Sabtu, 14 Februari 2015

Ini Modal Utama Ahli Surga



Dalam suatu majelis, Rasulullah SAW berkata, ”Sebentar lagi akan muncul di hadapan kalian seseorang yang termasuk penghuni surga.” Benar saja, tak lama kemudian muncul seseorang dari kalangan Anshar yang jenggotnya meneteskan titik-titik air wudhu. Dia menenteng selopnya di tangan kiri.

Pada keesokan harinya, Rasulullah SAW kembali bersabda seperti itu lagi, dan tak lama kemudian orang itu pula yang muncul dengan keadaan yang sama. Demikian pula pada hari ketiga dan lagi-lagi orang itu yang muncul.

Pada hari ketiga, Nabi SAW mengatakan itu, dan Abdullah bin Amr bin Ash menjadi sangat penasaran. Apa amalan orang tersebut sehingga Rasulullah SAW mengatakannya sampai tiga kali selama tiga hari berturut-turut.

Setelah Rasul beranjak dari majelis, Abdullah membuntuti penduduk Madinah tersebut. Setelah tiba di rumahnya, Abdullah bin Amr berkata padanya, ”Aku sedang ada masalah dengan ayahku sehingga berjanji tidak pulang ke rumah selama tiga hari. Jika engkau berkenan, aku mau menginap di rumahmu.

Orang itu termenung sejenak dan berkata, ”Boleh.” Maka, menginaplah Abdullah di rumah orang Anshar itu selama tiga hari. Namun, selama itu pula Abdullah tidak pernah melihat orang itu mendirikan shalat malam walaupun sedikit.

Hanya, setiap kali bangun dari tidurnya, dia membalikkan badan sambil menyebut asma Allah dan takbir, lalu bangun lagi untuk mendirikan shalat Subuh. Selama tiga hari pula, Abdullah tidak pernah mendengar perkataan dari pemuda itu kecuali yang baik-baik saja.

Pada hari ketiga, saking penasarannya, Abdullah berkata pada orang itu, ”Wahai hamba Allah, aku sebetulnya ti dak ada masalah dengan ayahku. Akan tetapi masalahnya, aku mendengar Rasulullah mengatakan selama tiga hari bahwa sebentar lagi akan mucul di hadapan kalian seseorang yang termasuk penghuni surga. Dan yang muncul adalah engkau. Itu yang membuatku menginap di rumahmu serta ingin melihat amalanmu. Ternyata aku tidak melihat dirimu mengerjakan amal orang besar.

Orang itu diam saja. Namun, ketika Abdullah hendak pergi, orang itu memanggilnya seraya berkata, ”Aku juga tidak melihat sesuatu yang berarti pada diriku. Hanya, di dalam hatiku tidak ada rasa dengki dan iri terhadap seorang pun dari kaum Muslim karena Allah memberinya suatu kebaikan.”

Abdullah pun berkata, ”Itulah sebabnya engkau mendapatkan kedudukan seperti yang disabdakan Rasulullah SAW.” Orang yang dimaksud Rasulullah SAW sebagai penghuni surga itu adalah Sa’ad bin Ubadah.

Kisah di atas memberikan pelajaran (ibrah) kepada kita, hati yang bersih (qalbun salim) dari rasa iri, dengki, dan berbagai jenis penyakit hati lainnya menjadi modal utama bagi ahli surga.
Hal ini ditegaskan Rasulullah SAW, dari Abu Hurairah RA, Rasulullah ber sab da, “Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kalian dari rupa dan harta kalian, namun Allah melihat kalian dari hati dan amal kalian.” (HR Muslim).

Ukuran kebaikan seseorang tidak dilihat dari bentuk, tampang dan hartanya, melainkan dilihat dari kebaikan hatinya. Seseorang akan selamat dari adzab pada hari kiamat nanti jika menghadap Allah dengan hati yang bersih. “(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang meng hadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS asy-Syu’ara [26]: 88-89).

Hati yang bersih adalah hati yang selamat dari syirik, khianat, dendam, dengki, kikir, sombong, cinta dunia dan kekuasaan. Jika hati telah bersih dari semua itu, berarti ia selamat dari segala penyakit yang dapat menjauhkan dari dari Allah, selamat dari segala perkara syubhat yang bertentangan dengan penjelasan-Nya, selamat dari syahwat yang menyalahi perintah- Nya, selamat dari keinginan yang berlawanan dengan kehendak-Nya, dan selamat dari segala sesuatu yang dapat memutuskan hubungan dengan-Nya.

Yang pasti, hati yang bersih yang berhak mendapat surga-Nya. “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hasyr [59]: 10). Semoga kita termasuk orang-orang yang berhati bersih dan mengantarkan ke pada surga-Nya. Aamiin.

 Oleh: Imam Nur Suharno
 http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/15/02/13/njp067-ini-modal-utama-ahli-surga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar