Rabu, 06 Agustus 2014

Kunci Mudik yang Sukses





Alhamdulillah, Hari Raya Idul Fitri 1435 H dan bulan Ramadhan telah berlalu. Dengan izin Allah SWT kita kembali kepada fitrah.

Sebagian besar pemudik juga telah kembali ke asalnya masing-masing. Kembali dari mudik kecil yang berlangsung tahunan.

Kata fitrah berasal dari akar kata fa tha ra yang berarti, Dia telah menciptakan. Kembali kepada fitrah, hakikinya adalah kembali kepada kondisi asal penciptaan kita.

Asal yang bersih suci, asal penciptaan dari Dia yang Mahasuci. Niscayanya, kehidupan adalah sebuah mudik besar. Perjalanan kembali kepada asal, menuju Dia yang menciptakan kita.

Ada dua kunci mudik yang sukses. Pertama, peta yang akurat. Kedua, bekal yang cukup. Dalam versi besarnya, peta atau manualnya adalah firman Allah dalam Alquran serta hadis sebagai percontohan pelaksanaan firman. Keduanya wajib diimani sepenuhnya. “Berbekal-lah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS 2: 197).

Walaupun petanya sudah jelas, kenyataan di lapangan tetap tidak selalu mulus. Di sinilah pentingnya  takwa.

Tanpa iman dan takwa, kita cenderung kepada jalan pintas. Kita cenderung mengambil cara-cara yang zalim untuk menang dan secepatnya sampai ke tujuan. Tanpa iman dan takwa kita juga mudah putus asa dan menjadi frustasi.
Iman adalah peta yang memberi visi tentang tujuan yang semakin mendekat. Sedangkan, takwa ibarat bahan bakar yang menjadi bekal bergeraknya kendaraan mudik.

Kadang akibat kelalaian kita dalam membaca peta, karena kelelahan dan kantuk, atau bahkan kurang patuh kepada peta, kita menjadi tersasar. Namun, jika peta masih di tangan, dengan mudah kita kembali ke jalur yang benar.

Kadang bukan kelalaian kita, tapi fakta di lapangan yang tidak kondusif. Kadang jalan berlubang, kadang jalan ditutup dan dialihkan, kadang pengendara lain memotong dan menyerempet kita, kadang macet luar biasa bahkan mampet, dan lain-lain. Ini namanya ujian.

Kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah. Laa taghdob! (Jangan marah!), sabda Rasulullah SAW kepada seorang Badui yang meminta nasihat. Sampai tiga kali Rasul mengulang kata tersebut.

Firman Allah SWT di dalam surah Albaqarah, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang  yang sabar.” Kesabaran dalam menjalani ujian akan menaikkan maqam  (kedudukan)  kita kepada derajat yang lebih tinggi.

Sampai di tujuan sebagai orang yang derajatnya lebih tinggi dari diri  yang dulu berangkat memulai perjalanan.

Bagi yang baru kembali dengan selamat dari mudik kecil di kampung dunia, mari bersyukur agar Allah SWT menambahi nikmat-Nya  (QS Ibrahim:14)  dan selalu menjadikan mudik besar, perjalanan pulang menuju Dia di kampung akhirat, sebagai tujuan akhir yang utama. Jangan pernah lupakan peta dan bekalmu. Selamat Idul Fitri 1435 H.



Oleh: Dr A Riawan Amin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar