Sabtu, 11 Januari 2014

Peminta-minta


Siapa yang meminta-minta padahal ia mampu maka sesungguhnya ia hanya memperbanyak untuk dirinya bara api jahanam.” (HR Abu Daud dan Ibnu Hibban).

Idul Fitri membawa banyak keberkahan bagi umat Islam. 
Bagi orang beriman, Idul Fitri merupakan momen berharga untuk membangun silaturahmi kepada sanak saudara. Allah mengampuni dosa-dosa kita setelah menjalani puasa sebulan penuh. Saatnya kita meminta maaf kepada tetangga, kerabat dan saudara untuk lebih menyempurnakan proses pencucian diri dari dosa-dosa.

Baik di bulan Ramadhan yang telah lewat maupun disaat idul fitri, sering dijumpai peminta-peminta atau pengemis dadakan di berbagai tempat. Peminta-minta, entah karena alasan kebutuhan ekonomi mendesak atau memang profesi, menjadikan kesempatan ini untuk menarik iba orang lain.

Mereka menadahkan tangan, mengharap sedekah orang lain. Perbuatan meminta bantuan bukanlah tercela dalam Islam. Namun, Islam mencela perbuatan suka meminta-minta sebagai kebiasaan atau profesi.

Allah menghinakan orang yang menjadikan meminta-minta sebagai profesi atau kebiasaan. Kelak di Yaumul Akhir, para peminta dibangkitkan dengan tanpa wajah. Ini sebagai akibat bagi orang yang semasa hidupnya tidak memiliki rasa malu untuk senantiasa meminta belas kasihan orang lain, padahal mampu bekerja secara halal.

Mereka dianggap kurang mensyukuri karunia Allah, berupa tubuh sehat dan tenaga yang kuat untuk mencari penghidupan. “Senantiasa orang meminta-minta hingga datang pada hari kiamat kelak, tidak ada sekerat daging pun di wajahnya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Demikian pula, Rasulullah memandang rendah orang yang hanya menggantungkan dirinya kepada bantuan orang lain. “Siapa yang membuka pintu meminta-minta maka Allah pasti akan membuka pintu kefakiran.” (HR Ahmad dari Jabir bin Abdullah).

Tidak akan pernah kaya, orang yang mengandalkan dari meminta-meminta, kecuali akan menambah kemiskinannya. Kekayaan itu bermula dari kemauan kuat untuk tidak meminta-minta. “Siapa yang menjaga kehormatan diri (iffah), tidak meminta-minta, Allah akan menjaganya. Siapa yang mohon kecukupan kepada Allah, dia akan dicukupkan,” tegas Rasulullah dalam hadis riwayat Ahmad.

Mentalitas memberi adalah mentalitas orang kaya. Diawali dari menjaga kehormatan untuk tidak meminta-minta maka simpul-simpul kekayaan itu terbuka.
Rasulullah mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya untuk menjaga harga diri dengan bekerja. Kerja keras, apa pun bentuknya, mendapat tempat mulia dalam Islam.

Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Siapa mencari dunia secara halal, membanting tulang demi keluarga, dan cinta tetangga, maka pada hari kiamat Allah akan membangkitkannya dengan wajah berbinar layak rembulan bulan purnama.”

Penulis : Aris Solikhah




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar