Senin, 21 Oktober 2013

Apa Kata Orang




Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS.2:147)

Dalam buku Hiburan Orang-Orang Shalih yang ditulis Muhammad Amin al-Jundi ada sebuah kisah jenaka namun inspiratif.

Syahdan, Nasruddin Affandi (Juha), tokoh Sufi nan cerdik dan humoris (hidup pada masa Dinasti Saljuk dan
wafat sekitar tahun 1285 M), hendak memberi pelajaran kepada anaknya.

Juha ingin agar anaknya tidak mengharapkan kerelaan semua orang atas dirinya. Dalam berbagai hal, mereka selalu berada pada posisi yang berlawanan.

Setiap kali Juha menyuruh anaknya melakukan sesuatu, selalu saja anaknya berkilah dan berkata : ”apa kata orang-orang tentang kita jika melakukan hal itu”.

Suatu hari, Juha mengajak anaknya ke pasar. Ia mengenderai seekor keledai,  tapi sang anak berjalan di
belakangnya. Baru berjalan beberapa langkah, mereka melewati sekelompok orang, lalu memanggil Juha.

Apa-apaan kau ini? Apakah di hatimu tidak ada rasa kasih sayang kepada anak? Engkau enak-enakan naik kenderaan, sementara anakmu lari-lari kelelahan di belakangmu”? Sungguh engkau ayah yang tak punya perasaan!

Mendengar cemoohan itu, Juha berkata kepada anaknya, ”Apa kau mendengarnya?”  Juha pun turun dan menyuruh anaknya naik.

Tak lama kemudian, sekelompok orang berteriak. ”Anak macam apa kau ini, tega membiarkan ayahmu  berlari-lari mengejar di belakangmu, sementara kau enak-enak naik keledai. Kau juga Juha,  orang tua yang tidak bisa mendidik tata kerama kepada anak. Kau biarkan dia naik keledai dan kau kerja-kejar dari belakangnya. Sungguh tingkah laku kalian ini sangat memalukan”.

Juha berkata kepada anaknya, ”Apa kau dengar itu? Kalau begitu kita naiki saja keledai ini berdua.'' Mereka pun naik keledai dan melewati sekelompok pencinta binatang.

Mereka marah dan berkata : ”Kalian manusia yang tidak panya rasa belas kasih. Tega menaiki binatang kurus berdua. Padahal timbangan kalian lebih berat dari binatang ini”.

Juha dan anaknya pun turun. ”Kau dengar itu?”  Juha menatap anaknya. ''Kalau begitu, kita berjalan kaki saja dan biarkan keledai ini berjalan sendiri.''

Kemudian,  sekelompok orang berkata : ”Masya Allah, kalian punya keledai tapi tidak ditunggangi. Kalian
betul-betul payah.


Akhirnya, Juha dan anaknya mengambil sebuah dahan kayu dan memikul keledai tersebut. Rupanya, di belakang mereka ada orang tertawa terbahak-bahak. ”Ayah dan anak sama saja. Punya keledai bukan ditumpangi, kok malah dipikul. Kalian betul-betul gila.”

Juha berkata kepada anaknya : ”Wahai anaku, inilah akibat mendengar omongan orang dan melakukan sesuatu hanya untuk mencari ridha (senang) dari semua orang. Nyatanya, orang-orang tetap tidak senang.”

Illustrasi ini mengingatkan kita akan nasehat Baginda SAW. betapa pentingya menjaga keteguhan prinsip dalam kebenaran dan kebaikan.

Nabi SAW. pernah bersabda : ”La yakun ahadukum imma’atan, yaquulu anaa ma’a an naas, in ahsana an-naasu ahsantu, wa in asaa’uu, asa’tu. Walakin waththinu anfusakum. In ahsana an naas, an tuhsinuu, wa in asaa’uu, an tajtanibuu isaa’atahum.

Artinya : ''Janganlah kalian menjadi orang yang oportunis (tak punya pendirian). Ia berkata : ”aku ikut orang
banyak saja. Jika mereka berbuat baik, aku pun ikut berbuat baik. Jika mereka berbuat buruk akupun ikut. Akan tetapi, teguhkanlah pendirianmu. Jika manusia berbuat baik, maka berbuat baiklah kalian. Jika manusia berbuat buruk, maka hendaklah kalian menjauhinya.''
(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Manakala kita menempuh jalan perjuangan dan dakwah, pasti banyak godaan, rayuan, fitnah, caci maki dan sikap yang tidak menyenangkan. (QS.7:16-17,2:214,104:1-4).

Melakukan kebaikan bukan untuk mencari atau mengharap agar semua orang senang kepada kita. Ketika ada segelintir orang yang tidak senang, maka itu saatnya menguji keteguhan prinsip atau pendirian kita.

Jangan terpengaruh pendapat orang banyak, karena belum tentu benar dan baik. Pendapat yang sedikit, belum tentu salah.  

Jika sudah bulat hati (’azam) dengan pertimbangan matang, maka tawakkal kepada Allah(QS.3:159).  Kebenaran itu dari Allah dan jangan termasuk orang yang bimbang (QS. 2:147, 4:170, 6:104,10:94,18:29).

Kehidupan di tengah masyarakat, tempat kerja atau komunitas, seringkali kita berada pada posisi yang sulit
untuk menentukan pilihan atau sikap.

Banyak pertimbangan yang seringkali menjadi ganjalan untuk mengatakan benar atau salah. Kita sering
mengkhianati hati nurani atau keyakinan demi menjaga hubungan baik, menghormati atasan atau mengharap proyek yang sudah di depan mata, atau menjaga perasan orang lain.

Ingin menyenangkan hati semua orang. Tentu hal itu tidak mungkin. Ada ungkapan bijak : ”If you try to please everyone, you will please none. Not even your self.” (Jika kamu mencoba menyenangkan semua orang, engkau tidak akan menyenangkan siapa pun, termasuk diri sendiri.”) 

Sikap plin plan, tak berpendirian, tidak tegas atau mengikuti angin berhembus yang berubah-ubah akan berujung penderitaan. 

Kritik dan nasehat hanya patut kita dengar dari orang penting dalam hidup kita. ’Isy kariman au mut syahidan (hiduplah mulia atau matilah sebagai pejuang). Allahu a’lam bish-shawab.


Oleh Ustaz H Hasan Basri Tanjung MA, Ketua Yayasan Dinamika Umat dan Dosen Unida Bogor
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/10/20/muz5xf-apa-kata-orang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar