Minggu, 15 Juni 2014

Berharap Pertolongan Malaikat





Sekilas terlintas dalam zoom in kamera wajah lesu sekaligus bingung yang sarat terpancar dari pelatih juara dunia dan juara Eropa La Furia Roja Spanyol, Vicente del Bosque.

Boleh jadi benar perasaan kuat sang pelatih tersebut ketika tidak ikut merayakan gol pertama yang dicetak dari titik penalti oleh Xabi Alonso. Dari sebelum peluit pertandingan ditiup, bahkan sebelum bergulir pesta akbar piala dunia, pengamat sepak bola dunia ramai meramalkan keruntuhan filosofi “tiki-taka” milik spanyol.

Dengan prediksi terhadap apa yang terjadi pada Barcelona. Ya, Barcelona seakan kehilangan tajinya, dia tidak lagi menggetarkan lawannya. Hampir semua tim ramai-ramai mencari kelemahan filosofi tiki-taka. Dari mulai strategi “parkir busnya” Mourinho, sampai “speed and power-nya” para klub Inggris.

Pertandingan awal Spanyol versus Belanda yang disaksikan jutaan pasang mata terhenyak ketika jala gawang Spanyol dikoyak-koyak oleh keperkasaan “total football” De Oranje Belanda. Van Persie dan Arjen Robben yang menggila menjadi inspirasi kemenangan mereka.

Bahkan, Luis Van Gaal dalam interview setelah pertandingan mengatakan belum percaya hasil yang mereka dapatkan. “Ini seperti mimpi,” ujarnya.

Benar seperti mimpi dikarenakan sebelum pertandingan banyak pengamat yang meragukan kemampuan Belanda dalam menghadapi Spanyol. Mereka tak cukup bekal melawan tim sekelas Spanyol sebagai Juara Dunia sekaligus Juara Eropa.

Namun, itu dibuktikan oleh dominasi pemain muda Belanda, yang seakan tidak mempedulikan nama-nama besar seperti Xavi, Andres Iniesta, David Silva, Xabi Alonso, Sergio Busquets dan lainnya dalam tim Spanyol. Mereka dijebret habis-habisan 5-1 untuk kemenangan Belanda.

Akhir peluit panjang dibunyikan, dengan tubuh yang lunglai dan kepala yang tertunduk lesu, diiringi tangis tidak percaya para pendukungnya, Spanyol dengan nama besarnya melangkah keluar lapangan. Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran mereka, namun yang pasti mereka membutuhkan spirit baru untuk menghadapi pertandingan lainnya.

Jalan masih panjang. Dalam pandangan mata yang tertunduk, Vicente melihat rumput di bawah kakinya, namun pikirannya melayang jauh dengan beribu pertanyaan. Benarkah ini keruntuhan filosofi “tiki-taka” yang diyakininya. Filosofi yang di tangannya mencapai puncak kejayaan haruskah di tangannya pula runtuh luluh berantakan.

Saya tidak tahu apakah dia seorang Muslim atau bukan, tapi jika seandainya iya, mestilah dia setelah berupaya keras tidak lupa berdoa mengharap pertolongan Alloh SWT. Dikarenakan jika Allah SWT menerima doa hamba-Nya dan memberikan pertolongan akan diturunkan seribu malaikat untuk mengurus urusannya.

Sebagaimana ayat, “(ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (QS al-Anfaal: 9).

Insya Allah, sebentar lagi bulan Ramadhan, serunya Piala Dunia akan lebih seru lagi jika dilengkapi shalat-shalat malam. Karenanya, seperti dapat bonus bangun malam untuk tahajud setelahnya mendapatkan pertandingan yang seru. Alhamdulillah, ayo fastabiqul khairat!

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi Allah adalah yang mengamalkannya.




Oleh: Ustaz Erick Yusuf, Pimpinan lembaga dakwah iHAQi, penulis buku 99 Celoteh Kang Erick Yusuf.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar