Selasa, 18 November 2014

Sains dan Agama Perlu Diintegrasikan



Sains dan agama perlu diintegrasikan, sehingga menghasilkan konsep yang mampu memberikan kontribusi untuk penyelesaian permasalahan kemanusiaan.
"Sebenarnya banyak solusi yang ditawarkan sains dan agama untuk kemanusiaan, tetapi keduanya tidak diintegrasikan sehingga belum diperoleh konsep-konsep yang kontributif untuk solusi persoalan yang ada," kata dosen Program Studi Agama dan Lintas Budaya Sekolah Pasacasarjana UGM Syamsul Ma'arif di Yogyakarta, Selasa (18/11).

Menurut dia, ilmu pengetahuan dan agama telah lama diklaim sebagai dua pendekatan yang paling otoritatif dan berpengaruh dalam menawarkan solusi terhadap masalah-masalah kemanusiaan. "Dalam sejarah, keduanya telah berkompetisi untuk saling mengungguli dan mengklaim kebenaran untuk mereka sendiri. Hubungan antar-keduanya telah tampak dalam 'wajah permusuhan'," katanya.

Untuk itu, kata dia, Sekolah Pascasarjana UGM menyelanggarakan "the 6th International Graduate Students and Scholars' Conference in Indonesia" (IGSSCI) dengan tema "Science, Spirituality and Local Wisdom: Multi-Approaches to Current Global Issues" di Yogyakarta, 19-20 November 2014.

"Konferensi itu akan dihadiri sebanyak 100 akademisi dari berbagai disiplin ilmu yang berasal dari 12 negara di Eropa, Amerika, Australia, dan Asia," kata Syamsul yang juga Ketua Steering Committe IGSSCI.

Menurut dia, dalam konferensi itu para peserta akan mempresentasikan hasil penelitian terkait ilmu pengetahuan, agama, dan kearifan lokal. Mereka akan mempresentasikan makalah dalam 15 panel paralel, tiga sesi panel, dan satu sesi panel spesial.

"Keseluruhan panel akan merefleksikan pendekatan sains, agama, dan kearifan lokal dalam merespons persoalan dalam berbagai tema seperti pertanian, ekonomi, politik, terorisme, korupsi, lingkungan, bencana, industri, teknologi, dan kemiskinan," katanya.

Ia mengatakan konferensi itu akan menghadirkan sejumlah pembicara di antaranya Sudarmadji (UGM), Yunita T Winarto (UI), Noer Fauzi Rohman (IPB), Haidar Bagir (Globethics), dan Steven Dovers (ANU, Australia). Selain itu, Lawrence Surendra (University of Mysore, India), M Hosein Mohktari (Iran), Gerryu Van Klinken (Belanda), dan Rebakah Dako (Cornell University, AS).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar