Selasa, 10 Desember 2013

Pandai Bersyukur





Pengertian

Secara harfiah syukur berarti berterimakasih. Bersyukur adalah mengakui kebajikan. Juga berterima kasih kepada pihak yang telah berbuat baik atas kebajikan yang telah diberikannya.

Sedangkan secara terminologi bersyukur adalah memperlihatkan pengaruh nikmat Illahi pada diri seseorang hamba pada kalbunya dengan beriman pada lisannya dengan pujian dan sanjungan, dan pada anggota tubuhnya dengan mengerjakan amal ibadah ketaatan.

Hakikat syukur menurut Imam al-Qushairi yang dinukilkannya dari Syekh Ali Dahaq adalah “pengakuan terhadap nikmat yang telah diberikan kepadanya yang dibuktikan dengan ketundukannya”. 

Berdasarkan batasan ini kita dapat menarik kesimpulan bahwa syukur ialah mempergunakan nikmat Allah Subhannahu Wa Taala menurut yang dikehendakiNya.

Bersyukur merupakan sebaik-baik jalan kehidupan bagi orang-orang yang bahagia. Tidaklah mereka menaiki tangga kedudukan yang lebih tinggi, melainkan berkat syukur mereka. 

Sebab, iman itu terdiri dari dua bagian, yaitu bersyukur dan bersabar, maka bersyukur merupakan suatu keharusan bagi orang yang harap kebaikan bagi dirinya. Syukur dan sabar ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Indikator

Indikator merupakan sebuah tanda atau ciri-ciri dari syukur. Orang yang telah menapaki tangga syukur akan bisa dilacak melalui ciri-ciri sebagai berikut:

1.      Pandai  berterimakasih dan selalu berbuat kebajikan kepada sesama 
         manusia dan alam.
2.      Gembira hati dengan apa yang diberikan walau secara kuantitas 
         pemberian itu belum sebanding dengan ikhtiar.
3.      Mampu mempergunakan nikmat itu untuk memperlancar jalan menuju 
         keridhaan Allah.
4.      Selalu mengucapkan tahmid atau Hamdalah setiap kali mendapatkan 
         nikmat atau pujian dari Allah maupun sanjungan dari orang lain.
5.      Memandang  besar Nikmat Allah sekecil apapun yang diterima dan 
         memandang ke bawah tentang urusan dunia.

Mengenai indikasi dari bersyukur atau tidaknya seseorang juga dijelaskan dalam beberapa hadits Rasulullah Salallahu Alaihi Wassalam seperti yang diriwayatkan oleh Abu Daud sebagai berikut:

لا يشكرالله من لا يشكر الناس
Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada orang lain.(HR. Abu Daud).

انظروا الى من هو اسفل منكم ولا تنظروا الى من هو فوقكم فانه اجدر ان لا تزدروا نعمة الله
“Pandanglah orang yang ada di bawahmu dan janganlah memandang orang yang di atasmu, karena sesungguhnya hal tersebut lebih mendorong kamu untuk tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim).   

Keutamaan Syukur

Syukur memiliki keutamaan yang banyak seperti yang dingkapkan oleh Allah dalam beberapa surat dan ayat Al-Quran sebagai berikut:

“... karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Al-Baqarah: 152)

Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha mengetahui. (An-Nisa: 147)

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali Imran: 145)

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklum-kan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (Ibrahim: 7)

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu kuaatir menjadi miskin, Maka Allah nanti akan memberi kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 28)

Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. (At-Taghabun: 17)

Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: "Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?" (Allah berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?"(Al-Anam: 53)

Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmu-lah kembalimu, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu. (Az-Zumar: 7)

Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam syurga di mana saja yang kami kehendaki.” Maka syurga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal. (Az-Zumar: 74)

“Doa mereka di dalamnya ialah: "Subhanakallahumma" dan salam penghormatan mereka ialah: "Salam" dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulillaahi Rabbil aalamin". (Yunus: 10).

Proses Terapi Syukur

Penerapan terapi syukur ini dapat dilakukan melalui beberapa kegiatan antara lain:
-          Mengenal nikmat: menghadirkan dalam hati, mengistimewakan dan meyakini-Nya. Apabila seseorang hamba telah mengenal nikmat, maka dari pengenalan ini dia akan beranjak untuk mengenal Tuhan yang memberi nikmat. Apabila telah mengenal tentulah ia akan mencintaiNya. Apabila ia telah mencintaiNya, tentulah ia akan sungguh-sungguh untuk mencariNya dan bersyukur kepadaNya. Pencariannya akan teraplikasi dalam bentuk ibadah. (sadar nikmat dan memandang  besar arti dan makna pemberian nikmat dari Allah).

-          Menerima nikmat: menyambutnya dengan memperlihatkan kefakiran kepada yang memberi nikmat dan hajat kita kepadaNya, bahwa berlangsungnya semua nikmat yang diterima itu merupakan keberkahanNya untuk kita mendapatkannya, karena sesungguhnya Allah memberi kita banyak nikmat hanyalah sebagai karunia dan kemurahanNya semata.

-          Memuji Allah atas  nikmat yang telah diberikan olehNya. Pujian yang berkaitan dengan nikmat ini ada dua macam yaitu bersifat umum dan khusus. Yang bersifat umum yaitu dengan memujiNya bersifat dermawan, pemurah, baik, mahaluas pemberianNya dan sebagainya. Yang bersifat khusus yaitu membicarakan nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkanNya kepada anda dan anda ungkapkan bahwa semuanya itu telah anda terima. Sesuai dengan firman Allah dalam surat Adh-Dhuhaa ayat 11: Dan terhadap nikmat Tuhan-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur – selalu membaca Alhamdulillahirabbil alamin dalam berbagai kondisi menyangkut dengan nikmat Allah dimaksud).

-          Mempergunakan nikmat dengan memanfaatkan bahagian rizki yang diperoleh untuk berbagai rahmat dengan sesama atau mempergunakannya untuk hal-hal yang mendekatkan diri kepada-Nya.

-          Memelihara kualitas ibadah dan ketaatan sebagai aplikasi syukur.

Oleh: Nazirman, Pjs. Direktur Eksekutif LPPD-FD dan Pengasuh Mata Kuliah BK Keperawatan dan Psikoterapi Islam di Fakultas Dakwah IAIN IB Padang – editor Zakirman Tanjung



Ketika kita menggemakan takbir, terutama saat berhari raya-tersirat pemahaman bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah Mahabesar, sementara kita yang diciptakannya adalah kecil. Kita hina dan tak punya daya dan kekuatan untuk berkiprah, kecuali karena kemurahan dan kebesaran Allah. Karena itu, ketika kita telah merampungkan sebuah perjuangan (baca; Ramadhan), maka perbanyaklah takbir.
"Dan hendaklah bertakbir atas anugerah yang telah Allah berikan. Semoga kalian menjadi hamba-Nya yang bersyukur." (QS al-Baqarah [2]: 185). Ayat ini merupakan satu rangkaian dengan perintah puasa (QS [2]: 183).

Ramadhan mencetak kita menjadi hamba-Nya yang bertakwa. Dan orang yang bertakwa, akan senantiasa mengingat kebesaran Allah, termasuk semua nikmat yang telah diberikan kepadanya.

Di lidah ia mengucapkan kalimat takbir, dalam amal perbuatan ia menerjemahkannya dengan rasa syukur. Karena itu, menjadi pribadi yang bertakwa belum cukup bila tidak dibarengi dengan pribadi yang bersyukur. Kenapa? Karena maqam syukur lebih tinggi dari maqam takwa. Sebab, syukur menjadi maqam-nya para nabi dan rasul. Karenanya, Allah menegaskan, hanya sedikit dari hamba-Nya yang pandai bersukur (QS Saba [34]: 13).

Syukur merupakan satu stasiun hati yang akan menarik seseorang pada zona damai, tenteram, dan bahagia. Ia juga akan mendapatkan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat, sekaligus mendapatkan insentif pahala dan kenikmatan yang terus bertambah dari Allah SWT (QS Ibrahim [14:] 7).

Rasul SAW adalah manusia yang pandai bersyukur.
Suatu ketika, beliau pernah ditanya Bilal, "Apakah yang menyebabkan baginda menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosa baginda, baik yang dahulu maupun yang akan datang?" 

Beliau menjawab, "Tidakkah engkau suka aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?"
Dzunnun al-Mishri memberi tiga gambaran tentang manifestasi syukur dalam kehidupan sehari-hari. 

Pertama, kepada yang lebih tinggi urutan dan kedudukannya, maka ia senantiasa menaatinya (bit-tha'ah). "Hai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan kepada ulil amri  di antara kalian …" (QS an-Nisa [4]: 59).

Kedua, kepada yang setara, kita mengejawantahnya dengan bil-hadiyyah. Saling tukar pemberian. Kita harus sering-sering memberi hadiah kepada istri atau suami, saudara, teman seperjuangan, sejawat dan relasi. Dengan cara itu, maka akan ada saling cinta dan kasih.

Ketiga, kepada yang lebih bawah dan rendah dari kita, rasa syukur dimanifestasikan dengan bil-ihsan. Selalu memberi dan berbuat yang terbaik. Kepada anak, adik-adik, anak didik, para pegawai, buruh, pembantu di rumah dan semua yang stratanya di bawah kita, haruslah kita beri sesuatu yang lebih baik. Jalinlah komunikasi dan berinteraksilah dengan baik, dan kalau hendak men-tasharuf-kan rezeki, berikan dengan sesuatu yang baik (QS as-Syu'ara [26]: 215 dan al-Baqarah [2]:195).
Wallahu a'lam.


Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham
Sumber : Republika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar