Kamis, 12 November 2015

dr Andra meninggal saat mengabdi di desa terpencil....


Cerita lengkap dr Andra meninggal saat mengabdi di desa terpencil


Dokter muda Dionisius Giri Samudra meninggal dunia saat tengah menjalani internship (magang) di Puskesmas Dobo, Kota Tual, Maluku Tenggara. Dia meninggal setelah mengalami didiagnosis mengalami infeksi campak dan radang selaput otak.

Cerita kepergian Dionisius berawal dari demam tinggi yang dialaminya. Menurut dr Martin, dokter di RSUD Cendrawasih, dr Andra, sapaan Dionisius, mengalami demam sejak pulang dari Jakarta. Sekitar dua pekan lalu, dr Andra bersama dua temannya meminta izin untuk pulang.

dr Andra pulang menuju Jakarta dan mengaku tujuannya untuk memeriksa kesehatan. Tapi tak jelas pemeriksaan kesehatan apa yang dimaksud.

"Saya tidak jelas harinya, tapi dr Andra baru tiba di Ambon ke Jakarta. Di Ambon dia bertemu dengan dua teman internship-nya asal Manado. Mereka sama-sama memang janjian di Manado," jelas dr Martin saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (12/11).

Dia tak tahu berapa lama dr Andra dan dua temannya berada di Ambon. Tapi saat itu, dr Andra sudah dalam kondisi demam tinggi. Oleh dua temannya, dr Andra sudah diminta balik ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan. Namun dr Andra tak mau memilih melanjutkan perjalanan ke Dobo.

Dari Ambon dr Andra dan dua temannya terbang ke Tual dengan pesawat lebih kurang 1,5 jam lamanya. Entah berapa lama Tual, ketiganya kemudian melanjutkan perjalanan ke Dobo pada Sabtu sore menggunakan kapal feri yang memakan waktu 12 jam lamanya.

"Selama di Tual itu demamnya juga tidak turun. Di Dobo dr Andra dan dua rekannya tiba Minggu pagi pukul 7, saat itu temannya memutuskan membawa RSUD Cendrawasih langsung karena kondisinya sudah lemas dan demam makin tinggi. Badannya juga bintik kemerahan di seluruh tubuh, dan bicaranya mulai tidak jelas," beber dia.

Lalu apa yang terjadi?
Setibanya di RSUD Cendrawasih, dr Andra langsung dimasukkan ke ruang perawatan dan ditangani dr Riki. Kemudian, katanya, dia dihubungi. Malah hari Martin menyempatkan diri melihat ke sana, masih demam, badan juga bintik merah, tapi sudah bisa diajak bicara meski dr Andra tampak masih malas menjawab.

Saat itu, tambahnya, suhu badan dr Andra mencapai 40 derajat celcius. Saat itu, kecurigaan awal dokter, dr Andra mengalami infeksi campak. Kemudian diberikan penanganan biasa dari diberi obat penurun panas.

"Tapi malam jam 11 hari minggu dia sesak, dokter 24 jam kemudian memindahkan ke ICU, kondisinya tidak sadar penuh. Responsnya juga makin kurang kalau diajak komunikasi, kalau dipanggil buka mata tapi setelah itu tutup lagi. Panas terus tinggi, trombosit juga rendah, kita juga sempat curiga demam berdarah. Tapi setelah kita lakukan observasi dan dilihat dari gejalanya kesimpulan kita infeksi campak disertai komplikasi radang selaput otak," tambahnya.

Dokter di rumah sakit, tambahnya, berusaha melakukan penanganan. Tapi suhu badan dr Andra tak juga tak pernah turun. Malah, kata dia, kesadaran dr Andra semakin kacau. 

"Sampai akhirnya Selasa sore kemarin dia sempat mau pulih, mamanya telepon sempat jawab tapi tampak lemah, kita kita akan terus membaik. Tapi ternyata malamnya bukan semakin baik, cuma baik sebentar," ungkapnya.

Lalu apa bagaimana kondisi terakhir dokter Andra?

Kemudian, pada Rabu pagi kondisi dr Andra semakin kacau. Kesadaran makin menurun, dia memaksa mencabut infus dan sudah ingin pulang. Bahkan kondisi suhu badannya sempat sampai 42 derajat celcius, fungsi ginjal menurun, lever terganggu, paru-parunya menjadi tak stabil.

"Saat itu kita hubungi ayah dan ibunya di Jakarta. Kebetulan ayahnya dalam perjalanan ke Jakarta sudah tiba di Tual, tapi nunggu feri. Saya sampaikan kondisinya saya berusaha, saya bilang saya tidak setuju dirujuk karena kondisi kesehatannya makin menurun dan kalau mau dibawa terlalu lama, tapi kalau keluarga ngotot ya saya siap, karena kalau dibawa tercepat naik speed, itu pun maksimal sampai 4 jam, dengan kecepatan yang belum tentu penuh karena bawa orang sakit," jelasnya.

"Kita saat itu sudah komunikasi dengan semua, pemda siapkan speed, tapi kita bilang rujuk harus persetujuan orangtua, karena saya tidak berani takut kenapa-kenapa di jalan. Dan syukur orangtuanya mengerti dan minta kita berusaha menangani di sana," katanya.

Usaha terus dilakukan, sampai akhirnya dr Andra tak dapat tertolong dan mengembuskan napas terakhir Rabu malam pukul 18.18 WIT.

"Ayahnya Kamis pukul 5.55 WIT pagi tiba di Dobo, jenazahnya dibawa speedboat punya pemda ke Tual, rencananya besok (Jumat) pagi mereka langsung Jakarta lewat Ambon dengan pesawat carter," pungkasnya.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar