Selasa, 15 Oktober 2013

Siapakah Hasan Al-Basri itu ?





Nama lengkapnya ialah Abu Said Al-Hasan Inbu Abi Al-Hasan Yassar al-Basri. Dia dilahirkan pada tahun pada tahun 21H (642 M) di Madinah.

Ayahnya yang bernama Yassar. Ibunya bernama Khairah Mahulaf Ummul Mukminin dan pernah menyusu dengan Ummu Salamah (isteri Rasullulah saw).

Pada tahun 37 H, setahun setelah perang Sifin, dia berpindah ke Basrah. Di sinilah dia memulakan perjalanan  hidupnya sebagai ulama, seorang yang zahid besar yang amat berpengaruh. Dia meninggal dunia di Basrah pada tahun 110 H (729) .

Dia mendalami ilmu agama islam kepada Ulama-Ulama terkemuka dan dalam rangka itu dia bertemu dengan 70 orang perang Badar dan 300 orang sahabat Rasullulah saw lainnya. Hassan al-Basri hidup zaman tabiin (generasi selepas sahabat) .

Hasan al Basri memiliki sifat-sifat yang terpuji dan ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam. Suatu ketika Saidina Ali Abi Thalib menemui Hasan yang sedang berbicara di depan kumpulan pengajiannya. Ali bertanya: "Hai Hasan! Aku mahu bertanya kepadamu tentang dua perkara. Apabila engkau dapat menjawab dua perkara ini engkau dapat meneruskan pelajaran dalam kumpulanmu, kalau tidak engkau akan aku keluarkan dari masjid ini sebagaimana aku bertindak kepada yang lain."

Hasan berkata :"Bertanyalah wahai Amirul Mukminin."

Saidina Ali melanjutkan dengan pertanyaan :"Ceritakan kepadaku tentang kebaikan agama dan yang dapat merosakkan agama. "

Hasan al Basri menjawab:"Kebaikan agama ialah hidup warak dan yang merosakkan agama ialah hidup tamak."

Saidina Ali berkata : "Engkau benar dan sekarang teruskan pengajian kumpulanmu."

Anas bin Malik, Abu Qatadah dan lain-lain yang sezaman memuji Hasan Basri dan mengakui akan keluasan ilmunya, Menurut Abu Na'im Al-Asfahani , Hasan al-Basri adalah orang yang selalu takit dan berduka sepanjang hari, hidup zuhud dan warak sepanjang masa dan tidak tidur dalam keadaan senang karena mengingati Allah , menolak dunia dan tidak meminta-minta.

Menurut Hasan al Basri bagaimana kita tidak takut kalau , seluruh kehidupan ini kita dipertanggungjawabkan sedang kehidupan itu sendiri amat pendek dan terbatas. Bagi orang yang beriman, kehidupan dunia bukan untuk bersenag-senag , tetapi persiapan dan peningkatan amal soleh dalam diri yang selalu takut (khauf) dan dengan selalu mengharap (raja') akan keampunan dan rahmat-Nya.

Bagi Hasan al Basri , banyak duka dan prihatin di dunia akan memperteguhkan semangat amal soleh, memperkuatkan zuhud dan warak dan menjauhkan diri dari kemurkaan Allah . Namun semua itu tidak akan benar-benar tertanam dalam diri manusia kalau dia memiliki iman dan ilmu. Iman dan ilmu merupakan suatu kemestian sebagai dasar bagi orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah.

Hasan al Basri selalu berpesan agar manusia selalu berwaspada terhadap dunia seperti ular,lembut sentuhannya dan boleh mematikan. Berpalinglah dari pesonannya dan berwaspadalah. Semakin sesuatu itu mempersona semakin berwaspadalah .

Menurut Hasan al Basri manusia telah mendapat hikmah dari Rasullulah saw ketika Allah menawarkan kepadanya berupa dunia dan kunci serta isinya tanpa mengurangi sedikit pun kedudukannya di hadapan Allah. Namun, beliau menolak karena dunia itu boleh mempersonakan dan menipu kehidupan.

Hasan al Basri menghadapi dunia dengan prihatin dan waspada berlaku zuhud dan penuh kesucian menajamkan hati dengan takut dan mengharap kepada Allah setiap waktu.

Secara terang-terang dia membenci sikap kalangan golongan atasan yang hidup berpoya-poya. Di kalangan para sufi dia dimuliakan sebagai salah seorang tokoh suci yang terbesar dan masa awal sejarah islam. Memanglah Hasan al Basri diakui sebagai Guru Besar Kaum Sufi karena dia mendapat ilmu tasawwuf atau kesufian terus dari Huzaifah Ibnu Yaman salah seorang sahabat Nabi yang terkenal dengan ketinggian ilmunya. Hasan al Basri meninggal di Kota Basrah pada tahun 110H / 728 M.

Petikan "Buku Himpunan Kisah Para Sufi"
Halaman 38-41 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar