Minggu, 22 Mei 2011

“ GARING ”

Pada suatu malam, kamu sedang berkumpul dengan teman-teman kamu dan Kamu mulai menceritakan sesuatu, lalu setelah kamu bercerita, teman kamu mengatakan “Garing lo!”
Apa maksud teman kamu itu?
Apakah cerita kamu lucu?
Tidak lucu?
Biasa-biasa saja?
Atau sekedar garing?
Apakah sebenernya “garing” yang dimaksud oleh teman kamu itu?

Bagi mereka yang berasal dari Bandung atau daerah yang menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa keduanya, “garing” sebenernya adalah istilah yang tidak asing. Begitu pula mereka yang pernah tinggal beberapa lama atau melanjutkan pendidikannya di Bandung, “garing” adalah makanan mereka sehari-hari, mereka tenggelam dalam “kegaringan”.

Sebagian mereka yang tinggal di Jakarta dan daerah Jabotabek juga mengenal kata “garing” ini, tapi banyak juga dari mereka ini yang sebenernya sama sekali tidak tahu asal muasal dari istilah “garing” tersebut. Mereka hanya menyerapnya sebagai gambaran dari sebuah konsep yang tidak begitu jelas, tapi mereka bisa menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.

Sebaliknya untuk sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya, bahkan mereka yang juga tinggal di Pulau Jawa, “garing” adalah sebuah konsep yang aneh dan membingungkan. Apa “garing” berarti
lucu? Atau
tidak lucu?
Jelek?
Bagus?

Apa sebenernya “garing” itu?

Mari kita bahas………..


Dari asal katanya “garing” berasal dari Bahasa Sunda yang berarti “kering”. Iyaaa, memang dari Bahasa Sunda. Yakin dan pasti! Ini perlu ditekankan, karena ada banyak orang yang tidak berbahasa Sunda yang merasa, “Ah, masa sih dari Bahasa Sunda?” Karena itu sekali lagi perlu ditekankan bahwa “garing” memang berasal dari Bahasa Sunda.
Beberapa orang pakar kegaringan mengarang padanan kata garing dalam Bahasa Inggris dalam konsep,
“Your joke is dry,man!”
Ini tentu saja sebuah kegaringan. Jadi jangan sekali-kali dicoba dengan teman bule Anda karena dia tidak akan mengerti.

Tinjauan konsep “garing”.

Lalu apa sebenarnya arti “garing” itu?

Jika teman Anda berkata, “garing lo!” maka ada beberapa kemungkinan maksud yang dia ingin sampaikan, yang bebas untuk Anda intepretasikan sendiri. Jika teman Anda berkata sambil senyum dan tertawa tertahan atau menyembunyikan tawanya maka maksud “garing” tersebut adalah, yang Anda katakan lucu tapi dia tidak mau mengakuinya, karena dia kemudian akan merasa inferior tidak bisa “garing” seperti Anda.

Tentu saja jika dia tertawa terbahak-bahak terlebih dahulu dan kemudian mengatakan “garing!”, maka itu adalah pengakuan bahwa yang Anda ceritakan lucu sehingga yang dimaksud dengan “garing” yang dia sebutkan berarti bahwa Anda lucu.
Tapi jika dia berkata sekedar “garing!” dalam ucapan yang pendek, maka Anda tidak lucu alias “garing”.

Mungkin juga teman Anda akan berkata “ah gariiingg..” dalam ucapan setengah hati, artinya Anda tidak lucu dan teman Anda ragu-ragu mengucapkannya karena dia takut melukai hati Anda atau dia kasihan pada Anda karena Anda sudah berusaha melucu dan tidak lucu alias “garing.”

Ini sering kali dilakukan oleh para wanita ketika Anda seorang pria dan berusaha setengah mati melucu di depan dia.
Hindari melakukan ini karena Anda biasanya akan jadi “garing banget.”
(Banget bisa berarti tembakau dalam Bahasa Sunda yang juga berarti atau “sangat” atau “very” sehingga “garing banget” juga berarti “tembakau kering”)
Kemungkinan lain adalah teman Anda berkata “hmmm.. garing.” Ini berarti dia sekedar menghargai usaha Anda untuk melucu.

Jangan kuatir dengan teman semacam ini karena teman Anda ini adalah teman berharga dimana Anda bisa menggaring sepuas hati Anda tanpa perlu takut tidak dihargai atau tidak diwaro (waro adalah konsep lain yang berbeda yang akan dijelaskan kapan-kapan). Maka umbar sepuasnya kegaringan Anda pada jenis teman yang mengatakan “hmmm.. garing.” Dia adalah jenis teman sejati, yang biasanya pendiam.
Pengucapan lain yang umum digunakan bersama “garing” adalah ketika “garing” di satukan dengan kata benda. Misalnya dengan kata “anjing”.

Ini biasanya umum dilakukan di daerah asal garing itu tercipta yaitu di Bandung dan sekitarnya. Jika teman Anda berkata, “garing anjing!” maka ini artinya berhentilah menggaring secepatnya, untuk saat itu, terutama di hadapan teman Anda tersebut.
Bukan berarti Anda tidak lucu, Anda mungkin saja lucu tapi pada saat yang bersamaan ada kondisi yang tidak enak yang menyertai teman Anda itu. Mungkin saja dia sedang sakit gigi, baru saja putus dengan pacarnya, dimarahi orang tua, tidak lulus ujian atau kehilangan dompet dan lain lain, atau bisa saja dia memang mungkin alergi pada kegaringan Anda. Tapi jangan kuatir, tidak mudah putus asa adalah ciri-ciri dari mereka yang suka ngegaring, karena itu pada kesempatan berikutnya, menggaringlah lagi dengan intensitas yang lebih garing.

Jika suatu acara TV tidak seperti yang diharapkan. Efek studionya kampungan atau ceritanya tidak logis atau akting para pemainnya payah, maka acara TV ini masuk dalam katagori “garing”. Dalam hal ini “garing” berarti jelek atau tidak disukai. Sinetron Indonesia biasanya “garing”. Film-film bioskop kadang-kadang juga garing yang berarti “Sial nyesel gue nonton film ini!”

Jika suatu tim sepak bola bermain malas-malasan dan tidak bersemangat maka permainan sepak bola itu juga disebut “garing” yang berarti tidak seperti yang seharusnya. Jika sebuah restoran menyajikan makanan yang tidak enak maka restoran itu juga “garing” dalam arti makanannya tidak enak. Sebuah buku dapat juga disebut “garing” ketika buku tersebut terlalu mahal sehingga tidak dapat dibeli atau isinya ternyata hilang beberapa halaman. Tindakan pemerintah yang melakukan kontradiktif misalnya berjanji menghilangkan korupsi tapi para prakteknya malah melakukan korupsi juga masuk dalam katagoring “garing”. Jika cinta Anda ditolak oleh seorang wanita maka Anda akan mengatakan “garing!” saat teman Anda bertanya tentang wanita tersebut.

Jika obrolan Anda tidak nyambung, misalnya teman-teman Anda sedang mengobrolkan Desy Ratnasari sudah melahirkan anaknya atau belum dan tiba-tiba Anda berkata, “Primus kan ganteng”, Anda dapat dicap “garing” saat itu juga yang dalam hal ini berarti tidak nyambung, atau lelet atau lemot (lemah otak).

Jadi Anda lihat hampir semua aspek kehidupan dapat dikatakan “garing”. Bahkan dalam waktu dekat ini akan dibangun sebuah alat ukur “garingmeter” berupa alat elektronik portabel mirip dengan palm computer yang dapat mengukur kegaringan suatu tindakan atau suatu benda. Tentu saja sebelum benda tersebut dapat ditemukan di pasaran bebas perlu sebelumnya dibuat sebuah Standar Garing (SG) yang diterima oleh semua pihak. Penetapan standar garing ini saat ini sedang digodog oleh Majelis Garing Indonesia (MGI) yang sulit mengeluarkan putusan akhir, karena keputusan-keputusannya garing-garing.

Seperti yang telah dicontohkan diatas “garing” ternyata adalah sebuah konsep yang tidak sederhana karena memiliki banyak makna tapi juga tidak rumit-rumit amat (si amat aja nggak rumit, ini gariingg). Tapi cobalah amati penggunaan kata “garing” itu dalam kehidupan Anda sehari-hari dan gunakan sesering mungkin. Jika Anda berada di daerah yang tidak umum menggunakan kata “garing” maka dengan memperkenalkan “garing” Anda dapat menjadi trend setter daerah tersebut dan bisa terkenal sebagai seorang yang berkata “garing” untuk pertama kalinya.

Dan agar pengucapan Anda sempurna tentu bagus untuk sering-sering berkata garing setiap pagi, siang, dan malam. Dalam waktu yang tidak lama maka teman-teman Anda akan menemukan kenikmatan tersendiri untuk berkata “garing” setiap kali Anda ngegaring.

Pengggunaan “garing” dalam kalimat

Dilihat dari struktur penggunaan kata “garing” maka ada banyak penggunaan garing dalam sebuah kalimat. “Garing” itu sendiri adalah kata sifat, yaitu sesuatu atau seseorang yang bersifat garing. Sedang “galing” berarti keriting misalnya seperti dalam contoh kata “domba galing” maka itu berarti domba yang keriting atau seorang anak yang saking keritingnya hingga dia jadi mirip domba dan sering kali dipanggil “domba galing” juga. Jika anak itu parahnya ternyata “garing” maka dia berarti adalah “domba galing garing”.

Jika seseorang “menggaring” maka seseorang tersebut sedang melakukan atau telah melakukan kegaringan, tapi “menggaring” juga berarti “menggiring orang-orang agar menjadi garing.” Sehingga “menggaring” adalah sebuah kata kerja yang berbahaya dan
memiliki agenda tersembunyi.

“Kegaringan” adalah kata benda yang menunjukkan sebuah bentuk garing yang juga berarti “terlalu garing”. Tapi tentu saja sebelum “garingmeter” benar-benar tercipta agak sulit menentukan mana yang kegaringan, yang cukup garing dan yang garingnya biasa-biasa saja.

Kata “garing” tidak dapat digunakan dalam kalimat negatif dan jarang sekali diucapkan. Anda akan kesulitan menemukan seseorang yang berkata pada Anda, “nggak garing lo!” Karena apa yang dapat dikatakan adalah antara “garing” atau tidak sama sekali!

Bentuk lain adalah “garing-garing”,
“garing-garing” adalah benda yang menempel di moncong sebuah pesawat kecil. Oh, itu sih baling-baling ya (gariiinggg).
“Bergaring” berarti sedang menikmati kegaringan. Biasanya ditemukan dalam bentuk “Bergaring Ria” yang mana berarti Anda dan teman-teman Anda sedang saling tukar menukar kegaringan dan lambat laun tenggelam dalam kegaringan yang melanda. Bergaring tentu saja juga berarti yang biasa dilakukan turis-turis di pantai.

Faktor pendukung “kegaringan” tentu saja adalah “penggaring”.
Penggaring adalah faktor penyebab sebuah kegaringan terjadi. Dalam hal sebuah percakapan biasanya karena ada seseorang yang garing yang ikut dalam percakapan tersebut. Sedang dalam kasus seseorang yang garing, “penggaring” adalah sebab musabab kenapa seseorang jadi garing yang biasanya melibatkan benturan keras berkali-kali di kepala saat orang itu masih kecil atau keterkungkungan rohani yang melanda.

Last but not least adalah “tergaring”,
“tergaring” dapat digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang “paling garing”. Jika Anda sering kali dikatakan “garing”, bahkan beberapa teman Anda mengatakan bahwa Anda adalah “raja garing”, dan Anda juga tidak habis-habisnya dan tidak capai-capainya menggaringi teman-teman Anda, maka Anda adalah orang “tergaring” di kantor Anda, di kelas Anda atau di lingkungan Anda.

Tentu saja “tergaring” juga berarti “tidak sengaja kegaring”, seperti dalam penggunaan kata terinjak, terjatuh, terbawa. Dalam kasus ini berarti Anda terkena “kegaringan” seseorang tanpa Anda menyadarinya dan tanpa disengaja oleh orang tersebut. Cucian deh loe kalo ini terjadi.

Orang-orang yang “garing”.

Mari kita mengenal ciri-ciri orang yang “garing”.
Seseorang biasanya dikatakan “garing” hanya dalam kurun waktu tertentu. Biasanya dalam hitungan jam, misalnya Anda baru saja dikatakan “garing” oleh teman Anda maka Anda akan teringat-ingat sebagai seseorang yang garing untuk beberapa jam ke depan. Tentu saja jika Anda “menggaring” lagi pada beberapa jam kemudian dan Anda lakukan terus menerus Anda bisa kemudian menjadi orang yang garing dalam hitungan hari hingga bulan. Dalam hal ini “garing” tidaklah bersifat permanen.

Dalam beberapa kasus khusus yang lain “garing” bisa jadi sudah mendarah daging dalam tubuh mereka, walau belum ada bukti medis bahwa “garing” bersifat genetis. “Merah darahku, putih tulangku.”

Dalam kata-kata Leo Kristi, atau “Dipanggang di atas apimu, digarami lautmu.” Seperti yang ditulis Chairil Anwar. Atau dalam peribahasa barat, “garing is only skin deep”. Yang semua artinya bahwa beberapa orang ini sangat “garing” dalam arti yang mereka lakukan dan yang mereka katakan sehari-hari sangatlah jarang luput dari kegaringan.

Bahkan cara bepikir mereka pun sering kali “garing”.

Misalnya jika Anda sedang mengalami kesulitan memberhentikan bus, maka seseorang yang
“garing sejati” akan mengusulkan agar Anda berlari-lari di pinggir jalan untuk mencoba melihat apakah bus yang tidak mau berhenti itu akan mencoba memberhentikan Anda atau tidak. Hal-hal semacam itulah.

Jika Anda bertemu atau kenal dengan seseorang seperti ini maka hati-hati karena dalam hidupnya dia memiliki misi untuk menyebarkan faham “garingisme” yang disinyalir akan merubah wajah muka bumi ini. Kalau dia sudah mulai menawar-nawarkan MLMGS (Multi Level Marketing Garing Sekali) atau memperlihatkan AD/ART Partai Garing Indonesia, maka lebih berhati-hati lagi, berarti dia sudah mengincar Anda. Tapi tenang gampang mengenali jenis mereka yang “garing akut” ini, biasanya mereka suka mengutip puisi Chairil Anwar yang terkenal, “Aku ingin garing seribu tahun lagi”.
Jenis orang “garing” lain adalah “garing wanna be”.

Mereka yang termasuk “garing wanna be” ini adalah jenis orang yang paling kasihan dalam dunia kegaringan. Mereka berusaha sekuat tenaga agar mereka bisa “garing” tapi tidak pernah berhasil dan mereka akhirnya hanya jadi “garing”. Pokoknya orang-orang ini “garing” banget deh.


Penutup

Sebagai penutup maka perlu direnungkan sekali lagi tentang “konsep garing” yang telah dijelaskan diatas. Ada masih banyak elemen kegaringan yang belum dieksplor dan karena bisa Anda temukan sendiri. Bahkan sangatlah berguna bagi jiwa Anda jika Anda menyelami pribadi Anda sendiri dan menemukan kegaringan yang belum dikenal oleh orang lain dan kemudian memperkenalkannya pada dunia garing di luar sana.

Menjadi “garing” yang baik tentu saja tidaklah mudah, tapi juga bukannya tidak mungkin untuk dilakukan. Berlatihlah lebih giat, seperti yang dikatakan peribahasa barat “practice make perfect” yang berarti “garinglah setiap saat”. Apa yang Anda garingi saat ini akan berpengaruh besar di masa garing yang akan datang.

Akhir kata, TiTi DJ, Dedi Dores, dan Fariz RM.
Hati-hati di jalan,
dengan diiringi doa restu dan Penyanyi.



http://haneev.wordpress.com/2009/05/02/thesis-mahasiswa-garing/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar