Kamis, 05 Desember 2013

Menghindari Musibah



Allah Ta’ala berfirman “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali kepada jalan yang benar” (QS. Ar-ruum: 41).

Dalam ayat ini Allah ingin menyadarkan manusia bahwa kerusakan yang terjadi baik di daratan atau di lautan yang dampak negatifnya dirasakan oleh manusia disebabkan oleh ulah dan tingkah mereka yang tidak mengindahkan jalan yang benar (aturan-aturan) Sang Khaliq yang telah memberi mandat khilafah kepada mereka di muka bumi ini.

Oleh karenanya, prioritas kesadaran yang harus dibangun oleh setiap penduduk bumi ini adalah bahwa yang memiliki hak prerogatif membuat aturan main (resep) untuk mengelola bumi ini adalah Pencipta bumi itu sendiri, Dia adalah Allah Robbul ’aalamin. Dialah yang paling tahu karakter, sifat, kondisi dan kebutuhan ciptaan-Nya.

Paling tidak ada dua dampak serius ketika pengelolaan bumi sudah tidak lagi mengindahkan aturan pakai yang telah ditetapkan oleh Penciptanya. Pertama: Kerancuan dan kekacauan yang berdampak pada kerusakan disana-sini. Kedua : Murka dan Amarah Allah sebagai Pencipta sekaligus Pemberi amanah yang telah dikhianati oleh manusia (khalifah-Nya). Dan manusialah yang paling merasakan dampak tersebut diatas.

Aturan main yang dikehendaki oleh Allah adalah Al-Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As sunnah, satu-satunya ajaran yang diridhai oleh Allah sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia dalam mengemban amanah khilafah di muka bumi ini. Sebagaimana firman Nya “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam” (QS. Ali Imran: 19)

Hanya dengan kembali dan berpegang teguh kepada Al-Islam secara utuh dan menyeluruh, segala permasalahan hidup dan kehidupan akan mendapatkan bimbingan dan solusinya. Sebaliknya berpaling dari aturan Allah (Al-Islam) hanya akan menambah kesempitan dan kesulitan dalam hidup. Allah berfirman “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaha: 124).

Dan salah satu bentuk rahmat Al-Qur’an kepada orang-orang yang beriman adalah berupa nasihat-nasihat atau tips-tips agar terhindar dari musibah dan azab Allah. Sebagian dari tips-tips itu adalah :


Beriman Dan Bertaqwa

Allah Azza wa Jalla berfirman “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat- ayat Kami itu, maka Kami akan siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96).

Pada penggal pertama ayat ini jelas sekali Allah berjanji akan melimpahkan keberkahan kepada penduduk negeri yang mau beriman dan bertaqwa, tentunya iman dan taqwa yang dikehendaki oleh Allah adalah iman dan taqwa yang sungguh-sungguh, serius dan terus menerus sampai mati, sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam” (QS. Ali ‘Imran: 102).

Dan pada penggal kedua ayat di atas Allah mengancam orang-orang yang mendustakan ayat-ayat (aturan-aturan)-Nya dengan siksa.

Dari ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa menjalani dan menata kehidupan di atas dasar keimanan dan ketundukan kepada syariat Allah akan mendatangkan keberkahan-keberkahan dari Allah, baik keberkahan dalam bentuk kemakmuran, keamanan dan kedamaian bagi setiap penduduk negeri. Akan tetapi jika penduduk negeri itu didominasi oleh orangorang yang tidak beriman kepada Allah dan mengabaikan, bahkan mendustai aturan-aturan-Nya, maka Allah pasti akan mendatangkan murka dan siksa-Nya baik dalam bentuk bencana, musibah atau yang lainnya. Na’uzubillaahi min dzalik.


Bersyukur

Allah Taala berfirman “Mengapa Allah menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui” (QS. An-Nisaa`: 147).

Dari kedua ayat di atas bisa dipahami bahwa bersyukur kepada Allah dengan sebenar-benarnya kesyukuran, baik itu hati, lisan ataupun perbuatan akan melahirkan dua dampak positif sekaligus, yang pertama: Nikmat akan semakin bertambah, kedua: Akan terjauh dari azab dan murka Allah.

Hanya ada dua pilihan bagi kita, jika kita menginginkan tambahnya nikmat dan terjauh dari azab dan murka Allah, maka kita harus bisa menjadi hamba-hamba Allah yang senantiasa mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat-Nya Dan Allah berjanji akan memasukkan orang-orang yang senantiasa mengingat nikmat-nikmat-Nya ke dalam golongan orang-orang yang beruntung. Sebagaimana firman-Nya “Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al-A’raf:69)

Sebaliknya jika kita ‘menginginkan’ siksa dan murka Allah, maka tinggalkan atau abaikanlah perintah syukur, ingkarilah nikmat-nikmat Allah dan gunakanlah nikmat-nikmat itu sekehendak nafsu dan syahwat, niscaya Allah akan mengangkat nikmat-nikmat itu dan menggantinya dengan azab dan murka-Nya. Allah berfirman “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman dan tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tapi penduduknya mengingkari nikmatnikmat Allah, karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS. An-Nahl: 112}.


Beristighfar

Allah Azza wa Jalla berfirman “Dan Allah sekali-sekali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah pula Allah akan mengazab mereka, sedang mereka beristighfar (meminta ampun)” (QS. Al-Anfal: 33).

Ayat ini mengisyaratkan tentang dua hal yang bisa ‘menangkal’ azab Allah Ta’ala. Pertama: keberadaan Rasulullah saw. Kedua: beristighfar atau minta ampun. Keberadaan Rasulullah saw. telah berlalu masanya. Sementara yang bisa dilakukan oleh mereka yang hidup pada masa paska kenabian, agar terjauh dari azab Allah adalah melestarikan sunnah-sunnah beliau, yang salah satunya adalah senantiasa melakukan istighfar atau bertaubat kepada Allah. Sebagaimana sabda Beliau; “Wahai manusia, bertaubatlah kamu kepada Allah dan minta ampunlah (beristighfar) kepada-Nya, karena sesungguhnya aku sendiri biasa bertaubat (dengan membaca istighfar) dalam sehari seratus kali” (HR. Muslim). Dari hadits ini jelaslah bahwa Rasulullah menjadikan istighfar sebagai wirid, amalan yang biasa dilakukan secara rutin setiap hari.

Istighfar adalah salah satu jalan untuk kembali kepada Allah, dengan istighfar kita akan mendapatkan keuntungan ganda baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia Allah akan menjauhkan kita dari azab-Nya, memudahkan urusan kita dan melapangkan rizki kita. Sementara di akhirat Allah akan mengampuni dosa-dosa kita dan memasukkan kita dalam naungan rahmat-Nya. Allah berfirman “Hendaklah kamu meminta ampun (beristighfar) kepada Allah agar kamu mendapat rahmat” (QS. An-Naml: 46).

Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah akan menghilangkan darinya segala kesusahan, menghilangkan darinya segala kesempitan, dan akan mendatangkan rezki dari sumber yang tidak terduga” (HR. Abu Daud).


Berbuat Baik

Allah Taala berfirman, “Dan Tuhanmu sekalikali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zhalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat baik” (QS. Huud: 117).

Ayat ini menegaskan bahwa Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang sama sekali tidak akan membinasakan suatu negeri, sementara nilai-nilai kebaikan masih eksis dan dominan di dalam negeri tersebut. Eksisnya nilai-nilai kebaikan sangat ditentukan oleh sejauh mana usaha yang dilakukan oleh penduduk negeri dalam beramal shalih, baik dalam dimensi fisik, ruhani maupun intelektual.

Jika amal shalih (perbuatan baik) telah benarbenar menjadi kebiasaan dan mendominasi seluruh sisi kehidupan kita, Allah pasti akan memberikan kepada kita kehidupan yang baik dan balasan pahala berlipat ganda di sisi-Nya. Sebagaimana Firman-Nya “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97)

Begitu juga sebaliknya, segala bentuk perusakan dan eksploitasi alam yang tidak mengindahkan nilai-nilai keimanan dan keislaman hanya akan mendatangkan azab dan murka dari Allah Azza wa Jalla. Sebagaimana firman-Nya “Orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan” (QS. An-Nahl: 88).


Tidak Berbuat Zhalim

Allah Taala berfirman, “…Dan tidak pernah pula Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezhaliman” (QS. Al-Qashas: 59).

Tidak diragukan lagi, bahwa salah satu sebab datangnya azab dan murka Allah adalah perbuatan zhalim yang dilakukan oleh penduduk bumi ini. Dengan demikian ketika kita ingin terjauh dari siksa dan murka Allah, kita harus menjauhkan diri kita dari segala macam bentuk kezhaliman, baik kezhaliman terhadap Allah, diri sendiri ataupun kezhaliman terhadap orang lain.

Kezhaliman yang paling berbahaya dan paling besar dosanya adalah syirik (menyekutukan) Allah dalam segala bentuknya. Dengan berbuat syirik berarti telah menyamakan kedudukan Khaliq (Pencipta) dengan makhluk-Nya, ini adalah sebuah kezhaliman yang besar dan nyata. Allah berfirman “Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman (dosa) yang paling besar” (QS. Luqman: 13).

Selanjutnya tingkatan kezhaliman di bawah syirik adalah maksiat dan berbagai macam dosa, baik yang kecil maupun besar. Baik yang terkait hubungan dengan Allah ataupun dengan sesama makhluk. Semua jenis kezhaliman ini akan menyeret manusia ke dalam kegelapan, siksa dan kehancuran, baik di dunia maupun di akhirat. Dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw. bersabda “Sesungguhnya kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat” (HR. Bukhori dan Muslim).

Hanya satu jalan untuk menuju bahagia, bersama kita hancurkan segala macam kezhaliman dan kita tegakkan keadilan dalam seluruh sisi kehidupan. Allah berfirman “…Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (QS. Al-Maidah: 8).

Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. Aamiin.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar