Selasa, 12 Mei 2015

Tujuh Petuah Seorang Ayah

Tugas utama dan terbesar seorang ayah adalah mendidik istri dan anak-anaknya taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dulu, ketika anak-anak masih kecil, saya menyiapkan waktu khusus untuk shalat Subuh berjamaah di rumah dilanjut dengan taklim. Alhamdulillah, nilai-nilai akidah tauhid, ibadah, dan akhlak (adab) mulai tertanam dan tumbuh perlahan laksana sebatang pohon.

Namun, akar pohon akidah tersebut masih dangkal dan rapuh. Pohon kepribadian itu mesti dijaga dan dirawat oleh sang ibu. Ibu merawat batang dan dahannya (ibadah) agar berbuah di sepanjang musim (akhlak karimah). Inilah Mukmin sejati seperti pohon yang baik (QS Ibrahim [14]:24-25).

Sang ayah yang diabadikan namanya karena upaya pendidikan keluarga yang luar biasa adalah Lukman al-Hakim. Ungkapannya yang santun dan menyentuh hati, yaitu yaa bunayya (wahai anakku) diulang tiga kali.

Petuahnya untuk bertauhid, berbakti kepada orang tua, melakukan kebaikan sekecil apa pun, mendirikan shalat, sabar, amar makruf nahi mungkar, dan jangan meremehkan manusia diabadikan dalam surah Lukman ayat 12-19 agar kita mengambil hikmahnya.

Begitu pun sang ayah, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ya’kub AS menyapa dengan tutur kata yang lembut, yaa baniyya (wahai anak-anakku), untuk menanamkan akidah tauhid (QS al-Baqarah [2]: 132). Nabi Yakub AS juga menyapa anaknya Nabi Yusuf AS dengan panggilan, yaa bunayya (QS Yusuf [12]:5,67,87).

Di pengujung hidupnya, ia mengevaluasi proses pendidikan tersebut dengan bertanya, “maa ta’buduuna min ba’dii” (apa yang kalian sembah setelah aku mati)? Mereka menjawab dengan tegas, yakni menyembah Tuhan Yang Esa, Allah SWT (QS al-Baqarah [2]:133). Beliau pun ter senyum hingga ajal menjemput.

Sang ayah, Nabi Nuh AS, juga memberi pelajaran berharga. Perjuangannya mendidik anak lahir batin belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Konon, ketika banjir bandang menenggelamkan daratan, Nabi Nuh masih memanggil penuh harap dan sayang anaknya, Kan’an, “Yaa bunayya, masuklah ke dalam perahu bersama kami.”


Namun, Kan’an tetap tak mau mengikuti seruan ayahnya hingga tenggelam dihantam ombak besar dalam kekafiran (QS Hud [11]:42-44). Beliau memberi pelajaran berharga, yakni walau anak menjadi fitnah dan musuh yang menyesakkan dada, ia tak boleh berputus asa.

Bagi para ayah, tujuh petuah berikut ini bisa jadi rujukan. 


Pertama, “Wahai anakku, agama laksana petunjuk jalan menelusuri kehidupan.” 
Kedua, “Wahai anakku, ilmu laksana cahaya yang menyinari di kegelapan malam.” 
Ketiga, “Wahai anakku, harta laksana hiburan menyenangkan dalam pertunjukan.” 
Keempat, “Wahai anakku, berbagi laksana air yang mengaliri pepohonan lalu berbuah dan dimakan oleh yang membutuhkan.”
Kelima, “Wahai anakku, cinta laksana sekuntum bunga dalam hati yang diliputi kerinduan.” 

Keenam, “Wahai anakku, seni laksana simponi keindahan Ilahi dalam jiwa.” 
Ketujuh, “Wahai anakku, adab (akhlak) laksana mahkota kemuliaan tanpa memandang keturunan.” 

Wallahu a’lam bish-shawab. ¦



Oleh Hasan Basri Tanjung


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar