Rabu, 05 Maret 2014

Ottoman, Kerajaan Islam Multinasional


Ilustrasi suasana di Kerajaan Ottoman.




Lembah Sakarya yang strategis karena mengontrol  pendekatan ke Konstantinopel dari timur mengalami banjir pada musim gugur 1302 M. Kemungkinan peristiwa ini yang  memungkinkan pengikut Usman menyeberangi sungai dan bermukim di provinsi Bizantium, Bythinia.

Dalam waktu singkat para penyerang Turki mencapi Laut Marmara. Pencatat sejarah Bizantium masa itu, Pachymeres, menggambarkan kabar kemenangan Usman menyebar dan  menarik bangsa Turki di daerah lain di barat Anatolia untuk  bergabung mengikutinya.

Usman adalah pendiri Kerajaan Ottoman dan yang telah memberikan namanya pada dinasti Ottoman atau Osmali. Di bawah kepemimpinan anaknya, Orhan (1324-1362 M),  kerajaan kecil ini mulai memperoleh aspek yang lebih  mapan. Wilayah kerajaan Usman tidak meliputi kota-kota  besar.

Pada 1326 M, Kota Bursa diserang hingga mengalami kelaparan. Mulai saat itu, kota tersebut menjadi ibu kota  pertama Ottoman. Tahun berikutnya, setelah terjadi gempa  bumi yang menghancurkan pertahanannya, para pengikut  Orhan menduduki Bizantium, Lopadion (Ulubat) menuju ke  Dardanella.

Dengan rute darat Bythinia yang kini dapat dilalui,  kejatuhan kota-kota Bizantium lainnya tidak dapat dihindari. Nikaia adalah kota pertama yang diserang pada 1331 M.  Nikomedia mengikuti pada 1337 M.

Ekspansi Ottoman bukan hanya satu-satunya pengeluaran  Bizantium. Pada 1345-1346 M, Orhan menganeksasi emirat  Turki dari Karesi. Kurang dari 10 tahun berikutnya, pada  1354 M, putra Orhan, Sulaiman Pasha, menduduki Ankara  hingga ke timur dari wilayah ayahnya.

Orhan juga yang pertama kali mendirikan pangkalan  terdepan di Eropa. Ia mencapai hal ini dengan  memanfaatkan perang sipil di Bizantium antara rival Kaisar John [VI] Kantakouzenos dan John [V] Palailogos.

Pada 1352 M, pecah perang antara John V dan putra  Kantakouzenos, Matthew. Ayahnya meminta bantuan Orhan untuk memberikan sebuah benteng bagi pasukannya di  bawah Sulaiman Pasha di semenanjung Gallipoli. Ini adalah  wilayah pertama yang diduduki Ottoman di Eropa.  Penaklukan berikutnya terjadi setelah terjadi bencana  alam.

Menurut Colin Imber  dalam The Ottoman Empire: 1300-1650, pada saat Orhan meninggal pada 1362 M, kerajaannya  memiliki karakteristik yang membedakan kerajaan Ottoman  pada abad ke-20. Kerajaan itu terdiri atas daratan di Asia  dan Eropa. “Kota-kota dan pedesaan juga penguasanya telah  membangun masjid pertama dan tempat ibadah yang  membedakan kerajaannya sebagai negara Muslim,” tulisnya.

Dari tulisan-tulisan kecil diketahui putra Orhan, Murad I  (1362-1389 M) memegang tahta setelah terjadi perang sipil.  Pada akhir 1360-an, ia memegang tampuk kekuasaan  kerajaan di Anatolia dan Eropa yang berkembang dengan  pesat.

Struktur sosial kerajaan juga bervariasi. Ekonomi Kerajaan Ottoman berlimpah dari sektor agrikulturual. Kejayaan sultan, seperti yang sering ditekankan penulis politik, bersandar pada kerja keras para petani.

Jenis agrikultural dan peternakan yang berkembang, sebagaimana struktur sosial desa-desa dan rumah tangga petaninya, bervariasi dengan tradisi yang berbeda-beda. Begitu juga dengan variasi dalam iklim dan tanah daerahnya.

Berlawanan dengan para petaninya, sebagian populasi kerajaan hidup secara seminomaden dengan menggembala ternak. Seringkali dengan jumlah penduduk dan pemerintah yang ganjil.

Di antara kelompok ini terdapat suku Badui dari padang pasir Arab, Suriah, Mesir, bangsa Vlach dari Semenanjung Balkan dan suku-suku berbahasa Turki dari Anatolia, Suriah Utara dan barat daya Eropa.

Pada pertengahan abad ke-17, elite politik dan militer cenderung berasal dari garis keturunan Albania atau Kaukasia. Umumnya berasal dari Georgia, Abkhazia atau Kirkassia. Tokoh agamis atau berlatar belakang hukum yang menjadi staf di sekolah tinggi agama, pengadilan umum dan Masjid cenderung dari bangsa Turki.

Sedangkan di Balkan bagian barat, Bosnia, atau di provinsi yang berbahasa Arab adalah dari bangsa Arab. Secara singkat, Kerajaan Ottoman adalah kerajaan multinasional.

Loyalitas Sultan 

Pada prinsipnya, diskriminasi terjadi karena basis agama. Muslim dapat mencapai posisi politik atau mengejar karir dalam layanan administrasi. Namun, di sini keturunan Muslim tidak penting.

Sebagian besar pemegang posisi politik merupakan generasi pertama atau kedua yang berpindah dari Kristen. Kantor pengadilan adalah tempat yang memelihara keluarga Muslim lama. Bagian tubuh penting pemerintahan ini tetap terbuka bagi non-Muslim.

Banyak orang merasa berisiko jika kegiatan pajak yang berpotensi mendatangkan keuntungan dipegang keluarga Kristen atau Yahudi. Namun, bukan berarti Kerajaan Ottoman eksklusif Muslim atau eksklusif milik bangsa Turki. Kerajaan ini adalah sebuah kerajaan dinasti dimana hanya loyalitas kepada sultanlah yang dibutuhkan dari seluruh penduduknya yang sangat beragam.

Loyalitas diharapkan bagi mereka yang tidak memegang kantor, yaitu tidak akan memberontak dan membayar pajak dengan tunai, kebaikan atau layanan. Bahkan, hal ini sering dapat dinegosiasikan. Pada akhirnya, sultan sebagai peroranganlah yang menyatukan kerajaan.

Pemukiman koloni Turki di Balkan telah menemani penaklukan Ottoman pada abad ke-14 dan ke-15. tahun-tahun setelah penaklukan Siprus pada 1573 M menjadi saksi perpindahan paksa orang-orang Turki ke pulau-pulau Anatolia. Orang-orang yang dideportasi kadangkala adalah para pembuat onar di daerah asalnya.

Mereka kemudian akan membentuk sebuah nukleus dari warga negara yang loyal terhadap Ottoman. Sultan juga menata ulang pemukiman kelompok-kelompok non-Turki, seperti komunitas Yahudi yang dipindah ke Siprus setelah 1573 M untuk mendorong kehidupan perdagangan di pulau itu.


Oleh: Ani Nursalikah


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar