Minggu, 02 Januari 2011

Hubungan Antara 4 Unsur (Api, Angin, Air, Tanah) Dengan Gerakan-Gerakan Dalam Sholat

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan bahwa nafsu amarah tercipta dari unsur saripati api, nafsu lawwamah tercipta dari unsur angin, nafsu mulhimah tercipta dari unsur air dan nafsu mutmainnah tercipta dari saripati tanah dan juga sifat-sifat dari keempatnya.

Selanjutnya pada tulisan ini akan dibahas mengenai hubungan antara nafsu/jiwa dengan geraka-gerakan dalam sholat.

Dalam AlQur’an surat Al 'Ankabuut (29) ayat 45 dikatakan bahwa:
………….Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Dari dalil diatas terlihat bahwa ada hubungannya antara sholat (dalam hal ini salah satunya adalah gerakan-gerakan dalam sholat) dengan perbuatan keji dan mungkar yang biasa dilakukan oleh hawa nafsu.

Dalam sholat, gerakan sholat dibagi menjadi 5 gerakan yaitu:

1. Gerakan pertama dalam sholat adalah berdiri.

Ini adalah sama dengan sifat nafsu amarah dimana nafsu ini tercipta dari unsur api.
Sifat api salah satunya adalah selalu berdiri. Disinilah nafsu amarah yang ada pada diri manusia disempurnakan (dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu anasir api) dengan bacaan-bacaan ketika berdirinya sholat yaitu antara lain bacaannya adalah ALLAHU AKBAR dan bacaan surat AlFatihah.

"ALLAHU AKBAR" menyempurnakan jiwa--jiwa yang memang perlu disempurnakan, oleh karena itu setiap ingin membunuh atau menyembelih binatang harus membaca ALLAHU AKBAR 3 kali setelah didahului dengan bacaan Bismillahi.

Jika proses penyempurnaannya berhasil, insyaAllah setelah selesai sholat tidak ada lagi rasa dendam, rasa ingin marah-marah dll. Sifat marah-marah, dendam, ingin menang sendiri dll, masuk ke dalam tubuh kita bersamaan dengan makanan yg kita makan jika makanan tersebut proses masaknya dengan menggunakan api, contohnya memasak nasi, sayur dll.

Oleh karena itu jika ingin mengurangi rasa amarah pada diri kita sebaiknya kurangi makanan-makanan yg dimasak menggunakan api, atau lebih tepatnya sering-seringlah berpuasa.

2. Gerakan kedua dalam sholat adalah rukuk.

Rukuk dalam sholat jika digambarkan badan kita dari pinggul sampai ke kepala akan membentuk sebuah garis horizontal. Ini sama dengan sifat angin yg biasanya bergerak secara horizontal dan nafsu lawwamah tercipta dari unsur saripati angin ini, dimana sifatnya adalah cenderung tidak punya pendirian, selalu menyesali diri, malas, selalu menuruti birahi/sex yg over dan nafsu makan yg terkadang berlebihan. Sifat ini biasanya dimiliki oleh binatang ternak. Jadi nafsu ini identik dengan nafsunya binatang ternak yang hanya makan, malas dan birahi/sex saja yang ada di otaknya.

Dalam gerakan rukuk sholat inilah nafsu lawwamah/kebinatangan yang ada pada diri manusia disempurnakan (dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu ke anasir angin) dengan bacaan-bacaan ketika rukuknya sholat yaitu bacaannya adalah ALLAHU AKBAR, SUBHANA RABBIAL ADZIMI WA BIHAMDIHI 3x
Jika proses penyempurnaannya berhasil, insyaAllah setelah selesai sholat bisa lebih mengontrol sifat-sifat yg kurang terpuji yg telah disebutkan diatas.

3. Gerakan ketiga dalam sholat adalah sujud.

Sujud merupakan symbol dari sifat rendah diri dihadapan sang Pencipta. Saat sholat kepala/muka berada di bawah selevel dengan telapak kaki.
Ini sama dengan sifat air yang selalu mencari tempat yg terendah. Lihatlah air, dia selalu mencari dataran yg lebih rendah. Ini menandakan air selalu dalam keadaan bersujud dimanapun berada.

Dalam gerakan sujud pada sholat ini anasir air atau nafsu mulhimah yang ada pada diri manusia disempurnakan (dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu ke anasir air) dengan bacaan-bacaan ketika sujudnya sholat.

Yang jadi pertanyaan adalah kenapa nafsu/jiwa ini juga perlu disempurnakan? Bukankah nafsu ini adalah nafsu yang tergolong baik? Selalu mengajak bersifat rendah hati pada sesamanya, lowprofil, pandai membawa diri dll. Ya memang benar, tapi nafsu ini bukan sebenarnya diri kita sejati, makanya tetap harus disempurnakan sebelum kita meninggal dunia. DIRI KITA SEJATI ADALAH RUH (CAHAYA ILAHI) YANG DITIUPKAN KE DALAM RAHIM IBU PADA SAAT JANIN BERUSIA ANTARA 3-4 BULAN DALAM KANDUNGAN. RUH (CAHAYA ILAHI) TERSEBUT BERSEMAYAM DI DALAM HATI NURANI, BUKAN DI HATI SANUBARI.

4. Gerakan keempat dalam sholat adalah duduk diantara dua sujud.

Duduk diantara dua sujud disini artinya badan atau jasmani kita mendekat ke arah tanah dan memang salah satu unsur penciptaan manusia adalah dari tanah.
Dalam gerakan duduk diantara dua sujud ini dimaksudkan untuk menyempurnakan nafsu mutmainnah agar sempurna kembali keasal kejadiannya yaitu anasir/unsur tanah, dengan bacaan takbir dan Robbighfirli warhamni…….dst.

Nafsu/jiwa mutmainnah ini juga tergolong nafsu yang selalu mengajak kearah kebaikan, selalu ingin banyak beribadah, rela berkorban untuk kepentingan orang lain, mau menanggung beban orang lain dll. Tapi sekali lagi nafsu ini bukan diri kita sejati, makanya sebelum meninggal dunia harus dikembalikan ke kejadian asalnya yaitu anasir tanah.

5. Gerakan kelima dalam sholat adalah duduk dengan bacaan tahiyat.

Rasullullah SAW bersabda bahwa sholat itu mi’rajnya orang mukmin (H.R. Baihaki, Muslim) Mi’raj artinya naik, mengalami kenaikan pengalaman/perjalanan spiritual menuju lebih dekat dengan Allah SWT.

Pada gerakan kelima dalam sholat inilah proses mi’raj terjadi. Renungilah arti dari bacaan-bacaannya:

Tahiyat adalah ucapan Nabi Muhammad SAW dimalam mi’raj. Dimana ketika Nabi sampai disuatu tempat (diatas Sidratul Muntaha) bertemu dengan Allah SWT, Nabi berkata:" Attahiyaatul Mubaraktus Shalawatut Toyibaatu lillah.. (Segala Penghormatan,
Keberakahan, Rahmat, dan Kebaikan hanya milik Allah).

Dijawab oleh Allah:" Assalamu alaika ayuhan nabiyu warahmatullahi wabarokatuh.. ( Salam, rahmat, dan keberkahan untuk mu ya Nabi (Muhammad).

Ditempat yg sedemikina tinggi dan agung, dimana Allah SWT hanya mengucapkan salam untuknya, beliau tidak lupa pada ummatnya.
Maka Nabi berkata:" Assalamu alaynaa wa'alaa ibaadillahis soliheen. (Salam untuk kami, dan hamba hamba Allah yang soleh)

Rupanya dialog antara Allah SWT dan Nabi (s.a.w) didengar oleh para Malaikat dilangit, maka mereka bersaksi: "Ashadu alla ilaha illallah, wa ashadu anna Muhammadar Rasulullah" ( Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah).

Kesimpulan:

Pada kesimpulan ini penulis akan mencoba menarik benang merah antara “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” (QS Al 'Ankabuut (29) ayat 45) dengan hadist Rasullullah SAW yang mengatakan bahwa “sholat itu mi’rajnya orang mukmin”

Jadi sebenarnya bahwa untuk melakukan mi’raj, perjalanan spiritual dalam sholat saat tahiyat adalah dengan syarat melaksanakan perintah terlebih dulu ayat 45 Alqur’an surat Al 'Ankabuut diatas, dalam arti bahwa kita harus bisa menundukkan dan menyempurnakan terlebih dulu 4 nafsu atau 4 jiwa yang merupakan jelmaan dari 4 unsur (api, angin, air, tanah) yang ada pada diri manusia yang telah dibahas pada bab sebelumnya.

Wujud dalam sholat dari “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar” adalah gerakan berdirinya sholat, rukuknya sholat, sujudnya sholat dan duduk diantara 2 sujud dalam sholat beserta bacaannya.

Sedangkan wujud dalam sholat dari “sholat itu mi’rajnya orang mukmin” adalah gerakan duduk tahiyat dan bacaannya dalam sholat.

Dengan menundukkan/mengendalikan 4 nafsu (bukan membunuhnya atau menghilangkannya) dalam tingkah laku/akhlaq kehidupan sehari-hari dan menyempurnakannya dalam sholat (gerakan sholat dan bacaannya yang khusuk) maka 4 nafsu/4 jiwa tersebut akan menjadi kendaraan atau Buraq dalam melakukan perjalanan spiritual/mi’raj setahap demi setahap menuju Dzat Yang Maha Sempurna Allah SWT melalui sholat.

WaAllahu ‘alam bissowab (hanya Allah SWT saja yang Maha Mengetahui yang sebenarnya), penulis mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan artikel ini.


Sumber : Majelis Dzikir At-Taubah Cilegon Banten.

http://agus-mustofa.blogspot.com/2010/07/hubungan-4-anasir-apiamarah.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar