Senin, 04 Agustus 2014

Bani Israil Dikutuk Hingga Kiamat


Bani Israil pada dasarnya memiliki karakter yang rapuh, pendendam, pendengki, dan penakut. Sikap tersebut mendorong mereka kerap melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Sebagai akibatnya, mereka mendapat kutukan dari-Nya. “Bahkan, hingga hari kiamat,” kata Rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta
Prof M Ahsin Sakho. Berikut perbincangan pakar ilmu qiraat sab'ah itu kepada wartawan Republika, Nashih Nashrullah, perihal Bani Israil:

Bani Israil konon terjajah? 

Kita bisa tarik sejarah, ketika Bani Israil berada di bawah kepemimpinan Nabi Musa AS. Keturunan Bani Israil tidak menerima perlakuan baik dari Mesir. Nabi Musa yang dididik Firaun diperlakukan secara tidak baik oleh penguasa Mesir tersebut.

Firaun merasa terancam dengan adanya Bani Israil sehingga yang dilakukan Firaun adalah membunuh anak laki-laki Bani Israil. Konon, dalam sebuah cerita, Firaun bermimpi kebakaran yang menghancurkan membakar istana Raja Firaun. Mimpi tersebut menyatakan akan ada bayi dari Bani Israil yang bakal menghancurkan kekuasan Firaun, dia punya kebijakan membunuhi Bani Israil.

Tapi, kemudian, banyaknya bayi laki-laki yang dibunuhi, tidak ada lagi kelompok pemuda Israil yang bisa bekerja oleh orang Mesir karena tidak ada. Akhirnya, mereka mengeluh ke Firaun, kalau begini, kita juga yang bekerja karena pemuda mereka banyak mati terbunuh.

Akhirnya, Firaun memberikan kebijakan jeda, satu tahun dibunuh, satu tahun tidak. Pada satu saat, Nabi Musa tidak sabar lagi melihat perilaku semena-mena, akhirnya tergerak membela. Ini puncak ketidaksabaran Nabi Musa, bangsanya diperlakukan semena-semena.
Bani Israil pada dasarnya memiliki karakter yang rapuh, pendendam, pendengki, dan penakut. Sikap tersebut mendorong mereka kerap melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Sebagai akibatnya, mereka mendapat kutukan dari-Nya. “Bahkan, hingga hari kiamat,” kata Rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta
Prof M Ahsin Sakho. Berikut lanjutan perbincangan pakar ilmu qiraat sab'ah itu kepada wartawan Republika, Nashih Nashrullah, perihal Bani Israil:

Ini akibat sifat buruk mereka sendiri?

Bisa jadi, sifat buruk mereka berbalik akibatnya terhadap diri mereka sendiri. Setelah jati diri dan keistimewaan Bani Israil itu dihancurkan Raja Firaun, mereka menjadi orang yang gampang beralih, penakut, pendendam, dan pembunuh.

Lihat saja, saudara-saudara Nabi Yusuf AS itu mempunyai kedengkian ke Yusuf, seperti disebutkan dalam surah Yusuf. Berbagai peluang yang diberikan Allah SWT agar mereka kembali tetap saja tidak dipergunakan dengan baik. Seperti, ketika tersesat 40 tahun lalu berhadapan dengan kaum Jabbarin.

Mereka tetap berbuat onar hingga mereka dijajah oleh Babilonia dan dibawa ke negeri mereka (fa jasu khilaladdiyar) hingga 400 tahun. Datanglah pertolongan Persia dan mengembalikan mereka ke Palestina, tetapi mereka tetap berbuat onar lagi (kama dakhalukum awwala marratin).

Karakter buruk Bani Israil lainnya, mereka kerap melanggar janji. Ini seperti yang terjadi ketika masa Rasulullah SAW. Bani Quraidhah, Qainuqa', dan Nadhir selalu mengingkari janji.

Akhirnya, pantas jika mereka diusir dari Madinah. Mereka berkolaborasi menyerang Nabi, meletuslah Perang Uhud dan Ahzab. Ini awal Nabi Muhammad tidak senang lagi dengan mereka. Jadi, Bani Israil itu pendendam, pembunuh, dan ingkar janji.

Apakah kutukan atas Bani Israil berlaku hingga sekarang?

Benar, bahkan hingga hari kiamat (ila yaum al-qiyamah). Sejak abad keenam Masehi, bangsa Israil tersebar di berbagai wilayah. Tetapi, mereka akan mencari celah untuk berbuat onar lagi. Ini bisa dilihat dari makar mereka dengan inisasi Theodore Herzl yang ingin mengembalikan keturunan Bani Israil, Yahudi, dalam hal ini ke dalam satu wilayah sendiri.

Lalu, muncullah Deklarasi Balfour, Inggris menyatakan sejengkal tanah Palestina adalah miliki bangsa Yahudi. Berdirilah negara Israel pada 1948 yang didukung oleh banyak negara, termasuk Rusia, Inggris, dan AS.    

Jika demikian, bukankah bisa saja atas seizin-Nya makar mereka tumbang?
 
Mungkin saja, tetapi saya melihat ini sebenarnya merupakan ujian bagi umat Islam. Allah sengaja membiarkan golongan semacam Yahudi dan kelompok Zionisme agar umat Islam mawas diri dan bersatu. Dengan kehadiran musuh bersama di sana (common enemy), umat akan diharapkan bersatu.

Itu sangat mungkin. Karena, secara kodrati, mereka lemah bila umat Islam bersatu. Lihat saja perangai mereka seperti disebutkan dalam Alquran surah al-Hasyr, mereka tidak akan berperang kecuali di balik benteng yang kokoh atau belakang tembok (
illa fi qura muhasshanatin aw min warai judur). Kuncinya, ada di umat Islam itu sendiri.
Bani Israil pada dasarnya memiliki karakter yang rapuh, pendendam, pendengki, dan penakut. Sikap tersebut mendorong mereka kerap melakukan pelanggaran terhadap ketentuan yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Sebagai akibatnya, mereka mendapat kutukan dari-Nya. “Bahkan, hingga hari kiamat,” kata Rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta
Prof M Ahsin Sakho. Berikut perbincangan pakar ilmu qiraat sab'ah itu kepada wartawan Republika, Nashih Nashrullah, perihal Bani Israil:

Bani Israil konon terjajah? 

Kita bisa tarik sejarah, ketika Bani Israil berada di bawah kepemimpinan Nabi Musa AS. Keturunan Bani Israil tidak menerima perlakuan baik dari Mesir. Nabi Musa yang dididik Firaun diperlakukan secara tidak baik oleh penguasa Mesir tersebut.

Firaun merasa terancam dengan adanya Bani Israil sehingga yang dilakukan Firaun adalah membunuh anak laki-laki Bani Israil. Konon, dalam sebuah cerita, Firaun bermimpi kebakaran yang menghancurkan membakar istana Raja Firaun. Mimpi tersebut menyatakan akan ada bayi dari Bani Israil yang bakal menghancurkan kekuasan Firaun, dia punya kebijakan membunuhi Bani Israil.

Tapi, kemudian, banyaknya bayi laki-laki yang dibunuhi, tidak ada lagi kelompok pemuda Israil yang bisa bekerja oleh orang Mesir karena tidak ada. Akhirnya, mereka mengeluh ke Firaun, kalau begini, kita juga yang bekerja karena pemuda mereka banyak mati terbunuh.

Akhirnya, Firaun memberikan kebijakan jeda, satu tahun dibunuh, satu tahun tidak. Pada satu saat, Nabi Musa tidak sabar lagi melihat perilaku semena-mena, akhirnya tergerak membela. Ini puncak ketidaksabaran Nabi Musa, bangsanya diperlakukan semena-semena.

By M Ahsin Sakho


-------------------------------------------------

Catatan ;


Etimologi

• Bani Israil terdiri atas tiga kata, yakni “bani”, “isra”, dan “il”. “Bani” menurut kamus bahasa Arab berarti anak. Kata “isra” berarti dekat sedengakan “il” bermakna Tuhan.
• Israil adalah nama lain dari Nabi Yakub yang kerap melakukan perjalanan malam hari.

Genealogi

• Nabi Yakub menikah dengan empat perempuan: Leah, Rahil, Zulfa, dan Balha.
• Dari keempat pernikahan ini, lahir 12 anak laki-laki, yaitu: Rubin Simeon, Lawway, Yahuda, Zebulaon, Isakhar, Dann, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Benyamin.
• Ke-12 putra cikal bakal istilah Bani Israil. Keturunannya disebut al-asbath yang berarti cucu.
• Lahir dari cucu-cucu mereka para nabi.
Lawway: Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa' AS
Yahuda: Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, dan Isa AS
Benyamin:  Yunus AS

Nikmat-nikmat yang mereka dustakan:

•    Anugerah keistimewan dari segenap alam (QS al-Baqarah [2]: 47)
•    Penyelamatan dari musuh mereka, Firaun (QS al-Baqarah [2]: 49)
•    Pembelahan Laut Merah untuk jalur evakuasi mereka dari Firaun (QS al-Baqarah [2]: 50)
•    Ampunan setelah menyembah patung (QS al-Baqarah [2]: 51)
•    Kitab Taurat sebagai pedoman mereka (QS al-Baqarah [2]: 53)
•    Arahan bagaimana agar mereka membersihkan diri dari dosa (QS al-Baqarah [2]: 54)
•    Bangkit dari kematian (QS al-Baqarah [2]: 56)
•    Mendung dan makanan melimpah ruah (QS al-Baqarah [2]: 57)
•    Peluang tinggal di Yerusalem (QS al-Baqarah [2]: 58)
•    Perlindungan Allah (QS al-Baqarah [2]: 64)

Karakter negatif:

•    Suka melanggar perjanjian (QS al-Baqarah [2]: 83)
•    Etika buruk mereka terhadap Allah, malaikat, dan membunuh para nabi (QS Ali Imran [3]: 181)
•    Ingkar dan terhadap kebenaran karena egoisme dan dengki (QS al-Baqarah [2]: 89-91)
•    Menghalalkan yang haram (QS al-A'raaf [7]: 163-165)
•    Melanggar kitab Allah dan berpaling ke sihir atau bisikan setan (QS al-Baqarah [2]: 101-102)
•    Menjauhi jihad dan memilih hidup (QS al-Baqarah [2]: 96)

Klaim palsu:

•    Api tak akan mampu menyentuh mereka (QS al-Baqarah [2]: 80)
•    Keimanan palsu (QS al-Baqarah [2]: 91)
•    Hidayah jika mengikuti keyakinan batil mereka (QS al-Baqarah [2]: 135)
•    Surga hanya untuk Yahudi (QS al-Baqarah [2]: 111)
•    Anak-anak Allah dan pilihan-Nya (QS al-Maidah [5]: 18)
•    Uzair anak Allah (QS at-Taubah [9]: 30)

Bani Israil pada Masa Rasulullah SAW

Rasul memperlakukan dengan baik komunitas Bani Israil, terutama dari kalangan Yahudi, melalui berbagai perjanjian dan interaksi sosial yang baik sekalipun tak berbalas positif. Yahudi tetap bertingkah. Rasul pun mengambil sikap tegas lewat sejumlah sanksi, terhadap Bani Qainuqa', Quraidzah, dan Bani Nadhir. Puncaknya adalah peristiwa Perang Khaibar.

Bentuk Dakwah Terhadap Bani Israil:

•    Memberikan argumentasi logis dan empiris terkait risalah Muhammad SAW
•    Kesamaan risalah
•    Ajakan dengan metode damai
•    Peringatan akan siksa cepat atau lambat bila ingkar
•    Keadilan Alquran memperlakukan ahli kitab (termasuk Yahudi)
•    Diperbolehkannya menikahi perempuan Yahudi
•    Sembelihan mereka halal
•    Penerimaan upeti dari mereka

Oleh: Nashih Nashrullah      
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/14/08/04/n9s8df-sekilas-identitas-bani-israil


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar