Senin, 06 Januari 2014

Berangkat dan Kembali dengan Zikir




Kita meng-‘ada’ melaluli fase-fase kehidupan. “Sesungguhnya kamu melalui fase demi fase (dalam kehidupanmu)” QS Al Insyiqaq (84):19. Kehidupan kita dimulai dengan keberangkatan, diakhiri dengan kepulangan dan diisi dengan dzikir. Seperti terlihat dari dzikir kita pada fase-fase kehidupan yang  kita lalui. Karena itu, menjadi manusia adalah proses berzikir dalam tujuh fase kehidupan.

Pertama, fase berasal dari Allah. Yaitu saat manusia belum diciptakan. Potensi materi untuk konstruksi tubuhnya masih tersebar dan terurai dalam tanah. Al-Qur’an menjelaskannya sebagai fase yang belum bisa disebut:

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu, di mana  ketika itu ia (manusia) belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” [QS Al Insan (76):1]. Maka zikir pada fase ini dimulai dengan dzikir makna. Yaitu makna bahwa seseorang pernah tidak. Dan keberadaannya sekarang, adalah bukti kemahaesaan Allah yang menghendaki kelahirannya di dunia.

Kedua, fase alam rahim ibu. Yaitu setelah pertemuan sel telur ibu dengan sperma bapak. Saat mana jiwa diciptakan dan Ruh ditiupkan. Sehingga terwujudlah janin manusia. Zikir manusia di fase ini dilanjutkan dengan dzikir dialogis primordial manusia dengan Tuhannya. Al-Quran menjelaskannya:

“Dan ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman: "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi". Kami lakukan yang demikian itu, agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami bani Adam, adalah orang-orang yang lengah terhadap kesaksian (dzikir) kami tentang Keesaan Allah ini", [QS Al-A’raf (7) :172].

Ketiga, fase alam dunia sejak manusia lahir sampai umur baliq. Dzikir pada fase ini dilanjutkan dengan dzikir triliyuan cell manusia yang terdapat dalam tubuhnya, dalam wujud gerak berputar bersama gerak berputarnya seluruh sistem semesta: makro (planet) dan mikro (cell dan quanta). Allah berfirman:

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” [QS Al-Isra’ (17):44].

Keempat, fase alam dunia sejak umur baliq sampai meninggal dunia. Dzikir pada fase ini dilanjutkan dengan dzikir dengan Al-Fatihah dalam shalat, dan dzikir dengan Basmalah di luar shalat. Dan penegakan shalat yang khusyu akan mencegah dari perbuatan keji dan maungkar. Yaitu dzikir di luar shalat dalam wujud amar ma’ruf nahi mungkar dan akhlak mulia.

Kelima, fase alam barzakh. Yaitu saat manusia sudah berada di alam kubur. Zikir pada fase ini dilanjutkan dengan dzikir pertanggung jawaban oleh jiwa manusia dengan menjawab pertanyaan tauhid dari malaikat Mungkar dan Nakir. Rasulullah SAW bersabda:

“Jika seorang Muslim ditanya dalam kubur, lalu ia bersaksi bahwa tak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, maka itu adalah bukti dari firman Allah Azza Wa Jalla (dalam QS Ibrahim (14): 27). Yang artinya: “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yg beriman dengan ucapan yg teguh…”

Keenam, fase alam akhirat. Yaitu saat semua orang sudah dibangkitkan dari alam kubur dan dikumpulkan di padang mahsyar. Dzikir pada fase ini dilanjutkan dengan dzikir kesaksian di hadapan Allah. Di mana semua orang akan bersaksi terhadap kemahaesaan Allah, melalui pertanggung jawaban terhadap seluruh perbuatan yang telah dijalaninya di dunia. Alquran menjelaskan: “Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” [QS An Nuur (24):24].


Ketujuh, fase kembali kepada Allah SWT. Yaitu fase terakhir dari seluruh drama kehidupan manusia. Dzikir manusia pada fase ini akan diakhiri dengan dzikir makna lagi. Yaitu makna bahwa sesungguhnya, manusia berangkat dari Allah, menjalani hidup bersama (kehendak)   Allah, dan akan kembali kepada Allah. Allah berfirman:
“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala ketentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” [QS Al Qashash (28):88].

Maka sungguh, Allah telah menciptakan dan menumbuhkan hidup kita melalui zikir dalam tujuh fase kehidupan. Sehingga, berdzikir dalam dan di luar shalat adalah hidayah Allah yang telah menjelma menjadi sunnataullah. Yaitu pola, substansi, proses dan makna kehidupan kita.


Sehingga hidup tanpa zikir dalam shalat dan di luar shalat adalah hidup yang berlawanan dengan hidayah Allah dan bertentangan dengan sunnatullah. Bila hal ini terjadi, maka pasti kita akan tegolong orang-orang yang rugi dunia dan akhirat.

Karena itu, marilah kita jadikan dzikir dalam shalat yang khusyu sebagai dasar dan sikap hidup, dan dzikir di luar shalat (amar ma’ruf nahi mungkar dan akhlak mulia) sebagai kerangka dan pola hidup kita.


Dan insya Allah, berzikir dalam dan di luar shalat sepanjang hidup di dunia (fase 4), di samping sesuai dengan hidayah Allah, dan konsisten dengan dzikir pada 3 fase hidup kita sebelumnya, juga akan menyelamatkan kita dalam tiga fase hidup kita berikutnya. Semoga.



Oleh DR M Masri Muadz MSc, Penulis buku Paradigma Al-Fatihah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar