Jumat, 28 Agustus 2009

Nanjing, Kota yang Menghargai Sejarah

Kompas/Robert Adhi KSP
Nanjing adalah kota di China yang memiliki banyak tempat warisan budaya (heritage). Salah satunya adalah kawasan wisata Confucius Temple. Pada malam hari, tempat ini dipenuhi lampu warna-warni dan ramai dikunjungi wisatawan.



Nanjing (dahulu disebut Nanking) sudah dikenal sejak berabad-abad lalu. Nanjing adalah kota tua yang masih menyimpan banyak bangunan warisan sejarah (heritage) dan memiliki sejarah panjang. Nanjing, kini ibu kota Provinsi Jiangsu, China, merupakan pusat bisnis terbesar di kawasan timur China setelah Shanghai.

Banyak tempat warisan budaya di Nanjing. Hal itu membuktikan bahwa kota ini memiliki sejarah panjang sejak berabad-abad silam. Nanjing merupakan ibu kota dari enam dinasti China. Kaisar Sun Quan dari Dinasti Wu yang kali pertama menetapkan Nanjing sebagai ibu kota pada tahun 229. Setelah itu, Dinasti Jin menjadikan Nanjing ibu kota kerajaan (sekarang daerah itu bernama Jiankang). Kemudian Dinasti Tang, Dinasti Yuan, Dinasti Ming, dan Dinasti Qing menjadikan daerah Nanjing sebagai ibu kota kerajaan, pusat segala aktivitas.

Salah satu warisan Dinasti Ming di Nanjing adalah The City Wall of Nanjing (Nanjing Zhonghuamen). Kaisar pertama Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, membangun tembok kota itu selama 21 tahun dengan mengerahkan sekitar 200.000 tenaga kerja. Nanjing Zhonghuamen kini menjadi salah satu warisan budaya yang berusia lebih dari 600 tahun dan masih berdiri di kota ini. Tembok kota itu diyakini sebagai tembok kota terpanjang di dunia yang dibangun pada masanya. Ini menunjukkan pula bahwa Nanjing pada masa itu merupakan kota terpadat di dunia antara tahun 1358 dan 1425 dengan penduduk berjumlah 487.000 pada tahun 1400.

Nanjing juga menjadi bagian sejarah penting China karena pergerakan Revolusi Xinhai atau Revolusi 1911 yang menumbangkan Dinasti Qing (Manchu) dan mengakhiri kekuasaan Kaisar Puyi pada 12 Februari 1912, berawal dari kota ini. Dr Sun Yat-Sen, yang memimpin revolusi itu, menjadi presiden pertama Republik China pada tahun 1912 dan menetapkan Nanjing sebagai ibu kota negara.

Tahun 1927, partai nasionalis Kuo Min Tang pimpinan Jenderal Chiang Kai Sek menetapkan Nanjing sebagai ibu kota Republik China. Selama 10 tahun, Nanjing berperan sebagai ibu kota negara dan Presidential Palace menjadi pusat pemerintahan. Namun, simbol ibu kota berakhir bersamaan dengan datangnya serdadu Jepang yang melakukan pembantaian terhadap 300.000 warga Nanjing sejak 13 Desember 1937, selama enam pekan. Peristiwa itu disebut sebagai Nanjing Massacre. Pemerintah China membangun monumen untuk memperingati korban kejahatan perang.

Warisan budaya

Kota Nanjing seluas 6.598 kilometer persegi, 10 kali lipat luas Jakarta, memiliki banyak warisan budaya, baik peninggalan dinasti berabad-abad silam maupun peninggalan masa Revolusi Xinhai dan Republik China di Nanjing. Tempat-tempat warisan budaya itu hingga kini masih dipertahankan dan dirawat dengan baik. Situs-situs bersejarah itu menerangkan cerita masa lampau yang tetap layak dikenang. Salah satu yang dikunjungi Kompas adalah makam Dr Sun Yat-Sen, pendiri Republik China, penggerak Revolusi Xinhai yang menumbangkan kekuasaan Dinasti Qing.

Bapak China Modern ini makamnya mendapat tempat terhormat di kawasan Taman Nasional Zhonghan. Zhonghan adalah nama lain dari Sun Yat-Sen. Kini ada 40-an taman dengan nama Zhonghan di seluruh China. Pemerintah China menjadikan makam Sut Yat-Sen sebagai salah satu daerah tujuan wisata.

Masuk ke kawasan ini, pengunjung harus membayar 80 yuan. Suasana di kawasan Zhongshan Park sejuk karena tempat ini merupakan bagian dari taman nasional. Setiap hari ribuan orang datang ke sini, termasuk wisatawan asing dan orang-orang China perantauan. Saat menggerakkan Revolusi Xinhai, Sun Yat-Sen mendapat dukungan dari orang-orang China perantauan yang ada di Malaysia dan Singapura.

China memang sangat menghargai sejarah dan masa lalu. Makam Kaisar Hongwu dari Dinasti Ming merupakan warisan budaya yang berusia enam abad. Selain itu, kita juga dapat menemukan kekayaan budaya lainnya di Nanjing, yaitu Confucius Temple (Fuzimiao).

Warisan budaya peninggalan Dinasti Song ini dibangun di sepanjang tepi Sungai Qinhuai. Sekarang kawasan ini sangat hidup karena menjadi kawasan wisata. Pada malam hari, keindahan tempat ini sangat menonjol karena lampu-lampu warna-warni.

Fuzimiao, warisan budaya yang menjadi kawasan wisata, menjadi bagian dari masa kini. Nanjing juga dikenal sebagai kota pendidikan. Sejumlah universitas terkemuka, seperti Nanjing University, Southeast University, dan Nanjing Forestry University, didirikan di sini, sebagian besar dimulai tahun 1902.

Nanjing, kota tua yang memasuki masa modernisasi. Arus urbanisasi dari desa ke kota sangat deras. Gedung-gedung baru terus dibangun. Namun, Nanjing tetap menonjolkan harmonisasi, sesuai filosofi China klasik. Nanjing, kota yang tetap menghargai sejarah. Kebesaran bangsa China di masa lalu menjadi pemacu kemajuan bangsa ini di masa kini dan masa depan.

(ROBERT ADHI KSP dari Nanjing, China)

Jumat, 5 Desember 2008 | 13:28 WIB

http://www.kompas.com/readkotatua/xml/2008/12/05/1328112/nanjing.kota.yang.menghargai.sejarah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar