Kamis, 13 Maret 2014

Makna Siap Siaga




Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran: 200).

Dalam ayat ini ditegaskan, manusia beruntung harus memiliki empat syarat, yakni bersikap sabar, melipatgandakan kesabaran, tetap ribath (siap siaga), dan bertakwa.

Menurut para mufassirin (pakar tafsir), makna siap siaga dalam ayat adalah menjaga benteng peperangan dari serangan musuh.

Berangkat dari sini, para sahabat Nabi SAW banyak yang meninggalkan Kota Madinah untuk melaksanakan ribath di benteng-benteng perbatasan. Bahkan, sebagian besar mereka berjihad dan meninggal di luar Madinah sebagai syuhada.

Itulah konotasi siap siaga dan aplikasinya saat umat Islam menghadapi musuh bersenjata. Berbeda dengan umat Islam di suatu negeri yang tidak menghadapi serangan bersenjata, tetapi yang dihadapi adalah serangan pemikiran, pemurtadan, aliran sesat, penjajahan ekonomi, dan politik.

Konotasi siap siaga bergeser menjadi upaya menjaga berbagai benteng tersebut untuk melindungi umat Islam. Para dai yang berusaha siang dan malam untuk membentengi akidah umat adalah murobith (penjaga benteng).

Demikian juga para pendidik yang membina kader Muslim, menyiapkan para politikus jujur dan amanah adalah murobith. Para ekonom yang membangun dan membela ekonomi umat agar tidak dijajah pihak lain, semuanya bisa disebut juga sebagai murobith.

Umat Islam sekarang sangat membutuhkan penjaga benteng-bentang untuk melindungi akidah, ekonomi, budaya, dan seluruh bidang kehidupannya. Rasulullah memberikan berbagai keutamaan orang yang menjaga benteng kehidupan umat.

Pertama, siap siaga sehari lebih baik dari dunia dan isinya (HR al-Bukhari). Kedua, Rasulullah bersabda, “Siap siaga satu bulan lebih baik dari puasa satu tahun. Barang siapa meninggal dalam keadaan siaga di jalan Allah, akan aman dari fitnah kiamat dan dia mendapatkan rezekinya dari surga dan terus ditulis amal seorang penjaga benteng sampai dibangkitkan hari kiamat. (HR at-Thabrani).

Ketiga, semua amalan seseorang terputus saat mati, kecuali murobith. Rasulullah bersabda, “Setiap mayat dipungkasi amalnya, kecuali murobith di jalan Allah. Amalnya ditumbuhkan sampai hari kiamat dan akan aman dari fitnah kubur.'' (HR Abu Daud, at-Turmudzi, dan al-Hakim).

Keempat, penjaga benteng di jalan Allah kelak dibangkitkan dalam keadaan aman dari fitnah hari kiamat. ''Ribath satu hari di jalan Allah lebih baik dari puasa dan qiyam selama Ramadhan, barang siapa yang meninggal saat menjaga benteng, pahala amalnya terus ditulis (sampai kiamat), dan diberi balasan rezekinya di surga dan aman dari fitnah kubur.'' (HR Muslim).

Kelima, penjaga benteng bila meninggal akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai syahid (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah). Keenam, penjaga benteng fi sabilillah akan mendapatkan pahala dari orang-orang yang hidup setelahnya (HR at-Thabrani).

Untuk membentengi umat Islam dari serangan pemikiran dan pemurtadan, tiap Muslim wajib menjadi penjaga benteng dalam bidang keahliannya agar umat terbebas dari berbagai penjajahan modern. Wallahu a’lam bis shawab.


Oleh: Prof Dr KH Satori Achmad Ismail


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar