Senin, 25 Februari 2013

Palestina, Negeri yang Subur



 Foto: petani strawberry di Gaza (alarabiya.net)

Kemarin, saya ngobrol dengan seorang ibu di bis menuju Jakarta. Saya sedang membaca buku Gilad Atzmon, dan dia bertanya ini-itu. Secara halus, dia seperti menyanggah pendapat saya, antara lain soal kesuburan tanah di Palestina Menurutnya, dia pernah ke luar negeri dan ditemuinya banyak buah dan bunga yang produk Israel. Saya jadi teringat pada sebagian isi buku saya, Ahmadinejad on Palestine:
Palestina, Negeri yang Subur

Sejak awal berkembangnya Zionisme hingga sekarang, Zionis telah mempropagandakan mitos bahwa orang-orang Palestina tidak tinggal di Palestina sampai setelah wilayah itu dibangun oleh kaum Zionis. Slogan yang sering didengungkan oleh kalangan Zionis adalah a land with no people is for a people with no land, (Palestina adalah) tanah tanpa penduduk yang diperuntukkan bagi bangsa yang tidak memiliki tanah. Roger Garaudy dalam bukunya mengutip perkataan salah satu tokoh Zionis, Golda Meir, “Tidak ada yang disebut orang Palestina… Kami bukan mendatangi negeri mereka lalu mengusir mereka dan merebut negeri mereka. Mereka tidak pernah ada.”Di antara contoh propaganda orang-orang Zionis terkait hal ini bisa dilihat di salah satu situs yang dikelola kaum Zionis , yang menulis, “Kaum Yahudi telah memulai imigrasi ke Palestina pada tahun 1880-an untuk membebaskan tanah itu dari rawa-rawa dan malaria, dan mempersiapkan kelahiran Israel. Usaha kaum Yahudi untuk menghidupkan tanah itu menarik imigran Arab dari kawasan sekitar dalam jumlah yang sama banyak (dengan jumlah imigran Yahudi). Mereka datang ke Palestina karena kesempatan kerja dan kondisi hidup yang lebih sehat.”

Untuk menjawab kebohongan klaim-klaim seperti ini, kita bisa melihat laporan hasil produksi pertanian di Palestina tahun 1944-1945 yang ditulis dalam dua buku resmi Mandat Inggris berjudul Survey of Palestine. Buku ini disusun oleh Mandat Inggris sebagai laporan kepada Komite Khusus PBB untuk Palestina (United Nation Special Committee on Palestine-UNSCOP) . Salah satu item dalam laporan itu adalah:

- Produksi pertanian orang Palestina (gandum, sayuran, buah-buahan, zaitun,dll) 1944-1945: 690.548 ton atau 71.25% dari total produksi pertanian, dengan luas tanah 92.8% dari total luas tanah pertanian.

- Produksi pertanian orang imigran Yahudi (gandum, sayuran, buah-buahan, zaitun, dll) 1944-1945: 278,607 atau 21.60% dari total produksi pertanian, dengan luas tanah 7,20 % dari total luas tanah pertanian.

Dari data singkat di atas, sudah bisa dibayangkan situasinya: penduduk asli menanam lebih banyak daripada orang-orang Yahudi yang datang berimigrasi dari Eropa. Hal ini juga bisa dipahami, karena para imigran dari Eropa itu tidak terbiasa bertani, masa lalu mereka adalah di negara-negara industri. Padahal, pada saat yang sama, para imigran Yahudi menerima banyak subsidi dan bantuan teknik pertanian dari Jewish National Fund, sementara penduduk asli Palestina bertani dan berkebun tanpa bantuan apapun dari pemerintahan lokal. Perlu diketahui pula bahwa jeruk hasil perkebunan Palestina saat itu juga diekspor ke Eropa oleh orang-orang Palestina sendiri.

Pada tahun 1891, Ahad Ha’Am (penulis terkemuka Yahudi dari Eropa Timur) menuliskan laporannya setelah mengunjungi Palestina selama tiga bulan, “Kita di luar negeri selalu mengira bahwa Israel Raya saat ini adalah tanah yang tandus dan gersang; padang pasir yang tak berpohon… Tapi, kenyataannya ternyata tidak demikian. Di seluruh penjuru negeri, sulit ditemukan tanah yang tidak ditanami. Hanya bukit pasir dan gunung batu yang tak menghijau.”

Segera setelah Al Nakba, kebun dan ladang-ladang pertanian, terutama zaitun dan jeruk, dihancurkan oleh tentara Zionis. Sebagian alasannya adalah karena ladang zaitun dan jeruk memerlukan tenaga kerja yang banyak untuk memeliharanya,; alasan lain adalah untuk menghilangkan jejak keberhasilan orang-orang Palestina dalam menghijaukan tanah itu, demi membuktikan mitos-mitos bahwa, “Palestina adalah gurun pasir belaka dan orang-orang Yahudilah yang membangunnya.”
(Ahmadinejad on Palestine, hlm 94-97)



http://dinasulaeman.wordpress.com/2012/12/02/palestina-tanah-yang-subur/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar