Jumat, 03 Oktober 2014

Kembalilah ke Jalan yang Benar



Perjuangan yang suci membutuhkan energi iman sejati. Iman yang tak terkontaminasi dengan kesyirikan meski hanya sebesar biji sawi. Iman yang terus menggelora, yang tak bisa padam hanya dengan bujukan konspirasi harta, wanita ataupun takhta.

Tak ada lawan yang paling hebat untuk mengalahkan perjuangan suci, kecuali kemaksiatan dan dosa. Meriam dan bom atom dengan izin Allah tak akan bisa memadamkan gerakan masif yang bersumber dari kekuatan iman. Bahkan sebaliknya, dengan iman, nuklir bisa sama sekali tak berbunyi, api tak membakar, laut terbela menjadi jalan raya. Dan akhirnya, dengan iman, budak bisa menjadi naik sekelas perdana menteri sementara tuannya yang tetap kafir bisa jatuh hina lebih rendah dari pada sampah.


Oleh karena itu, suatu gerakan perbaikan yang terjebak hanya sibuk dengan sarana dan prasarana yang bersifat bendawi, tak akan bisa sampai pada tujuan yang dicita-citakan. Bahkan, itu hanyalah omong kosong. Kalau toh mereka sampai kepada puncak kekuasaan, maka mereka tidak akan menjadi lebih baik dari generasi sebelunnya yang digantikan. Baju berubah, tapi sesungguhnya jiwa raga yang memakainya tetap sama. Bahkan, bisa saja lebih buruk.


Di tengah situasi yang banyak ujian dan fitnah seperti ini, maka energi iman harus terus ditingkatkan. Kalau sudah banyak yang berguguran, baik karena judi, minuman keras atau ekstasi, korupsi proyek jembatan atau daging sapi, maka itu tak boleh membuat patah semangat dan membuat putus asa. Perjuangan suci tetap tak boleh terhenti. Meski harus memulai dari awal bak menanam biji kembali. Atau, menggigit akar pohon (keimanan) seorang diri.
Sudah lama, seorang Mujahid Dakwah (KH. Rahmat Abdullah) pernah mengingatkan. Di tangan kader-kader yang korup sebuah gerakan bukan mengalami kebangkitan, tetapi kebangkrutan. Kebangkitan Da'wah tidak dimulai dari kemewahan dan tidak ditujukan untuk mewujudkan mimpi-mimpi kemewahan, kecuali mimpi kemewahan tiada akhir. Ujian pertama yang diumumkan Thalut kepada pasukannya ialah sungai.

"Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sungai. Barangsiapa yang meminumnya maka ia bukan golonganku dan barang siapa tiada meminumnya maka ia adalah golonganku, kecuali yang menciduk secidukan dengan tangannya." (Al-Baqarah: 249).

Maka, kembalilah ke jalan yang benar. Jalan yang bersumber dari iman yang suci. Inilah seruan abadi yang selalu relevan.Tak hanya sekarang, tapi semenjak dulu hingga matahari takterbit lagi. Seruan ini pun umum. Secara individual baik yang sudah beriman maupun yang masih ingkar.Yang merasa di gerbong pergerakan Dakwah maupun yang secara terang-terangan berada di gerbong penuh dengan hingar bingar dosa.

Tanpa kembali ke jalan yang benar, siapapun dan golongan dengan bendera apa pun pasti akan kandas mengenaskan.  Iklan di TV setiap hari tak akan ada arti. Road show mengitaribumi yang dibungkus dengan cover safari dakwah pun tak akan jauh beda dengan panggung sulap. Banyak memang penggemarnya, tapi itu hanyalah seperti buih. “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian adzab yang dekat (di dunia) sebelumadzab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (As-Sajadah: 21). Wallahua’lam.


Muhammad Syamlan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar