Kamis, 02 April 2015

Batasi Nikmat Dunia



Dunia hanya tempat persinggahan singkat umat manusia sebelum menuju alam kubur dan menunggu hari pengadilan. Di alam kubur, kita akan tahu tempat yang akan diberikan kepada kita kelak pada saat hari kiamat tiba. 

Penantian di alam kubur ini yang sangat menyakitkan, sebab bergantung pada apa yang dilakukan di dunia. Pada saat di alam kubur, tak luput kemungkinan kuburan terasa sempit dan mendapatkan siksaan. Meski demikian, kita belum takut dengan tindakan kita yang menambah dosa.

Untuk mengingatkan akan kematian dan menambah kuatnya nilai iman maka sangat perlu mendatangi orang yang meninggal dan berziarah ke makam. Terkadang, ini yang tidak diketahui. 

Kerap kali, kuburan atau ziarah ke alam kubur dianggap sebatas berkunjung dan tidak menambah nilai iman. Ada juga yang menggunakan kuburan untuk mendapatkan rezeki, jodoh, dan lain sebagainya. Ada juga yang menganggap dengan datang ke kuburan justru mendapatkan wangsit pada malam harinya.

Ini perilaku zalim pada umat kita yang menyebabkan rendahnya nilai iman itu. Satu hal yang membuat manusia terus melupakan ibadah karena tidak bisa melawan nafsu sehingga berlebihan dalam mencintai dunia. 

Manusia yang mengejar dunia secara terus menerus tanpa memikirkan akhirat mengakibatkan manusia lupa dengan hidup yang begitu singkat ketika di dunia sehingga berakhirnya hidup di dunia, tetapi ibadah yang didapatkan sangat sedikit.

Bekal apa yang harus dibawa ketika kembali kepada Allah jika waktu itu terkuras untuk memenuhi nafsu perut saja, yaitu dunia. Padahal, dunia itu menipu kita, terlihat seperti manis, tetapi menyebabkan kita semua larut dalam dunia. 

Salah satu ciri manusia yang cinta dunia, yaitu manusia yang terus menumpuk hartanya menjadi lebih banyak lagi. Tidak pernah rasa puas dengan apa yang telah didapatkannya.

Apalagi, jalan yang ditempuh untuk mendapatkan dunia dengan jalan korupsi sehingga dapatlah harta yang bukan lagi haknya.
Dalam hadis riwayat Imam Al-Bukhari, dari Abu Hurairah RA bahwa Nabi SAW bersabda, “Celakalah orang yang mengabdi kepada dinar, orang yang mengabdi kepada dirham, dan orang yang mengabdi kepada perut. Jika diberi ia merasa puas dan seneng, jika tidak diberi ia merasa jengkel.

Dia benar-benar celaka dan terjungkir serta tidak mampu mencungkil duri yang menancap ditubuhnya (yakni selalu tersiksa batinnya). Sungguh beruntung orang yang memegang tali kudanya dalam berjihad di jalan Allah dengan rambutnya yang kusut dan tubuh berdebu. Apabila ia ditugaskan digaris depan ia menjalankan tugasnya dengan baik dan apabila ia ditugaskan di garis belakang, ia pun melaksanakan tugasnya dengan baik pula.

Apabila minta izin, ia tidak dizinkan dan apabila minta tambahan pasukan untuk menemaninya, permintaannya tidak dikabulkan (meskipun demikian ia tetap terus bertempur karena Allah)." 

Kemudian dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Anak adam itu akan menua, namun masih terasa muda dalam dua hal, yaitu keinginan terhadap usia (yang panjang) dan keinginan (banyak) harta. ( HR At Tirmidzi).

Hadis di atas memberikan makna, ibadah itu tetap utama dilakukan di atas segala-galanya, termasuk kehidupan dunia. Dalam beribadah juga tidak hitung-hitungan, apalagi menghitung berapa banyak yang harus dibayar dalam bentuk uang. 

Hasil dari ini tidak lagi berkah hasilnya. Banyak di antara kita menjadi pejabat, tetapi bertujuan untuk mendapatkan dua hal, yaitu jabatan untuk mendapatkan uang. Buktinya, pejabat tidak akan mau jika tidak dibayar, tetapi anehnya sudah dibayar sebagai pejabat juga tidak amanah dalam menjalankan tugas. Wallahu a'lam.



 Oleh: Bahagia


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar