Selasa, 10 Juni 2014

Nikmatnya Bersyukur




Bagi warga Muhammadiyah, nama KH Abdul Rozak Fachruddin (alm) cukup dikenal. Beliau sering disebut Pak Fachruddin atau Pak AR saja. Beliau adalah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah paling lama, yaitu 22 tahun (1968-1990).

Meski memegang kendali kepemimpinan ormas Islam modernis terkaya di Indonesia namun ia tetap berpenampilan sederhana dan bersahaja. Beliau sangat merakyat dan akrab dengan warga Muhammadiyah yang ada di tingkat desa atau ranting.

Sukriyanto AR, putra Pak AR yang sekarang menjadi Ketua PP Muhammadiyah, pernah bercerita. Pada tahun 1963-an, Pak AR pernah diundang Pimpinan Ranting Muhammadiyah Krendetan, Purwodadi, Jawa Tengah.

Perjalanan yang cukup jauh dari Yogyakarta itu ditempuh dengan naik kendaraan umum, sehingga tiba di Krendetan pada sore hari. Di rumah salah seorang warga Muhammadiyah, beliau disuguhi teh yang kurang manis. Kata tuan rumah, “Maaf Pak AR, tehnya kurang manis”.

Kata Pak AR, “Ndak apa-apa, malah kebetulan. Kata dokter, kalau kebanyakan gula bisa kena kencing manis.” Selesai shalat maghrib di masjid, Pak AR diajak makan malam. Rupanya, makanan yang disuguhkan tuan rumah kurang garam.

Sang tuan rumah pun meminta maaf sembari memanggil istrinya. Tapi, apa kata Pak AR, “Tidak apa-apa. Tidak usah repot-repot. Kebetulan, kata dokter, kalau kebanyakan garam bisa kena darah tinggi.” Sehabis makan malam, Pak AR mengisi pengajian hingga larut malam.

Pak AR pun dipersilahkan untuk beristirahat di dalam sebuah kamar yang telah disiapkan. Tenyata, di dalamnya tidak ada dipan dan kasur yang nyaman. “Mohon maaf Pak AR, tidak ada dipannya. Yang ada hanya kasur tipis,” begitu pemakluman dari tuan rumah.

Lagi-lagi Pak AR berkilah, “Terima kasih, ndak apa-apa. Malah tidak akan jatuh. Kalau pakai dipan kadang-kadang jatuh.” Begitu sang tuan rumah melihat lampu redup yang watt-nya kecil, lagi-lagi ia meminta maaf kepada Pak AR.

Namun, bagi Pak AR, “Tidak apa-apa. Kebetulan, kalau lampunya redup saya malah cepat tidur.” Sang tuan rumah pun menimpali, “Wah, kalau dengan Pak AR ini kok serba kebetulan semua ya”, sambil tersenyum.

Apa yang dilakukan Pak AR di atas adalah salah satu cara mensyukuri nikmat Allah, yaitu dengan mengambil hikmah dan sisi positif dari setiap kejadian kehidupan yang kita alami. Seseorang yang bersyukur akan senantiasa berpikir positif atas segala kejadian yang menimpanya.

Cara ini juga akan mengantarkan kepada prasangka baik terhadap ketentuan Allah.  Ia tidak mudah menyalahkan realitas yang mengelilinginya dan tidak pula berprasangka buruk apalagi menyalahkan Tuhan. Hidup akan terasa lapang dan tidak sempit.

Cara kedua adalah mengingat kenikmatan dan kebaikan yang diberikan Allah. Jika seseorang hanya mengingat kekurangan dan ketidaknyamanan, ia akan merasakan hidup ini dengan penuh kekecewaan. Hatinya nelangsa, gelisah, dan selalu diliputi kegalauan.

Ketika seseorang ditimpa ujian di salah satu organ tubuhnya, misalnya luka atau sakit gigi, ia merasa seakan sudah tidak ada kenikmatan lagi hidup di dunia ini. Padahal, masih banyak kenikmatan lain yang bisa ia rasakan.

Sebaliknya, jika yang diingat lebih banyak atau hanya kenikmatan dan kebaikan hidup, ia akan merasakan hidup ini penuh bahagia dan lebih optimistis. Cara ketiga adalah mengukur diri dengan orang lain yang lebih rendah secara duniawi.

Rasulullah SAW bersabda, “Pandanglah orang yang lebih rendah daripadamu (secara duniawi) dan janganlah memandang kepada orang yang lebih tinggi daripadamu, karena yang demikian itu lebih baik agar kamu tidak memperkecil nikmat karunia Tuhan yang telah diberikan kepadamu.” (HR Bukhari Muslim).

Jika seseorang memiliki mobil meski tidak baru, ia bersyukur karena tidak kehujanan dan kepanasan seperti pengendara sepeda motor. Saat ia mempunyai sepeda motor, ia bersyukur karena bisa bekerja dan lebih cepat sampai rumah daripada  mereka yang bersepeda onthel.

Begitu juga ketika ia menaiki sepeda biasa, ia bersyukur dibandingkan mereka yang bisanya hanya berjalan kaki, dan seterusnya. Dan cara keempat adalah dengan berdoa agar kita senantiasa diberi inspirasi untuk bersyukur.

Meski sudah ditetapkan sebagai seorang nabi dan rasul, Sulaiman masih tetap berdoa agar ia senantiasa diberi ilham dan insiprasi untuk tetap bersyukur kepada Allah. Dalam perjalanan menuju Kerajaan Ratu Bilqis, ia bersama tentaranya sampai pada suatu lembah.

Di sana terdapat sarang-sarang semut. Tanpa diketahui tentaranya, Nabi Sulaiman memperhatikan gerak-gerik dan pembicaraan para semut yang keluar dari sarangnya. Rupanya seorang komandan semut sedang memerintahkan teman-temannya tidak keluar dari sarangnya.

Sebab, bala tentara Sulaiman ada di atas sarang mereka. Tentara itu akan menginjak begitu saja, karena mereka tidak merasa apapun. Nabi Sulaiman yang mendengar dan mengerti bahasa semut lantas tersenyum tertawa.

Nabi Sulaiman berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku isnpirasi untuk selalu bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kedua orang tuaku dan berbuat baik dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan orang  saleh.” (QS An-Naml:  19).
                                                                                            
Semoga empat kiat ini semakin mengukuhkan kita sebagai orang yang merasakan nikmatnya bersyukur. Amien. Wallahu a’lam.



Oleh: Bahrus Surur-Iyunk

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar