Selasa, 14 Januari 2014

Dua Pelajaran



Sedikitnya ada dua pelajaran yang minimal bisa kita petik dari Nabi Muhammad SAW. Beliau selalu berbuat untuk orang lain, dan memikirkan orang lain. Bahkan dalam berdoa pun, doanya selalu menyebutkan untuk orang lain.

Rasulullah SAW hampir tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Ada moment di saat beliau hanya berdoa dengan Allah, pencipta alam jagat raya ini. Hanya beliau berdua dengan Allah.

Attahiyyatul mubarakatus shalawatut thayyibatu lillah. Rasul memberikan salam dan pengagungan kepada Allah SWT. Dan salam ini dijawab Allah SWT. Assalamu'alaika ayyuhan nabbiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh. Keselamatan juga buat engkau wahai Muhammad.

Kemudian, Rasulullah SAW menjawab, Assalamu'alaina wa 'ala 'ibadillahis shalihin. Salam (keselamatan) juga untuk kami dan hamba-hamba-Mu yang saleh. Beliau menjawab dengan memakai dhamir nahnu (kami), untuk orang sebanyak-banyaknya. Masya Allah.

Kita mengenal Rasulullah SAW melalui sejarah. Dan saat menjelang wafatnya, malaikat Izrail turun bersama Malaikat Jibril atas perintah Allah di Baitul Ma'mur, untuk menjemput Nabi Muhammad SAW.

Sebelumnya, Allah telah berpesan kepada kedua malaikat tersebut, "Andai Muhammad menolak untuk dicabut nyawanya, hendaknya kalian kembali."

Mereka pun turun, dari Baitul Ma'mur hingga ke langit dunia. Jibril mempersilakan Izrail untuk menemui Rasulullah SAW.

"Kenapa engkau tidak menemaniku, wahai jibril?" kata Izrail. Jibril menjawab, "Aku tak tega melihat engkau mencabut nyawa orang yang aku cintai."

Hal ini ternyata diketahui Rasulullah SAW. Momentum ini dijadikan Rasul untuk menunjukkan kebesaran hati dan jiwanya, untuk kita semua, umatnya ini. Izrail melanjutkan perjalanannya hingga tiba di kamar Rasulullah SAW.

Setelah Izrail memberi salam dan Rasul menjawab salam Izrail, Rasul bertanya: "Aina Jibril?" Di mana jibril?" Izrail menjawab, jibril menunggu di langit pertama. Rasul meminta Jibril datang kepadanya sebelum nyawa beliau dicabut.

Wahai pembaca Republika yang dirahmati Allah. Sepintas ada maksud dari Rasulullah SAW. Beliau menunda sebentar waktu kematiannya sebelum bertemu Jibril. Beliau tidak memikirkan dirinya, anaknya, istrinya, keluarga, dan harta bendanya. Tidak.

Beliau justru memikirkan kita umatnya. Itulah yang beliau sampaikan kepada Jibril. "Wahai Jibril, telah tiba kematianku. Bagaimana nasib umatku sepeninggalku nanti?"

Allahu akbar, yang ditanyakan Rasulullah adalah kita, umatnya. Kalau Yusuf Mansur mengaku umatnya nabi, Yusuf Mansur yang ditanyakan Nabi, bagaimana Yusuf Mansur sepeninggal beliau?

Kalau Syahruddin, Irwan kelana, Damanhuri dan semua pembaca serta keluarga besar Republika mengaku umat Nabi Muhammad SAW, maka kita semua yang ditanyakan nabi kepada Jibril, bagaimana nasib kita sepeninggal beliau nanti?

Inilah yang menjadi konsentrasi Rasulullah SAW tentang umatnya. Jibril menjawab, hanya Allah yang mengetahuinya.

Lalu Jibril bersegera menghadap Allah menyampaikan pertanyaan Rasulullah SAW. Setelah mendapatkan jawaban, Jibril kembali menemui Rasul.
Jibril menyampaikan, umatnya akan baik-baik saja. Tidak akan tersesat, tidak akan jadi orang yang merugi, jika mereka selalu berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.

Setelah mendengar hal itu, legalah hati Rasulullah SAW. Beliau mempersilaka Izrail untuk mencabut nyawanya. Perhatikan dialog beliau selanjutnya.

Ketika beliau menanyakan tentang umatnya saat akan dibangkitkan di hari kiamat. Insya Allah, tak ada satu pun manusia yang dibangkitkan sebelum Nabi Muhammad. Dan tak ada umat yanng akan dibangkitkan sebelum umat Nabi Muhammad SAW.

Diutus empat malaikat untuk membangkitkan beliau. Jibril, Mikail, Israfl, dan Izrail. Mereka saling tunjuk untuk mendapat kehormatan membangkitkan nabi. Akhirnya dipilihlah Jibril.

Pada saat Nabi Muhammad SAW dibangkitkan, pertanyaan pertama yang disampaikan adalah umatnya. Wahai Jibril, ini hari apa? Jibril menjawab, inilah hari ketika pintu surga dibuka, dan malaikat Ridwan menghiasi surga untuk menjemput engkau dan umatmu dari hamba-hamba yang saleh. Dan pintu neraka akan dibuka untuk orang-orang yang durhaka dan tersesat.

Rasul kemudian bertanya, bagaimana umatnya dan di mana mereka? Alhammdulillah, Allah SWT memberikan kehormatan kepada Rasulullah SAW untuk memberikan syafaat kepada umatnya.

Bahkan, karena keistimewaan ini pula, para nabi memerintahkan umatnya untuk menemui Nabi Muhammad SAW. Maka beruntunglah kita yang menjadi umat Nabi Muhammad SAW.

Dalam setiap kesempatan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita, untuk senantiasa membaca Alquran, bershalawat, zikir, dan berbuat bukan hanya untuk diri pribadi tapi juga buat orang lain.

Inilah yang harus kita gelorakan dalam rangka menyambut dan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Manusia yang agung dan paling dicintai Allah SWT. Tidak disebut nama Allah kecuali digandeng dengan namanya.

Belum sempurna kalimat la ilaha illallah kecuali digandeng dengan Muhammadar Rasulullah. Semoga kita mewarisi sifat Nabi juga. Senantiasa berzikir dan berbuat untuk orang lain.

Dalam doa-doa kita pun, mari kita doakan orang lain, sebagaimana pesan Rasul SAW. Dalam harta juga begitu, karena di sana ada hak orang lain. Selamat menyambut dan memperingati maulid Nabi SAW. Semoga kita mendapat syafaatnya. Amiin. Salam.





Oleh: Ustaz Yusuf Mansur


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar