Selasa, 19 Mei 2015

Tentang Infrastruktur, Indonesia Harus Berguru ke Vietnam


Vietnam, negeri dengan pertumbuhan ekonomi sangat pesat diprediksi bakal menyalip Indonesia. Betapa tidak, pembangunan infrastrukturnya, terutama di kota Hanoi, membuat siapa pun yang berkunjung akan berdecak kagum.

Mereka sadar betul bahwa pembangunan infrastruktur akan menjadi stimulus utama bagi pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya meningkatkan daya beli, dan kualitas hidup masyarakat.

Direktur Teknik PT Global Rancang Selaras, Victor Febrian Wicaksono, mengutarakan pendapatnya kepada Kompas.com, saat perjalanan "Jotun Colorful Journey 2015" di Hanoi, Vietnam, Selasa (19/5/2015). 

"Indonesia harus berbenah. Terutama dalam pembangunan infrastruktur. Pemerintah harus punya komitmen kuat untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur. Melihat kondisi aktual di Hanoi sekarang ini, bukan tidak mungkin Jakarta, atau kota-kota lain di Indonesia bakal tertinggal di belakang," tutur Victor.

HBA/Kompas.comKondisi infrastruktur jalan menuju loaksi pengembangan skala kota Ecopark, Hanoi, pada Selasa (19/5/2015).

Pembangunan infrastruktur berbasis konektivitas, lanjut Victor, menghasilkan Hanoi terkini sebagai kota modern, efektif sekaligus punya peran strategis menjadi kekuatan ekonomi baru. Terlebih, sebagai kota yang baru 'melek' dan membuka keran investasi asing, sangat mudah bagi Hanoi untuk menata kotanya lebih teratur, rapi, dan berkelanjutan.

"Kota itu harus memiliki fungsi sebagai tempat bertumbuh kembangnya masyarakat. Hanoi menuju ke arah sana dengan stimulus utama infrastruktur yang berkualitas, memadai, dan terintegrasi," imbuh Victor.

Hal senada dikemukakan Principal dan Senior Architect Design Director Urbane Indonesia, Irvan P Darwis. Menurutnya kemajuan pembangunan infrastruktur di kota pemerintahan Vietnam tersebut sangat mengagumkan.

"Terutama infrastruktur dasar seperti Bandara Internasional Noi Bai, jalan utama, jalan tol, dan jembatan. Lihat saja, kualitas jalannya mulus-mulus, dan lebar-lebar. Bisa tidak berhenti sembarangan, dan sebagainya," kata Irvan.

Demikian halnya dengan pengembangan kota barunya macam Ecopark, dan Vinhomes serta Times City yang dirancang dengan serius menjadi pusat-pusat pertumbuhan baru. irvan bahkan berani membandingkan ketiga pusat pertumbuhan baru tersebut dengan kawasan Surabaya Barat yang juga sama-sama sedang berkembang.

"Ecopark, Vinhomes, dan Times City mirip dengan Surabaya Barat yang dimotori CitraLand Surabaya. Dalam jangka waktu tak sampai sepuluh tahun Hanoi secara khusus, dan Vietnam secara umum mampu mengejar Indonesia," prediksi Irvan.

Komitmen 

Berbeda dengan Indonesia yang sampai harus menunggu 20 tahununtuk merealisasikan Tol Trans-Sumatera. Jika Presiden Joko Widodo tak kunjung memulai pembangunan Tol Trans-Sumatera di Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan, pada Kamis (30/4/2015) lalu, masyarakat yang tinggal di Pulau Sumatera mungkin harus berhenti berharap. 


HBA/Kompas.comEcopark, perumahan skala kota seluas 500 hektar, mengacu pada prinsip pengembangan hijau berkelanjutan. Tampak dalam gambar apartemen Rung Co yang dikelilingi infrastruktur memadai dan berkualitas tinggi, serta area hijau pada Selasa (19/5/2015).

Untungnya, pembangunan Tol Trans-Sumatera ini sudah diresmikan, dengan dimulainya konstruksi di Provinsi Lampung yang akan terus bergulir hingga Provinsi Aceh.

Sementara bagi Vietnam, menurut Victor tak butuh waktu lama untuk memulai dan merampungkan pembangunan infrastruktur. Peran pemerintah lokal dengan komitmen yang demikian kuat mampu mendorong percepatan pembangunan infrastruktur di beberapa kota. Tak hanya Hanoi, melainkan juga di Ho Chi Minh dan kota-kota lainnya.


"Siapa bilang negara dengan partai tunggal macam Republik Sosialis Vietnam akan terbelakang? Justru mereka jauh lebih disiplin, lebih cepat menuju kemajuan, dan modern. Contohnya Tiongkok, dan Singapura. Dengan disiplin, dan komitmen kuat, pembangunan infrastruktur bisa dipercepat," tandas Victor.

Dan memang, dalam kurun tak sampai satu dekade, negara dengan populasi 84 juta jiwa ini mampu membangun Vinh Tuy Bridge. Ini merupakan jembatan di atas Sungai Merah yang kelar dibangun pada 2008.

Selain Vinh Tuy Bridge, Hanoi juga sukses membangun Nhat Tân Bridge yang merupakan jembatan kabel (cable stayed) yang diresmikan pada tanggal 4 Januari 2015.  Nhat Tân Bridge adalah bagian dari enam jalur jalan raya baru yang menghubungkan Hanoi dan Bandara Internasional Noi Bai. Proyek ini didanai oleh pinjaman dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

Kota baru
Victor dan Irvan mengakui, pesatnya pembangunan infrastruktur juga berdampak signifikan pada sektor properti. Terbukti, Hanoi kini tengah gencar mengembangkan sejumlah proyek properti skala raksasa. Sebut saja Ecopark, Vinhomes Riverside, dan Times City. Dua nama pertama merupakan kota baru (township development) dengan luas lahan masing-masing sekitar 500 hektar.

HBA/Kompas.comTimes City, megaproyek yang dibesut Vin Group, merangkum apartemen, pusat belanja, ruko, dan perkantoran. Kondisi apartemen pada Selasa (19/5/2015).

Ecopark yang berlokasi di Desa Bat Trang, merupakan pengembangan kota mandiri dengan estimasi nilai investasi sekitar 8,2 miliar dollar AS. Kota baru ini dikembangkan secara kolaboratif oleh Viet Hung Urban Development dan JSC Investment. Terbagi dalam sembilan tahap pengembangan, dan direncanakan rampung selama 18 tahun.

Dari total luas area 500 hektar, sudah berdiri 11 blok apartemen dan 300 unit rumah dengan harga masing-masing 100.000 dollar AS untuk unit apartemen terkecil, dan 12 miliar Dong Vietnam untuk unit rumah tapak terbaru seluas 136/320 meter persegi.

Begitu pula halnya dengan Vinhomes Riverside yang dibesut Vin Group. Kota baru ini juga dirancang seluas 200 hektar untuk pengembangan tahap pertama, dan 300 hektar untuk pengembangan tahap kedua.

Vin Group mengusup konsep pembangunan hijau atau green development  dengan langgam desain Venesia mendominasi kawasan pengembangan. Konsep pengembangan hijau ini memungkinkan harga jual rumah-rumah di Vinhomes Riverside tak kalah selangit, yakni sekitar Rp 65 juta per meter persegi.

Sementara Times City merupakan pengembangan superblok yang mengintegrasikan blok-blok apartemen, perkantoran, ruko, rumah eksklusif, dan pusat belanja Times Mega Mall.



http://properti.kompas.com/read/2015/05/20/015100221/Tentang.Infrastruktur.Indonesia.Harus.Berguru.ke.Vietnam?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar