Selasa, 04 Maret 2014

Dajjal, Al-Masih ad-Dajjal, Kaum Yahudi, Imam Mahdi, dan Nabi Isa

Dajjal*)

 Menurut kami, Dajjal merupakan sebuah sistem kafir yang semata-mata hanya untuk mengatur kehidupan manusia selama di dunia saja, yang meliputi berbagai bidang kehidupan seperti ideologi, politik, sosial, budaya dll.  Sistem Dajjal ini merupakan buah karya anak-cucu Ya’juj wa Ma’juj atau Gog and Magog dalam bahasa Inggris atau Yahudi gadungan alias Yahudi Ashkenazim.

 Pada zaman modern, untuk pertama kali sistem Dajjal dibumikan di Amerika Serikat oleh Sir Francis Bacon anggota Rosicrucian dan Freemasonry, yang pada tanggal 4 Juli 1776 resmi menjadi ideologi negara sekuler Amerika yaitu Demokrasi.  (Demokrasi merupakan milik Yahudi Kabbalah, yang menurut mereka Demokrasi artinya adalah dengan cahaya Talmud dan Masyna serta segala ucapan imam-imam agung (Yahudi), telah diundang-undangkan ketentuan tentang Demokrasi ini, yaitu:  "Bermusyawaralah dan rapatlah serta bertetapkanlah terhadap pilihan yang berasal dari suara terbanyak. Sebab, suara terbanyak itu adalah suara Tuhan"). 

Dari 56 orang penandatangan Deklarasi Kemerdekaan Amerika, hanya 6 orang saja yang bukan merupakan anggota Freemasonry.  Menurut Manly P. Hall dalam bukunya The Secret  Destiny of America, brain-child Demokrasi adalah Fira’un yang bergelar Amen-Hotep IV.  Maka wajarlah bilamana Amerika Serikat menjual Demokrasi ke seluruh dunia dengan gigihnya dan dengan berbagai cara dan tipu-daya dalam rangka melicinkan jalan Illuminati untuk menguasai dunia.  Dateline Illuminati untuk menguasai dunia adalah pada tanggal 21 Desember 2012 a.l. berencana membunuh 2/3 jumlah penduduk dunia yang secara resmi dilakukan melalui program Keluarga Berencana, utamanya ditujukan kepada umat Islam sebagai syarat untuk tetap dapat mengontrol dan menguasai dunia, namun rencana jahat mereka gagal alias tidak diizinkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan rencana itu merupakan rencana gagal yang kedua, rencana mereka yang pertama adalah pada Desember tahun 2000.  Walaupun mereka tidak bisa melaksanakannya pada tanggal 21 Desember 2012, rencana jahat mereka tetap dilaksanakan di hari-hari dan tahun-tahun berikutnya, waspadalah!.

 Pada masa Revolusi Bolshewik lahirlah ideologi Komunis yang merupakan buah pikir Adam Weishaupt, seorang Jesuit keturunan Yahudi Khazar di Bavaria, yang pada tanggal 1 Mei 1776 mendirikan perkumpulan rahasia Illuminati bersama-sama dengan Mayer Amscheld Rothschild sebagai penyedia dana dan Jacob Frank penerus ajaran Sabbetai Zvi, Messias Yahudi abad XVI yang bertugas menyusup ke dunia Kristen dan Islam untuk menghancurkan dari dalam.  Ide-ide Weishaupt kemudian di kompilasi oleh Karl Marx, seorang Yahudi Ashkenazim Jerman dalam sebuah buku dengan judul Das Kapital pada tahun 1867, yang dewasa ini ide-ide Adam Weishaupt ini dijadikan ideologi di berbagai negara Komunis dengan berbagai derivasinya.  Baik Demokrasi maupun Komunis keduanya merupakan Sistem Dajjal yang esensinya sama-sama menafikan eksistensi Tuhan dalam format dan tampilan yang berbeda yang sengaja diciptakan dalam rangka mencuci otak umat manusia di seluruh dunia yang puncaknya nampak pada Era Perang Dingin atau Détente tahun 1970-an, dimana penduduk dunia berhasil dibagi ke dalam dua kubu ideologi: Demokrasi yang di pimpin Amerika Serikat dan Komunis dipimpin Uni Sovyet, sekarang Rusia, padahal kedua sumber ideologi tersebut berasal dari sumber yang sama dan dengan tujuan yang sama: Ya’juj wa Ma’juj, istilah modernnya Yahudi Ashkenazim dalam rangka untuk menguasai dunia dengan membentuk Satu Pemerintahan Dunia atau Tata Dunia Baru dengan sistem Luciferianisme.  Hari ini mereka menjadikan Islam sebagai musuhnya, karena mereka berjiwa pengecut tidak berani menghadapi secara ksatria, maka Islam difitnahnya sebagai teroris dan sejalan dengan itu, mereka juga menumbuh-suburkan Liberalisme untuk mendangkalkan dan merusak aqidah Islam, yang di Indonesia diwakili oleh Jaringan Islam Liberal (JIL).
 Negara ilegal Israel yang dididirikan oleh Ya’juj wa Ma’juj tahun 1948, saat ini dihuni 95% oleh bangsa Khazar alias Yahudi Ashkenazim dengan ideologi Bolshewik, bukan Demokrasi.  Sisa jumlah penduduk yang 5% terdiri dari campuran suku bangsa termasuk keturunan Bani Israel atau Yahudi Sephardim yang diperlakukan sebagai warganegara kelas kambing.

 Al-Masih ad-Dajjal*)

Menurut kami al-Masih ad-Dajjal adalah juga sisitem yang menipu umat manusia dalam bidang spiritual atau keyakinan dan mereka adalah agama-agama Samawi yang sudah menyimpang dari kebenaran, yang penyimpangannya tentu saja karena sudah terjadi penyusupan dan intervensi ke dalam ajarannya, baik dalam agama-agama Yahudi, Nashrani maupun Islam.  Namun dalam agama Yahudi dan Nashrani yang bergelar Ahli Kitab tidak termasuk mereka yang masih bersikap lurus sebagaimana ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta'ala:
Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat). (QS al-Imran 3:113)

Sedangkan al-Masih ad-Dajjal dalam Islam adalah mereka yang menyimpang dari kebenaran al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih, antara lain mereka yang mengaku Islam seperti dari kalangan Syi’ah, Ahmadiyah dan mereka yang melaksanakan perbid’ahan dimana disini ditentukan oleh sejauh mana kadar penyimpangannya sehingga memiliki karakter al-Masih ad-Dajjal sejauh penyimpangan yang dilakukannya. 

Jadi baik Dajjal maupun al-Masih ad-Dajjal tidak perlu ditunggu-tunggu kedatangannya karena mereka sudah berada disekeliling kita.  Siapapun mereka yang meyakini dan melaksanakan Sistem Dajjal dan al-Masih ad-Dajjal maka mereka itulah yang dimaksud oleh berbagai hadits shahih mengenai mereka.

Kaum Yahudi*)

Penyebutan Yahudi dalam al-qur’an dapat ditemukan dengan tiga bentuk kata diantaranya adalah  kalimat :  هَادُوْا , هُوْدًا, هَادُوْا (Haduu, Hud[an], dan Yahuud) .
Ketiga kata tersebut memiliki akar kata : هَوْدًا, هَادَ  (haada, haud[an]) berarti kembali kepada kebenaran atau taubat.[1]

Kata هَادُوْا  adalah bentuk ke tiga yang digunakan untuk jama’ mudzakkar ghaib** dari fiil madli hada (هَاد) yang mengungkapkan kejadian yang terjadi pada masa lampau, maka secara bahasa penyebutan haadu berarti : mereka (lk) telah bertaubat. Dalam perkembangannya kata haada ini dapat diartikan dengan memilih jalan Yahudi dalam beragama [2], atau masuk agama Yahudi [3]
Sedangkan kata يهودي  ( Yahudy)  merupakan bentuk mufrad (tunggal) dari kata  اليهود (al-Yahud) [4].

Dalam salah satu pendapat dari kitab Lisanul Arab kata Yahudy  (يهودي)  ini menunjuk kepada nama Kabilah. Disebutkan pula di sana bahwa Yahudi asalnya adalah Yahudza ((يهوذ yang kemudian dimasukan ke dalam bahasa Arab dengan mengganti huruf dzal dengan dal menjadi Yahuda (يهود) ; akan tetapi Ibnu Syidah menganggap pendapat ini tidak kuat.[5]

Sebagai tambahan, ketika  kata "Yahudi" untuk pertamakalinya diperkenalkan ke dalam bahasa Inggris dalam abad ke-18 hanya ada sebuah arti. Akan tetapi selama abad-abad ke-18 --20, sebuah organisasi yang terorganisir dengan rapih dan dengan dana yang banyak, "kelompok penekan" internasional membuat apa yang disebutnya sebagai "arti tambahan" untuk kata "Yahudi" di samping Agama juga Bangsa yang disajikan kepada umat manusia yang berbahasa Inggris di dunia. Ini merupakan sebuah penyajian yang keliru yang dipersembahkan kepada dunia dengan sengaja oleh "kelompok penekan - pressure group" yang terorganisir dengan rapih dan dana yang tak terbatas untuk menipu atau membohongi orang-orang Kristen (termasuk umat Islam-pent - Fakta adalah Fakta - Facts Are Facts, oleh Benjamin H. Freedman, pp. 15-20 - ( Lihat :Willie Martin

Jadi kosa-kata Yahudi yang diberi makna agama dan bangsa adalah merupakan buah konspirasi untuk menyesatkan manusia pada umumnya, khususnya umat Islam agar tidak memahami dengan benar maksud dan tujuan daripada firman Allah Subhanahu wa Ta'ala mengenai Yahudi dan yang terkait dengannya, sehingga analisa dan solusi apapum yang dibuat dengan mendasarkan kepada sumber seperti ini (konspirasi), maka hasilnya semata-mata hanya untuk kepentingan si pemberi informasi.  Bila dicermati masa terjadinya pemberian dua makna terhadap kata Yahudi sebagai bangsa dan agama yaitu pada abad ke-18, maka kami yakin bahwa si kelompok penekan yang dimaksud oleh Benjamin Fredman adalah kelompok Perkumpulan Rahasia Illuminati yang didirikan tanggal 1 Mei tahun 1776 oleh Adam Weishaupt bersama-sama dengan Rothschild dan Jacob Frank di Bavaria, Frankfurt, Jerman sekarang yang salah satu agendanya adalah merusak ajaran Kristen dan Islam dengan mengirimkan para intelnya untuk menyusup dan merusak dari dalam. (Lihat: Barry Chamish ) Ketiganya berasal dari suku bangsa Khazar yang mengaku saebagai bangsa dan beragama Yahudi alias Yahudi Gadungan yang menurut al-Qur’an adalah bangsa Ya’juj wa Ma’juj atau Gog and Magog dalam bahasa Inggris.

Jika kita merujuk kepada nash al-Quran dan al-Hadits kata Yahudy dan Yahud ini menunjuk kepada orang yang memeluk agama Yahudi dalam bahasa Indonesia, sebagaimana ditegaskan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firmanNya sbb:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللهِ هُوَ الهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللهِ مِنْ وِلِيٍّ وَلَا نَصِيْر
“Orang-orang (yang beragama) Yahudi dan (beragama) Nashrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu“. (QS Al-Baqarah 2:120)

Dalam ayat tersebut terdapat kata millah yang mencakup ad-dien dan syari’at [6]. Ini menunjukkan bahwa al-Yahud dan an-Nasharaa dalam ayat ini menunjuk kepada sekumpulan orang yang memiliki millah, yaitu mereka yang meyakini din dan menjalankan syari’atnya (mereka adalah Bani Israil). Millah tersebut adalah millah Yahudi dan Nashrani (yahudiyyah dan nashraniyyah dalam bahasa Arab).  Millah dimaksud juga ditujukan khusus kepada Bani Israil yang beragama Yahudi dan Nashrani yang sudah menyimpang dari kebenaran.

Sementara kata Huud [an], merupakan jama’ dari kata haaid ( (هاءد(orang yang bertaubat) maksudnya merujuk kepada yahud jama’ dari yahudy [7], maka yang dimaksud  dengan huud[an] adalah orang-orang yang beragama Yahudi (telah dijelaskan di atas).
Maka kesimpulannya adalah bahwa kata Yahudi dalam bahasa Indonesia dapat dipahami sebagai millah bukan sebagai bangsa.

Demikian juga Yahudi tidak ada keterkaitannya dengan nabi Ibrahim as, baik secara ajaran maupun secara genealogis meskipun nabi Ya’kub as seorang cucu nabi Ibrahim as dari jalur nabi Ishaq as, karena Yahudi merupakan sebuah agama yang dianut oleh Bani Israil dan suku bangsa ini baru ada setelah kenabian Ya’kub as dilanjutkan terus sampai kepada nabi Musa as, dimana pada masa kenabian Musa as, Allah Subhanahu wa Ta'ala membagi Bani Israil menjadi 12 suku yang masing-masing suku berjumlah besar (QS al-‘Araf 7:160).

Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan bahwa:
“Hai Ahli Kitab, (agama Yahudi dan Nashrani) mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?. Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. Ibrahim bukan seorang (yang beragama) Yahudi dan bukan (pula) seorang (yang beragama) Nashrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik."  (QS al-Imran 3: 65-67).

Sebagai analogi, kita bersama mafhum bahwa manusia pertama yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah Adam as dan kita sebagai manusia merupakan keturunan anak-cucu nabi Adam as, namun sebagai suku bangsa, Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan batasan bahwa bangsa-bangsa yang ada di dunia dewasa ini berasal dari nanak-cucu keturunan nabi Nuh as (QS ash-Shaffat 37:75-77).

Jadi anak-cucu nabi Ya’kub as meneruskan keturunannya menjadi 12 suku Bani Israil sampai kepada nabi Isa as bukan berasal dari anaknya yang bernama Yehudza menurut referensi Islam, akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala sendiri yang membaginya.  Referensi yang menyebutkan ke-12 suku Bani Israel berasal dari Yehuda oleh mayoritas umat manusia merujuk kepada Kitab Perjanjian Lama yang dimuat dalam Kejadian (35-22b) sbb:
"Adapun anak-anak lelaki Yakub dua belas orang jumlahnya. 35:23 Anak-anak Lea ialah Ruben, anak sulung  Yakub, kemudian Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar dan Zebulon.   35:24 Anak-anak Rahel ialah Yusuf dan Benyamin. 35:25 Dan anak-anak Bilha, budak perempuan Rahel ialah Dan serta Naftali. 35:26 Dan anak-anak Zilpa, budak perempuan Lea ialah Gad dan Asyer. Itulah anak-anak lelaki Yakub, yang dilahirkan baginya di Padan-Aram." 

Oleh karena itu menurut kami dasar hujjah yang shahih untuk umat Islam mengenai Yahudi adalah al-Qur’an, bukan kitab Perjanjian Lama.  Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
”Janganlah kalian membenarkan ahlul kitab dan jangan pula mendustakannya, dan katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan pada kami….” (HR. Al-Bukhari dalam Shahih-nya no. 4485). 

Ahlul Kitab yang dimaksud di dalam hadits di atas adalah Bani Israil yang beragama Yahudi dan Nashrani.
Dalam litelatur Islam khususnya bilamana kita merujuk kepada al-Qur’an dan al-Hadits shahih, istilah atau kata Yahudi tidaklah menjadi masalah karena hanya merujuk kepada millah, yaitu syari’at dan ad-din Yahudi sebagaimana ditegaskan dalam QS al-Baqarah 2:120.  Namun menjadi masalah ketika umat Islam mengambil rujukan dari referensi di luar Islam, dalam hal ini Barat yang notabene phobi  terhadap Islam, maka wajarlah terjadi kebingungan dan kekeliruan dalam menghadapi berbagai persoalan yang ada kaitannya dengan Yahudi, sehingga secara sadar atau tidak lebih sering menguntungkan pihak-pihak yang memang sengaja mengambil keuntungan dari masalah ini.  Sebenarnya tidak semua orang yang beragama Yahudi jahat sebagaimana tidak semua orang yang beragama Islam baik.   Jadi kesimpulannya Yahudi itu sebuah agama, bukan  kaum (bangsa) dan agama, bangsanya adalah Bani Israil.  Wallahu’alam.

Imam Mahdi*)

Bila kita kritisi, Imam Mahdi dalam perspektif rasional tampak sulit diterima sebagai ajaran dari Nabi, dan hal itu sendiri tidak terdapat di dalam al-Quran maupun di dalam kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Memang, jika orang membaca hadits-hadits Mahdiyyah hanya sepintas dan hanya beberapa buah hadits saja yang ditelaahnya, tanpa mau membandingkan secara jeli dengan hadits-hadits Mahdiyyah lainnya yang penuh kontroversial, tentunya dia akan menerimanya dan mempercayainya sebagai sesuatu yang benar-benar datang dari Nabi. Akan tetapi, jika dia mempelajarinya dengan sikap kritis serta menghubungkannya dengan sejarah ummat Islam secara obyektif, maka dia tidak akan menerima begitu saja pernyataan-pernyataan hadits Mahdiyyah yang bertentangan dengan penalaran akal sehat.

Berikut kami kutipkan beberapa pendapat mengenai hadits-hadits mengenai Mahdiyyah dari buku berjudul "Faham Mahdi Syi'ah dan Ahmadiyah dalam Perspektif" oleh: Drs. Muslih Fathoni, M.A. Selengkapnya dapat diakses di:


Pertama, pendapat Syaikh Muhammad Darwisy, yang mengatakan dalam bukunya Asna'ul-Matalib:
"Hadits-hadits Mahdiyyah semuanya adalah lemah, tidak ada yang dapat dijadikan pegangan, dan seorang tidak boleh terkecoh oleh orang yang (berusaha) mengumpulkannya dalam berbagai karyanya."

Kedua, pendapat Sayyid Ahmad, seorang ahli hadits, dalam bukunya Ibrazul-Wahmil-Ma'mun, terutama mengenai hadits Mahdiyyah yang dipegangi oleh golongan Ahmadiyah:
"Sungguh hadits Mahdiyyah ini, bukanlah hadits da'if (lemah) sebagai yang dikatakan oleh si pengeritik hadits (Ibn Khaldun) dan sekalipun (pengeritik) lain mengatakan yang demikian itu, bahkan hadits itu batal, palsu dan dibuat-buat, tidak ada dasarnya hadits itu dari ucapan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa sallam., juga bukan ucapan Anas Ibn Malik, ataupun ucapan Hasan al-Basri."

Ketiga, pendapat Muhammad Farid Wajdi dalam karya besarnya, Da'iratul-Ma'arif al-Qarnil-'Isyrin, menyatakan:
"Maka sesungguhnya di dalam hadits-hadits Mahdiyyah itu, tergolong (pernyataan) yang keterlaluan, dan merupakan pukulan keras bagi sejarah, serta sangat berlebih-lebihan, tidak memahami pelbagai persoalan manusia, dan jauh dari sunnatullah (hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan untuk semua ciptaanNya), yang dikenal oleh manusia. Pada mulanya pembaca tidak merasa, bahwa hadits-hadits Mahdiyyah itu adalah hadits-hadits palsu yang sengaja dibuat oleh tokoh-tokoh yang sesat, atau oleh para pendukung ('Ali) untuk sebagian ahli propagandisnya yang menuntut kekhilafahan di Arabia atau di Magrib (Afrika)."

Selain itu, Ahmad Amin juga berpendapat, bahwa hadits-hadits Mahdiyyah itu merupakan hadits yang mengandung cerita bohong, sebab dalam kisah kehidupan al-Mahdi telah dipenuhi dengan cerita yang aneh-aneh dan kabar gaib tentang peristiwa zamannya. Disamping itu, terdapat juga apa yang disebut al-Jafr yaitu ilmu ramalan yang ditulis pada kulit lembu, tentang apa yang akan dialami oleh Ahlul-Bait, dan menurut kaum Syi'ah, ramalan tersebut diriwayatkan dari Ja'far as-Sadiq. Berita-berita aneh semacam itu, banyak juga terdapat dalam kitab yang disebut kitab al-Malahim yang dimiliki oleh sebagian ummat Islam. Anehnya berita-berita semacam itu oleh pengarangnya dijadikan sebagai hadits, dan menghubungkannya dengan Rasulullah. Sebagian lagi dihubungkan dengan Ahlul-Bait. Dan sebagian yang lain menghubungkannya dengan Ka'ab al-Akbar dan Wahb ibn Munabbah.

Demikianlah pendapat sementara para sarjana Muslim. Tampaknya mereka meneliti dan melihat dengan jeli hadits-hadits Mahdiyyah itu, tidak hanya dari aspek 'ulumul-hadits atau ilmuilmu hadits, akan tetapi juga menghubungkannya dengan aspek-aspek sejarah yang obyektif, terutama sejarah ummat Islam itu sendiri. Dengan cara seperti ini, seorang akan lebih selamat dan tidak mudah terjebak ke dalam paham-paham yang keliru dan sesat. Hadits-hadits Mahdiyyah yang kontroversial itu, rupanya merupakan akibat dari terjadinya persaingan ketat antara kelompok-kelompok Muslim yang sedang berselisih pada saat itu untuk merebut pengaruh yang lebih luas di bidang politik. Kecenderungan politik yang didasari dengan paham agama, tampaknya mendorong terciptanya paham keagamaan yang bermacam-macam Di saat seperti itulah masing-masing pihak membuat hadits-hadits palsu tentang al-Mahdi dengan berbagai versinya.

Disamping itu mengenai kedatangan Imam Mahdi juga di klaim oleh berbagai keyakinan agama dengan nama yang berbeda satu dengan yang lainnya al sbb:
Agama Yahudi mazhab ortodoks percaya bahwa akan lahir Imam Mahdi dari kalangan mereka. Mereka percaya Imam Mahdi ini akan lahir dengan segala macam keramat dan kelebihan, akan mengembalikan mereka ke tanah tumpah asal mereka, Baitulmaqdis, Bukit Tursina dan Palestin. Mereka ini dipanggil golongan Messianic yaitu golongan yang percaya akan tibanya sang juruselamat. Perkataan Messianic itu sendiri datang dari kata Messiah, yaitu orang yang digelar 'Imam Mahdi' (menurut ajaran agama mereka).
Orang Kristen juga sangat yakin dengan konsep Imam Mahdi ini, yang kononnya akan lahir dari kalangan penganut agama mereka pula. Dan konsep kepercayaan ini lebih bersifat literal (dari mulut ke mulut) dan bukan merupakan satu kepercayaan yang diwajibkan mempercayainya. Apa yang jelas, Imam Mahdi yang dimaksudkan itu sebenarnya adalah Nabi Isa As sendiri. Hasilnya, sebagian besar saja yang percaya, sedangkan sebagian yang lain tidak menyatakan kepercayaan mereka atau sama sekali tidak percaya.

Agama Hindu juga sangat yakin dengan kedatangan seorang Mahdi yang akan mengembangkan ajaran agama Hindunya ke seluruh dunia, pada akhir zaman kelak. Disebutkan gelarannya Mansur atau Maha Shiva atau nama sebenarnya Mahmat atau Ahmad. Selain itu ada beberapa nama lagi yang diberikan kepadanya, sebagai menunjukkan ketinggian kemuliaannya dan besar kedudukannya.

Penganut agama Buddha juga yakin dengan kedatangan Mahdi yang akan membersihkan dunia ini dari kekejaman, dan Mahdi itu dibekalkan dengan segala macam kuasa hebat dan ilmu sakti (keramat menurut Islam). Mahdi yang dimaksudkan itu disebut sebagai Shammaraja (Raja yang Sangat Adil). Nama sebenar dan tempat lahir Mahdi itu tidak dinyatakan dengan jelas. Tetapi mereka percaya, atas perkabaran para sami mereka, zaman sekarang ini adalah zaman untuk Shammaraja itu memunculkan dirinya dan menyelamatkan dunia ini.

Orang-orang Majusi aliran Mazda, yang menganut ajaran ciptaan Zarathustra (Zoroaster) yaitu golongan penyembah api suci, yang jumlahnya hari ini kira-kira setengah juta orang di Iran dan beberapa ribu lagi di India, juga yakin dengan konsep Imam Mahdi. Ajaran mereka menyatakan bahwa tiga orang penyelamat besar akan muncul, dimulai oleh Aushedar dan diikuti pula oleh Aushedar-mah. Yang terakhir keluar ialah seorang lelaki perkasa bernama Saoshyant / Shayoshant, yang berasal dari anak cucu Zoroaster, yang akan muncul dan memusnahkan Ahriman, kuasa jahat, sekali gus membersihkan dunia ini daripada kegelapan dan kesengsaraan. Dia memerintah dunia dengan adil dan saksama selama seribu tahun, mendirikan kerajaan Ahura Mazda yang sepenuhnya. Mereka tidak menyebutnya dengan sebutan Mahdi tetapi maksudnya sama dengan Mahdi bagi umat Islam. Dan dari ajaran Mazda inilah orang-orang Syiah menyerapkan konsep Imam Mahdi mereka, karena meyakini Imam Mahdi Syiah itu akan memerintah dunia ini selama seribu tahun.

Menurut kami Imam Mahdi dalam Islam sebenarnya merupakan sebuah Monomyth, dia tidak akan pernah muncul atau datang. Istilah Monomyth (sering disebut sebagai pahlawan perjalanan) seperti yang digunakan dalam bidang mitologi komparatif, mengacu pada pola dasar yang konon ditemukan di banyak cerita di seluruh dunia, sebagai contoh dalam masyarakat Jawa ada tokoh supernatural yang ditunggu-tunggu seperti Imam Mahdi yaitu Satria Piningit atau di Jawa Barat mananya yang dikenal di masyarakat adalah Ratu Adil. Monomityth ini didistribusikan secara luas polanya, sebagaimana digambarkan oleh Joseph Campbell dalam bukunya The Hero With Thousand Faces, download di sini).

Nabi Isa*)

Nabi Isa a.s. telah diwafatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai dengan Sunnatullah yang tidak mungkin akan berubah selama-lamanya (al-Ahzab 33:62). Nabi Isa telah wafat dan diangkat derajatnya oleh Allah. Dan tentang wafatnya Nabi Isa, sesuai pula dengan Sunatullah bahwa segala benda yang bernyawa pasti akan menemui kematian.

Al Qur'an tidak pernah menyebutkan secara jelas dan muhkamat3 maupun mutasyabihat,4 apakah Nabi Isa masih hidup dan apakah sampai saat ini masih berada di langit? Lalu apakah setelah itu, ia akan turun kembali ke bumi untuk membasmi Dajjal. Padahal, tidak ada satu kata pun di dalam Al-Qur'an yang menyebut nama Dajjal. Dengan demikian, hal ini memperkuat argumentasi bahwa Nabi Isa telah wafat, dan tidak akan turun ke bumi dan tidak akan membunuh Dajjal.

Kiamat akan segera tiba setelah turunnya Nabi Isa yang akan memberantas Dajjal, kemudian mempersatukan umat manusia serta menjadikan semuanya beragama Islam dan menjadi imam shalat, tentunya berita ini merupakan berita besar yang mustahil luput dari uraian Al-Qur'an.

Mengingat turunnya Nabi Isa dan datangnya Dajjal tidak disebutkan di dalam Al-Qur'an, maka tidak menyebabkan berdosa apabila kita tidak mengimaninya. Lagi pula, rukun Iman yang telah diakui seluruh ulama sejak dahulu tidak mencantumkan hal ini.

Hadits-Hadits tentang Nabi Isa a.s. dan Dajjal

Argumentasi yang berdasarkan pada Al-Qur'an mengatakan bahwa Nabi Isa telah wafat dan tidak akan turun lagi ke bumi untuk memberantas Dajjal. Tentu hal itu tidak berdasarkan dalil hadits, walupun hadits tersebut diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan yang lainnya.

Bagi mereka yang menyangkal hadits tersebut didasarkan bahwa berita-berita yang diriwayatkannya bertentangan satu sama lain, karena mereka mendasari itu terhadap alasan-alasan berikut :
Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abdullah bin Amru bin Ash disebutkan, "...kemudian Isa Almasih itu, menetap bersama manusia tujuh tahun lamanya..."
Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, Abu Daud, al-Hakim, dan Ahmad bin Hanbal dari Abu Hurairah r a. menyebutkan, "...Isa menetap di bumi empat puluh tahun lamanya, kemudian ia pun wafat, maka kaum muslimin menyembahyangkannya ..."

Menurut Joesoef Souyb salah satu hadits yang meriwayatkan kedatangan Dajjal diterima melalui Ka'ab al-Ahbar yang mengatakan, "Aku akan mengirimmu kelak menghadapi Dajjal si Juling, dan engkau akan membunuhnya, lalu hidup di bumi sehabis itu selama dua puluh empat tahun dan Aku akan mematikanmu, seperti halnya orang yang hidup."

Penulisan hadits dengan isi pernyataan yang berbeda satu sama lainnya dan diceritakan melalui satu orang saja (hadits ahad) menyebabkan kedudukan hadits tersebut tidak termasuk mutawatir (hadits yang diriwayatkan oleh beberapa perawi). Di samping itu, sangat besar kemungkinannya adanya kesengajaan penyusupan dongeng atau kisah-kisah, seperti dituliskan dalam kitab Injil Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (Wahyu 19: 11-21, Wahyu 20: 4-6).

Perlu diingat bahwa dalam teologi dan liturgi (ketuhanan dan tata cara agama) Yahudi dan Nashrani sangat kental akan kepercayaan Mesiah dan Adventisme (harapan atau keyakinan akan turunnya Yesus ke bumi) untuk membasmi segala roh jahat dan mengajak umat manusia hanya percaya kepada Kristus


 http://www.akhirzaman.info/menukonspirasi/konspirasi-islam/2268-tiga-sisi-tampilan-dajjal.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar