranya (BBC.co.uk).

Jadi, Desmond dan Mahfudz Sidiq  harus tahu bahwa bukan hanya Presiden Jokowi, tetapi Presiden Bill Clinton dan Presiden Obama pun pernah menjadi – meminjam istilah Desmond ketika melecehkan Jokowi – semacam kepala Kepala BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), penjaja, dan pedagang produk AS.

Ekonomi Harus di Depan Politik, Bukan Sebaliknya

Rhenald Kasali di artikelnya yang berjudul Penakut Tak Akan Pernah Melakukan Perubahan (Pointingonline.com), antara lain menulis:
Lima belas tahun yang lalu, salah seorang Emir terkemuka dari Uni Emirat Arab, Sheikh Muhammad Makhtum al Makhtum pernah berujar: “Ekonomi itu ibaratnya kuda, sedangkan politik adalah keretanya”. Baginya, Dubai menjadi besar karena ekonominya berada di depan politik. Di Indonesia kita justru menyaksikan pertunjukan sebaliknya, kuda di pacu agar bisa berlari kencang di taruh dibelakang kereta bak tukang sate mendorong gerobaknya. Alih-alih berlari cepat, kuda menjadi liar dan tabrak kanan – kiri. Ibarat kuda mabuk.

Kemudian, di sebuah artikelnya yang berjudul Bukan Singa yang Mengembik (Koran Sindo, Sabtu, 7 Juli 2014), Rhenald antara lain menulis:
Ekonomi, Bukan Politik

Kata Sheik Rashid, “Kami harus bekerja keras dan bekerja cepat. Supaya bisa bekerja cepat, kami harus bisa membangun sistem yang simpel dan berpikir simpel.” Itulah program transformasi yang diusung oleh para sheik tersebut. Dalam program transformasinya, Sheik Rashid mengedepankan ekonomi, bukan politik. Dia percaya bahwa untuk bisa berpolitik secara beradab, masyarakatnya harus sejahtera terlebih dulu. Bukan dibalik, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, politik harus berada di depan. Di UEA, kita bisa melihat hasilnya.

Dua puluh tahun setelah pertemuan tersebut, UEA–yang kini terdiri dari tujuh negara bagian–menjadi salah satu negara yang paling sejahtera di kawasan Timur Tengah. Ketika negaranegara lain di kawasan tersebut diguncang oleh gelombang Arab Spring, UEA tetap tenang karena rakyatnya sejahtera, sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang monumental. Di antaranya Burj Khalifah, yang saat ini menjadi gedung tertinggi di dunia. UEA juga berhasil mentransformasi bisnis negaranya yang semula mengandalkan minyak dan gas menjadi lebih mengedepankan bisnis jasa.

Kini, bisnis wisata tumbuh subur di sana. Maskapai penerbangan mereka, Emirates Airlines, pada tahun 2013 menempati peringkat pertama The World The Worlds Best Airlines versi Syktrax. Padahal tahun sebelumnya masih menempati peringkat ke-8. Saat ini UEA juga tengah membangun mal terbesar di dunia, Mall of The World, yang luasnya mencapai 4,4 juta meter persegi. Para sheik itu adalah singa yang berada di kumpulan kambing jinak.

Tapi mereka tetap mengaum, bukan mengembik. Kita baru saja menjalani siklus lima tahunan dengan memilih pasangan presiden dan wakil presiden. Belum ada pemenang resmi. Meski begitu bolehlah sejak sekarang kita menaruh harapan, kelak pemimpin kita dapat menjadi singa-singa berhati mulia yang mampu membuat sejahtera negaranya. Bukan sebaliknya. Juga bukan keledai berbulu singa, atau singa yang mengembik.

Mungkin Mahfudz Sidiq dan Desmond J Mahesa belum membaca dan paham filosofi dari artikel-artikel Rhenald Kasali ini, sehingga sampai hari ini mereka masih saja berprinsip bahwa politiklah yang harus di depan ekonomi, bukan sebaliknya. Padahal fakta dunia sudah terlalu banyak membuktikan bahwa itu salah. Seharusnya: Ekonomilah yang di depan politik, bukan sebaliknya.

Singa yang disebut Rhenald Kasali di artikel  itu maksudnya adalah orang yang harus mempunyai karakter seperti singa, yang selalu fokus, dan agresif dan mengejar mangsanya. Karena hanya berkarakter demikian setiap manusia akan selalu fokus, dan mati-matian dalam mengejar cita-citanya dan berupaya sekeras-kerasnya untuk keluar dari setiap masalah yang datang. Bukan seperti singa yang mengembik, yaitu mereka yang punya sebenarnya potensi untuk menjadi orang besar, tetapi hanya selalu mencari aman, selalu berkelompok di zona nyaman, saling melindungi satu dengan lain.

Sebab kalau disuruh Indonesia harus menjadi macan Asia, atau bahkan macan dunia, itu Jokowi tidak setuju. Menurutnya janganlah kita menjadi macan, karena akan membuat banyak orang yang takut dan menjauh dari kita. Tetapi yang benar adalah kita harus bisa menaklukkan macan itu, sehinga dia bisa menjadi sahabat dan mitra kita. *** 


by Daniel H.t, Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009





Artikel berita terkait:
http://sp.beritasatu.com/home/jokowi-tegas-kepala-negara-apec-termasuk-obama-kaget/68805



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar