Senin, 08 Desember 2014

Pemilihan Ratu Jamu Gendong di Borobudur Dicatat di Muri



 


Ajang pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan Indonesia 2014 yang dihelat di pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tercatat di Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) sebagai kegiatan unik yang belum pernah terjadi di Indonesia maupun dunia.

Kontestasi yang diselenggarakan oleh perusahaan jamu PT Jamu Jago dan Pemerintah Kabupaten Magelang serta PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) ini bertujuan mencari sosok wanita yang masih “setia” menjual jamu tradisional Indonesia di tengah serbuan obat-obatan modern di pasaran.

Acara diawali dengan kirab seni dan budaya yang diikuti oleh ratusan seniman local Borobudur, seperti tari Jingkrak Sundang dengan beragam iringan musik tradisional khas yang riang gembira.

Mereka mengusung gunungan setinggi dua meter, yang terbuat dari rangkaian daun kelapa (janur) berwarna hijau menjadi bentuk stupa dengan instalasi berbagai bahan baku jamu, seperti jahe, kunir, kencur jeruk nipis, laos, dan serai.

Kirab dimulai dari Candi Pawon menuju pelataran Candi Borobudur yang berjarak sekitar satu kilometer. Sementara 22 wanita finalis pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan Indonesia 2014 menaiki andong atau delman kuda.

Mereka tampak anggun dengan tata rias khas Jawa dan pakaian kebaya, tidak lupa lambaian tangan dan senyum senantiasa tersungging menyapa ribuan masyarakat yang berderet di sepanjang jalan untuk menyaksikan prosesi tersebut.

“Belum ada kegiatan serupa yang pernah digelar baik di Borobudur maupun di Indonesia, bahkan di dunia. Kegiatan ini tercatat di Muri dengan kategori kegiatan unik," kata Senior Manager Muri, Paulus Pangka, seusai memberikan sertifikat Muri kepada penyelenggara kontestasi tesebut.

Direktur Utama PT Jamu Jago, Ivana Suprana, mengatakan, ajang ini sebetulnya sudah digelar sejak tahun 1980 silam. Namun, setelah itu vakum dan kembali digelar rutin mulai tahun 2008. Menurut Ivana, kontestasi ini merupakan wujud partisipasi aktif untuk melestarikan jamu tradisional Indonesia, serta merupakan upaya untuk terus menggalakkan budaya minum jamu di masyarakat, terutama di kalangan generasi muda.

“Jamu adalah warisan budaya Indonesia yang harus dipertahankan dan dilestarikan. Terbukti, relief di Candi Borobudur ada yang menggambarkan budaya minum jamu. Karenanya, grand final kami helat di candi ini," ungkap Ivana.

Dia menjelaskan, sebanyak 22 finalis merupakan hasil penyaringan dari peserta audisi yang berjumlah 707 orang. Audisi digelar di tujuh kota, yakni Jakarta, Bogor, Bandung, Cikampek, Cirebon, Semarang, dan Solo, sejak Agustus hingga Oktober 2014. Finalis pemilihan Ratu Jamu Gendong berusia 18-35 tahun, sedangkan Jamu Gendong Teladan berkisar 35-55 tahun.

“Harapan kami, setelah ajang ini, para penjual jamu gendong semakin bersemangat berjualan. Profesi ini sangat luhur karena menjual jamu sekaligus melestarikan warisan budaya nenek moyang bangsa. Usaha mereka juga menjadi promosi jamu kepada pasar domestik dan mancanegara," kata Ivana.

Setelah melalui serangkaian penilaian, terpilih sebagai Juara I Ratu Jamu Gendong 2014 adalah Citra Wahidatul Janah (21) berasal dari Purworejo, Jawa Tengah; dan Juara II adalah Siti Lestari (19) berasal dari Bandung, Jawa Barat. Sedangkan predikat Jamu Gendong Teladan Indonesia 2014 direbut Eka Sulastri (36) asal Garut, Jawa Barat; Sukati asal Bogor; Timinah (Bekasi); dan Eri Nurlaela (Surabaya).

“Selama dua tahun ke depan mereka akan menjadi duta jamu Indonesia, mereka akan mendapat berbagai pembekalan dan pelatihan, termasuk dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” ucap Ivana.



====================================




Citra Wahidahtul Janah, asal Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, terpilih sebagai Ratu Jamu Gendong Indonesia 2014. Citra menyisihkan 10 finalis lainnya dari beberapa kota di Indonesia.

Perempuan berusia 21 tahun itu memikat hati dewan juri karena kepiawaiannya meracik aneka rempah-rempah menjadi jamu tradisional. Citra juga dinilai paling luwes tatkala menyajikan jamu racikannya kepada para konsumen.

Selain Citra, Eka Sulastri yang berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat, terpilih sebagai pemenang Jamu Gendong Teladan 2014 setelah menyisihkan 10 finalis dengan kategori yang sama. Eka dinilai paling telaten namun cekatan ketika menghaluskan aneka bahan tanaman seperti jahe, kencur, beras, dan daun-daunan untuk menjadi jamu.

Pada kategori ini, pengalaman serta dedikasi terhadap profesi penjual jamu gendong juga menjadi penilaian dewan juri.
“Saya tak menyangka bisa menjadi juara, rasanya senang dan bangga. Namun, di sinilah tantangan saya agar tetap melestarikan warisan nenek moyang,” kata Eka.

Perempuan berusia 36 ini mengaku mulai meracik jamu sejak umur 16 tahun. Selepas menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP), Eka langsung terjun untuk meracik jamu dan berbisnis jamu keliling hingga Bandung, Jawa Barat. Resep racikan jamunya diperoleh Eka dari keluarganya yang memang sudah berjualan jamu turun-temurun.

Grand Final Pemilihan Ratu Jamu Gendong dan Jamu Gendong Teladan Indonesia 2014 diselenggarakan di pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (7/12/2014).

Kontestasi ini diselenggarakan oleh perusahaan jamu PT Jamu Jago bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Magelang dan PT Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB). Direktur Utama PT Jamu Jago, Ivana Suprana, mengatakan ajang ini digelar sejak tahun 1980 silan. Namun setelah itu vakum dan kembali digelar rutin mulai tahun 2008.

Menurut Ivana, kontestasi ini merupakan wujud partisipasi aktif untuk melestarikan jamu tradisional Indonesia, serta merupakan upaya untuk terus menggalakkan budaya minum jamu di masyarakat terutama di kalangan generasi muda.

“Jamu adalah warisan budaya Indonesia yang harus dipertahankan dan lestarikan. Terbukti, relief di Candi Borobudur ada yang menggambarkan budaya minum jamu, karenanya grand final kami helat di candi ini," ungkap Ivana.

Para pemenang kompetisi ini, lanjut Ivana, akan menjadi duta jamu Indonesia. Mereka akan bertugas mempromosikan jamu sebagai obat tradisional asli Indonesia di acara-acara berskala nasional maupun internasional. Pihaknya berharap melalui kegiatan ini, masyarakat semakin mencintai jamu serta menghargai penjual jamu sebagai profesi yang luhur.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar