Selasa, 04 Januari 2011

Do'a dan Optimisme


Kalau sekiranya Kita tanyakan kepada seseorang, “ anda optimis ? ” terhadap sebuah objek kehidupan, maka seketika itu juga jawabannya akan beragam. Ada yang mungkin akan menjawab “saya optimis”, “saya tak terlalu optimis”, atau sama sekali “saya tidak optimis”. Namun, ketika ditanyakan “apa itu optimisme?”, maka tak semua orang bisa merumuskan jawabannya dalam sebuah kalimat. Yang nyata, hanya bisa dirasakan maknanya dengan tepat di dalam hati, tapi tak dapat dirumuskan dalam sebuah alur kalimat.

Sudah jamak dalam kehidupan manusia, bahwa manusia itu punya harapan dan keyakinan. Keselarasan antara sebuah harapan dan keyakinan akan tercapainya harapan tersebut, itulah yang dinamakan dengan optimisme.

Namun, sudah jamak pula dalam kehidupan manusia, selalu punya gelombang. Tak selamanya harapan dan keyakinan itu selaras. Sebab, manusia juga ditakdirkan punya naluri cemas. Kecemasan inilah yang mempengaruhi tinggi rendahnya optimisme. Ketika kecemasan mengecil, pada saat itulah optimisme meningkat. Demikian pula sebaliknya.

“Suka atau tidak suka, kehidupan manusia mengandung konsekuensi. Manusia mengalami penderitaan, kesedihan, dan kegagalan, sebagaimana ia juga akan mengalami kegembiraan, prestasi, dan keberhasilan”

(Quraish Shihab dalam makalahnya Amalan Keagamaan Sehari-hari, 1997).

Tak dipungkiri, banyak kepedihan yang bisa diatasi dengan upaya yang bersungguh-sungguh. Namun, beberapa (atau mungkin banyak) peristiwa di dalam hidup tak selalu demikian, ia tak bisa diatasi dengan upaya yang bagaimanapun, kecuali dengan bantuan Allah Yang Maha Kuasa. Nah, pada titik inilah posisi do’a menjadi sebuah kemestian.

Hanya saja kemudian, tak pula semua manusia itu yakin bahwa do’anya akan dikabulkan, disinilah letak persoalannya.

Dalam perspektif ideologi Islam, Allah Swt. pernah berjanji,

“Berdo’alah kepada-Ku, maka pasti akan Aku kabulkan”.

Janji Allah ini tentu tidak main-main. Janji ini bukan janji manusia, yang kadang kala mungkir. Janji ini adalah janji yang pasti ditepati. Lalu, mengapakah manusia banyak yang merasa bahwa do’anya tak dikabulkan Tuhan? Pada tahap inilah pentingnya sebuah kesadaran.

Sadar artinya adalah pengetahuan akan realitas dan penerimaan.

Sadar bahwa “perspektif” Allah itu tidaklah sama dengan perspektif manusia.

Allah itu jauh lebih tahu, jauh lebih bijak di atas segalanya yang ada di langit dan di bumi, ataupun yang ada di antaranya. Oleh karena itu, Quraish Shihab mengatakan, bahwa menurut sementara ulama, do’a akan dikabulkan dalam tiga cara;

pertama, dikabulkan sesuai dengan permintaannya.

Kedua, dikabulkan dengan menggantinya dengan sesuatu yang lain yang lebih bermanfaat bagi si pemohon.

Ketiga, ditangguhkan pada hari kemudian, untuk diberi ganjarannya.

Dari pendapat ulama tersebut, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Allah tidak pernah tidak mengabulkan sebuah do’a. Pengabulan itu hanya soal “kapan” dan “bagaimana caranya” saja.

Allah sangat tahu “kapan” dan “bagaimana caranya” mengabulkan, dimana “kapan” dan “bagaimana cara” Allah mengabulkan itu tidaklah selalu sama dengan “kapan” dan “bagamana caranya” manusia minta dikabulkan.

Keputusan “kapan” dan “bagaimana cara” Allah mengabulkan itu adalah yang paling tepat dan jitu. Sebab, dalam posisi ini, Allah mengetahui yang terdahulu dan terkemudian, Allah mengetahui semua yang telah terjadi dan semua yang belum terjadi. Sekali lagi, inilah yang dinamakan kesadaran.

Sebagai motivasi bagi kita adalah, bahwa Iblis saja yang durhaka dan jelas-jelas menentang-Nya – artinya, dalam posisi ini Iblis penuh bergelimang dosa – dikabulkan do’anya ketika ia meminta untuk dipanjangkan umurnya hingga kiamat tiba.

Oleh sebab itu, penting dalam berdo’a itu dalam posisi tulus dan posisi yakin. Kombinasi dua posisi ini yang akan senantiasa menghidupkan dan mengembangkan harapan. Harapan yang tak pernah mati itulah cikal bakal lahirnya optimisme. Dan, tak syak lagi, optimisme sangat baik dampaknya bagi kehidupan manusia.


http://www.sudeska.net/2010/01/05/quraish-shihab-do%E2%80%99a-dan-optimisme/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar