Kamis, 03 Oktober 2013

Meraih Bahagia




Bahagia. Setiap orang pasti mendambanya. Namun, tak sedikit dari kita yang justru tak pernah merasakannya apalagi meraihnya. Kebahagiaan seolah jauh dirasa untuk orang-orang yang belum menyadari sepenuhnya bahwa kebahagiaan itu dekat. Bahagia sejatinya ialah terletak pada S3; Shalat, Sabar dan Syukur.

Pertama
, shalat. Sebagai ibadah mahdhah yang diwajibkan oleh Allah, perintah shalat sangat banyak terdapat di Al-Quran. Dari sekian banyak ayat yang mewajibkan shalat, Allah menggunakan kata ‘aqiimuu’ yang berarti ‘dirikanlah’ sebagai bentuk fi’il amr (kata kerja perintah).

Mendirikan shalat tentu maknanya lebih dalam dari melaksanakan. Artinya, mendirikan berarti menjaga shalat sesuai dengan waktu yang telah Allah perintahkan untuk kita. Karena sifatnya yang wajib, maka Allah mewajibkannya kendati dalam keadaan genting, misalnya dalam kondisi perang. Seperti yang tertera pada ayat di bawah ini.

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Qs An-Nisaa: 103)

Sebagai ibadah yang telah diatur waktunya, dalam surah Al-Mu’minuun ayat 2, Allah menjadikan shalat yang khusyu sebagai salah satu ibadah yang akan diwariskan surga yang penuh kenikmatan. Pewarisan surga ini, Allah setarakan dengan orang-orang yang pandai menjaga amanah, menjaga kemaluan, meninggalkan ucapan tiada guna, dan terakhir, Allah menutupnya (lagi-lagi) bagi orang yang menjaga waktu shalat.

Kedua, sabar. Allah menggandeng sabar dengan shalat karena keterikatan antara dua aktivitas ini. Shalat dilihat dari ibadah jasmani, sedangkan bersabar dalam menjalani shalat agar istiqamah tepat waktu dan kekhusyuannya, diperlukan kesabaran.

Sabar juga menjadi kebutuhan yang vital dalam setiap sendi kehidupan agar manusia bisa berlapang dada menerima suratan takdir Tuhan. Keterkaitan antara sabar dan shalat, Allah ungkap dalam surah Al-Baqarah ayat 45,“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',”

Ketiga, syukur. Dalam surah Ibrahim ayat 7, Allah mengurai bahwa Dia akan melipatgandakan ni’matNya bagi orang-orang yang mau bersyukur. Bersyukur berarti menggunakan seluruh potensi diri untuk melaksanakan seluruh perintah-Nya, begitu M Quraish memaparkan arti syukur dalam Al-Mishbah. Sebagai contoh, jika Allah menganugerahkan kita kepandaian, itu artinya Allah Swt menghendaki kita untuk berbagi ilmu—dan itu merupakan satu bentuk kesyukuran untukNya.

Allah disebut juga Asy-Syakuur, yakni Dia menerima rasa terimakasih dari segenap hambaNya. Yang dengan bersyukur, maka kita akan selalu merasa cukup dan percaya bahwa rizqi telah diatur sehingga tak perlu beriri hati dengan rizki yang Dia limpahkan kepada orang lain.

Imam Al-Ghazali mendefinisikan syukur sebagai usaha untuk menghidupkan nikmat Allah dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang selalu bersyukur disebut ‘syakuur’. Namun, syakuur berarti peraasaan untuk selalu berterimakasih yang berkesinambungan, terus menerus, manis ataupun pahit atas apa yang Allah berikan untuk kita. Jika itu takdir yang tak dikehendaki, maka ‘Syakuur’ akan tetap memuji Allah dan bersyukur.

Pada akhirnya, shalat, sabar dan syukur menjadi tiga dimensi yang bersinergi untuk mempererat hubungan kita pada Allah. Jika kita mau merenung, kebahagiaan sejati sesungguhnya sangat dekat di hati.

Oleh Ina Salma Febriany

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar