Rabu, 09 Februari 2011

Optimisme


Dalam Kamus Bahasa Indonesia, optimisme diartikan dengan faham atau keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan. Seseorang yang optimistis adalah yang memiliki harapan baik dalam segala hal. Jika ada gelas yang setengahnya berisi air, maka yang optimis melihat bagian yang terisi dan yang pesimis melihat bagiannya yang kosong. Yang pertama berkata: “Sudah ada setengah gelas” dan yang kedua berkata: “Masih setengahnya yang kosong.”

Pendapat di atas belum sepenuhnya benar, jika dikaitkan dengan pandangan agama tentang optimisme.

Memang, optimisme berkaitan dengan sesuatu yang menyenangkan hati dan dinantikan kedatangannya, berbeda dengan pesimisme. Tetapi, agamawan menegaskan bahwa ia baru dinamai demikian selama sebab-sebab yang dinantikan itu cukup banyak dan logis, kalau tidak, maka ia bukan optimisme, paling tinggi ia adalah harapan tak berdasar, bahkan bisa jadi ia adalah angan-angan kosong dan keterpedayaan amâny atau ghurûr dalam bahasa al-Qur’an.

Optimisme, yang juga biasa dinamai Husnu adz-Dzan atau sangka baik, dianjurkan dalam berbagai segi hidup, lebih-lebih menjelang kematian, tetapi dengan syarat yang disebut di atas.

Imam Ghazâli menulis bahwa dunia adalah ladang akhirat. Hati manusia bagaikan tanah, dan iman ibarat benihnya. Ketaatan-ketaatan mengalir seperti aliran saluran air, membalikkan tanah dan pemupukan untuk menguatkannya. Hati yang tertutup oleh dunia yang menyelimutinya, seperti tanah yang bergaram, tidak akan berhasil menumbuhkan benih. Hari Kiamat adalah hari menuai. Jika seseorang menanam di tanah yang bergaram atau hati yang tertutup, maka benih apapun tidak muncul, dan dengan demikian dia tidak akan menemukan sesuatu yang dituai ketika datangnya musim panen.

Al-Qur’an melukiskan bahwa ada orang-orang yang mewarisi al-Kitab (Taurat), mereka mengambil sesuatu yang rendah dari kehidupan dunia ini dan berkata: “Kami akan diberi ampun.” Dan jika datang kepada mereka harta serupa itu, niscaya mereka akan mengambilnya (juga) (QS. al-A‘râf 7:169). Mereka sungguh teperdaya dan hanya berangan-angan dengan harapan pemaafan itu.

Ketika agama menganjurkan kita agar selalu optimis, maka itu adalah anjuran untuk memperbanyak sebab-sebabnya. Anda dapat mengukur diri Anda! Tanah apa tempat Anda menabur, dan benih apa yang Anda tabur, lalu menetapkan apakah Anda telah wajar bersangka baik atau sikap Anda adalah sikap siapa yang teperdaya. Kalau Anda menabur benih di tanah yang subur, dengan pengairan yang cukup, Anda boleh optimis, tetapi kalau benih yang Anda tanam di tanah yang gersang, atau tidak menanam benih sama sekali, maka sungguh Anda telah teperdaya.

Menghadapi kematian, Rasul saw. bersabda: “Janganlah seseorang di antara kamu wafat kecuali berprasangka baik kepada Allah.” Di kali lain beliau bersabda bahwa Allah berfirman: “Aku memperkenankan sangka baik/optimisme hamba-Ku.”

Optimisme dan sangka baik menjelang kematian, adalah merasa takut akan dosa yang telah diperbuat dan menyesalinya, sambil mengharapkan pengampunan dan rahmat Allah. Rasul saw. bersabda: “Keduanya (yakni takut dan harap) itu tidak berkumpul dalam hati seseorang yang sakarat, kecuali Allah memberinya apa yang dia harapkan dan menyelamatkannya dari apa yang dia takuti. Demikian wa Allâh a‘lam.

Oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab
http://kampusislam.com/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=399


***********************************

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yuusuf, 12:111)

Sunatullah yang terbentang dibelakang kita telah dijadikan Allah sebagai bekas-bekas yang menggores kuat tentang sebuah kepastian, bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan akan mendapat kemuliaan dari Allah dan orang-orang yang berbuat kejahatan akan mendapat kehinaan atas perbuatannya sendiri.

Bagaimana manusia bisa melihat kedalam pandangan yang lebih luas dan lebih besar, melihat Allah Tuhan Yang Maha Agung telah membuat sebuah sejarah yang demikian besar, jenis dan ragamnya. Dan apa yang bisa kita lakukan hanyalah terkagum-kagum dengannya.

Segala puji bagi Allah Dialah yang menunjuki kita sehingga kita mampu menyadari siapa diri kita yang dho’if ini. Segala puji bagi Allah atas segala nikmatnya sehingga kita dicintakan kepadanya untuk menempuh jalan kesholihan di sepanjang perjalanan hidup kita.

Dijaman inipun kita kadang masih melihat para veteran pejuang 45, yang senantiasa bermuka cerah dan bahagia, walaupun kesana kemari hanya mengendarai sepeda kayuh, sering mereka tersilaukan oleh lampu-lampu mobil generasi penerus yang berseliweran di jalan-jalan tanpa menyapa mereka.

Kebahagiaan yang tidak bisa terbeli, pahala tersembunyi dari amal-amal yang tersembunyi yang dibalas oleh Allah dengan balasan berlipat ganda. Amal yang ikhlash, amal yang hanya diperuntukkan mencari ridho Allah, telah mampu menumbuhkan kebahagiaan dalam jiwa para veteran yang semakin uzur dan semakin lemah fisiknya.

Segala puji bagi Allah, secercah harapan dan do’a-do’a yang senantiasa dilantunkan disaat-saat bermunajad kepada Allah, semoga generasi penerus senantiasa berjalan dijalan yang lurus dan jalan yang diridho’i oleh Allah SWT.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Ruum,30 : 30)

Generasi penerus diharapkan dapat berbuat dengan sesuatu yang terus dan terus semakin baik, semakin lurus dan semakin tha’at kepada Allah yang Maha Agung. Dialah yang telah menciptakan seluruh alam raya dengan segala kejadian yang ada diatasnya.

Dia pula yang menentukan tambahan nikmat atau tambahan siksa kepada hamba-hambaNya, bila kehidupan semakin melaju kepada kesholihan, maka Allah akan balas dengan kenikmatan yang berlipat-lipat, sebaliknya bila kehidupan semakin melaju kepada kejahatan, maka ujian, siksa dan azab akan datang silih berganti. Semuanya sesuai dengan janjiNya kepada Kita

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah,2: 277)

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. ……………(QS. Ali-’Imran,3: 110)

Keikhlasan telah membuahkan kebahagiaan yang kekal di dunia dan di akherat, namun untuk menjadi manusia yang ikhlash, membutuhkan kesabaran. Semoga Allah memberi kita semua kesabaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar