Kamis, 21 Mei 2015

The Art of Happiness at Work


Lichard Layard, seorang ekonom, melakukan penelitian mengenai korelasi antara kekayaan dan kebahagiaan yang kemudian dituangkan dalam bukunya yang berjudul Happiness (2005). Kesimpulannya, sejak 30 tahun terakhir ini penghasilan ekonomi masyarakat Amerika dan Inggris naik dua kali lipat lebih, namun ternyata justru tingkat kebahagiannya menurun.
Penjelasan Layard cukup panjang, sehingga tidak cukup lembaran kolom ini untuk mengemukakan data dan argumentasinya.

Berkaitan dengan hasil penelitian di atas, coba tanyakan pada diri sendiri, apakah Anda termasuk orang yang berkecukupan secara materi, bahagia dalam bekerja, berkarir, dan berumah tangga? 
Kalau tidak, jangan-jangan perusahaan tempat Anda bekerja akan dirugikan, karena Anda tidak memberikan kontribusi yang terbaik dari seluruh potensi yang Anda miliki.

Teman-teman pun bisa jadi tanpa sadar Anda eksploitasi sebagai tempat curhat sehingga suatu saat akan merasa bosan. Lebih jauh lagi, suasana keluarga akan terkena imbas negatif karena Anda lebih banyak menebarkan vibrasi keluh-kesah, bukannya kegembiraan.

Kalau suasana ini berkepanjangan, hidup Anda tidak produktif, sampai Anda mampu keluar dari lingkaran problem lalu membuat loncatan (breakthrough) untuk memperoleh suasana kejiwaan yang nyaman dan menggairahkan untuk mengisi ruang-ruang kehidupan Anda di manapun berada.

Untuk meraih kebahagiaan diperlukan seni dan cara pandang yang tepat tentang makna dan tujuan hidup. Kecukupan dan kelimpahan materi hanyalah salah satu variabel pendukung, tetapi bukan penentu. 

Mari kita renungkan sejenak. 

Bisakah kita menghitung, berapa juta lagu yang telah tercipta, padahal jumlah not lagu hanya tujuh nada, yaitu do-re-mi-fa-sol–la-si-do. Andaikan Anda disodori gitar ataupun piano, apa yang akan Anda lakukan dengan alat itu? Bagi yang memiliki keterampilan memainkan piano, imajinasi intelektual dan memiliki selera seni yang tinggi, maka dunia akan digubah dengan instrumen piano itu sehingga kehidupan akan terasa lebih indah. 

Demikianlah halnya dengan hidup kita, masing-masing memiliki jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam, namun suasana dan kualitas hidupnya berbeda-beda. Banyak faktor yang membedakan, dan salah satunya keterampilan seseorang dalam memanfaatkan aset yang ada, sebagaimana seorang pemain piano memiliki keterampilan dan apresiasi seni untuk menciptakan suasana menjadi indah dan nyaman.

Demikianlah, untuk meraih kebahagiaan (happiness) diperlukan seni mengelola perasaan, pikiran, dan kehidupan itu sendiri. Mari kita mencoba bereksplorasi melakukan pendakian imajiner untuk meraih kebahagiaan yang lebih sejati dan solid.

Tangga pertama: Physical-Emotional Happiness

Kenyamanan dan kepuasan hidup yang langsung dan mudah dirasakan adalah hal-hal yang bersifat fisikal. Lidah akan merasakan sebuah kenikmatan ketika bertemu dengan makanan yang lezat. Badan lelah dan capek akan merasa senang sekali jika bertemu tempat tidur dengan kasur yang empuk.

Seorang karyawan sebuah perusahaan pergi ke kantor dengan semangat dan wajah berseri dengan mobil barunya. Seorang ibu menunggu-nunggu tamu untuk datang ke rumahnya karena ingin membuat kagum dan iri melihat perabot rumahnya yang mewah.

Demikianlah, contoh kasus di atas bisa diperpanjang berlembar-lembar. Ringkasnya, kita sering dibuat kagum dan bahagia dengan kemegahan fisik, namun seringkali tidak menyadari bahwa semua itu sifatnya hanya sementara dan instrumental. Badan sehat dan kelimpahan materi adalah sarana dan sumber kebahagiaan. Namun setelah semuanya diraih, pertanyaannya kemudian adalah: so what, gitu loh?

Tangga kedua: Intellectual Happiness

Sumber kebahagiaan berikutnya yang lebih tinggi kualitasnya adalah yang berkaitan dengan aktivitas dan prestasi intelektual. Salah satu keunggulan manusia yang memiliki potensi luar biasa untuk mengubah dunia adalah kekuatan intelektualnya. Jika secara fisik manusia tak akan mampu bertanding melawan kehebatan hewan, maka dengan kehebatan intelektualnya manusia secara menakjubkan mampu mengatasi kekurangan fisiknya dengan menciptakan teknologi canggih.

Maka burung garuda pun harus mengakui kalah bersaing dengan pesawat terbang garuda untuk mengarungi angkasa. Begitu pula kendaraan mobil yang sebagian menggunakan nama hewan (jaguar, panther, kuda, kijang) merupakan proklamasi kemenangan intelektual manusia yang telah mengalahkan kecepatan hewan-hewan aslinya. Demikian juga halnya dengan teknologi kapal laut. Belum lagi pesawat ulang-alik ke angkasa luar serta sekian banyak produk teknologi lain.

Coba Anda renungkan, kapan Anda memiliki saat-saat bahagia yang berkaitan dengan aktivitas intelektual? Mungkin saat-saat belajar-mengajar, mengisi teka-teki silang, hari wisuda, mengarang buku, memecahkan masalah dan sekian banyak kegiatan intelektual lain yang semua itu lebih abadi dan lebih tinggi kualitasnya dibanding kebahagiaan fisik. Makanya bertebaran ayat Al-Qur’an maupun Hadis yang mendorong kita untuk selalu belajar dan mengajar, karena kegiatan itu sehat dan menyehatkan bagi diri maupun masyarakat.

Pada tahapan intelektual ini, kita harus menyisakan sebuah pertanyaan: sampai di mana intelektualitas berhasil membahagiakan umat manusia?

Tangga ketiga: Aesthetical Happiness

Bayangkan sebuah komunitas yang sehat, kaya, dan cerdas, namun tak ada unsur estetika atau keindahan dalam hidupnya. Pasti kehidupan menjadi keras, kaku, kering, dan membosankan. Sulit membayangkan sebuah dunia tanpa musik, puisi, ornamen, lukisan, dan hal-hal lain yang mengundang kesejukan, imajinasi serta keharuan perasaan.

Oleh karena itu, sumber kebahagiaan hidup yang tak kalah penting dari ilmu dan materi adalah sentuhan seni. Bahkan sejak bangun tidur kita sudah berurusan dengan seni ketika hendak memilih pakaian dan berdiri di depan cermin.

Rumah yang bagus bukan semata karena kuat bangunannya, namun keindahan arsitekturalnya. Begitu pun mobil, pesawat televisi, kulkas, handphone, pakaian, dan sekian perabotan rumah tangga semua itu menjadi enak dilihat, dipakai dan harganya menjadi mahal ketika memiliki nilai estetika tinggi. Dan karya seni paling tinggi adalah alam raya ciptaan Tuhan ini.

Sayang, di antara kita tidak lagi memperoleh rasa bahagia dengan merenungkan dan mengapresiasi keindahan alam ini karena mungkin konsep kebahagiaan selalu dikaitkan dengan materi.

Tangga keempat: Moral Happiness

Mari kita bayangkan, ada seorang teman yang tampan, cantik, pintar, dan selera seninya tinggi, namun tidak memiliki akhlak mulia. Pasti orang itu tak akan menarik dijadikan teman. Lebih dari itu orang yang tidak bermoral lebih banyak menimbulkan problem bagi diri, keluarga, dan masyarakat, bukannya berbagi kebahagiaan. Semakin tinggi kualitas pribadi seseorang, maka ia akan lebih merasa bahagia ketika memberi bukannya meminta.

Kehidupan ini tetap menyimpan optimisme berkat warisan nilai dan ketauladanan yang diwariskan oleh para Rasul Tuhan dan pribadi-pribadi unggul. Mereka siap masuk tahanan musuh demi membela rakyatnya yang tertindas. Mereka rela memberikan jiwanya demi sebuah cita-cita besar untuk membela martabat bangsanya.

Tetapi kita juga menyaksikan, ada beberapa koruptor yang berusaha lolos dari tahanan sekalipun harus menyuap hakim dengan uang hasil korupsinya.

Pendeknya, jika kebahagiaan yang bersumber pada materi ditandai dengan nafsu dan keinginan untuk selalu berebut, maka kebahagiaan moral justeru terletak ketika seseorang banyak memberi.

Bagi mereka yang secara materi tidak berkecukupan, pintu kebahagiaan tetap terbuka karena memberi tidak selalu berupa uang, melainkan bisa berupa hati, pikiran dan tenaga.

Tangga kelima: Spiritual Happiness

Sadar bahwa kekayaan, kepintaran, ketampanan dan panggung sosial semuanya akan berakhir, maka kita bertanya, lalu adakah nilai-nilai kehidupan yang abadi yang tidak terkena hukum kehancuran serta memberikan kebahagiaan sejati? Orang yang beriman pada Allah akan senantiasa memiliki keyakinan bahwa tanpa keimanan dan kepasrahan total pada Allah maka apapun yang kita miliki dan banggakan akan sirna.

Oleh karena itu empat tangga kebahagiaan di atas akan menjadi solid dan sejati ketika dibimbing, disinari, diarahkan dan diberi ruh oleh nilai-nilai spiritual. Yaitu keimanan, kecintaan dan ketundukan pada Allah.

Keimanan ini ibarat angka satu (tawhid), sehingga angka berapapun yang berdiri di belakangnya menjadi bermakna. Berapapun panjangnya deretan angka nol, semuanya tetap nol. Dan itulah sifat dunia yang fana. Dengan landasan tawhid seseorang menjadi lebih bijak dan bersyukur serta senantiasa memberikan bobot ibadah terhadap kekayaannya, kepintarannya, ketampanannya, dan relasi sosialnya.

Hidup adalah rekreasi yang menggembirakan dan membahagiakan jika diisi dengan produktifitas yang meringankan beban orang lain sebagai wujud kecintaan dan ketundukan pada Allah, kapanpun dan di manapun berada.

Oleh: Komaruddin Hidayat, adalah Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Alumni ESQ Eksekutif Angkatan 20. Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Nebula (ESQ Magazine) Edisi 10/Tahun I/2005

http://esqmagazine.com/refleksi/2009/10/30/700/art-happiness-work.html




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar