Kamis, 12 November 2015

Pemimpin Muda dan Kemandirian Bangsa

Pemimpin muda sebenarnya bukanlah merupakan suatu hal yang sama sekali baru dalam dunia politik di Indonesia. Sudah banyak pula pemimpin-pemimpin muda yang pernah memimpin Indonesia. Jika kita kembali melihat potret sejarah yang terjadi di negeri ini, mak akan kita temui bahwa negeri ini selalu menampilkan sosok pemimpin muda yang mana memberi perubahan di Eranya masing-masing. Misalnya saja, presiden dan wapres pertama kita yaitu Soekarno-Hatta dengan usia muda 44 tahun dan 43 tahun telah menjadi proklamator kemerdekaan bagi negeri ini yang kemudian menjadi presiden dan wakil presiden kita. Belum lagi tokoh-tokoh yang sangat berjasa untuk negara ini seperti M.Natsir, Moh.Rum, Sjahrir, Maramis dll.

Dari hal-hal tersebut kita bisa melihat bahwa pemuda memimpin karena memang telah teruji kualitasnya oleh situasi dan kondisi. Mereka tidak perlu meminta dukungan rakyat untuk menjadi pemimpin karena telah mendapatkan pengakuan dari masyarakat tanpa perlu mempopulerkan diri. Ini dikarenakan mereka telah berbuat sesuatu bagi bangsa dan negara ini. Dan hal inilah yang sekarang jarang terjadi karena untuk meningkatkan popularitas para calon pemimpin berusaha dengan mengiklankan diri mereka.

Sejak Soeharto turun dari jabatannya pada tahun 1998, maka yang tampil sebagi pemimpin di negeri ini bukan lagi kamu mudanya, namun lebih didominasi olah kaum tua. Sebut saja Presiden Habibie, Gusdur-Megawati, Megawati-Hamzah, dan SBY-JK semuanya berusia di atas 55 tahun ketika menjabat sebagai presiden di Negeri ini. Bahkan Habibie berusia 63 tahun ketika diangkat menjadi presiden menggantikan Presiden Soeharto pada waktu itu.

Pemimpin muda ataupun tua sebenarnya mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pemimpin muda misalnya, yang mana dengan kepemudaanya mereka mempunyai fisik yang masih kuat, pikiran yang selalu memunculkan ide-ide segar, ketangguhan dalam bekerja keras, memiliki idealisme keberanian yang tinggi sehingga bisa dengan berani pula mengatakan dan membela kebenaran. Biasanya dari pemuda inilah lahir pemikiran-pemikiran yang segar, inovatif sehingga diharapakn bisa membawa perubahan pada negeri ini. Namun jika dilihat dari kekurangannya adalah kurangnya pengalaman politik dari pada kaum tua. Lalu kita melihat pemimpin tua yang mana dari segi fisik mereka sacara otomatis jauh dibandingkan dengan pemimpin muda lagi, pikiran-pikiran yang dihasilkan tidak sesegar dari pemimpin muda, dan mereka juga memiliki kelebihan yang lebih dalam hal pengalaman dalam bidang politik.

Namun kita juga perlu melihat bahwa pemimpin tua yang telah memimpin negeri ini tidak bisa memberikan perubahan yang signifikan terutama bagi rakyat-rakyat kecil. Sampai sekarang kita masih melihat kemiskinan, pengangguran dan lain-lain. Jadi sudah saatnya kita kembali mengusung pemimpin muda.

Pemimpin Muda Dalam Al-Quran,

Jika kita merujuk kepada Al-Quran, keberadaan anak muda menjadi pemimpin ini terbilang pada usia yang relatif belia. Kita ambil pada 3 periode nubuwwah yaitu Ibrahim, Musa dan Yusuf.

Nabi Ibrahim
Dalam sebuah ayat Allah menyatakan ,”mereka berkata : kami dengar ada seorang pemuda (fata) yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim” (QS.AL-Anbiyaa : 60 )

Dari ayat di atas, lafadz fata menunjukkan pada usai remaja yang biasa dinisbatkan dengan usia 16-18 tahun. Jadi Nabi Ibrahim pun sudah memulai dakwahnya sejak umur 16 tahun atau setara dengan tingkat SMU. Dari sini pun kita bisa menyimpulkan bahwa usai muda tidak menghalangi seseorang untuk berdakwah kepada Allah.

Nabi Musa

Pada surah Al-Qashash ayat 14 Allah menjelaskan bahwa nabi Musa yang pada waktu itu diperkirakan berumur 15 tahun. Merujuk kepada siroh Nabi Musa dan dari ayat-ayat Al-Quran, maka bisa disimpulkan bahwa usia awal yang signifikan menjadi pemimpin adalah pada usia 23-25 tahun.

Nabi Yusuf

Al-Quran menyebutkan kisah Nabi Yusuf dalam beberapa ayat pada surah Yusuf. Singkat cerita, setelah beliau di penjara dan ternyata beliau berhasil membantu raja dalam mena`wilkan mimpinya, beliau diangkat menjadi menteri ekonomi dan kesejahteraan. Pada waktu itu usia beliau kira-kira 24 tahun.

Dan masih banyak contoh-contoh yang lain yang mana membuktikan bahwa pemimpin muda ini juga dicontohkan oleh para Nabi kita.


Indonesia sekarang tengah krisis kemadirian bangsa karena ternyata bangsa kita masih tergantung, masih “dikuasai” oleh bangsa asing yang lebih besar. Banyaknya aset-aset negara di jual dan kekayaan negara di eksploitasi oleh bangsa lain, bukan orang Indonesia sendiri.

Para Pemimpin tua yang telah memimpin negeri ini ternyata masih belum bisa untuk memunculkan kemandirian bangsa ini. Kemandirian disini jangan diartikan kita tidak menjalin kerjasama dengan pihak asing dan semua harus dibuat oleh orang Indonesia sendiri tanpa bantuan pihak asing. Namun kemadirian yang dimaksudkan di sini adalah berani berkata ya atau tidak kepada pihak asing, dalam artian kita yang mengendalikan kita, bukan kita yang dikendalikan mereka. selain bisa mngendalikan pihak asing, juga harus dibangun kekuatan politik agar memiliki bargaining power berhadapan dengan modal asing. Hal-hal ini yang belum bisa diwujudkan oelh pemimpin-pemimpin dahulu yang mana didominasi oleh kaum tua.

Lalu pertanyaannya adalah apakah pemimpin muda ini mampu untuk mewujudkan kemandirian bangsa ???

mari kita melihat kembali ke sejarah khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang mana beliau ketika menjabat sebagai khalifah umurnya sekitar 35 tahun. Semasa kepemimpinan beliau, rakyat sangat makmur dan sejahtera karena keadilan yang ditegakkan oleh beliau. Bahkan pada masa beliau, orang-orag itu bingung mau memberikan zakat kepada siapa karena semua rakyatnya makmur dan tidak ada yang berhak menerima zakat. Ketika kondisi rakyat makmur maka secara otomatis kita tidak akan bergantung kepada modal asing.

Dari contoh di atas, bisa kita ambil pelajaran bahwa ternyata ada sesosok pemimpin muda yang mampu memberikan kemakmuran dan kesejahteraan kepada semua rakyatnya. Beliau juga dikenal jujur sehingga segala tindak pidana korupsi diberantas. Ini yang seharusnya menjadi contoh bagi pemimpin muda yang kelak akan menjai pemimpin negeri ini. Diharapakn dengan semangat tinggi yang dimiliki oleh kaum muda, pemikiran-pemikiran yang segar dan reformis, idealis yang juga tetap dipegang bisa lahir kembali “Umar Bin Abdul Aziz” yang baru di bumi Indonesia ini. Dan masalah kemadirian bangsa ini bisa terselesaikan. Memang mewujudkan ini tidak mudah. Dibutuhkan orang-orang yang benar-benar berkualitas dan capable. Dan untuk mewujudkan itu juga, kita bisa menggunakan pengalaman dari yang tua sehingga timbul kesinergisan antara kaum muda dan kaum tua dalam rangka mewujudkan kemandirian bangsa ini.


Berdasarakan penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa masalah kemandirian bangsa ini merupakan masalah yang harus segera diselesaikan karena ini berkaitan erat dengan martabat sebuah bangsa.

Oleh karena itu sudah saatnya kaum muda tampil menjadi pemimpin sebagaimana dahulu. Dan bukan tidak mungkin kaum muda bisa memberikan perubahan yang signifikan ke arah yang lebih baik. Dan untuk itu haruslah ada sebuah kerjasama antara kaum muda dan kaum tua dengan pengalamannya bersama-bersama menjadikan bangsa ini mandiri, adil makmur dan sejahtera.,,, Wallahu a`lam bisshowab

Di edit dari tulisannya Rijal Faizin Rahman, 

http://hilmanmuchsin.blogspot.co.id/2015/11/pemimpin-muda-dan-kemadirian-bangsa.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar