Kamis, 06 Maret 2014

Agenda Nasional, sudah siapkah?


... pemilu legislatif dan pemilu eksekutif sebagai penafsiran sesat




Tanggal 9 April 2014, sudah siapkah bangsa ini menghadapi perayaan demokrasi lima tahunan ini?

Jujur saja,  aku masih bingung siapa atau mana yang harus dipilih.
Minimal aku masih mending lah, kenyataannya sempat menandai bahwa tanggal 9 April 2014 itu jatuh pada hari Rabu, Jadi tandanya aku masih peduli. Aku inginnya bukan termasuk golongan putih (walau rambutku relatif gak ada hitamnya lagi). Tapi siapa yang hendak aku pilih?

Kondisi para caleg  hampir 90% adalah pemain lama. Sementara aku tahu bagaimana “kinerja” DPR selama lima tahun terakhir ini. Jangankan dilihat dari sisi produktivitas mengeluarkan undang-undang (yang pro rakyat banyak), dari sisi perilakunya juga sudah sangat-sangat memuakkan. Dulu aku berharap bahwa PARTAI TERTENTU menjadi tumpuan, komitmennya terhadap korupsi dan itikad kebersihannya. Eh malah sampai ketua-ketuanya bersikap korup dan bermain kotor. Jadi untuk apa ikut memilih, tokh nanti malah ikut “meligitimasi” perilaku kotor mereka?

Sementara untuk “memilih” golongan putih (golput), berat juga rasanya.
Pilihan itu  justru memojokkan negara dan bangsa ini ke jalan yang tidak keruan arahnya. Kenapa? Karena nanti yang jadi malah tidak terkontrol, sementara aku masih ada hidup di negeri ini. Untuk itu aku berharap TIDAK memilih golput. Aku beraharap dari stok caleg yang tersedia masih ada yang punya nurani untuk konsisten menerima tugas nanti sebagai  amanah dari TUHAN.

Sementara itu, terdapat persoalan lain yang dihadapi bangsa ini. Apa itu? Masalah energi!

Dulu, ya dulu, negeri ini mempunyai cadangan minyak 5 milyar barel, dengan lifting 1,5 juta barel per hari. Sementara konsumsi domestik hanya 0,8 juta barel per hari. Jadi patut sebagai peyandang negara pengEKSPOR minyak. Tapi apa yang terjadi sekarang? Cadangan minyak yang dimiliki tinggal 3,7 milyar barel saja, dengan lifting kurang dari 0,9 juta barel per hari. Sementara tingkat konsumsi domestik sebanyak 1,5 juta barel per hari. Jadi patut juga sih, sebagai penyandang negara pengIMPOR minyak!

Kalau bicara neraca perdagangan minyak, menarik juga. Tahun 2009 defisit kita HANYA senilai USD 4,01 milyar. Ahaa pada tahun 2013 melompat sampai angka USD 22,47 milyar, wow.......!

Masih ada yang lain? Masih, GAS!

Cadangan gas kita adalah 187 TSCF Sementara produksinya mencapai angka
9,5 MMSCFD  dibanding dengan tingkat contracted demand domestik HANYA sekitar 6,4 MMSCFD saja (sumber: ESDM 2007).  Lho... ada kelebihan produksi dong? Mengapa tidak dipakai untuk mengganti BBM? Nah di sini permasalahannya, KETIADAAN infrastruktur (pipa transmisi) gas!

Ada anggapan pembangunan infrastruktur terhambat karena harga ekspor gas lebih “menguntungkan” dibanding dengan menjualnya untuk kebutuhan domestik (harga ekspor USD 15 per MMBTU, sementara kalau dijual domestik hanya USD 10,5 saja per MMBTU). Tapi mestinya diingat, sebagai akibat kita kehilangan energi dari gas, kita menggantinya dengan mengimpor BBM dengan harga kl USD 28 per MMBTU eqkvalen. Apakah dengan kondisi ini, tetap menyatakan ekspor gas  LEBIH menguntungkan?

Semoga harapan besok masih cerah bagi kita semua........


 Oleh YADI supriadi wendy
 Mobile: +62 899 711 8089


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar