Kamis, 05 Desember 2013

Keutamaan Berdo'a dan Kriteria Do'a Mustajab

Doa menurut tinjauan syar’i terbagi kepada dua pembagian; doa ibadah dan doa masalah,
Doa ibadah adalah seluruh bentuk ibadah yang nampak maupun yang tersembunyi, balk dalam bentuk ucapan atau perbuatan.

Doa masalah adalah seseorang meminta kepada Allah Ta’ala agar mendapatkan suatu manfaat atau terhindar dari bahaya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullahu Ta’ala- berkata, “Setiap doa ibadah mengharuskan adanya doa masalah, dan setiap doa masalah dalamnya terkandung doa ibadah.” (Majm Al-Fatawa 15/11)

Allah Ta’ala berfirman,

Berdoalah kepada Rabbmu dengan merendah diri dan dengan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” [Al-A'raf: 55]

Dan Allah Ta’ala berfirman,

“(Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu seru, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada-Nya, jika la menghendaki.”[Al-An'am: 41]

Dan ayat-ayat yang semisal ini dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang doa masalah sangat banyak. Di dalamnya terkandung doa ibadah, karena orang yang berdoa dia mengikhlaskan doanya hanya kepada Allah Ta’ala, sedang keikhlasan itu merupakan ibadah yang paling afdhal. Maka demikian pula halnya orang yang berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, membaca Al-Qur’an dan melakukan ibadah-ibadah yang lainnya. Pada hakikatnya dia berdoa dengan bermohon kepada Allah Ta’ala, sehingga keadaannya seperti orang yang berdoa dan beribadah.

Adapun doa yang kita maksudkan dalam pembahasan di sini adalah jenis yang kedua, yaitu doa masalah.

Doa memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam syariat islam. Oleh karena itu, telah datang nash-nash Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat banyak menjelaskan tentang keutamaan berdoa dengan bentuk pemaparan yang beraneka ragam. Ada yang datang dalam bentuk perintah dan anjuran untuk berdoa, ada yang datang dalam bentuk peringatan dari meninggalkan dan merasa bodoh darinya, ada yang datang dalam bentuk penyebutan akan besarnya pahala dan ganjarannya di sisi Allah Ta’ala, adapula dalam bentuk pujian terhadap orang-orang yang beriman yang berdoa kepada Allah Ta’ala dan dengan berbagai bentuk pemaparan yang lainnya. Seluruh hal ini menunjukkan bagaimana besarnya kedudukan dan keutamaan doa dalam syariat Islam.
Bahkan Al-Qur’an yang merupakan kalamullah telah diawali dengan doa dan diakhiri dengan doa pula. Dalam surah Al-Fatihah terdapat doa meminta hidayah kepada Allah ke jalan yang lurus dan agar dijauhkan dari jalannya orang-orang yang menyimpang, yaitu firman Allah ‘Azza wa jalla,

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (hula (jalan) mereka yang sesat.”[Al-Fatihah: 6-7]

Dan dalam surah An-Nas yang merupakan urutan surah yang terakhir di dalam AI-Qur’an juga terkandung doa, yaitu minta perlindungan kepada Allah Ta’ala dari kejelekan bisikan syaithan; jin maupun manusia.

Dan Allah telah memuji hamba-hambanya dari kalangan Nabi dan Rasul yang berdoa kepada Allah dengan penuh rasa harap dan cemas. Allah Ta’ala berfirman,

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik, dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” [Al-Anbiyi: 90]

Demikian pulaAllah Ta’ala memuji hamba-hambanya dari kalangan orang-orang yang beriman,

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka.” [As-Sajadah: 16]
Dan Allah Ta’ala berfirman mensifatkan penduduk surga tatkala mereka masuk ke dalamnya dalam keadaan selamat,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya, dibawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. Doa mereka di dalamnya ialah Subhanakallahumma’ [Maha Suci Engkau wahai Rabb kami] dan salam penghormatan mereka adalah `Salam dan penutup doa mereka adalah Alhamdulillahi Rabbul Alamin.’.” [Yunus: 9-10]

Dan Allah Ta’ala juga berfirman, memberika dorongan kepada hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Dan Rabbmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu.’ Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk nerakajahannam dalam keadaan hina dina.” [Ghafir: 60]

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Ta’ala telah menjanjikan bagi orang-orang yang berdoa kepada-Nya, bahwa Allah akan mengabulkan doanya dan memenuhi permintaannya.
Namun dari sisi lain, banyak orang yang berdoa kepada Allah Ta’ala, akan tetapi ia tidak melihat sesuatu apapun yang dikabulkan dari doa tersebut, atau sebagiannya dikabulkan dan sebagian lainnya tidak.

Maka para ulama telah menyebutkan beberapa jawaban akan hal ini, namun yang paling bagus dari jawaban-jawaban tersebut adalah bahwa doa merupakan wasilah untuk meraih apa yang diinginkan. Untuk mendapatkan sesuatu, seseorang haruslah menempuh sebab-sebabnya dan menjauhi penghalang-penghalangnya. Maka apabila salah satu dari dua hal ini hilang, niscaya doanya tidak akan dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah– berkata, “Sesungguhnya doa termasuk sebab yang paling kuat yang ditempuh oleh seorang hamba agar terhindar dari bahaya dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Akan tetapi terkadang doa tersebut tidak meninggalkan pengaruh sama sekali, apakah disebabkan karena kelemahan pada din karena ia berdoa dengan sesuatu yang tidak dicintai oleh Allah Ta’ala disebabkan karena adanya bentuk permusuhan di dalamnya, atau karena kelalaian hati dan tidak menyatunya hati tersebut menghadap kepada Allah di saat berdoa, sehingga kedudukannya bagaikan busur yang talinya sudah kendor, sehingga anak panah pun keluar darinya dengan begitu lembut, atau karena adanya sesuatu yang menghalangi terkabulnya doa tersebut, seperti makanan yang haram, kezhaliman dan tertutupnya hati karena dosa, atau karena adanya kelalaian, syahwat dan sends gurau yang begitu tinggi ….” (AI-Jawabul Kali hal. 9-10)

Maka oleh sebab itu, berikut akan kami sebutkan sebahagian dari hal-hal yang menggambarkan kriteria doa mustajabah:

1. Berdoa dengan memuji Allah Ta’ara dan bershalawat kepada Nabi shallallahu wa sallam.
Imam Ahmad, At-Tirmidzy, An-Nasal dan lain-lainnya meriwayatkan dari Fudhalah bin `Ubaid rahimahullah, bahwa beliau berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki berdoa pada shalatnya dalam keadaan tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, `Kamu terialu tergesa-gesa, wahai orang yang shalat.’

Kemudian Nabi shallallahu wa sallam mengajari mereka. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki berdoa maka dia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Berdoalah maka (doamu) akan dikabulkan, dan mintalah niscaya kamu akan diberi.’.”[Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Sunan Tirmidzy no. 2765]

2. Mengawali doa dengan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyesali segala kesalahan-kesalahan, karena bertumpuknya dosa dan maksiat akan menghalangi terkabulnya doa. Sebagian para ulama salaf berkata,
 “Janganlah kamu mengatakan, ‘Kenapa doa saya belum dikabulkan?’, sementara kamu telah menutupi jalan-jalannya dengan maksiat.”

Dan sebagian yang lain mengumpulkannya dalam dua bait syair,
Kami berdoa kepada Allah pada setiap kesulitan
Kemudian kami pun melupakannya tatkala kesulitan itu hilang
Kenapa kami mengharapkan dikabulkannya doa
Sementara kami telah menutupi jalan-jalannya dengan melakukan dosa
Imam Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah ketika menguraikan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, 
“… kemudian beliau (Nabi shallallahu alaihi wa sallam) menyebutkan seorang lelaki yang telah jauh perjalanannya, dia berambut kusut penuh dengan debu, dia menadahkan tangan-nya ke langit dan berkata, ‘wahai Rabb, wahai Rabb, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan barang yang haram, maka bagaimana is akan diterima per-mintaannya?” Beliau berkata, “Melakukan perkara-perkara yang haram juga menghalangi terkabulnya doa dan demikian pula meninggalkan perkara-perkara yang wajib.” (Jamrul’Ulam wal Hikam 1/275)

3. Berdoa dengan khusyuk dan tidak lalai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Berdoalah kamu kepada Allah dalam keadaan kamu yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah sesungguhnya Allah Tabla tidak akan menerima doa dari hati yang lalai lagi tidak khusyuk.“[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan dihasankan oleh Syaikh Al-Al¬bany dalam Shahih Jami' no. 245]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Maka ini adalah obat yang bermanfaat untuk menghilangkan penyakit, akan tetapi kelalaian hati bisa menghilangkan kekuatan doa.” (AI-Jawab Al-Kali hal- 9-10)

Berdoa dalam keadaan merendah diri dan merasa hina di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai-mana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 2622,

Kadang orang yang kusut rambutnya lagi terusir dari pintu-pintu (manusia), andaikata dia bersumpah atas nama Allah (berdoa) niscaya Allah akan mengabulkannya.”
Dan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma tatkala beliau ditanya tentang shalat Istisqai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluardalam keadaan berpakaian biasa, merendah diri lagi bermohon dengan sungguh-sungguh.”[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Jami' no. 1753]

Berdoa dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah dan tidak tergesa-gesa untuk dikabulkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Senantiasa akan dikabulkan (doa) salah seorang antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa. Dia berkata, `Saya telah berdoa namun tidak dikabulkan untukku.”[Dinwayatkan oleh Al-Bukhary no. 634 dan Muslim no. 2735 dariAbu Hurairah radhiyallahu "anhu]

6. Tidak meminta dengan sesuatu yang terlarang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Terus-menerus akan dikabulkan doa seorang hamba selama ia tidak berdoa dengan sesuatu yang mengandung dosa atau pemutusan hubungan kekeluargaan, selama ia tidak tergesa-gesa. Ada yang bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang dimaksud dengan tergesa-gesa?’ Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Dia mengatakan, ‘Saya telah berdoa, saya telah berdoa, tetapi saya tidak melihat dikabulkan untukku,’ maka dia pun putus asa ketika itu dan meninggalkan doa.” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2735]

7. Bersungguh-sungguh di dalam berdoa.

Jika kita melihat kepada doa-doa Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka kita akan dapatkan beliau bersungguh-sungguh dalam berdoa, sehingga beliau menyebutkan setiap lafazhnya dengan jelas dan tidak mencukupkannya dengan lafazh-lafazh yang umum, seperti doa beliau shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits ‘Ali bin Abi Thalib yang diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 771,

Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu maupun yang akan datang, yang tersembunyi maupun yang nampak, dan sungguh Engkau lebih tahu terhadapnya dariku, Engkau Yang Pertama dan Engkau Yang Terakhir, tidak ada sesembahan yang hak kecuali Engkau.”

Dan dimaklumi andaikata beliau mengatakan, “Ampunilah seluruh dosa-dosaku,” maka ini tentunya lebih ringkas, akan tetapi hadits ini kondisinya adalah ketika berdoa, dan ini adalah saat seseorang hamba bersimpuh di hadapan Allah Ta’ala, merendah dan menampakkan ketidak berdayaannya, dengan sungguh-sungguh mengharapkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan segala bentuk dosa yang ia terjatuh ke dalamnya.
Dan demikian pula sabda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam

Ya Allah, ampunilah seluruh dosa-dosaku, sedikit atau pun banyak, yang tersembunyi maupun yang nampak, yang pertama maupun yang terakhir.” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 483]

8. Memakan makanan yang halal, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“… kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang telah jauh perjalanannya, dia berambut kusut penuh dengan debu, dia menadahkan tangannya ke langit dan berkata, ‘Wahai Tuhan, wahai Tuhan,’ sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan barang yang haram, maka bagaimana ia akan diterima permintaannya?”

Dan berkata Wahab bin Munabbih rahimahullah, “Barangsiapa yang ingin dikabulkan oleh Allah Ta’ala doanya, maka hendaknya dia makan dari makanan yang halal.” (Jami wa Al-Hikam 1/275)

9. Berdoa dengan mengangkat dan menadahkan kedua tangan ke langit.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Rabb kalian Maha Hidup lagi Maha Mulia, malu dari hamba-Nya apabila la (berdoa) dengan mengangkat kedua tangannya lalu Dia (Allah) mengembalikan kedua tangannya tersebut dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).
[Diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzy dan lain-lain dari Salman Al-Farisy radhiyallahu 'anhu. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Jami' no. 1753]

10. Berdoa pada waktu-waktu mustajabah.

Terdapat sejumlah waktu yang dikabulkan padanya doa, di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Setiap sepertiga malam terakhir, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang mutawatir, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, `Siapa yang berdoa kepada-Ku maka akan Aku kabulkan, Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya akan Aku beri dan siapa yang mohon ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni.”

b. Suatu saat pada hari Jum’at, sebagaimana dalam Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu `anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hari Jum’at lalu beliau bersabda,

Padanya ada suatu saat yang tidaklah seorang hamba muslim berdiri menegakkan shalat dia berdoa kepada Allah Ta’ala meminta sesuatu kecuali Allah akan memberikannya padanya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengisyaratkan (waktu tersebut) dengan tangannya yang menunjukkan waktunya sedikit.”

Dan para ulama telah bersilang pendapat tentang penentuan tepatnya waktu tersebut sehungga mencapai 40 pendapat.
Dan pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah, pendapat yang mengatakan bahwa waktunya adalah antara shalat Ashar hingga terbenamnya matahari, berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh lbnu Majah dan hadits Jabir riwayat Abu Daud dan An-Nasai.
Dan ini yang dikuatkan oleh Imam Ahmad rahimahullah, yang mana beliau berkata, 

“Kebanyakan hadits-hadits menunjukkan akan pendapat ini.”
Dan berkata Imam Abu ‘Umar lbnu ‘Abdil Barr, “Itu adalah yang paling kuat dalam masalah ini.”
Dan ini pula yang dikuatkan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad 1/390-391.

c. Pada hari ‘Arafah yaitu tanggal 9 Dzulhijjah.

Rasulullah shallallahualaihi wa sallam bersabda,

Doa yang paling baik adalah doa pada hari ‘Arafah, dan sebaik-sebaik apa yang saya ucapkan dan yang diucapkan para nabi sebelumku adalah, ‘Tidak ada sesembahan yang hak kecuali hanya Allah satu-satunya yang tidak ada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya segala kerajaan dan segala pujian, dan Dia Maha Mampu atas segala sesuatu.’.” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah 4/7,8 dengan seluruh jalan-jalannya]

d. Antara adzan dan iqamah. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda,

Doa antara azan dan iqamah tidak akan ditolak, maka berdoalah kalian.” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Daud danAt-Tirmidzy. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Jami' no. 3408]

e. Ketika sujud, sebagaimana dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sedekat-dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa padanya.”

f. Ketika musafir. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

Ada tiga doa mustajabah yang tidak diragukan lagi padanya, (yakni) doa orang yang dizhalimi, doa orang yang musafir dan doa orang tua untuk kebaikan anaknya.[Diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzy dan lbnu Majah dari Abu Hurairah. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shahihah no.5961 Dan di dalam riwayat Imam Ahmad dengan lafazh,

Doa orang tua atas (kejelekan) anaknya.”

Demikian bebarapa pembahasan yang kami berharap kepada Allah agar bermanfaat bagi seluruh pembaca. Pembahasan di atas kebanyakan dirangkai clan kitab Fiqih Al-Ad’iyah wa Al-Adzkar karya Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr. Dan kami mengajak para pembaca untuk berlomba-lomba dalam meraih kemuliaan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan memperbanyak doa dan mengikhlaskannya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu Ta’ala Alam bish Shawab.



Artikel : Keutamaan Berdoa dan Kriteria Doa Mustajab
Penulis : Abdurrahman bin Thahir
Sumber : Risalah ‘Ilmiah An-Nasihah, Volume 14 tahun 1429 H/ 2008 Halaman 49-53


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar