Jumat, 11 Oktober 2013

Haji Sarat Hikmah





Pada tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya, sekitar 200.000 saudara-saudara sebangsa se-Tanah Air meninggalkan Tanah Air untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima, Ibadah Haji.

Ibadah Haji satu-satunya ibadah yang terpaksa harus dibatasi jumlah pesertanya. Pembatasan ini disebabkan ibadah haji tidak hanya ketat waktu tapi juga ketat tempat.

Perluasan tempat-tempat pelaksanaan ibadah haji dapat melahirkan masalah, karena tempatnya sudah ditetapkan oleh Nabi SAW.

Ibadah haji senantisa memberikan kesan-kesan spiritual yang sering sulit dilupakan. Orang yang pulang ibadah Haji sering menjadi ketagihan ingin kembali ke tanah suci.

Hampir tidak pernah terjadi orang kapok melaksanakan haji. Sesuatu yang menjadi daya tarik dari ibadah haji itu ialah ni’mat ibadah dan do’a ketika haji hampir senantisa dikabulkan.

Tentang ni’mat ibadah hampir setiap orang yang melaksanakan haji mendapatkan kepuasan spiritual ketika thawaf, ketika shalat di Maqam Ibrahim, di Hijir Ismail, di Raudlah dan terutama ketika Wukuf di ‘Arafah.

Apa yang dinyatakan Rasulullah SAW ketika menjelaskan tentang ihsan yaitu ''Sembahlah olehmu Allah seolah-olah kamu melihat Allah'', sangat terasa ketika ibadah Haji.

Ketika berzikir, berdo’a, beristigfar di tempat-tempat tertentu, air mata mengalir, terasa begitu dekat dengan Allah. Selama di Makkah, jamaah menikmati shalat jamaah di Masjdil Haram, mereka menikmati zikir, bertasbih, bertahmid, beristigfar.

Selama beberapa hari di kota Makkah ada yang sempat thawaf lebih dari 50 kali, berangkat ke masjid dua jam sebelum waktu shalat fardlu, selama ibadah haji ada yang mampu menamatkan baca Al Qur’an sebanyak lebih dari lima kali.

Tentang do’a, tidak sedikit jamaah haji yang berhasil mendapatkan apa yang sebelumnya sulit mereka dapatkan. Ada yang sakitnya sembuh, ada yang berhasil mendapatkan jodoh, mendapatkan keturunan, dan lain-lain.

Ibadah Haji sarat dengan latihan dan tantangan yang ujungnya kenikmatan. Proses ibadah Haji sarat dengan latihan kesabaran, keuletan, ketekunan dan kepasrahan juga kebersamaan yang selalu mengesankan.

Dengan pakaian ihram yang putih tak berjahit melambangkan kesederhanaan, kesamaan dan kesucian. Juga menanggalkan identitas-identitas kebangsaan, kebesaran dan identitas-identitas eklusif lainnya.

Ketika berihram, tidak boleh mencabut tumbuh-tumbuhan, tidak boleh membunuh hewan buruan. Mereka yang berihram dilatih untuk mencintai lingkungan, mendidik seorang untuk menjadi rahmat, kasih sayang kepada fauna dan flora sebagai wujud rahmatan lil’alamin.

Kalimat talbiyah yang mesti diulang-ulang memantapkan tekad dan karakter unggul. ''Kami datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, puji hanya milik-Mu, kenimatan sepenuhnya anugrah dari-Mu, kekuasaan juga adalah milik-Mu''.

Kehadiran jamaah Haji sekitar tiga juta manusia yang datang dari berbagai negara, bangsa dan suku dengan ibadah yang sama, pakaian yang sama semacam mu’tamar besar Umat Islam sedunia. Silaturrahim besar berbagai bangsa.

Orang yang beribadah haji disebut Duyufurrahman (tamu-tamu Allah) berkunjung ke rumah Allah; Sebagai tamu Allah maka yang menerimanya adalah Allah, shahibulbaitnya adalah Allah, hidangannnya dari Allah, jamuannya anugerah dari Allah berupa rahmat Allah, barokah Allah dan magfirah dari Allah.

Proses ibadah Haji semacam perjalanan hidup yang dipadatkan. Dalam perjalanan hidup, seseorang akan memperoleh hasil panen tergantung apa yang ia tanam. Kalau ia menanam kebaikan ia ada harapan panen kebaikan.

Sebaliknya seseorang yang banyak menanam kejelekan, ia akan mendapat panen kejahatan. Dalam prosesi ibadah Haji panen kebaikan atau kejelekan itu ukurannya bukan bulan dan bukan tahun tapi jam dan menit.

Tawaf melambangkan perjuangan dengan berbagai cara. Singkat, cepat, penuh tantangan atau lambat, lama, tapi minim tantangan. Semuanya harus terkait dengan tauhid yang dilambangkan dengan Ka'bah.
Sa'i melambangkan perjuangan keras yang harus ditempuh seseorang untuk memperoleh anugerah Allah yang dilambangkan dengan air zamzam.
Melempar jumrah melambangkan usaha yang sungguh-sungguh melemparkan karakter-karakter yang tidak baik yang ada pada tujuh anggota badan.
Dan, puncak ibadah haji, yaitu wukuf di Arafah, semacam drama kolosal. Refleksi peristiwa kemanusiaan, semacam gladi resik Mahsyar. Di dalamnya adalah pengakuan dan pertobatan.
Haji mabrur pahalanya surga.  Ada dosa-dosa yang tidak termaafkan kecuali dengan wukuf di Arafah. Wallahu 'alam.


Oleh: Prof Dr Miftah Faridl
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/10/11/muh5s0-haji-sarat-hikmah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar