Selasa, 18 November 2014

Kisah Ibunda Nabi Musa



Dia seorang ibu. Seperti ibu lainnya, ia menyayangi anaknya. Namun, yang membedakan, anaknya lahir ketika penguasa tiran tidak mengizinkan anak laki-laki untuk hidup. Dialah Yokhebed, ibunda Nabi Musa AS.

Ketika Nabi Musa lahir, ibunya begitu mengkhawatirkan keselamatannya. Apalagi saat itu Firaun tengah mencari anak-anak lelaki bani Israil dan membunuhnya. Lalu Allah berfirman dalam Alquran soal kisah ini, “Dan kami beritahu ibu Musa,” Susui dia, dan apabila kami khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke Sungai Nil. Dan janganlah kami khawatir dan bersedih hati, karena sesungguhnya kami akan mengembalikan kepadamu, dan menjadikannya sebagai salah satu rasul,” Alquran Al-Qassas ayat 7.

Bila dibayangkan, bagaimana perasaan seorang ibu yang baru saja melahirkan lalu menempatkan anak itu ke sungai. Namun, keimanan dan ketaatanya kepada Allah, Ia memohon pertolongan Allah dan meminta perlindunganNya atas putra kecilnya. Allah banyak memerintahkan umat di dalam Alquran untuk senantiasa bertawakkal kepada Allah.

"Dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung,"
Alquran surah An-Nisa’ ayat 81. Serta dalam surah Ali- Imran ayat 159 disebutkan, "Kemudian apabila kamu telah membuat tekad, maka bertawallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang – orang yang bertawakal kepada-Nya".

Benar saja, bayi Musa ditemukan istri Firaun. “Maka dipungutlah ia (Musa)oleh keluarga Firaun yang akibatnya ia menjadi usuh dan kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Firaun dan Haman beserta tentaranya orang yang lalai. Lalu berkatalah istri Firaun, ia adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kami membunuhnya. Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kta atau kita ambil ia menjadi anak sedang mereka tidak menyadar” Alquran Surat Al -Qassas ayat 8-9.

Setelah diselamatkan istri Firaun, Allah lalu mengembalikan Musa kepada ibu kandungnya. Karena ibu Musa ditunjuk istri Firaun untuk menyusui Nabi Musa.

Dari kisah ini, Rasulullah pun terus meminta umat agar bertawakkal kepada Allah. Dari umar bin khathab, Rasulullah bersabda, “Andaikan kalian tawakal kepada Allah dengan sebenarnya niscaya Allah akan memberi rizki kepada kalian seperti memberi rizki kepada burung. Mereka pergi pagi dengan perut kosong dan pulang sore dengan perut kenyang," hadits riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad.

Adapun pengertian tawakal menurut Imam Ibnu Rajab, yakni kondisi hati yang benar-benar bergantung kepada Allah guna memperoleh maslahat dan menolak madharat dari urusan dunia dan akhirat dan menyerahkan semua urusan kepada-Nya. Meski demikian, tawakal bukanlah sebuah kepasrahan semata.

Perlu adanya usaha sebagai pengiring tawakal. Dalam kisah, Yokhebed pun meminta Miryam untuk mengikuti peti Musa. Meski telah tawakal kepada Allah atas keselamatan Musa, namun ia tetap berusaha meminta putrinya mengawasi peti tersebut.
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/14/11/17/nf5qvx-teladan-kisah-ibunda-nabi-musa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar