Jumat, 11 Maret 2011

Ujian Hidup


Fitrah hidup manusia akan selalu dihiasi kesedihan dan kesenangan. Bencana dan nikmat merupakan ujian hidup yg diberikan Allah sbg pembelajaran agar manusia selalu mawas diri menjaga predikat mahluk yg diberikan kemuliaan.

Gempa besar berkekuatan 8,9 skala Richter yg mengguncang Jepang pd Jumat (11/3) siang, boleh jadi semua itu merupakan ujian dari Allah utk menguji keimanan seseorang. Bisa pula, bencana itu merupakan peringatan atau bahkan siksaan (azab) dari Allah karena banyaknya terjadi kemaksiatan disekeliling kita dan kita tak pernah merasa bersyukur atas nikmat yg telah Allah berikan.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."
(QS : Ibrahim ayat 17.)

Dalam kitab Mukasyafah al-Qulub: al-Muqarrib ila Hadhrah allam al-Ghuyub Fi'ilm at-Ashawwuf karya Al-Imam Ghazali, dipesankan bahwa umat manusia wajib dan harus selalu mensyukuri setiap nikmat yang dianugerahkan Allah SWT. Dalam kitab tersebut pula diriwayatkan suatu Hadits, bahwasanya bersyukur itu bukan hanya diwajibkan kepada seorang hamba yang dhaif, Rasulullah SAW -pun, yang sudah dijamin bebas dari dosa dan maksiat, juga telah mencontohkan bagaimana sikap mensyukuri nikmat-nikmat Allah subhanahu Wata'ala.

Diriwayatkan, Seorang sahabat bernama Atha, suatu hari menemui Aisyah RA. Lalu ia bertanya, "Beritahukanlah kepadaku sesuatu yang menakjubkan dari Rasulullah SAW?" Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Aisyah menangis. Lalu Aisyah berkata, "Bagaimana tak menakjubkan, pada suatu malam beliau mendatangiku, lalu pergi bersamaku ke tempat tidur dan berselimut hingga kulitku menempel dengan kulitnya."

Kemudian Rasulullah berkata, "Wahai putri Abu Bakar, biarkanlah aku beribadah kepada Tuhanmu." Aisyah menjawab, "Saya senang berdekatan dengan Anda. Akan tetapi, saya tidak akan menghalangi keinginan Anda." Rasulullah lalu mengambil tempat air dan berwudhu, tanpa menuangkan banyak air.

Nabi SAW pun shalat, lalu menangis hingga air matanya bercucuran membasahi dadanya. "Beliau ruku, lalu menangis. Beliau sujud lalu menangis. Beliau berdiri lagi lalu menangis. Begitu seterusnya hingga sahabat bernama Bilal datang dan aku mempersilakannya masuk," papar Aisyah.

"Ya Rasullulah, apa yang membuat Anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang," tanya Aisyah.

"Tak bolehkah aku menghendaki agar menjadi seorang hamba yang bersyukur?" ungkap Nabi SAW.


Jadi ujian hidup pada hakikatnya bertujuan untuk menghasilkan nilai-nilai kepantasan diri supaya manusia memiliki pribadi yang paripurna seperti pribadi Rosulullah SAW.

Pencapaian pribadi paripurna hanya dapat diraih melalui proses ujian yang bertahap sesuai dengan kapasitas, dinamis dan berkelanjutan sehingga berakhir pada satu titik yaitu kepantasan diri mendapatkan kebahagiaan hakiki.(bahagia dunia dan akhirat).

Memang tidak semua manusia bisa menempatkan diri sebagai pribadi yang pantas mendapat kebahagiaan salah satu penyebabnya adalah pola pandang yang salah tentang ujian hidup itu sendiri. Banyak manusia menganggap bahwa ujian hidup hanya dalam bentuk musibah yang buruk-buruk semata padahal nikmat yang baik-baik pun sebenarnya bentuk lain dari ujian hidup.

Mudah-mudahan kita senantiasa selalu menjadi hamba yang pandai bersyukur. Aamiin ya Rabb....Wallahu 'alam bish-shawab.


http://hilmanmuchsin.blogspot.com/2011/03/ujian-hidup.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar