Rabu, 24 Juni 2015

US Open 2015 - Final Day: Game of Heartbreaks


by Amrie Noor - IGC Chief


"It wasn't supposed to end like that" - Shane Bacon, penulis/komentator.

       Jordan Spieth belum menikah. Apalagi jadi ayah. Usia masih 21 (lahir 27 Juli, 1993). Tahun 2012, dia mundur dari Universitas of Texas untuk mencoba peruntungan sebagai pegolf pro. What a great decision that was! Spieth, per 21 Juni 2015 sudah mengumpulkan duit sebesar USD $16,086,406 (belum termasuk kontrak iklan). Dari jumlah duit sebanyak itu, USD 1,8 juta dihadiahkan oleh Dustin Johnson dengan cara yang sangat spektakular. Konyol, tepatnya!

       Minggu sore waktu Seattle, di lubang 18 Chambers Bay, pada akhir ronde pamungkas US Open 2015, Dustin Johnson mempersembahkan hadiah terindah bagi Jordan Spieth dengan cara yang biasa dilakukan oleh para pegolf amatiran akhir pekan, 3 putt dari jarak 3.6 meter. Bedanya, kalo putting kita meleset hanya disaksikan 10 pasang mata (3 teman main + 4 kedi + 1 satpam + 2 ibu pencabut rumput yang kebetulan lewat), Dustin melakukan blunder disaksikan ribuan pasang mata spektator dan jutaan pasang mata pemirsa TV di seluruh dunia. Semua terkejut. Detik ketika putting keduanya dari jarak 90 cm untuk birdie dan memastikan playoff bergulir lemah di kiri lubang, lenguhan 'haaaaa?' serempak membahana di seantero jagat, naik ke langit, menyatu di stratosfir, kembali ke bumi menghunjam jantungnya. Jantung itu patah. Bukan hanya patah, tapi hancur berderai.

"That was probably the most shocking and unexpected thing I’ve ever witnessed in a major championship. His ball striking was so clutch, especially on #18, but his putting just wasn’t there at all for the final two rounds. If he made just 20 percent of the putts he missed inside of 10 feet this weekend, he would have run away with the championship" - Jessica Marksbury - GOLF Magazine Associate Editor.

       Sayang, golf bukan olahraga kalau. Dustin Johnson berusaha tegar. Usai bersalaman dengan Jason Day, sosok setinggi 1.92 m itu berjalan tegak ke arah Paulina, kekasih hatinya, putri mantan bintang hoki es Kanada, Wayne Gretzky. Dustin langsung menggendong putra mereka yang berusia 5 bulan, Tatum. Dalam wawancara, Dustin mencoba bersikap positif. Tapi kita tau betul perasaan hatinya. Walaupun ribuan level di bawah US Open, kita semua pernah merasakan kepiluan yang sama. Jika kesalahan kita berakibat kalah noceng alias duaratus rebu, kocek Dustin luput menerima duit ekstra sebesar USD 900.000 (Jordan meraup USD 1.8 juta; Dustin dan Louis Oosthuizen kebagian masing-masing USD 877.144). Duit barangkali mudah dicari ganti, tapi kecewa hati harus ditanggung sendiri. Bukan hanya itu. Label sebagai 'The Choker' akan terus menghantui, dan hanya akan hilang jika Mr. DJ mampu membuktikan bahwa dia bukan raja meti (menang tee off doang).

       Kisah sedih di hari Minggu di Chambers Bay ini bukan lah yang pertama bagi Dustin. Udah yang ke-4. Pegolf asal South Carolina ini (lahir di Columbia, 22 Juni 1984) memimpin hari ketiga US Open 2010 di Pebble Beach, California. Tekanan mental bikin dia kolaps dan main 82. Dua bulan kemudian dalam turnamen major PGA Championship di Whistling Straits, Wisconsin, Dustin yang sudah diambang juara, kena penalti 2 pukulan di lubang terakhir akibat klabnya menyentuh bunker. Tahun berikutnya dalam British Open di Royal St. George's, Kent, England, tee off cari aman pake iron 2 malah OB. Padahal Claret Jug hampir pasti jadi miliknya. Kenapa kok kayak sengaja bikin keok diri sendiri gitu, sih. Males pidato, kali, ya?

"Other than that (three putts), I had a damn good week. I'm happy with the way I played. I'm happy with everything in my game right now. I had a chance to win a major on a Sunday again" - Dustin Johnson.

       Saran gue buat Mr. Dust in the Wind: tingkatkan frekuensi latihan putting, dong. Coba cek statistik berikut. Pada 9 lubang terakhir, Dustin gagal putting dari jarak 180 cm di #10 dan #11, 210 cm di #12, 150 cm di #13, 270 cm di #16 dan yang paling menentukan nasib di #18 dari jarak 120 cm. Boleh saja menyalahkan green, kombinasi rumput jenis fescue dan poa annua yang diledek Henrik Stenson, serasa 'putting di atas broccoli' - hehe lucu nih komentarnya. Atau niru Billy Horschel yang mengomel panjang pendek di press room dan disiarkan ke seluruh dunia, merepet bilang dia kehilangan respek pada USGA (United States Golf Association) - lalu besoknya minta maaf pada jutaan penggemarnya. Menurut gue pegolf tanggung ini overestimasi dirinya sendiri - barangkali yang hafal tampangnya gak sampe ribuan.

       Terbukti Dustin Johnson lebih berkelas daripada si Horschel. Sedikitpun dia gak melempar tanggung jawab pada green yang anteng menunggu bola mendarat. Dia justru menyadari kelemahannya: "If I rolled the putter halfway decent today, I win this thing by a few shots. It's just how it goes. I did everything that I could. I tried my damndest to get in the hole. I just couldn't do it". Bikin kita makin empati. Lebih empati lagi jika tanpa 'kalau'.

       Saat Dustin pilu, Jordan sok kaget berusaha keras tampil termangu. Bisa aja lo, Spieth! Mayoritas penonton larut memuja ketangguhan mental Spieth dan nasib baiknya. Dustin Johnson, Louis Oosthuizen, Jason Day, Brendan Grace, dan Rory McIlroy berlalu tanpa sorotan kamera. Begitulah hukum alam semesta, racun bagi seseorang, madu bagi yang lain. Kemenangan ajaib Jordan Spieth ini memecahkan beberapa rekor penting dalam sejarah golf modern, dan melontarkannya masuk grup golf paling elite dalam usia yang masih belia. Dia menjadi manusia ke-6 yang menjuarai The Masters dan US Open dalam tahun yang sama. Sebelumnya: Craig Wood (1941), Ben Hogan (1951, 1953), Arnold Palmer (1960), Jack Nicklaus (1972), dan Tiger Woods (2002).

       Satu hal yang bikin pecinta golf di seantero dunia berdebar harap-harap cemas adalah fakta bahwa Spieth udah separo jalan untuk mencapai puncak takdir Ilahiah dalam golf, yaitu Grand Slam (menjuarai 4 turnamen major dalam tahun yang sama). Belum pernah satu pegolf pun yang mampu menggapainya. Ben Hogan nyaris. Tahun 1953, dia menjuarai The Masters, US Open dan British Open. Sayang saat itu British Open dan PGA Championship dilangsungkan pada minggu yang sama (bego banget, dah!). Tiger Woods pernah menyandingkan 4 piala major pada saat bersamaan, sayang kemenangannya gak terjadi dalam tahun yang sama (US Open 2000, British Open 2000, PGA Championship 2000, The Masters 2001). Sebagai kompromi, prestasi fenomenal itu dijuluki media, Tiger Slam.

       Can Spieth complete the unthinkable in the modern golf era, The Single-Season Grand Slam?

       Tentu bisa, tapi gak mudah, kecuali jika lawan-lawannya komit bikin hal-hal aneh kayak di Chambers Bay. Brendan Grace pake OB lah di #16. Louis Oosthuizen hari pertama main 7 over (3 hari berikut skornya: 11 under). Jason Day kena vertigo pula. Dustin Johnson? Gue harap dia segera membereskan kelemahan pada putting stroke, dan siap bikin repot lawan. Paling tidak dalam major terakhir PGA Championship yang akan kembali berlangsung di Whistling Straits.

       Khusus untuk Billy Horschel dan para pro pengeluh yang tidak pandai bersyukur, ingatlah pesan pendahulu kalian, Lee Trevino (juara US Open 1968, 1971). US Open adalah ujian terberat bagi para pegolf. Judulnya aja US Open, bukan Fluffy Duff Open. Kalian mestinya bersyukur, cari makan sambil menikmati hobi, memperebutkan hadiah total USD 10 juta. Dalam US Open 1975, ketika mendengar banyak pro komplen tentang kondisi lapangan, Trevino bersuara keras: "Untuk hadiah sebesar USD 150.000, gue rela disuruh tee off di aspal atau tanah lempung".

       Itu baru namanya mental juara!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar