Kamis, 22 Oktober 2009

Kajian RUH

Dari seorang sahabat (Ness): Kalau Hilman ada waktu, tolong kasih aku ulasan (berdasarkan kitab suci Al’Qur’an pasti akan lebih baik).

Aku terpikirkan tentang hal berikut :

1) manusia diciptakan Allah terdiri dari jasad dan Rohani/ruh (betul/tidak?):

2) masing-2 berasal dari zat yang berbeda (betul/tidak?).

3) mereka mempunyai fungsi yang berbeda (betul/tidak?)

4) mereka mempunyai tugas yang sama, yaitu bertaqwa pada Allah (betul/tidak?)

5) Ruh dapat men”DRIVE” jasad (betul/tidak?)

6) Jasad tidak dapat men”DRIVE” Ruh (betul/tidak?)

7) Pikiran tidak sama dengan Jiwa/Ruh (betul/tidak?); pikiran adalah produk jasmani yaitu “organ otak”)

8) Semua (alam semesta) bertaqwa/bersujud pada Allah (termasuk jasad kita), sehingga saat kita “sujud”, secara otomatis jasad kita (beserta seluruh organ) juga ber “sujud” pada Allah (betul/tidak?),

9) Atau mereka harus kita ajak untuk “bersujud”?

10) Semua (alam semesta) adalah “hidup” (karena semua tunduk pada Allah).


Selanjunya :

Kalau kita sakit, berarti ada organ tubuh kita yang tidak menjalankan fungsinya secara normal, dan tidak bersinergi atau tidak berjalan seirama dengan organ tubuh lainnya.

Kita bersantap (dengan makanan yang mengandung vitaminan/lemak/protein/mineral yang dibutuhkan) dari rizki (halal) yang diberikan Allah.

Kita mohon pada Allah, agar sari makanan yang kita santap merupakan “zat-zat” yang dibutuhkan oleh organ-2 tubuh kita, sehingga mereka dapat bertugas/berfungsi dengan baik. Dengan Izin/Ridhlo Allah, kita (jiwa) dapat “mengajak” organ-2 untuk bekerja/berfungsi secara normal, sehingga tidak ada rasa sakit ( rasa sakit identik dengan penyakit)

Intinya :

Aku ingin mengatasi rasa sakit dikepala dan leher dengan cara “back to nature”, berdasarkan hal-hal tersebut diatas.

Dengan berbagai alasan aku tak ingin pergi ke Dokter (General Check Up).


Salam,
Ness

*************************************

Ass,Wr,Wb Ness sahabatku,

Bersama ini saya mencoba menjawab apa yg ditanyakan Ness kemarin, semoga ada manfaatnya

Salam,

Hilman Muchsin


******************************


1. Manusia diciptakan Alloh terdiri dari Jasad dan Rohani (Betul)

2. Masing-masing berasal dari Zat yang berbeda (betul)



RUH ADALAH SELURUH HAKIKAT MANUSIA

Menurut al-Qur’an, ruh adalah sesuatu yang non materi. Allah Swt menggenggam ruh ketika manusia meninggal. Allah Swt berfirman;

“Allah menggenggam jiwa (orang) ketika matinya dan jiwa yang belum mati diwaktu tidurnya”

Jika manusia telah kehilangan jasad, maka seluruh hakikat ruhnya tetap terjaga. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jasad bukan hakikat dari substansi manusia, bukan bagian dari substansi tersebut, dan bukan pula sesuatu yang merupakan konsekuensi dari substansi manusia. Jasad hanyalah merupakan sebuah sarana bagi substansi manusia. Meski manusia memiliki jasad, baik di dunia, alam barzakh, maupun di akhirat, namun jasad dalam ketiga tahapan tersebut merupakan sarana aktivitas ruh. Bukti akan hal ini adalah firman Allah yang berkaitan dengan orang yang mati syahid.

Allah Swt berfirman; Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati: bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.

Orang yang gugur di jalan Allah adalah hidup. Dia hidup tanpa jasad materi dan jasad materi ini tidak lebih dari sebuah alat untuk beraktivitas di alam materi, jika sudah tidak bermamfaat, maka ia mendapatkan jasad lain yang sesuai dengan alamnya (pada dasarnya jasad yang dimiliki oleh setiap manusia di alam sesudah alam materi ini adalah jasad yang dibuat oleh manusia itu sendiri, yakni sesuai dengan malakah nafsâninya; baca: tajassud amaliah), maka dari itu kendatipun jasad materi ini rusak dan hancur, tapi ruh manusia tetap hidup.

Dalam ayat yang lain Allah SWt berfirman;

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka hidup”

Ayat-ayat yang membicarakan tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah bukti bahwa ruh manusia membentuk semua hakikatnya. Oleh sebab itu dikatakan bahwa orang yang mati syahid adalah hidup. Atau berdasarkan ayat lain, yaitu firman Allah Swt Yang berbunyi. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.Di sana manusia hidup namun dia telah kehilangan jasad duniawinya.

Al Qur'an telah membahas tentang hakekat asal-usul manusia yang di awali dari proses kejadian manusia yaitu dari segumpal darah (QS. 96:1-5), dan setelah melewati beberapa tahapan dan sempurna kejadiannya, dihembuskan-Nyalah kepadanya ruh ciptaan Tuhan (QS. 38:71-72).

Dari ayat-ayat di atas menjadi jelas bahwa hakekat manusia terdiri dari dua unsur pokok yakni, gumpalan tanah (materi/badan) dan hembusan ruh (immateri). Di mana antara satu dengan satunya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar dapat di sebut manusia. Dalam perspektif sistem nafs, ruh menjadi faktor penting bagi aktivitas nafs manusia ketika hidup di muka bumi ini, sebab tanpa ruh, manusia sebagai totalitas tidak dapat lagi berpikir dan merasa.

Ruh adalah zat murni yang tinggi, hidup dan hakekatnya berbeda dengan tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan pancaindra, sedangkan ruh menelusup ke dalam tubuh sebagaimana menyelusupnya air ke dalam bunga, tidal larut dan tidak terpecah-pecah. Untuk memberi kehidupan pada tubuh selama tubuh mampu menerimanya. Sudah lama "kemisteriusan" ruh menjadi perdebatan di kalangan ulama Islam (teolog, filosof dan ahli sufi) yang berusaha menyingkap dan menelanjangi keberadaannya. Mereka mencoba mengupas dan mengulitinya guna mendapatkan kepastian tentang hakekat ruh.

Allah SW. Berfirman;

“Sesungguhnya Aku akan ciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu bersyukur dengan sujud kepadanya.

Ayat ini adalah dalil bahwa ruh telah ada sebelumnya, sebagai bukti bahwa penciptaan ruh manusia mendahului jasadnya. Setelah raga mencapai kapasitas tertentu, maka ruh segera bersemayam di dalamnya, dan ia bergantung padanya.

Berbicara tentang ruh, Al-Quran mengingatkan kita akan firman-Nya:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, "Ruh adalah urusan Tuhan-Ku, kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit" (QS Al-Isra' [17]: 85)

3. Mereka mempunyai fungsi yang berbeda (Betul)

4. Mereka mempunyai tugas yang sama, yaitu bertakwa kepada Alloh (betul)

5. Ruh dapat men”DRIVE” jasad (betul)

6. Jasad tidak dapat men”DRIVE” ruh (betul)

Jasad dan ruh memiliki fungsi yang berbeda tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan karena ruh yang menggerakan jasad yang semuanya itu bertujuan yaitu menyembah Alloh

Makalah berikut ini berusaha menjelaskan beberapa pendapat 'ulama Islam yang berusaha menjelaskan pengertian, kedudukan dan hubungan ruh dengan nafs dalam diri manusia, berdasarkan rentang urutan hidup mereka:

Ibnu Sina (370-428 H/980-1037 M)

Ibnu Sina mendefinisikan ruh sama dengan jiwa (nafs). Menurutnya, jiwa adalah kesempurnaan awal, karena dengannya spesies (jins) menjadi sempurna sehingga menjadi manusia yang nyata. Jiwa (ruh) merupakan kesempurnaan awal, dalam pengertian bahwa ia adalah prinsip pertama yang dengannya suatu spesies (jins) menjadi manusia yang bereksistensi secara nyata. Artinya, jiwa merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh. Sebab, tubuh sendiri merupakan prasyarat bagi definisi jiwa, lantaran ia bisa dinamakan jiwa jika aktual di dalam tubuh dengan satu perilaku dari berbagai perilaku dengan mediasi alat-alat tertentu yang ada di dalamnya, yaitu berbagai anggota tubuh yang melaksanakan berbagai fungsi psikologis.

Ibnu Sina membagi daya jiwa (ruh) menjadi 3 bagian yang masing-masing bagian saling mengikuti, yaitu

1. Jiwa (ruh) tumbuh-tumbuhan, mencakup daya-daya yang ada pada manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Jiwa ini merupakan kesempurnaan awal bagi tubuh yang bersifat alamiah dan mekanistik, baik dari aspek melahirkan, tumbuh dan makan.
2. Jiwa (ruh) hewan, mencakup semua daya yang ada pada manusia dan hewan. Ia mendefinisikan ruh ini sebagai sebuah kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik dari satu sisi, serta menangkap berbagai parsialitas dan bergerak karena keinginan.9
3. Jiwa (ruh) rasional, mencakup daya-daya khusus pada manusia. Jiwa ini melaksanakan fungsi yang dinisbatkan pada akal. Ibnu Sina mendefinisikannya sebagai kesempurnaan awal bagi tubuh alamiah yang bersifat mekanistik, dimana pada satu sisi ia melakukan berbagai perilaku eksistensial berdasarkan ikhtiar pikiran dan kesimpulan ide, namun pada sisi lain ia mempersepsikan semua persoalan yang bersifat universal.10

Imam Ghazali (450-505 H/1058-1111 M)

Sebagaimana Ibn Sina, al-Ghazali membagi jiwa menjadi tiga golongan, yaitu:

1. Jiwa nabati (al-nafs al-nabatiyah), yaitu kesempurnaan awal baqgi benda alami yang hidup dari segi makan, minum, tumbuh dan berkembang.
2. Jiwa hewani (al-nafs al-hayawaniyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda alami yang hidup dari segi mengetahui hal-hal yang kecil dan bergerak dengan iradat (kehendak).
3. Jiwa insani (al-nafs al-insaniyah), yaitu kesempurnaan awal bagi benda yang hidupdari segi melakukan perbuatan dengan potensi akal dan pikiran serta dari segi mengetahui hal-hal yang bersifat umum.11

Jiwa insani inilah, menurut al-Ghazali di sebut sebagai ruh (sebagian lain menyebutnya al-nafs al-natiqah/jiwa manusia). Ia sebelum masuk dan berhubungan dengan tubuh disebut ruh, sedangkan setelah masuk ke dealam tubuh dinamakan nafs yang mempunyai daya (al-'aql), yaitu daya praktik yang berhubungan dengan badan daya teori yang berhubungan dengan hal-hal yang abstrak. Selanjutnya al-Ghazali menjelaskan bahwa kalb, ruh dan al-nafs al mutmainnah merupakan nama-nama lain dari al-nafs al-natiqah yang bersifat hidup, aktif dan bisa mengetahui.12

Ruh menurut al-Ghazali terbagi menjadi dua, pertama yaitu di sebut ruh hewani, yakni jauhar yang halus yang terdapat pada rongga hati jasmani dan merupakan sumber kehidupan, perasaan, gerak, dan penglihatan yang dihubungkan dengan anggota tubuh seperti menghubungkan cahaya yang menerangi sebuah ruangan. Kedua, berarti nafs natiqah, yakni memungkinkan manusia mengetahui segala hakekat yang ada. Al-Ghazali berkesimpulan bahwa hubungan ruh dengan jasad merupakan hubungan yang saling mempengaruhi.13 Di sini al-Ghazali mengemukakan hubungan dari segi maknawi karena wujud hubungan itu tidak begitu jelas. Lagi pula ajaran Islam tidak membagi manusia dalam kenyataan hidupnya pada aspek jasad, akal atau ruh, tetapi ia merupakan suatu kerangka yang saling membutuhkan dan mengikat; itulah yanmg dinamakan manusia.

Ibn Tufail (Awal abad IV/580 H/ 1185 M)

Menurut Ibn Tufail, sesungguhnya jiwa yang ada pada manusia dan hewan tergolong sebagai ruh hewani yang berpusat di jantung. Itulah faktor penyebab kehidupan hewan dan manusia beserta seluruh perilakunya. Ruh ini muncul melalui saraf dari jantung ke otak, dan dari otak ke seluruh anggota badan. Dan inilah yang yang menjadi dasar terwujudnya semua aksi anggota badan.

Ruh berjumlah satu. Jika ia bekerja dengan mata, maka perilakunya adalah melihat; jika ia bekerja dengan telinga maka perilakunya adalah mendengar; jika dengan hidung maka perilakunya adalah mencium dsb. Meskipun berbagai anggota badan manusia melakukan perilaku khusus yang berbeda dengan yang lain, tetapi semua perilaku bersumber dari satu ruh, dan itulah hakikat zat, dan semua anggota tubuh seperti seperangkat alat".

7. Pikiran tidak sama dengan jiwa/ruh (betul) pikiran adalah produk jasmani yaitu Organ otak

8. Semua (alam semesta) bertaqwa/bersujud pada alloh (termasuk jasasd kita), sehingga saat kita sujud, secara otomatis jasad kita (beserta organ) juga bersujud pada Alloh (betul)

9. Atau mereka harus kita ajak bersujud

10. Semua alam semesta adalah hidup (karena semua tunduk kepada Allah)

'Aql

Kata 'aql (akal) tidak ditemukan dalam Al-Quran, yang ada adalah bentuk kata kerja masa kini, dan lampau. Kata tersebut dari segi bahasa pada mulanya berarti tali pengikat, penghalang. Al-Quran menggunakannya bagi "sesuatu yang mengikat atau menghalangi seseorang terjerumus dalam kesalahan atau dosa." Apakah sesuatu itu? Al-Quran tidak menjelaskannya

secara eksplisit, namun dari konteks ayat-ayat yang menggunakan akar kata 'aql dapat dipahami bahwa ia antara lain adalah:

a. Daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, seperti firman-Nya dalam QS Al-'Ankabut (29): 43.

Demikian itulah perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang

memahaminya kecuali orang-orang alim (berpengetahuan) (QS Al-'Ankabut [29]: 43)

Daya manusia dalam hal ini berbeda-beda. Ini diisyaratkan Al-Quran antara lain dalam ayat-ayat yang berbicara tentang kejadian langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, dan lain-lain. Ada yang dinyatakan sebagai bukti-bukti keesaan

Allah Swt. bagi "orang-orang berakal" (QS Al-Baqarah [2]:164), dan ada juga bagi Ulil Albab yang juga dengan makna sama, tetapi mengandung pengertian lebih tajam dari sekadar memiliki pengetahuan.

Keanekaragaman akal dalam konteks menarik makna dan menyimpulkannya terlihat juga dari penggunaan istilah-istilah semacam nazhara, tafakkur, tadabbur, dan sebagainya yang semuanya mengandung makna mengantar kepada pengertian dan kemampuan pemahaman.

b. Dorongan moral, seperti firman-Nya,


... dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak atau tersembunyi, dan jangan kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah dengan sebab yang benar. Demikian itu diwasiatkan Tuhan kepadamu, semoga kamu memiliki dorongan moral untuk meninggalkannya (QS Al-'Anam [6]:151).

c. Daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta "hikmah"

Untuk maksud ini biasanya digunakan kata rusyd. Daya ini menggabungkan kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisis, dan menyimpulkan, serta dorongan moral yang disertai dengan kematangan berpikir. Seseorang yang

memiliki dorongan moral, boleh jadi tidak memiliki daya nalar yang kuat, dan boleh jadi juga seseorang yang memiliki daya pikir yang kuat, tidak memiliki dorongan moral, tetapi seseorang yang memiliki rusyd, maka dia telah menggabungkan

kedua keistimewaan tersebut. Dari sini dapat dimengerti mengapa penghuni neraka di hari kemudian berkata,

Seandainya kami mendengar dan berakal maka pasti kami tidak termasuk penghuni neraka (QS Al-Mulk [67]: l0)

Sesungguhnya alam semesta ini: langit, bumi, planet, bintang, hewan, pepohonan, daratan, lautan, malaikat, serta manusia seluruh-nya tunduk kepada Allah dan patuh kepada perintah kauniyah-Nya. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “…padahal kepadaNya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa …” (Ali Imran: 83)

“… bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepadaNya.” (Al-Baqarah: 116)

“Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.” (An-Nahl: 49)

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gu-nung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan seba-gian besar daripada manusia?” (Al-Hajj: 18)

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (Ar-Ra’d: 15)

Jadi seluruh benda alam semesta ini tunduk kepada Allah, patuh kepada kekuasaanNya, berjalan menurut kehendak dan perintahNya. Tidak satu pun makhluk yang mengingkariNya. Semua menjalankan tugas dan perannya masing-masing serta berjalan menurut aturan yang sangat sempurna.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menafsirkan firman Allah Subhannahu wa Ta’ala: “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepadaNya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (Ali Imran: 83)

Dengan mengatakan, “Allah Subhannahu wa Ta’ala menyebutkan ketundukan benda-benda secara sukarela dan terpaksa, karena seluruh makhluk wajib beribadah kepadaNya dengan penghambaan yang umum, tidak peduli apakah ia mengakuiNya atau mengingkariNya. Mereka semua tunduk dan diatur. Mereka patuh dan pasrah kepadaNya secara rela maupun terpaksa.”[2]

Tidak satu pun dari makhluk ini yang keluar dari kehendak, takdir dan qadhaNya. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah. Dia adalah Pencipta dan Penguasa alam. Semua milikNya. Dia bebas berbuat terhadap ciptaanNya sesuai dengan kehendakNya. Semua adalah ciptaanNya, diatur, diciptakan, diberi fitrah, membutuhkan dan dikendalikanNya. Dialah Yang Mahasuci, Mahaesa, Mahaperkasa, Pencipta, Pembuat dan Pembentuk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar