Rabu, 06 Agustus 2014

Silaturahim Hati





Bulan rahmah dan maghfirah telah berlalu. Kepergiannya diiringi dengan berbagai sambutan dari para pecintanya; ada yang teramat menyesal dan bersedih karena merasa belum memaksimalkan bulan Ramadhan, ada pula yang bersyukur karena telah mampu menjalani serangkaian target yang telah disusun selama bulan Ramadhan.

Apa pun perasaan yang kita miliki, tetaplah kita harus mensyukuri bahwa Idul Fitri adalah momentum penyucian hati setelah sebulan lamanya kita dilatih untuk menahan dan menyucikan diri dari segala hasrat duniawi; makan, minum, termasuk mengelola emosi.  Idul Fitri menjadi kesempatan terbaik untuk sama-sama membuka hati, memberi dan meminta maaf, serta menebarkan sifat belas kasih.

Meski memaafkan dan meminta maaf tak sebatas hanya pada saat perayaan Idul Fitri, momen perayaan ini kerap dispesialkan untuk berbagi dan memohon maaf. Tak ayal, ucapan yang sering kita dengar atau bahkan sering kita lontarkan ialah, ‘Mohon Maaf Lahir dan Bathin’.

Tak salah memang, memberi maaf terlebih meminta maaf adalah perilaku terpuji. Tak hanya bermaaf-maafan, Idul Fitri menjadi momen berharga untuk kembali merajut silaturahim bersama rekan dan sanak saudara.

Silaturahim (menyambung kasih sayang), atau yang justru sering disebut dengan silaturahmi adalah perbuatan baik yang dianjurkan Rasulullah SAW. Namun, hakikat silaturahim tak cukup dengan lahir (zahir/tampak), berupa berjabat tangan atau bertatap wajah. Hendaknya silaturahim bathin (hati) —yang sadar untuk meminta dan memberi maaf—benar-benar disadari, agar segala noda-noda di hati berupa iri, dengki, hasad, dendam, melebur hancur bersamaan dengan silaturahim tersebut.

Allah Swt berfirman, "Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Mahakaya lagi Mahapenyantun." (QS al-Baqarah: 263)

Secara tersirat, Allah menyebutkan dua tingkatan kebajikan dalam ayat ini, Pertama, perkataan yang baik. Berkata yang baik adalah salah satu usaha hifdz al-lisan (menjaga lisan) adalah hal yang benar-benar dianjurkan dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW pun bersabda, ‘Berkatalah yang baik, atau (jika tidak bisa) lebih baik diam,’.

Dalam hadis ini Rasulullah mengajak umatnya untuk mampu berkata baik dan membuahkan manfaat bagi sesama, bukan perkataan penuh dusta, caci-maki, dendam dan amarah. Kedua, kebajikan dengan memberi maaf dan ampunan kepada orang yang telah berlaku buruk kepada kita, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Nah, yang terakhir inilah yang disadari maupun tidak, sulit dilakukan.

Meminta maaf memang terkadang bukanlah perkara yang mudah, namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannya. Terkadang pula, perasaan tinggi hati kerap merusak niat diri sehingga kita malu mengutarakan ‘maaf’ terlebih dulu, padahal, jika kita cermati bersama, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Jika telah lewat waktu tiga hari itu, maka berbicaralah dengan dia dan berilah salam, jika dia telah menjawab salam, maka keduanya bersama-sama mendapat pahala, dan jika dia tidak membalasnya, maka sungguh dia kembali dengan membawa dosa, sedang orang yang memberi salam telah keluar dari dosa karena menjauhi itu.” (HR Abu Dawud)

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, “Pintu-pintu surga akan dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian Allah akan memberi ampunan kepada setiap orang yang tidak menyekutukan Allah sedikit pun; kecuali seorang laki-laki yang ada perpisahan antara dia dengan saudaranya. Maka berkatalah Allah: ‘Tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini sehingga mereka berdamai.” (HR Muslim)

Semoga kita tergolong menjadi hamba-Nya yang mampu menyambung tali kasih sayang ikhlas dari hati, sehingga mudah untuk memberi dan meminta maaf dengan tulus. Amin.


Oleh: Ina Salma Febriany

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar