Minggu, 22 November 2015

Selfie

Apabila Narcissus (salah satu tokoh mitologi Yunani) mencintai refleksi dirinya melalui pantulan bayangan yang dihasilkan oleh permukaan air, kini, masyarakat kita tengah mengagumi dirinya melalui hasil visualisasi kamera.
Selfie adalah suatu kegiatan dimana individu mengambil visualisasi atas dirinya dengan memproduksi makna akan tubuhnya. Tubuh menjadi objek teknologi media global tanpa terasa (Raditya, 2014).  Hasil visualisasi tubuhnya pun dibagikan ke akun media sosial yang dimilikinya. Dengan alasan bahwa sang subjek seolah tidak ingin kehilangan setiap momen dengan cara memotong bagian tubuhnya agar menjadi populer di era media.
Berbagai macam ekspresi dan pose dirinya dengan latar berbeda-beda seakan menunjukkan bagaimana ‘seni’ visualisasi tubuh itu didefinisikannya.Tapi, mereka tidak sadar bahwa budaya selfie ini pun menjadi candu bagi mereka yang memiliki hasrat narsistik.
  
Lacan, membagi setiap fase perkembangan manusia dalam RIS (real, imajiner, simbolik). Menurut Lacan, pada saat memasuki fase cermin, mereka lantas  ditunjukkan sebuah bayangan yang diidentifikasikan oleh objek di luar dirinya. Kesannya bayangan tersebut adalah dirinya. Padalah, bayangan tersebut hanyalah citra dari luar dirinya yang terbelah-belah. Dari sini, individu mulai menandai dirinya, mengkonstruksi gambaran dirinya yang tidak nyata.
Mereka berusaha keras untuk sepenuhnya mengaktualisasikan kualitas hasratnya. Efek ini memberikan motivasi—yaitu, mereka selalu menanggapi keinginan untuk menjadi (want-of-being) (Bracher, 2009:33). Pada fase simbolik, subjek mulai menandai dirinya melalui bahasa. Dia mulai menyadari atas ke-liyan-an realitas sosial di luarnya.
Tidak ada satupun realitas sosial dan kediriannya yang tidak terjamah oleh penamaan kata-kata. Jalan masuk menuju bahasa dengan sifat simboliknya membuka celah antara kebutuhan akan ketercukupan menamai segala sesuatunya. Sekaligus juga, di sanalah terdapat kegagalan bahasa yang tidak pernah tuntas dijabarkan makna katanya. Kepuasan akan kecukupan pengetahuan itulah membuat celah-celah kemunculan hasrat terus-menerus dalam momen kehidupan (Storey, 2007:77).
Hal itu juga yang menjadi sumber budaya selfie. Mereka yang melakukan selfie seakan tidak pernah berhenti pada titik kepuasan. Mereka selalu mencari cara dan gaya baru dalam mengambil gambar yang menunjukkan eksistensi dirinya. Seolah-olah ingin merayakan altruismenya, foto tersebut tak sekedar berhenti untuk kepemilikan pribadi. Melainkan di-upload­ pada akun media sosial yang memberi ruang lebih menyebarnya budaya populer selfie ini.
Tidak hanya itu, handphone yang pada awalnya memiliki nilai guna sebagai alat komunikasi justru mulai menawarkan keunggulan dan kecanggihan kameranya bagi konsumennya. Melihat populernya budaya selfie ini, membuat rezim industri teknologi memanfaatkannya. Sehingga, handphone, gadget, tablet, dan laptop yang diproduksi sekarang tidak hanya memiliki kamera belakang sebagai konvensi sosial. Melainkan juga, sudah membubuhkan kamera depan agar memudahkan individu mengambil gambar dirinya dari segala sudut.
  
Dengan berselfie, seolah ada yang ingin mereka tunjukkan kepada penontonnya. Mereka hendak memanggil: “hey, lihatlah aku dengan polesan make-up”, “aku cantik bukan?” , “aku keren kan?", "fotoku memiliki nilai seni yang tinggi bukan?” dan lain-lain. Diri yang hendak mereka tunjukkan hanyalah sebuah partisi visual tubuhnya yang telah kehilangan makna otonominya. Meskipun di sana ada rasa kagum dan kenikmatan atas kehilangan diri yang sesungguhnya.  
Padahal, visualisasi tubuhnya itu adalah tipuan belaka, dan yang menontonnya juga sedang tertipu. Aksi tipu-tipu menjadi budaya yang terus direproduksi dari hari ke hari. Tubuh selfie dianggap lebih nyata dari tubuh aslinya. Tak ada lagi hak kepemilikan atas tubuhnya. Semua orang bisa menyentuhnya dan mengimajinasikannya secara tanpa batas. Ruang privasi atas tubuh menjadi tidak otentik dan esensial, karena dikaburkan oleh teknologi media yang rentan terhadap perubahan.    
  
Ada semacam pengakuan atas kebebasan atas gerakan tubuhnya. Ketika subjek menemukan satu ekspresi yang dianggap pas dan menarik, mereka tinggal langsung memencet tombol kamera. Klik, foto pun tersimpan otomatis. Tidak hanya sekali dua kali, tapi bisa puluhan kali berselfie. Siang-malam pun jadi. Makna waktu akan sesuatu yang produktif menjadi ambruk terkena efek budaya selfie yang remeh-temeh. Seperti yang dikatakan Baudrillard bahwasanya kita semua mudah tergoda oleh bayangan kita sendiri. Sebab, aktivitas itu menyenangkan kita dengan kematian eksistensi asusila yang sudah dekat (Baudrillard, 2000: 108).
  
Budaya selfie umumnya bertujuan untuk eksis, dalam arti tak ketinggalan jaman. Eksis menurut kamus bahasa adalah kata sifat yang berarti ‘ada’. Self dari potongan kata selfie merujuk pada diri sendiri. Dengan demikian, selfie berarti menunjukkan eksistensi diri. Apakah semakin sering orang melakukan selfie dan kemudian men-share sebuah gambar yang ia tandai sebagai dirinya justru akan menguatkan eksistensinya?
Eksistensi hanya muncul ketika seseroang memiliki kesadaran yang utuh akan suatu hal yang dilakukannya. Seperti yang dikatakan Descrates “Cogito, Ergo Sum”. Atau, berprinsip“Eligo, Ergo Sum” (“aku memilih, maka aku ada”) (Borgias, 2013). Tetapi, benarkah budaya selfie itu secara sadar dilakukan jika popularitasnya saja mulai menggema sejak merebaknya media sosial dan teknologi komunikasi mutakhir saat ini ? Bukankah semakin banyak selfie dilakukan semakin dia kehilangan penamaan atas diri dan tubuhnya sendiri ? Silahkan direnungkan !
Daftar Pustaka :
Baudrillard, Jean. 2000. BeRAHi. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Bracher, Mark. 2009. Jacques Lacan, Diskursus, dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Jalasutra.
M. Borgias, Fransiskus. 2013. Manusia Pengembara: Refleksi Filosofis Tentang Manusia. Yogyakarta: Jalasutra. Hlm.77
Storey, John. 2007. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar