Selasa, 10 Desember 2013

Sedekah Membawa Berkah



Hidup dari keluarga berkecukupan dan keturunan ulama besar, menjadi tokoh pemuka agama Islam yang dikenal luas terlebih dalam hal sedekah, usia yang masih terbilang muda, Ustadz Yusuf Mansur. Banyak usaha yang dimiliki beliau dan beliau juga merupakan pimpinan Pondok pesantren Tahfidz Daarul Quran. Beliau pun selalu melakukan kegiatan positif untuk kemasyarakatan yang mana menekankan pada sosial. Berbagi terhadap anak yatim, berbuka puasa bersama anak yatim dan lain sebagainya.

Beliau lahir dalam keluarga seniman Betawi yang memiliki kultur religius yang tinggi, menjadikan beliau sudah akrab dengan nilai – nilai keagamaan. Kesehariannya sedari kecil berada di lingkungan Madrasah Al Mansyuriah, di dalam masjid dekat jembatan lima, kampung sawah tepatnya.

Semasa sekolah lanjutan menengah, pria kelahiran Jakarta, 19 Desember 1976 dari pasangan Abdurrahman Mimbar dan Humrif’ah tergolong peserta didik yang cerdas. Demikian dibuktikan saat keluar sebagai lulusan terbaik Madrasah Aliyah Negeri 1 Grogol, Jakarta Barat pada tahun 1992.

Usai lulus sekolah lanjutan, beliau melanjutkan ke jurusan informatika. Namun disayangkan, kuliah terbengkalai. Beliau lebih condong balapan motor.
Pada tahun 1996, pria yang akrab disapa dengan sebutan ustadz Yusuf Mansur bernama lengkap Jam’an Nurkhatib Mansur terjun di bisnis informatika.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Peribahasa ini menggambarkan kisah hidup beliau. Bukan sukses digapai, cobaan mendera. Bisnis bangkrut terlilit hutang yang jumlahnya milyaran dan beliau pun harus merasakan dinginnya jeruji besi hotel prodeo. Dua kali beliau mengalami getirnya hidup yang lagi – lagi kembali mendekam dalam bui lantaran terlilit hutang. Beliau acapkali diancam oleh sang penagih hutang.

Dalam mengarungi perjalanan memperbaiki hidup, bertemulah beliau dengan sang gadis pujaan hati. Bersama sang istri, beliau mencoba memperbaiki hidup.
Tanggal 9 September 1999, beliau beliau berniat membiayai satu anak yatim dan mendatangi Sekolah Menengah Pertama di Cipondoh, Tangerang. Uniknya, disana, justru anak yatim bukanlah direkomendasikan sebagai anak asuh melainkan menjadi pendamping hidup. Rekomendasi itu menjadi rencana Tuhan yang terindah dan terbaik untuk beliau. Siti Maemunah yang akrab disapa Mumun menjalin ta’aruf dengan beliau. Pasangan ini awalnya menikah sirih pada Ramadan tahun 1999 di kediaman guru beliau, Bilangan Bogor. Setahun kemudian, tepatnya 9 September 2000, pernikahan diresmikan di KUA Tangerang. Kala menikah, usia keduanya terbilang masih sangatlah muda, beliau berusia 23 tahun dan pasangan berusia 14 tahun.

Pada tanggal 29 September 2001, bayi perempuan yang diberi nama Wirda Salamah Ulya lahir dari rahim sang istri, Mumun. Lalu, lahir kembali putri kedua, Qumii rahmatul Qulmul. Dalam pernikahan, keduanya benar – benar mengalami pahit getirnya membangun perekonomian bahtera rumah tangga. Setahun tidur dengan kasur yang supertipis dengan ranjang besi yang berderit kala bergerak, ranjang sejarah peninggalan ibunda beliau. Pengalaman hidup serba kekurangan, tak cukup kuat melunturkan cinta di hati keduanya. Hidup diisi dengan tawa dan canda meski ekonomi serba kekurangan.

Pada masa tahanan pertama, Ustadz Yusuf Mansur mulailah menghafal Al Quran. Ada kisah gurauan tersendiri yang tak bisa terlupakan dalam benak beliau.
Setelah mengalami masa kelam keluar masuk penjara, beliau mulai bangkit kembali dan menuju kemilau cahaya hidup. Beliau kembali memulai bisnisnya. Dari ketekunan, keuletan serta ilmu sedekah yang diyakini beliau, bisnis terus berkembang.

Kehidupan beliau bersama keluarga bisa dibilang harmonis. Keharmonisan demikian diperlihatkan dari suka duka yang selalu dirasakan bersama. Tak kenal lelah mengarungi bahtera hidup. Keharmonisan itu pun mampu mengantarkan beliau mengenal dan akrab dengan orang – orang berpengaruh baik di dalam maupun luar negeri mulai dari kalangan orang biasa hingga menyandang predikat Al Hafidz. Bahkan, mampu mendatangkan orang – orang tersebut untuk lebih jauh mengajarkan ajaran Islam dan berbagi pengalaman di negeri kelahiran beliau, Indonesia.

Awal mula kesuksesan karir beliau dimulai dari perkenalannya dengan sebuah LSM. Selama di LSM itulah, beliau meluncurkan buku pertamanya yaitu Wisata Hati Mencari Tuhan yang Hilang. Buku dibuatnya ketika masih mendekam dalam penjara, berisi tentang untaian curahan hati beliau. Tanpa diduga, buku tersebut mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Lantas, dari sanalah, beliau kebanjiran order bedah buku dan sebagai penceramah agama.

Ditengah ceramahnya, beliau selalu menyisipkan ilmu sedekah yang disertai dengan berbagai keajaiban dan kisah nyata. Karir beliau semakin melejit menuju keemasan. Dipertemukanlah beliau dengan Yusuf Ibrahim, seorang produser dari salah satu label ternama yang menggandengnya menggarap kaset tausiah Kun Fayakun, The Power of Giving dan Keluarga. Kemudian, bersama Wisata Hati dan Sinemart, diluncurkan Kasih Hati yang menyerukan keutamaan sedekah melalui tayangan berdasarkan kisah nyata. Disamping hal terkait, beliau juga menggagas Program Pembibitan Penghafal Al Quran atau PPPA, menyiapakn calon – calon penghafal Al Quran dan menjadi ladang sedekah bagi keluarga besar Wisata Hati. Beberapa buku karya milik beliau yang turut pula sukses diantaranya Buat Apa Susah, Suasah itu Mudah, Allah Maha Penolong, Allah Maha Pemurah, Kado Ingat Mati, Kaya Lewat Jalan Tol, Allah Maha Pemberi, membumikan rahmat Allah dan Allah Maha Pelindung.

Ustadz Yusuf Mansur sungguh kisah hidupnya from zero to hero. Layak menjadi tokoh perubahan. Bermula dari kebohongan dengan menjual tanah orang tua dan adanya kesadaran untuk bertaubat. Ilmu sedekah menjadi acuan setiap langkah. Do’a dan dukungan dari orang tua utamanya sang ibu menjadi prioritas kesuksesan yang didapat oleh beliau.

Telah dituangkan dalam Firman Allah SWT
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ( QS. Al Baqarah ayat 261 dan 262 ).

Dalam QS. Al An’aam ayat 151 pun dikatakan ”Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua ibu bapak dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak diantaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami(nya). (QS. 6:151).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar