Senin, 12 Juli 2010

Ketentuan Hidup Sebagai Berkah

Mengenali 5 nilai dari ketentuan hidup:

1. Walaupun semua hal berubah dan berakhir, akan memperbarui dirinya sendiri dan bergerak menjalani siklus yang terus berevolusi.

Dalam hidup ini memang benar apa yang kita inginkan dan wujudkan, haruslah dimulai dari diri kita sendiri! Apakah NIAT dan TUJUAN kita tersebut? Semua niat Lillahi ta’alaa! Apakah untuk mewujudkan itu semua upaya sudah maksimal?

Dalam hidup ini banyak pilihan, mau maju, diam di tempat saja (statis) atau malah berjalan mundur ke belakang. Semuanya adalah pilihan kita yang pastinya kudu dipertanggung jawabkan di akhir nanti. Allah memberikan “petunjuk” bagi kita untuk bertanggung jawab atas setiap tindakan kita dalam S. Al Muddatstsir : 37-38, ”Bagi siapa di antara kamu yang hendak mendahului, atau hendak tinggal di belakang saja. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya”.

Bila ingin adanya perubahan, maka mulailah dari diri kita sendiri, jangan berharap orang lain atau lingkungan di luar akan berubah lebih dahulu. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nikmat yang telah dilimpahkanNya kepada suatu kaum hingga kaum tersebut mengubah keadaannya sendiri. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui” (S. Al Anfal : 53).

2. Walaupun banyak hal tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana, kita terkadang merasakan sebuah rencana besar sedang bekerja melalui sinkronisitas (kebetulan-kebetulan yang bermakna) yang membuka berbagai kemungkinan yang mengejutkan. “Kebetulan yang bermakna” di sini dilihat dari sudut pandang manusia, seakan-akan itu “pas begitu saja terjadi” dalam hidup kita, namun sebenarnya tidak ada “Kebetulan” dilihat dari sudut pandang ALLAH sang Khaliq.

Dalam kehidupan manusia itu tidak ada yang KEBETULAN. Dalam Surat Al Insyqaaq yang intinya tentang “Terbelah”, yang menggambarkan kejadian kiamat yang sangat dahsyat. Hal tentang “Bukan suatu yang Kebetulan”, bisa dilihat dalam makna ayat 2 yaitu “Dan patuh pada Tuhannya, dan memang sudah semestinya langit itu patuh”. Terbelahnya langit merupakan suatu bentuk kepatuhan alam semesta pada KUASA dan KEHENDAK ALLAH Sang Khaliq. Tidak ada fenomena apapun atau kejadian apapun di muka bumi dan semesta ini yang terjadi karena KEBETULAN. Seluruhnya karena izin dan kekuasaan Allah. Karena “Allah adalah TUHAN SEMESTA ALAM” (Al Fatihah ayat 2) dan kemudian dihubungkan dengan ketentuan “Aku berlindung kepada Tuhan, Sang Pencipta Manusia, Raja Penguasa Manusia, Sembahan/Tuhan-nya Manusia” (Surat An Naas ayat 1-3).

Dalam firman Allah S. At Tin ayat 4 “ ….Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. Jadi pastinya apa yang ada pada diri kita (baca : keadaan fisik kita maupun yang kita miliki sebagai titipan dari-Nya) pastilah Allah berikan dalam keadaan sebaik-baiknya. Yakinlah kita akan hal itu…kita dapat hidup sehat, semua panca indra berfungsi dengan baik, dapat menghirup udara dengan gratis, Subhanallah, syukurilah apa yang kita punya dan diberikan oleh Allah.

Bila kita renungkan firman Allah SWT dalam S. Al Baqarah 216 :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak ketahui”.

3. Walaupun hidup tidak selalu adil, ada sesuatu dalam diri kita yang tetap menjaga komitmen pada keadilan dan akan menolak untuk bersikap tidak adil atau membalas dendam.

Dasarnya manusia adalah mahluk yang sosial. Dalam hati nuraninya…jauh di lubuk hati yang paling dalam, manusia punya hati nurani yang fitrahnya adalah “PUTIH”, putih saat dilahirkan ke dunia ini, ingin berbuat yang baik. Namun adanya hawa nafsu dan godaan setan yang membuat manusia dapat berbuat melanggar ketentuan Allah. Jadi bisa berbuat jahat, culas, iri, tidak adil, dendam dan sebagainya. Melanggar komitmen yang telah dijanjikan kepada Allah waktu Allah memberikan kesempatan sang manusia hidup di dunia, saat ruhnya ditiupkan dalam janin kandungan sang ibu.

Persepsi hidup "tidak selalu adil bagiku" adalah suatu sudut pandang manusia. Namun kembali lagi, bila kita pasrah dan ikhlas dlam menjalani hidup ini, maka pertolongan Allah akan datang. Tidak ada lagi persepsi bahwa hidup ini tidak adil! Pada dasarnya, kita harus selalu berprasangka baik kepada-Nya. Menyakini bahwa ketentuan apapun yang ditetapkan Allah bagi kita merupakan yang terbaik, sejalan dengan doa yang selalu kita ucapkan dalam setiap kita shalat, ihdinash shirathal mustaqim. Maka berserah dirilah kita pada-Nya…dalam S. Ath Thalaq 3 : “ Barang siapa yang menyerahkan dirinya pada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya (memeliharanya)”.

Manusia cenderungnya ingin selalu dalam kebenaran. Upayakanlah kita untuk selalu dalam jalan Allah, mohonkan padaNya, selalu berdoa agar selalu mendekat pada Allah. ”Dan apabila hamba-hambaKu bertanya padamu tentang Aku, maka bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan mereka yang berdoa apabila ia mohon padaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi dan hendakalah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam KEBENARAN” (S. Al Baqarah : 186).

Berada dalam jalan kebenaran Allah, maka manusia harus upayakan untuk tetap berkomitmen untuk selalu bersikap adil dalam hal apapun dan jauhkan rasa iri, dengki, dendam, karena sesungguhnya manusia adalah saling mengasihi dan mencintai.

4. Walaupun penderitaan adalah bagian dari kehidupan, kita memiliki cara untuk menghadapinya sehingga kita dapat mengembangkan kekuatan untuk mengatasi penderitaan di masa depan dan membantu orang lain yang sedang menderita.

“Penderitaan” adalah hanyalah sebuah persepsi manusia. Sebuah cap negatif atas suatu hal ataupun kejadian. Sesungguhnya Allah ingin mahlukNya selalu berbahagia dan senang dalam kehidupan yang dijalani di dunia ini. Persoalannya, apakah si manusia tersebut mau nggak merasa BAHAGIA sebagaimana Allah memberikan BAHAGIA tersebut. Bahagia yang sesuai dengan ketentuan Allah dan dalam sudut pandang Allah pastinya. Bukan BAHAGIA dalam persepsi manusia pastinya.

Ingin BAHAGIA?

Maka jadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup dan Sunnah Rasulullah sebagai petunjuk pelaksanaannya dalam menjalani hidup di dunia ini. Allah tidak ingin mahlukNya menderita. Jadi apapun yang Allah berikan dalam hidup ini adalah dalam keadaan sebaik-baiknya. Apapun yang telah diberikan dan dititipkan kepada kita (misalkan : fisik kita, harta, jabatan maupun anak). SEMUANYA pasti itulah yang terbaik dan dibutuhkan oleh umat-Nya. Bahagialah dalam hidup ini dengan apa yang kita miliki, karena hanya kita sendirilah yang dapat membuat hidup ini “dirasakan” bahagia. Misalnya secara individu, aku harus punya tujuan hidup yang jelas dan fokus, yaitu mencapai “Dunia Bahagia Akhirat Surga”. Bahagia juga merupakan suatu persepsi dan bersifat relatif (tiap individu manusia punya persepsi yang berbeda).

Hal yang sama dengan persepsi “Bahagia” dan “Penderitaan” di atas tadi. Suatu persepsi yang tergantung bagaimana kita memposisikan dan menyikapinya. Kondisi “bahagia”nya kita, hanya kita yang dapat menentukan, maka jadikan bahagianya kita dengan apapun yg kita miliki dan jangan menggantungkan bahagia itu kepada faktor-faktor lain di luar diri kita (misalnya kita bahagia kalau anakku dapat selalu menjadi juara kelas, segingga pada suatu saat anakku tidak jadi juara, betapa kecewanya…).

Kita memiliki cara untuk menghadapi dan menyikapi rasa “Bahagia dan Penderitaan” itu. Kita dapat mengembangkan kekuatan untuk mengatasi apa yang dianggap “penderitaan atau kesusahan atau musibah” yang terjadi dengan ikhlas bila yakin Allah menyayangi kita dan tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan kita, dengan demikian apa yang awalnya kita anggap sebagai suatu “penderitaan atau kesusahan atau musibah “ itu dapat kita dapat ubah persepsinya menjadi sesuatu yang “Bahagia”. “Maka sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan” (Al Insyirah ayat 5-6).

5. Walaupun orang tidak selalu mencintai dan setia, tidak ada yang akan menghalangi kita untuk tetap menunjukkan kasih kita dan tidak putus asa pada orang lain. Tidak satupun tindakan dari seorang manusia yang dapat menghalangi kapasitas manusia lain untuk mencintai.

Sungguh memang Allah menjadikan manusia itu untuk saling menyayangi, saling mengasihi, saling membantu, saling setia dan saling-saling lainnya. Karena kita adalah mahluk sosial yang membutuhkan keberadaan manusia lainnya dalam berinteraksi. Janganlah egois dan berpikir kita bisa “SENDIRIAN” saja.

”Dan berpegang teguhlah kalian semuanya, pada tali Allah, dan janganlah berpecah belah di antara kamu” (S. Ali Imran : 103). Allah menginginkan kita harus bersatu bukan berseteru. Bersatu juga dalam menjalankan pedoman hidup Al Qur’an, niscaya kita semua hamba Allah akan merasakan kenikmatan hidup di dunia maupun di akhirat (S. Al Baqarah : 201). Subhanallah…

Dalam hadits Rasulullah diriwayatkan “Perumpamaan orang mukmin dalam kasih mengasihi, cinta mencintai dan sayang menyayangi adalah laksana satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, tubuh lainnya ikut merasakan dengan tetap terjaga dan menderita demam” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Ketentuan hidup ini sering dinyatakan dalam arti yang kelihatannya negatif, padahal masing-masing memiliki sisi arti positif. Paradoks diatas menunjukkan dimensi positif dari setiap ketentuan hidup.

Jadi sebenarnya sekarang adalah bagaimana cara kita memandang atau menyikapi hidup ini kan…??! Hal yang negatif pun ternyata bisa jadi sesuatu yang positif! Sudah saatnya kita sekarang untuk selalu ”POSITIF THINKING”.

(**David Richo, seorang terapis, guru dan penulis, yang menekankan pandangan Yung, transpersonal dan perpektif spiritual dalam karya-karyanya).

Regina Kuntjoro-Jakti
Bandung, 19 Januari 2009

Sumber :
The 5 Things We Cannot Change - David Richo
Sentuhan Kalbu & Bahan Renungan Kalbu - Permadi Alibasyah
Bahan Materi Parenting Class Mutiara Bunda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar