Senin, 14 Oktober 2013

Korbankan Ismailmu




Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As adalah potret keta’atan dan kepatuhan seorang manusia terhadap perintah Tuhannya,

Nabi Ibrahim As dengan penuh keikhlasan merelakan putranya Nabi Ismail As yang sangat di cintainya untuk disembelih atas perintah Allah SWT, satu-satunya anak yang dimilikinya dan satu-satunya barang berharga yang dimilikinya.

Peristiwa ini sangat memberikan inspirasi kepada seluruh umat Islam di dunia tentang pengorbanan, karena banyak diantara umat Islam saat ini memiliki Ismail-Ismail berupa harta benda, kekayaan dan lain sebagainya.

Semuanya itu sangatlah sayang kalau disedekahkan kepada orang yang lain yang membutuhkan, padahal masih banyak saudara-saudara kita sesama Muslim yang membutuhkan pertolongan.

Sayangnya, banyak orang kaya Muslim sayang terhadap Ismil-Ismail mereka. Karena mereka berpikir mendapatkan Ismail-ismail tersebut dengan susah payah.

Padahal, Nabi Ibrahim mencontohkan dengan sangat indah. Harta berharga satu-satunya, yakni putranya Nabi Ismali As yang sangat dicintainya, diikhlaskan untuk disembelih karena Allah SWT, sehingga beliau mendapatkan posisi yang mulia di sisi Allah swt.

Lantas, bagaimana dengan kita sekarang? Apakah ikhlas mengorbankan Ismail-Ismail yang kita punya untuk kita korbankan? Apakah tidak ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah SWT?

Kalau saja, Ismail kita berupa mobil mewah, berupa rumah mewah atau berupa tabungan, diikhlaskan untuk jalan agama, insya Allah, janji Allah tidak akan meleset.

Allah SWT akan memberikan kemuliaan kepada kita karena mau mengorbankan Ismail-ismail yang kita miliki, seperti firman-Nya dalam surat Al Kautsar.

Yang dimaksud berkorbanlah dalam ayat ini adalah menyembelih hewan kurban sebagai ibadah dan sebagai rasa syukur atas nikmat Allah SWT.

Saat ini yang baru bisa kita lakukan adalah berkurban dengan menyembelih hewan kurban berupa kambing atau sapi. Lantas, kapan kita bisa mengorbankan Ismail-Ismail yang lain berupa tabungan, mobil, rumah dan harta lainnya?

Jawabannya, tentu saja ada dalam hati kita masing-masing. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang mulia, yang mau mengorbankan barang-barang yang sayangi di jalan Allah SWT.



Oleh: H Ahmad Dzaki MA



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar