Jumat, 29 Mei 2015

Guruku pahlawanku





Tanggal 12 Desember 2014, Kabupaten Sumedang telah kehilangan seorang tokoh pendidik, tokoh yang mengajarkan arti dari pantang menyerah, tokoh yang menggelorakan semangat ditengah keterbatasan, beliau telah berpulang pada yang Maha Kuasa, Innalillahi wa inna illaihi raaji'uun, Ibu Een Sukaesih Sang Guru Qalbu telah pulang menghadap Allah yang Maha Pengasih, tentunya ini merupakan sebuah kehilangan yang amat sangat bagi Sumedang. Semoga beliau sekarang tenang dan mendapatkan tempat yang terbaik disisi-Nya, aamiin. Ibu Een sebagai seorang tokoh sangat menginspirasi, banyak orang ingin mengetahui bagaimana keseharian beliau dan bagaimana sepak terjang beliau dalam dunia pendidikan, banyak yang berharap dengan mengetahui kisah beliau maka hal tersebut bisa dijadikan pelajaran dan diambil keteladanannya untuk meningkatkan kualitas hidup...berikut sebagian kisah Ibu Een yang admin copy dan sajikan kembali dari beberapa sumber agar kita bisa mempelajari dan meneladaninya...

Ibu Een Sukaesih, 26 Tahun Lumpuh Akibat Rheumatoid arthritis (RA)

Bu Een Sukaesih tinggal di Dusun Batukarut, RT01 RW06, Desa Cibereum Wetan, Cimalaka, Sumedang, Jawa Barat. Warga mengenal baik sosok ‘Ibu Guru’ istimewa ini. Ya, karena ia seorang luar biasa, umumnya orang memberi di saat lapang, tetapi Een berbeda. Dalam keterbatasannya, ia membantu menyiapkan masa depan orang lain dengan cara membagi ilmu dan kasih sayang, serta menjadi sahabat bagi anak didiknya.

26 Tahun Terjebak dalam Lumpuh

Sedikit saja cobaan di dalam hidup ini kerap membuat orang cepat mengeluh. Namun, lihatlah Een Sukaesih yang mendapat cobaan bertubi-tubi tapi tak terlihat ada kelelahan di wajahnya. Penerima Liputan6 Award itu memang sudah 32 tahun menderita penyakit Rheumatoid arthritis (RA). Dan penyakitnya itu membuat lumpuh selama 26 tahun. Namun, ia masih tetap bersemangat untuk memberikan yang terbaik untuk orang banyak.

Ia menyadari, kelumpuhannya mungkin merepotkan banyak orang. Namun Een ingin penyakitnya itu tak menghentikan dirinya memberikan yang terbaik untuk banyak orang. Wanita kelahiran 10 Agustus 1963 itu ingat betul awal dari kelumpuhannya. Ketika usianya masih 18 tahun, ia mulai mengalami sakit-sakitan. Selama enam tahun mengalami sakit, Een masih bisa jalan. Namun, sejak 1987, penyakitnya membuatnya lumpuh dan hanya terbaring di tempat tidur.

Sakitnya Een dimulai pada suatu pagi. Tiba-tiba saja Een merasakan lengan kirinya tak bisa diangkat dan tak bisa digerakkan. Sakitnya pun luar biasa seperti ditusuk-tusuk. "Sore harinya saya ke dokter untuk berobat dan sembuh dengan minum obat selama 3 hari. Pada hari keempat, obat itu habis dan penyakitnya kambuh. Bukan hanya lengan kiri kali ini, tapi kanan juga. Saya ke dokter lagi," ujar alumni IKIP Bandung (Universitas Pendidikan Indonesia/UPI) itu saat dihubungi Liputan6 melalui telepon, Rabu (5/6/2013).

Sakit yang dialami Een dari hari ke hari bukannya membaik malah memburuk. Secara bertahap penyakitnya berkembang. Dari lengan kiri, ke lengan kanan, beralih ke lutut kiri dan kanan, dan berkembang ke semua sendi dari kepala hingga ujung kaki. Een sempat mengurangi makan jeroan meski ia tak terlalu menyukainya untuk melihat dampaknya ke penyakitnya. Bahkan ada dokter yang juga menganjurkan agar ia tak minum susu dan tak makan daging-dagingan. Tapi, sakit itu masih terasa. "Dari situ saya merasakan kalau dari makanan tak ada pengaruhnya," ujar Een.

Een didiagnosa terkena Rheumatoid arthritis (RA). Penyakit ini merupakan penyakit autoimun kronis, progresif dan melumpuhkan. Beberapa penelitian menunjukkan kalau penderita penyakit ini kebanyakan kaum wanita."Pada 1987 saya tak bisa jalan. Tak lama kemudian, saya terkena infeksi usus akibat terlalu banyak obat rematik. Kan panas," katanya lagi. Saat sakit infeksi usus itu, Een sempat divonis dokter kalau usianya hanya bisa bertahan 1 minggu. Memang, dokter yang didatanginya itu bukanlah dokter yang biasa. Maklum saja, keluarganya sewaktu itu sedang panik dan mencari dokter yang berpraktik. "Setelah beberapa hari, saya periksa ke dokter biasa setelah ia datang dari luar negeri," ujar Een. Dan diagnosa dokter ternyata tak terbukti, infeksi ususnya bisa sembuh. Setelah itu, Een menjalani pengobatan alternatif selama enam bulan dan melakukan pijat. Sehari saja tidak dipijat, sakit yang dialami Een bisa kambuh lagi. "Tapi beberapa bulan kemudian, tubuh belakang saya lecet karena tak bisa bolak-balik, cuma terlentang. Itu lecetnya kurang lebih selama 6 bulan".

BAN JADI BANTAL

Kelamaan terbaring di ranjang membuat tubuh Een memar. Pengobatan alternatif mencari akal dengan memakai ban dalam untuk Vespa yang diletakkan di bawah pinggulnya. Ban itu hanya diisi sedikit angin sebagai bantalan agar punggungnya tak menekan ke kasur. "Ban itu dibalut kain tipis supaya tidak panas. Sekarang sudah tidak lecet-lecet lagi. Sekarang pakai busa untuk di pinggul. Jadi punggung tidak terlalu menekan ke kasur. Lecet sampai sekarang sudah sembuh". Dengan bantalan itu mungkin telah menyembuhkan masalah lecet yang dialami Een. Namun, dengan teratasinya satu masalah berlalu mendatangkan masalah yang lainnya. Pada 2007, tubuh bagian belakang Een kembali terasa pedih seperti ada benjolan di bekas lukanya. Sakit itu terasa beberapa lama. Ia tak mengobatinya ke dokter. Namun, seseorang memberinya obat untuk mengatasi benjolan itu. Sejak saat itu, Een memilih tak mengobati penyakit sendinya ke dokter. Ia memilih membeli obat warungan jika sakitnya kumat. "Dilematis, ke dokter berapa kali dibilangnya, ya sudah sabar," ujarnya.

SAKIT MATA BUKAN KATARAK

Penyakit Een bertambah lagi pada pertengahan Juli tahun lalu. Mata kirinya tiba-tiba sakit. Setelah diperiksa dan diobati, sakitnya agak mendingan. Namun, mata kirinya kini tak bisa melihat lagi. "Saya pernah diperiksa ke rumah sakit karena mau ikut operasi katarak gratis. Kata dokter, mata saya harus ke rumah sakit dan ternyata, dokter mengatakan saya bukan katarak. Ini infeksi katanya yang mungkin faktor penyebabnya dari penyakit yang saya derita," jelas Een. Sebenarnya, Een disarankan untuk melakukan operasi mata. Jika korneanya tidak rusak parah, ia masih bisa menerima donor mata. Namun jika rusak parah sudah tidak bisa. Namun, Een menolak untuk melakukan pengobatan.

"Pertama, saya tidak tahu orang yang mendonorkan matanya. Kedua, kondisi saya seperti ini, struktur tubuh sudah tidak normal lagi. Nanti, takut tumbuh masalah baru. Takut mata tertusuk". Kedatangan Een ke Jakarta pada Liputan6 Award sebenarnya penuh perjuangan. Ia baru saja dirawat selama satu minggu. Namun, Een dengan semangat tetap datang ke Jakarta untuk mengetahui batas kekuatannya. "Saya coba ke Jakarta sampai di mana kekuatan saya sekarang. Pas di Ancol saya sudah keluar keringat dingin tapi saya mau menguji sampai di mana saya bisa bertahan. Tapi karena banyak anak-anak saya jadi terhibur dan terobati," ujarnya menambahkan.

Een mengakui, sumber kekuatannya untuk tetap bertahan adalah dari anak-anak didiknya. Di usianya yang tak muda lagi Een memang masih melajang. Namun, hidupnya selalu dikelilingi anak-anak didiknya yang menyayanginya. "Anak-anak ini obat buat saya. Sebenarnya, apa yang saya lakukan semata-mata demi Ridho Allah SWT dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat. Di satu sisi, saya merepotkan orang lain. Tapi, di sisi lain, saya ingin bermanfaat buat orang lain". Menurutnya, ketika sakit menghampirinya, Een ingat ke anak-anaknya. Dulu, sewaktu neneknya masih ada, sang neneklah yang menjadi semangat hidupnya. Maklum saja, Een merupakan cucu kesayangan neneknya. Selama bertahun-tahun, Een hidup bersama nenek dan kakeknya. "Nenek pernah berpesan, `Teteh jangan dahului nenek. Nenek nggak ada siapa-siapa`. Dan nenek meninggal ketika saya berusia 34 tahun".

HIDUP DENGAN OBAT

Een menyadari, sejak dokter mendiagnosa penyakitnya kemungkinan untuk sembuh sangat tipis. Bahkan dokter memberitahu kalau penyakit yang dideritanya belum diketahui penyebab dan obatnya.
Untuk obat-obatan rematiknya, Een tidak setiap saat meminumnya. Ia baru akan meminumnya jika sakitnya terasa parah. Sedangkan obat yang rutin diminumnya malah obat maag. "Dilematis. Kalau dimakan rutin (obat penghilang rasa sakit), lambung kena. Nggak dimakan, saya yang nggak kuat". Tubuh Een mungkin sudah lumpuh. Namun, ketika berobat ke dokter penyakit dalam, Een bersyukur kondisi jantung dan hatinya masih bagus. 

Sakit yang dialami Een tak membuatnya patah semangat. Ia bahkan mengimbau teman-temannya yang senasib untuk tetap bersabar. "Untuk saudara-saudara saya yang sependeritaan. Semoga tetap bersabar atas segala yang kita terima. Berprasangka baiklah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan begitu kita akan yakin segala yang kita terima pasti yang terbaik untuk kita". "Bersabar harus dengan bersyukur kita masih diberikan kehidupan. Masih banyak nikmat yang kita terima. Untuk mengantisipasi sakit yang kita derita, alangkah lebih baiknya kita imbangi dengan kegiatan yang positif. Syukur-syukur bermanfaat buat semua orang. Jika tidak, minimal untuk diri sendiri dan keluarga".
(sumber : http://health.liputan6.com/read/603489/kisah-bu-guru-een-sukaesih-yang-26-tahun-terjebak-dalam-lumpuh)
KISAH BU EEN SUKAESIH

Alhamdulillah, Allah memberiku jalan sehingga boleh dibilang, aku telah meraih cita-citaku menjadi guru. Setiap hari, di kamar mungilku, mereka meriung sepulang sekolah. Mereka membawa pekerjaan rumah. Bergantian, mereka membacakan surat kabar, majalah atau menonton televisi, lalu kami membahasnya bersama. Aku ingin mereka paham situasi yang berkembang di luar sana. Siapa sangka, dalam keterbatasan fisikku, aku bisa membagi ilmu, mengentaskan dari ketidaktahuan menjadi tahu.
Kali lain anak-anak membuat rujak di kamarku, atau membuat es durian yang segar. Bahkan anak-anak perempuan minta diajarkan menari. Padahal, aku, menggerakkan tangan saja, aku tak sanggup. Yah, itulah kesibukanku sehari-hari. Aku bahagia menjadi bagian dari perkembangan dan kemajuan mereka. Tak hanya itu, juga kutanamkan ajaran agama dan nilai-nilai kepribadian agar mereka menjadi pintar, juga berkarakter yang baik.

Seperti yang dilakukan Een pada Layla, yang sempat mogok sekolah diledek sebagai teletubbies karena fisiknya tidak normal. Berhasil, Layla kini mahasiswi di Universitas Parahyangan Bandung, kampus Een dulu. Itulah sejatinya fungsi pendidik, seperti yang dilakukan Pak Rahmad, gurunya di SDN 1 Cimalaka. Aku tak pernah menyangka begitu singkat waktuku mengecap kesehatan dan kebebasan bergerak. Praktis hanya sampai SMP aku bisa berlari riang dan bermain bola dengan teman-teman, sebab jelang tahun ajaran kelas III Sekolah Pendidikan Guru (SPG), sendi tanganku mulai terasa nyeri. Kata dokter, rematik. Aku diberi obat, tapi itu hanya menghilangkan gejalanya sementara. Setelah obat habis, kambuh lagi, bahkan nyerinya menyebar ke lutut, siku, tengkuk, hingga persendian kecil seperti jari-jemari.

Aku ganti dokter dengan harapan mungkin mukjizat kesembuhan bisa kudapat. Nyatanya? Nihil! Ngilu dan nyeri masih kurasakan, sampai-sampai tangan kuikat ke pundak, mirip orang patah tulang, untuk mengurangi rasa sakit itu. Dokter memberiku obat berdosis tinggi, 3×2 sehari, tapi sakitku bertambah parah. Aku tidak bisa bangun, bergerak atau berjalan. Rasanya seperti ditusuk-tusuk. Dari hasil tes laboratorium 5 April 1982 dokter menyatakan Een menderita Rheumathoid Artitis. Belum ada obatnya. Hancur hati perempuan muda itu, dan mengucapkan selamat tinggal kepada cita-citanya menjadi guru. Gurunya yang tahu akan potensi Een tidak membiarkan siswa kesayangannya ini patah semangat. Ia sampai menahan ijazah Een demi memaksanya untuk ikut tes ke perguruan tinggi. Benar saja, Een lulus tes penyaringan dan diterima di Program Diploma 3 Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan di IKIP Bandung.

Umurku waktu itu 18 tahun, masih sangat muda untuk menyerah. Aku pun menguatkan diri, disokong oleh Kakek dan Nenek yang begitu luas kasihnya untukku. Aku kos di Bandung. Rutin mereka memperhatikan kebutuhanku, memberi vitamin, mengantarku ke dokter, membiayai keseharian dan pendidikanku. Kini mereka telah tiada. Hanya doa yang bisa kupanjatkan selalu untuk mereka sebagai tanda terima kasihku. Singkat cerita, aku kuliah. Sebuah perjuangan yang berat dan panjang. Bagaimana tidak? Sendi-sendiku nyeri, sementara aku harus naik tangga atau menyusuri lorong yang jauh untuk mencapai perpustakaan. Karenanya, supaya tidak ketinggalan, aku lebih awal ke kampus dibanding teman-teman. Sedih bukan main, tapi aku harus optimis dan berusaha. Aku harus yakin Allah, Maha Penyembuh. Alhamdulillah, aku masih bisa mengetik sendiri, jadi tidak pernah minta tolong orang kalau ada tugas. Bersyukur Allah memberiku seorang sahabat setia, Mimin Suhaeti namanya. Ia menemaniku dan mau mengantarku ke dokter atau menginap di tempat kosku setiap sakitku kumat.

Pada 1985 aku lulus dengan nilai cukup baik, dan diangkat jadi guru di SMA Sindang Laut, Cirebon, Jawa Barat. Sebulan di sana, sebelum sempat prajabatan, aku sudah tak kuasa menahan sakit. Aku pulang ke Sumedang. Begitu turun dari mobil, aku jatuh, lalu diboyong ke rumah. Sejak itu, tidak bisa berjalan lagi. Aku, Een Sukaesih, lumpuh total. Kalau orang bilang aku tegar, itu bohong! Orang tidak tahu, kalau tiap malam aku menangis terus sampai pagi datang. Aku menangisi cita-citaku yang diterbangkan waktu, menjauh dariku, dan meninggalkanku teronggok di pembaringan. Masih ada lagi ujian untukku. Karena berbaring terus, punggungku lecet parah hingga uratnya keluar. Berbulan-bulan itu berlangsung hingga akhir 1987 kondisiku membaik. Adikku yang setia mengurusiku. Sungguh mulia hatinya. Begitu juga Ibuku.

Een kemudian berusaha ikhlas menerima penyakitnya dan kondisinya. Tapi ia terus berdoa memohon kesembuhan dari-Nya. Ia putar otak untuk mengisi waktunya yang hening dengan sesuatu yang bermanfaat. Doanya pun terjawab. Dari mengajar anak kerabat dan keponakannya membuatkan pekerjaan rumah, kini anak-anak tetangga berjumlah puluhan orang menjadi ‘murid’nya. Tanpa memungut bayaran alias gratis. Untuk dedikasinya pada pendidikan, Een beroleh sejumlah penghargaan, di antaranya Dompet Dhuafa Award 2010, lalu Education Award dari Bank Syariah Mandiri (BSM), lalu dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Kartini Award 2012 dan Tupperware She Can! untuk karya inspiratifnya.

Anak-anak jadi penghiburku. Pernah suatu hari dadaku sakit dipakai untuk bernapas, tapi begitu anak-anak datang, lalu berceloteh riang di kamarku, aku ikut larut dalam suasana hati mereka. Tahu-tahu nyeri itu hilang. Ya, anak-anak ini telah menjadi obat untukku. Apalagi ketika dikabari kalau mereka mendapat nilai bagus di sekolah. Aku ikut puas, meski itu bukan hasil kerjaku sendiri.
Selain memberi anak-anak bekal ilmu pengetahuan, aku ingin mereka jadi pribadi yang cerdas secara emosional dan spiritual. Tidak cengeng atau manja. Aku ingin mereka tegar dan berani menghadapi kehidupan, lengkap dengan duri atau onaknya. Harapanku mereka jadi pribadi yang kuat, mencintai kemajuan, selamat di dunia dan akhirat. Kini, aku akan terus menjadi sahabat mereka dalam belajar, juga menjalin silaturahmi dengan teman-temanku semasa kuliah, salah satunya Prof Dr H Dasim Budimansyah, yang kini telah menjadi Guru Besar di UPI Bandung. Ilmu pengetahuan terus berkembang, makanya aku minta dibelikan buku dan surat kabar yang kemudian dibacakan oleh anak-anak.

Harapanku, anak-anak, sekitar 30 orang ini, baik yang duduk di SD maupun SMP, bisa berprestasi. Rata-rata mereka memang sudah berprestasi baik di sekolah, dan ada juga yang juara kelas dan masuk 10 besar. Bahkan ada juga yang terpilih untuk ikut berbagai lomba bidang studi, mulai di tingkat kecamatan dan kabupaten. Anak-anak adalah kebahagiaanku. Terima kasih, ya Allah.
(Sumber : http://kabarinews.com/kisah-menyemai-ilmu-dan-kasih-sayang-dari-atas-pembaringan/48887)

Selamat jalan ibu, perjuanganmu akan selalu menjadi inspirasi bagi kami...


http://www.wewengkonsumedang.com/2014/12/kisah-ibu-een-sukaesih.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar