Senin, 04 Agustus 2014

SABAR (PERISAI SEORANG MUKMIN)





Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan sabar sebagai kedermawanan yang tidak berhenti, pedang tajam yang tidak    salah sasaran, pasukan yang tidak terkalahkan, dan benteng kokoh yang tidak runtuh dan tidak bisa ditembus.

Sabar dan kemenangan adalah dua saudara kandung. Kemenangan itu beserta dengan sabar, jalan keluar itu bersama dengan kesulitan, dan kesulitan itu bersama dengan kemudahan. Sabar itu lebih digdaya menolong pelakunya tanpa senjata dan dukungan orang daripada bantuan pasukan. Posisinya terhadap kemenangan adalah sama seperti posisi kepala dengan tubuh.

Sungguh Yang Maha Menetapi Janji dan Mahabenar telah menjamin bagi orang-orang yang bersabar di dalam Kitab-Nya, bahwa Dia akan menyempurnakan pahala bagi mereka tanpa dihitung. Allah menjelaskan kepada mereka, bahwa Dia bersama mereka dengan petunjuk-Nya, pertolongan-Nya yang gagah perkasa, dan kemenangan-Nya yang gilang-gemilang.

Allah Ta’ala berfirman,
“Dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Anfal:46).
Dengan kebersamaan Allah ini, orang-orang yang bersabar menggenggam kebaikan dunia dan akhirat, dan dengannya pula mereka mendapatkan nikmat-nikmat-Nya yang tidak terlihat dan terlihat.

Allah Ta’ala menjadikan kepemimpinan dalam agama itu sangat terkait dengan kesabaran dan keyakinan. 
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah:24).

Allah menjelaskan, bahwa sabar adalah baik bagi pelakunya dan Dia menegaskan hal ini dengan sumpah. 
Allah Ta’ala berfirman,
“Akan tetapi jika kalian bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar.” (An-Nahl: 126).

Allah menjelaskan, bahwa dengan sabar dan takwa maka tipu daya musuh menjadi tidak ada artinya, kendati musuh tersebut super power.
 Allah Ta’ala berfirman,
“Dan jika kalian bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemadzaratan kepada kalian, sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka kerjakan.” (Ali Imran: 120).

Allah menjelaskan tentang Yusuf Ash-Shiddiq, bahwa kesabarannya, dan ketakwaannya mengantarkannya ke posisi terhormat dan kuat.
Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf:90).

Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkan kesabaran kalian, dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Ali Imran: 200).

“Dan Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (Ali Imran: 146).

“Dan berikan berita gembira kepada orang-orang yang bersabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 155-157).

Allah mewasiatkan kepada hamba-hambanya agar mereka meminta pertolongan dengan sabar dan shalat dalam menghadapi musibah dunia dan agama. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan jadikan sabar dan shalat sebagai penolong kalian, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Al-Baqarah: 45).

Allah menjadikan kemenangan dengan surga dan selamat dari neraka tidak dapat  dicapai kecuali oleh orang-orang yang sabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka pada hari ini, karena kesabaran mereka, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (Al-Mukminun: 111).

Sabar adalah tali seorang Mukmin. Tidak ada keimanan bagi orang yang tidak memiliki kesabaran.Kalaupun mempunyai keimanan, maka keimanan yang minimal dan sangat lemah dan pemiliknya termsuk orang yang menyembah Allah dengan sepotong-potong. Jika ia mendapatkan kebaikan, ia senang bukan kepalang dengannya dan jika mendapatkan ujian, ia murtad. Ia kehilangan dunia dan akhirat, dan tidak mendapatkan apa-apa kecuali perdagangan yang merugikan.

Kehidupan indah yang didapatkan orang-orang yang berbahagia ialah karena kesabaran mereka. Mereka mendaki ke puncak kdudukan dengan syukur mereka, kemudian mereka melangkah di antara dua sayap sabar dan syukur ke surga–surga kenikmatan. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai karunia yang sangat banyak.

 -------------------------------------------------------------


SABAR (PERISAI SEORANG MUKMIN)
(IBNU  QAYYIM  AL – JAUZIYAH)


Buku ini membangkitkan orang yang duduk untuk meneruskan perjalanan, menentramkan pengembara di perjalanan, dan mengingatkan pejalan akan tujuan perjalanannya.
Buku ini dibagi menjadi duapuluh enam bab danpenutup.

BAB PERTAMA : MAKNA SABAR

Asal usul kata sabar ialah Al-Man’u (menahan) dan Al-Habsu (mencegah). 
Jadi sabar ialah menahan jiwa dari cemas, lisan dari mengeluh, dan organ tubuh dari menampar pipi, merobek-robek baju, dan lain sebagainya.Allah Ta’ala berfirman,
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya.”(Al-Kahfi: 28).

Konon asal usul kata sabar ialah dari kata Asy-Syiddah(kokoh) dan Al-Quwwah
(kekuatan). Konon lagi asal usul kata sabar dari Al-Jam’u(menggabungkan) dan Adz-Dzammu (menghimpun). Jadi orang yang sabar ialah orang yang menggabungkan dirinya dan menghimpunnya dari keluh kesah dan cemas.

BAB KEDUA : HAKIKAT SABAR DAN PENDAPAT ULAMA TENTANG SABAR

Adapun hakikat sabar ialah salah satu akhlak yang mulia yang menghalangi munculnya tindakan yang tidak baik dan tidak memikat. Sabar ialah salah satu kekuatan jiwa dan dengannya segala urusan jiwa menjadi baik dan tuntas.
Al-Junaid bin Muhammad pernah ditanya tentang sabar. Ia menjawab, “Sabar ialah meneguk sesuatu yang pahit tanpa merasa memberengut.”
Dzu An-Nun berkata, “Sabar ialah menjauhi larangan, tenang ketika menenggak musibah, dan menampakkan dirinya kaya padahal ia miskin harta.”
Amr bin Utsman Al-Makki berkata, “Sabar ialah tegar bersama Allah dalam menghadapi ujian-Nya dengan lapang dada dengan tenang.” Artinya bahwa ia menghadapi musibah dengan lapang dada dan bukan dengan dada sempit, emosional dan mengeluh.
Al-Khawwash berkata,”Sabar ialah tegar terhadap hukum-hukum Al-Qur’an dan Sunnah.”
Ali bin Abu Thalib berkata, “Sabar ialah kendaraan yang tidak terperosok.”
Abu Muhammad Al-Jariri berkata, “Sabar ialah tidak membedakan antara nikmat dengan ujian disertai dengan ketentraman hati di dalam menjalani keduanya.”
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Seseorang tidak diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih luas daripada sifat sabar.”  (Diriwayatkan Al- Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Abu Daud).

Sesungguhnya mengeluh itu ada dua bentuk;
Pertama, mengeluh kepada Allah, maka ini jelas tidak bertentangan dengan sabar, seperti dikatakan Ya’qub,
“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”  (Yusuf:86).
Ayyub berkata, “Sesungguhnya aku(Ayyub) ditimpa penyakit.” (Al-Anbiya’:83).
Padahal Allah menggelarinya sebagai orang yang sabar.
Tokoh orang-orang yang sabar,Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata,
“Ya Allah, aku mengadukan kepada-Mu lemahnya kekuatanku dan minimnya taktikku,dan seterusnya.” (Diriwayatkan Ad-Daruquthni).
Kedua, keluhan orang yang tertimpa musibah dengan bahasa tindakan dan kata. Ini tidak sesuai dengan sabar, bahkan bertentangan dengannya dan menggagalkannya. Berkeluh kesah ialah sahabat dekat kelemahan dan saudara kandungnya, sedang sabar ialah sahabat intim kecerdasan dan pangkalnya.

BAB KETIGA : NAMA-NAMA SABAR MENURUT VARIABELNYA

Karena sabar yang terpuji ialah kesabaran jiwa secara sukarela dari memenuhi ajakan hawa nafsu yang tercela, maka tingkatan-tingkatan sabar dan nama-namanya itu sesuai dengan variabelnya.
Jika bersabar dari syahwat kemaluan yang diharamkan, maka dinamakan iffah (suci), dan kebalikannya ialah orang bejat, pezina dan pelacur.
Jika bersabar dari syahwat perut, tidak terburu-buru makan, atau tidak memakan apa yang tidak baik baginya, maka dinamakan kemuliaan jiwa dan kekenyangan diri, dan kebalikannya ialah rakus, hina, jiwa yang kerdil.
Jika bersabar dari menampakkan apa yang tidak baik untuk ditampakkan seperti misalnya pembicaraan, maka dinamakan menyimpan rahasia, dan kebalikannya ialah menyebarkan, atau menyiarkan, atau menuduh, atau perbuatan keji, atau menmcaci, atau bnerdusta, atau menuduh orang lain berzina, padahal tidak.
Jika bersabar dari hidup yang berlebihan, maka dinamakan zuhud dan kebalikannya ialah ambisius (rakus). Jika bersabar dengan sesuatu yang mencukupi dirinya, maka dinamakan qana’ah, dan kebalikannya juga ambisius (rakus).
Jika bersabar dari memenuhi dorongan emosi, maka dinamakan lembut, dan kebalikannya ialah cepat marah.
Jika bersabar dari memenuhi dorongan untuk bersikap buru-buru, maka dinamakan tenang dan tegar, dan kebalikannya ialah gegabah dan kurang pikir.
Jika bersabar dari memenuhi dorongan melarikan diri dari medan perang, maka dinamakan keberanian, dan kebalikannya ialah pengecut, dan penakut.
Jika bersabar dari dorongan balas dendam, maka dinamakan pema’af dan tolerans, dan kebalikannya ialah pembalas dendam, dan penyiksa.
Jika bersabar dari dorongan menahan kekayaan dan pelit, maka dinamakan dermawan, dan kebalikannya ialah pelit.
Jika bersabar dari dorongan makan dan minum pada waktu tertentu, maka dinamakan puasa.
Jika bersabar dari dorongan lemah dan malas, maka dinamakan pandai (sigap).
Jika bersabar dari dorongan memberikan beban kepada orang lain dan dari dorongan tidak menanggung beban mereka, maka dinamakan jantan.

BAB KEEMPAT: PERBEDAAN ANTARA SABAR,TASHABBUR,ISHTHIBAR DAN MUSHABARAH

Jika seseorang menahan dirinya dari dorongan yang tidak baginya, jika itu sudah menjadi akhlaknya dan pembawaannya, maka dinamakan sabar. Jika itu dengan upaya, latihan, dan meneguk rasa pahitnya, maka dinamakan tashabbur. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam bersabda,
“Barangsiapa berusaha untuk bersabar, maka Allah membuatnya bersabar.” (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Titmidzi, An-Nasai, dan Abu Daud).
Adapun ishthibar, maka ia lebih sempurna daripada tashabbur. Tashabbur adalah landasan ishthibar. Jika tashabbur dikerjakan secara berulang-ulang ia berubah menjadi ishthibar.
Sedang mushabarah, ia adalah melawan musuh di medan sabar.Mushabarah menghendaki terjadi pada dua pihak seperti musyatamah(saling mencaci), dan mudzarabah(saling memukul).Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian, dan mushabarahlah, dan murabathahlah, dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Ali Imran: 200).
Pada ayat diatas, Allah memerintahkan kaum Mukminin bersabar yaitu kondisi orang yang sabar dengan dirinya sendiri, mushabarah yaitu kesabaran dirinya terhadap lawannya, dan murabathah yaitu tegar, konsisten, dan melakukan sabar dan mushabarah. Terkadang ia mampu bersabar, mushabarah, dan murabathah, namun ia tidak bertakwa. Maka Allah menjelaskan bahwa standar itu semua adalah takwa dan bahwa keberuntungan itu sangat terkait erat dengan takwa,maka Ia berfirman, “Dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” Jadi murabathah, sebagaimana ia tetap bertahan di daerah perbatasan yang dikhawatirkan diserang oleh pihak musuh, maka ia juga tetap bertahan di perbatasan hati agar hawa nafsu dan syetan tidak masuk kepadanya  dengan maksud mengusirnya dari “kerajaannya.”

BAB KELIMA : JENIS-JENIS SABAR MENURUT TEMPATNYA

Sabar itu dibagi kedalam dua jenis; sabar pisik dan sabar jiwa.Masing-masing dari keduanya terbagi ke dalam dua jenis; sukarela dan terpaksa. Total jenis sabar adalah empat jenis;
  • Pertama, sabar pisik yang sukarela,contohnya melakukan pekerjaan berat dengan sukarela dan berdasarkan keinginnya sendiri.
  • Kedua, sabar pisik yang terpaksa,contohnya sabar terhadap sakitnya pukulan,sakit,luka-luka,kedinginan,kepanasan,dan lain sebagainya.
  • Ketiga, sabar jiwa yang sukarela,contohnya kesabaran jiwa dari melakukan tindakan yang tidak baik untuk dikerjakan menurut syariat dan akal manusia.
  • Keempat, sabar jiwa yang terpaksa,contohnya kesabaran jiwa berpisah dari kekasihnya karena terpaksa jika ia dijauhkan daripadanya.
Manusia di antara kita,jika kesabarannya mengalahkan dorongan hawa nafsu dan syahwat,maka ia bergabung dengan malaikat.Jika dorongan hawa nafsu dan syahwat mengalahkan kesabarannya,maka ia bergabung dengan syetan.Jika dorongan wataknya seperti makan,minum,dan seks mengalahkan kesabarannya,maka ia bergabung dengan binatang.

BAB KEENAM: JENIS-JENIS SABAR MENURUT KEKUATANNYA DAN KELEMAHANNYA DIHADAPAN HAWA NAFSU
Dorongan agama jika ditambahkan kepada dorongan hawa nafsu,maka terbagi ke dalam tiga kondisi           ;
  • Kondisi pertama, kemenangan diraih dorongan agama dan pasukan hawa nafsu pulang kandang dengan kocar kacir.Ini bisa dicapai dengan selalu bersabar dan orang-orang yang sampai pada peringkat ini adalah para pemenang di dunia dan akhirat. Mereka itulah yang berkata,
“Tuhan kami adalah Allah,kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.” (Fushshilat:30).

Ketika mereka akan meninggal dunia,malaikat berkata kepada mereka,
“Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih,dan bergembiralah dengan surga yang dijanjikan Allah kepada kalian.Kami adalah pelindung-pelindung kalian di dalam kehidupan dunia dan akhirat.” (Fushshilat:30-31).
Mereka itulah yang mendapatkan kebersamaan Allah beserta orang-orang yang sabar.Mereka itulah yang berjuang di jalan Allah dengan jihad yang sebenarnya.Dan mereka itulah yang secara khusus diberi petunjuk oleh Allah dan bukan selain mereka.
  • Kondisi kedua, kekuatan dan kemenangan berada di pihak dorongan hawa nafsu dan dorongan agama kalah total.Pecundang menyerah kepada syetan dan bala tenteranya yang kemudian mengendalikannya semaunya.
  • Kondisi ketiga, bahwa pertempuran meletus dan meledak diantara kedua belah pasukan. Sekali waktu kemenangan berpihak kepada dorongan agama dan sekali waktu berpihak kepada dorongan hawa nafsu.Inilah kondisi sebagian besar orang-orang beriman yang mengerjakan amal shalih dan dikesempatan lain melakukan kejahatan.
Kondisi pada Hari Kiamat adalah sama persis dengan ketiga kondisi ini.Di antara manusia ada yang masuk surga dan tidak masuk neraka.Ada di antara mereka yang masuk neraka dan tidak masuk surga.Dan ada di antara mereka yang masuk neraka kemudian masuk surga.

BAB KETUJUH: JENIS-JENIS SABAR MENURUT VARIABELNYA

Sabar menurut variabelnya terbagi ke dalam tiga jenis;Pertama, sabar terhadap perintah-perintah dan ketaatan-ketaatan hingga ia mengerjakannya. Kedua, sabar dari larangan-larangan dan pelanggaran-pelanggaran hingga ia tidak jatuh kepadanya. Ketiga, sabar terhadap takdir dan ketentuan-ketentuan hingga ia tidak marah kepadanya.
Ketiga prinsip itulah yang diwasiatkan Luqman kepada anaknya dalam ucapannya,
“Hai anakku,dirikan shalat,dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik,dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.”  (Luqman:17).
Allah Ta’ala menyebutkan tiga prinsip di atas dalam firman-Nya,
“Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan,dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya,dan mendirikan shalat,dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan,dan menolak kejahatan dengan kebaikan,orang-orang itulah yang mendapatkan tempat kesudahan (yang baik).” (Ar-Ra’du:19-22).
Inilah dua penopang kemaslahatan dunia dan akhirat yaitu sabar dan shalat.Allah Ta’ala berfirman,
“Dan jadikan sabar dan shalat sebagai penolong kalian,sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Al-Baqarah:45).
“Hai orang-orang yang beriman,jadikan sabar dan shalat sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:153).

BAB KEDELAPAN: PEMBAGIAN SABAR MENURUT HUKUM-HUKUM YANG LIMA

Berdasarkan aspek ini,sabar terbagi ke dalam : wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.
Sabar yang wajib yaitu tiga jenis;Pertama, sabar dari hal-hal yang diharamkan.Kedua, terhadap pelaksanaan kewajiban-kewajiban.Ketiga, sabar terhadap musibah-musibah yang bukan karena ulah manusia, seperti sakit, miskin,dan lain sebagainya.
Sabar yang sunnah yaitu sabar dari hal-hal yang makruh, sabar terhadap hal-hal yang disunnahkan, dan sabar terhadap membalas orang yang jahat dengan tindakan yang sama.
Sabar yang haram, bermacam-macam.Salah satunya sabar dari makanan dan minuman hingga ia meninggal dunia.Begitu juga, bersabar dari bangkai, darah, dan daging babi pada saat darurat adalah haram,jika ia tidak melakukannya maka ia akan mati.

Sabar yang makruh, maka contoh-contohnya sangat banyak.
Pertama, yaitu seseorang bersabar dari makanan, minuman, pakaian dan bersenggama dengan isterinya hingga membahayakan badannya.
Kedua, sabar dari bersenggama dengan isterinya ketika isterinya menghendaki dan itu tidak membahayakan dirinya.Ketiga, kesabarannya terhadap hal-hal yang makruh.Keempat,kesabarannya terhadap mengerjakan hal-hal yang disunahkan.

Sabar yang mubah, maka ialah sabar dari setiap tindakan yang sama-sama baik antara mengerjakannya dan tidak mengerjakannya,serta bersabar terhadapnya.

Kesimpulannya, bahwa sabar terhadap hal yang wajib adalah wajib,sabar dari yang wajib adalah haram, sabar dari hal yang haram adalah wajib,sabar terhadapnya adalah haram, sabar terhadap hal yang sunnah ialah sunnah,sabar dari hal yang sunnah adalah makruh, sabar dari hal yang makruh adalah sunnah,sabar terhadap yang makruh adalah makruh, dan sabar dari hal yang mubah adalah mubah.Wallahu a’lam.

BAB KESEMBILAN: PERBEDAAN PERINGKAT SABAR

Sabar seperti dijelaskan sebelumnya terbagi ke dalam dua bagian;sukarela dan terpaksa. Sabar sukarela lebih sempurna daripada sabar terpaksa, karena sabar terpaksa bisa dilakukan banyak orang yang tidak mampu bersabar secara sukarela.
Begitu juga kesabaran Al-Khalil (Ibrahim) Alaihis Salam, kesabaran Al-Kalim(Musa),kesabaran Nuh, kesabaran Al-Masih, dan kesabaran penutup para Nabi dan keturunan Adam terbaik Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah sabar terhadap dakwah ke jalan Allah dan jihad melawan musuh-musuh Allah.Oleh karena itu, Allah menamakan mereka Ulul Azmi dan memerintahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam bersabar seperti kesabaran mereka dengan berfirman,
“Maka bersabarlah kamu seperti Rasul-rasul Ulul Azmi telah bersabar.” (Al-Ahqaf:35).
Allah melarang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meniru Nabi Yunus,sebab ia tidak bersabar seperti kesabaran Rasul-rasul Ulul Azmi. Allah Ta’ala berfirman,
“Maka bersabarlah kamu (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang(Yunus) yang berada dalam perut ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (Al-Qalam:48).

Jika ada yang bertanya,”Sabar yang manakah yang lebih dicintai Allah; kesabaran orang yang bersabar terhadap perintah-perintah-Nya,ataukah kesabaran orang yang bersabar dari larangan-larangan-Nya? Jawabnya, inilah tempat perbedaan para ulama.Penjelasan hal ini adalah sebagai berikut;
  • Pertama, bahwa pengerjaan hal-hal yang diperintahkan adalah tujuan dan disyariatkan.Sesungguhnya pengenalan kepada Allah(ma’rifatullah), mentauhidkannya,  berubudiyah kepada-Nya saja, berinabah kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengikhlaskan amal perbuatan karena-Nya, mencintai-Nya, ridha kepada-Nya, dan mengabdi kepada-Nya adalah tujuan penciptaan makhluk, dan dengannya segala urusan menjadi baik. Sedang hal-hal yang dilarang, ia dilarang karena ia menghalang-halangi manusia dari pengerjaan hal-hal yang diperintahkan di atas, atau mengalihkan manusia daripadanya, atau menghilangkan kesempurnaannya.
  • Kedua, sesungguhnya hal-hal yang diperintahkan itu terkait erat dengan pengenalan kepada Allah (Ma’rifatullah). Jadi variabelnya adalah Dzat Allah, Sifat-sifat-Nya, dan Nama-nama-Nya.Sedang variabel hal-hal yang dilarang adalad dzat hal-hal yang dilarang itu sendiri.Perbedaan di antaranya sangat besar.
  • Ketiga, kebutuhan seorang hamba kepada pengerjaan hal-hal yang diperintahkan itu lebih besar daripada kebutuhannya kepada meninggalkan hal-hal yang diharamkan.Meninggalkan hal-hal yang dilarang itu disyariatkan untuk mendukung pengerjaan hal-hal yang diperintahkan yang merupakan kebutuhannya.
  • Keempat, sesungguhnya meninggalkan hal-hal yang dilarang adalah dalamkonteks kejantanan,sedang pengerjaan hal-hal yang diperintahkan adalah dalam konteks menjaga kekuatan dan makanan dimana bangunan tidak dapat berdiri tegak tanpa dengannya dan kehidupan tidak dapat diraih kecuali dengannya.
  • Kelima,sesungguhnya seluruh dosa itu disebabkan oleh dua hal ini; meninggalkan hal-hal yang diperintahkan, dan mengerjakan hal-hal yang dilarang.
  • Keenam,sesungguhnya seluruh hal-hal yang dilarang itu bisa gugur dengan hal yang diperintahkan seperti taubat misalnya,dan seluruh hal-hal yang diperintahkan tidak gugur kecuali dengan syirik atau meninggal dunia dalam keadaan syirik.
  • Ketujuh,sesungguhnya dosa Nabi Adam adalah disebabkan mengerjakan hal-hal yang dilarang.Akibatnya beliau diuji oleh Tuhannya,kemudian beliau bertaubat kepada-Nya dan mendapatkan petunjuk.Sedang dosa iblis adalah karena meninggalkan hal yang diperintahkan,maka akibatnya yaitu apa yang telah disebutkan Allah Ta’ala dalam Kitab-Nya dan menjadikannya sebagai ibrah bagi keturunannya hingga Hari Kiamat.
  • Kedelapan,bahwa hal-hal yang diperintahkan itu lebih dicintai Allah dan hal-hal yang dilarang-Nya itu dibenci-Nya.
  • Kesembilan,sesungguhnya meninggalkan hal yang dilarang itu tidak merupakan ibadah jika tidak ditindaklanjuti dengan mengerjakan hal yang diperintahkan.
  • Kesepuluh,sesungguhnya hal-hal yang dilarang itu harus dikikis,sedang hal-hal yang diperintahkan itu harus diwujudkan.
  • Kesebelas,sesungguhnya bab hal yang diperintahkan ialah bahwa satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, sedang bab hal yang dilarang ialah satu kesalahan dibalas dengan semisalnya. Dan kesalahan dapat dihapuskan dengan taubat, istighfar, kebaikan yang menghapus kesalahan, musibah yang menghilangkan kesalahan,istighfar para malaikat untuk orang-orang yang beriman, dan istighfar sebagian orang-orang beriman untuk sebagian yang lain. Ini menunjukkan bahwa hal-hal yang diperintahkan itu lebih disukai Allah daripada tidak adanya hal-hal yang dilarang.
  • Kedua belas,sesungguhnya hal-hal yang dilarang itu dihapus Allah Ta’ala dan bekasnya dihilangkan dengan banyak hal dari pengerjaan oleh seorang hamba atau dari orang lain. Ekses hal-hal yang dilarang bisa dihapus dengan taubat yang nasuhah, dengan istighfar, dengan kebaikan-kebaikan yang menghapus kesalahan,dengan musibah-musibah yang menghilangkan kesalahan,dengan istighfarnya para malaikat,dan dengan doa dari orang-orang beriman. Inilah ketetapan pada saat seseorang masih hidup. Selain itu dengan sakitnya sakaratul maut ketika ia hendak meninggal dunia. Dengan kebengisan dua malaikat di alam kubur, tekanan terhadapnya, kesulitan yang dihadapinya, kondisi yang serba susah,kepayahannya,syafa’at para pemberi syafa’at kepadanya,dan rahmat Dzat Yang Maha Penyayang kepadanya. Jika semua hal di atas tidak mampu menyelamatkan dirinya,maka ia harus masuk neraka,dan keberadaan dirinya di dalamnya sesuai dengan kadar kotorannya dan kebrengsekannya,karena Allah mengharamkan surga kecuali bagi orang yang baik-baik. Sedang hal-hal yang diperintahkan,maka tidak ada yang menghilangkannya kecuali syirik.
  • Ketiga belas,sesungguhnya imbalan hal-hal yang diperintahkan adalah pahala,dan ini adalah pintu kebaikan, keutamaan, dan rahmat. Dan balasan hal-hal yang dilarang adalah hukuman dan itu adalah dalam konteks marah dan keadilan.Padahal rahmat Allah itu lebih dominan daripada murkanya. Maka apa saja yang terkait dengan rahmat dan karunia,ia lebih dicintai Allah daripada apa yang terkait dengan murka dan keadilan.Dan meniadakan apa yang terkait dengan rahmat itu amat dibenci-Nya daripada mengerjakan sesuatu yang terkait dengan murka-Nya.
  • Keempat belas,sesungguhnya beribu-ribu hal-hal yang dilarang itu bisa gugur dengan satu hal yang diperintahkan,dan satu hal yang diperintahkan itu tidak gugur dengan beribu-ribu hal-hal yang dilarang.
  • Kelima belas, sesungguhnya variabel hal-hal yang diperintahkan adalah pengerjaan dan pengerjaan adalah sifat kesempurnaan, bahkan kesempurnaan manusia itu karena pengerjaannya. Ia bekerja,akibatnya ia mulia, Sedang variable larangan adalah meninggalkan,dan meninggalkan adalah upaya meniadakan. Dari sisi ini,meninggalkan bukan merupakan kesempurnaan,karena sesuatu yang tidak ada itu bukan merupakan kesempurnaan.
  • Keenam belas,jika seorang hamba mengerjakan hal yang diperintahkan,maka otomatis ia meninggalkan hal yang dilarang dan ini adalah keniscayaan.
  • Ketujuh belas, sesungguhnya pelaku hal-hal yang dicintai Allah mustahil mengerjakan semua yang dibenci-Nya.
  • Kedelapan belas,sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengkaitkan kecintaan-Nya kecuali dengan perintah;baik perintah wajib atau sunnah. Dan tidak mengkaitkan kecintaan-Nya dengan meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam satu tempatpun. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat,mencintai orang-orang yang berbuat baik,mencintai orang-orang yang bersyukur,mencintai orang-orang yang bersabar, mencintai orang-orang yang membersihkan dirinya,mencintai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan seperti bangunan yang kokoh,mencintai orang-orang yang bertakwa, mencintai orang-orang yang dzikir, dan mencintai orang-orang yang bersedekah. Jadi Allah Ta’ala hanya mengkaitkan kecintaan-Nya, pada perintah-perintah-Nya,sebab ia merupakan tujuan penciptaan dan perintah, seperti difirmankan Allah Ta’ala,
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka  menyembah-Ku.” (Adz-Dzariat:56).

Jadi Dia tidak menciptakan makhluk kecuali untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan tidak melarang mereka kecuali dari apa saja yang mengalihkan mereka dari pelaksanaan perintah-perintah-Nya dan mengganggu mereka di dalamnya.
  • Kesembilan belas,sesungguhnya hal-hal yang dilarang, jika ia tidak menghalang-halangi dari hal-hal yang diperintahkan dan mengganggu terjadinya hal-hal yang dilarang sesuai dengan yang diperintahkan Allah maka hal yang dilarang tersebut tidak ada artinya. Sesungguhnya ia dilarang karena bertentangan dengan hal-hal yang diperintahkan,mengganggunya,dan menghalang-halanginya.Jadi hal-hal yang dilarang adalah penyempurna dan pelengkap hal-hal yang diperintahkan.Ia adalah ibarat membersihkan saluran air agar air bisa mengalir di salurannya dengan lancar tanpa gangguan.Hal-hal yang diperintahkan adalah ibarat air yang dikirim ke sungai untuk kehidupan dunia dan manusia,dan larangan ibarat membersihkan salurannya, dan menjauhkannya dari apa saja yang mengganggu perjalanan air.Perintah adalah ibarat kekuatan dan kehidupan,sedang larangan adalah ibarat benteng yang melindungi kekuatan,penyakit,dan pelayannya
BAB KESEPULUH: PEMBAGIAN SABAR KEDALAM TERPUJI DAN TERCELA

Sabar yang tercela ialah sabar dari Allah,kehendak-Nya,cinta-Nya, dan merajut hati kepada-Nya. Sesungguhnya sabar jenis ini mengandung peniadaan kesempurnaan seorang hamba dan menghilangkan tujuan penciptaannya. Inilah selain sabar tersebut merupakan sabar yang paling buruk,ia juga merupakan sabar yang paling agung dan paling puncak.
Sedang sabar yang terpuji,maka terbagi ke dalam dua bagian;sabar lillah (untuk Allah) dan sabar billah(dengan Allah).
Allah Ta’ala berfirman,
“Dan bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan Allah.”  (An-Nahl:127).
“Dan bersabarlah untuk ketetapan Tuhanmu,maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (Ath-Thur:48).

BAB KESEBELAS:
PERBEDAAN ANTARA KESABARAN ORANG MULIA DENGAN KESABARAN  ORANG HINA

Setiap orang hendaknya bersabar terhadap sebagian yang dibencinya,dengan senang hati atau terpaksa.Orang mulia bersabar dengan senang hati,karena ia mengetahui hasil akhir dari sabar dan bahwa ia dipuji karena kesabarannya,dan dihujat karena tidak sabar. Jika ia tidak bersabar,maka keluh kesah tidak bisa menolak apa yang hilang dan tidak mencabut apa yang dibencinya. Sesungguhnya apa yang sudah ditakdirkan itu tidak bisa dihadang, dan apa yang belum ditakdirkan itu tidak bisa didapatkan.
Adapun orang hina,maka ia bersabar dengan terpaksa dan ia berputar-putar dipekarangan keluh kesah dan melihatnya tidak membawa manfaat baginya,kemudian kesabarannya seperti kesabaran orang yang diikat untuk dibunuh. Orang mulia bersabar dalam taat kepada Allah, sedang orang hina bersabar dalam taat kepada syetan.

BAB KEDUA BELAS:HAL-HAL YANG MENDUKUNG SABAR

Karena sabar termasuk hal yang diperintahkan,maka Allah Ta’ala menyiapkan untuknya hal-hal yang mendukungnya dan menghusung kepadanya.Jadi sabar, kendati ia amat berat dan tidak disukai jiwa, namun memilikinya adalah tidak mustahil. Untuk memilikinya dibutuhkan dua unsur; ilmu dan amal.Dari kedua unsur tersebut semua obat diambil untuk mengobati hati dan badan. Ilmu dan amal harus ada,sebab obat yang paling mujarab berasal dari keduanya.
Ilmu ialah mengetahui apa yang tersedia di dalam hal-hal yang diperintahkan seperti kebaikan,keberuntungan,kenikmatan,dan kesempurnaan,serta mengetahui apa yang berada di dalam hal-hal yang dilarang keburukan,bahaya,dan kekurangan. Jika kedua hal tersebut diketahui sebagaimana mestinya,kemudian dilngkapi dengan tekad yang benar,semangat yang tinggi, keberanian,kejantanan manusiawi, dan ilmu disandingkan dengan amal, maka jika hal tersebut dilakukan, maka sabar bisa dimiliki, segala kesulitan menjadi kemudahan, dan sakit berubah menjadi nikmat.

BAB KETIGA BELAS:
MANUSIA MEMBUTUHKAN SIFAT SABAR DALAM SEGALA KONDISI

Sesungguhnya seseorang itu berada di antara perintah yang wajib ia kerjakan,larangan yang wajib ia jauhi dan tinggalkan, takdir yang terjadi padanya, dan nikmat yang ia wajib bersyukur kepada Pemberinya. Jika semua hal di atas tidak pernah berpisah dengannya,maka sabar menjadi kebutuhan baginya hingga akhir hayatnya.
Apa saja yang diberikan kepada seorang hamba di dunia tidak lepas dari dua hal;
Pertama,sesuatu yang sesuai dengan hawa nafsunya dan keinginan hawa nafsunya.
Kedua,sesuatu yang bertentangan dengan hawa nafsunya dan keinginan hawa nafsunya. 
Dan ia harus bersabar dalam kedua kondisi tersebut.
Jenis pertama yang sesuai dengan hawa nafsunya ialah kesehatan, kedamaian,jabatan,kekayaan,dan semua jenis kelezatan yang diperbolehkan.Dalam menghadapi hal ini, tidak ada sesuatu yang sangat ia butuhkan melainkan sifat sabar dengan memperhatikan hal-hal berikut;
  • Pertama,ia jangan cenderung kepadanya, tidak tertipu dengannya, tidak membuat arogan, pongah, dan kegembiraan tercela yang pelakunya tidak dicintai Allah.
  • Kedua,ia jangan larut dalam usaha mendapatkannya, dan berlebih-lebihan dalam meraihnya, karena ia akan berubah menjadi kebalikannya. Barangsiapa berlebih-lebihan dalam makanan, minuman,dan berhubungan seksual, maka semua itu akan berubah
Menjadi kebalikannya,kemudian ia diharamkan dari makanan, minuman,dan hubungan seksual.
  • Ketiga,ia harus bersabar terhadap pelaksanaan hak Allah di dalamnya dan tidak menyia-nyiakannya,kemudian nikmat tersebut dicabut daripadanya.
  • Keempat,ia harus bersabar dari mengarahkannya kepada hal-hal yang haram dan tidak menyiapkan dirinya terhadap apa saja yang diinginkannya dari hal-hal di atas,karena itu semuanya menjerumuskannya kepada hal-hal yang haram.Tidak ada yang mampu bersabar terhadap kenikmatan kecuali orang-orang yang jujur.
Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu Anhu berkata, ”Kami diuji dengan musibah kemudian kami bersabar, dan kami diuji dengan kenikmatan kemudian kami tidak bersabar terhadapnya.”
Oleh karena itu,Allah memperingatkan hamba-hamba-Nya dari fitnah kekayaan, isteri, dan anak-anak.
Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman,janganlah kekayaan kalian,dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari ingat kepada Allah.”(Al-Munafiqun:9).
“Hai orang-orang yang beriman,sesungguhnya di antara isteri-isteri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah kalian terhadap mereka.”  (At-Taghabun:14).
Yang dimaksud dengan permusuhan ini bukanlah yang seperti dipahami manusia bahwa ia adalah permusuhan karena benci.Yang dimaksud ialah permusuhan cinta yang menghalang-halangi para orang tua dari hijrah,jihad,mempelajari ilmu,bersedekah,dan masalah-masalah agama yang lain,sebagaimana Ibnu Abbas yang pernah ditanya seseorang tentang maksud ayat ini, beliau menjawab,” Mereka adalah orang-orang Mekkah yang masuk Islam. Mereka ingin datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,namun isteri-isteri dan anak-anak mereka menolak diajak datang kepada Rasulullah Shallallahu Al;aihi wa Sallam. Ketika mereka tiba di tempat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan melihat orang-orang telah memahami agama,maka mereka bermaksud menghukum istri-istri dan anak-anaknya,kemudian Allah menurunkan ayat At-Taghabun:9 di atas.At-Tirmidzi berkata,”Hadits ini hasan shahih.”
Betapa banyak kesempurnaan dan keberuntungan yang sirna dari dirinya disebabkan istrinya dan anaknya.Disebutkan dalam hadits’
“Anak itu membuat orang pelit dan pengecut.” (Diriwayatkan Ibnu Majah,dan Ahmad).
Jika bersabar terhadap kenikmatan itu sangat susah karena ia mempunyai fasilitas,dan orang yang kelaparan ketika tidak ada makanan lebih bisa bersabar daripada ketika makanan telah tersedia.
Sedang jenis kedua yang bertentangan dengan hawa nafsunya,maka terbagi ke dalam tiga bagian;
*Bagian Pertama, sesuatu yang terkait dengan usahanya, yaitu semua berbuatannya;baik ketaatan atau maksiat. Di sini seorang hamba membutuhkan sifat sabar dalam tiga kondisi;
^Kondisi pertama, sebelum memulai mengerjakan aktifitas-aktifitas ibadah dengan meluruskan niatnya,ikhlas,menjauhi motif-motif riya’ dan sum’ah, dan menyatukan tekad untuk menyempurnakan hak sesuatu yang diperintahkan kepadanya.
^Kondisi kedua, bersabar pada saat proses pengerjaan.Pada kondisi ini seorang hamba harus senantiasa  bersabar dari motif-motif teledor dan tidak serius,selalu bersabar dengan ingat niatnya,menghadirkan hati di depan Tuhannya,dan tidak melupakan-Nya dalam perintah-Nya.
^Kondisi ketiga,bersabar setelah menyelesaikan aktifitas-aktifitas ibadah. Hal ini bisa dilakukan dengan hal-hal berikut;
  • Pertama, ia bersabar dari mengerjakan sesuatu yang menghapus amal perbuatan sebelumnya.Allah Ta’ala berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menghilangkan (pahala) sedekah kalian dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti(perasaan pihak penerima).” (Al-Baqarah:264).
  • Kedua, ia bersabar dari melihatnya, ujub dengannya, dan sombong dengannya, karena hal tersebut lebih membahayakan dirinya daripada kemaksiatan-kemaksiatan yang terlihat.
  • Ketiga, ia bersabar dari memindahkannya dari kerahasiaan kepada terang-terangan, karena jika seorang hamba mengerjakan suatu amal perbuatan dengan rahasia,maka Allah mencatatnya di kantor rahasia,dan jika terjadi padanya pemindahan ke kantor terang-terangan, maka janganlah ia beranggapan bahwa hamparan sabar itu ditutup dengan selesai dari pengerjaannya.
Sedang bersabar dari kemaksiatan,maka permasalahannya lebih jelas dan yang sangat efektif membantunya bersabar daripadanya ialah berhenti dari hal-hal yang selama ini dipandang wajar oleh masyarakat, tidak bergaul dengan teman-temannya untuk bermaksiat di tempat-tempat ngobrol, dan memutus semua rintangan, karena se3sungguhnya kebiasaan itu adalah pembawaan khusus,jika syahwat dipadukan dengan kebiasaan, maka keduanya menjadi tentera-tentera syetan dan akibatnya dorongan agama tidak berdaya untuk mengalahkan keduanya.
*Bagian kedua,apa saja yang tidak masuk dalam usaha manusia,maka seorang hamba tidak mempunyai taktik untuk melawannya,seperti musibah-musibah yang tidak ada andil manusia seperti kematian orang amat dicintainya,pencurian kekayaannya,sakit yang dideritanya,dan lain sebagainya.
Ada dua bagian dalam point ini.;
Pertama,bukan karena ulah manusia.
Kedua,yang disebabkan karena ulah sesamanya seperti penghinaan,pemukulan,dan lain sebagainya.
Pada jenis pertama,seorang hamba di dalamnya mempunyai empat tingkatan;
  • Tingkatan pertama,tingkatan lemah,yaitu tingkatan berkeluh kesah,mengeluh,dan uring-uringan.Ini tidak dikerjakan kecuali oleh orang yang lemah akalnya,agamanya,dan kejantanannya. Ini adalah musibah yang terbesar.
  • Tingkatan kedua,tingkatan sabar;baik karena Allah atau karena tuntutan kemanusiaan.
  • Tingkatan ketiga,tingkatan ridha. Ia lebih tinggi dari tingkatan sabar.
  • Tingkatan keempat, tingkatan syukur. Ia lebih tinggi daripada tingkatan ridha, karena seseorang menganggap musibah itu sebagai nikmat,kemudian ia bersyukur karenanya.
*Bagian ketiga,yang disebabkan karena manusia sesamanya,maka baginya keempat tingkatan diatas plus empat tingkatan di bawah ini;
=Tingkatan pertama,tingkatan pemberian ma’af.
=Tingkatan kedua,tingkatan kebersihan hati dari keinginan untuk balas dendam.
=Tingkatan ketiga,tingkatan mengakui takdir.
=Tingkatan keempat,tingkatan berbuat baik kepada orang yang berbuat kepadanya,dan membalas kejahatannya dengan perbuatan baik anda. Pada tingkatan ini terdapat banyak manfaat dan keuntungan yang tidak diketahui siapa pun kecuali oleh Allah. Jika seorang hamba kehilangan tingkatan tinggi ini,maka ia tidak rela dirinya menerima tingkatan yang lebih rendah dan bawah.

BAB KEEMPAT BELAS:SABAR YANG PALING SULIT BAGI JIWA

Dalam Al-Musnad dan lain-lainnya disebutkan dari Nabi Nuhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
“Tuhanku merasa kagum terhadap seorang pemuda yang tidak ada penyimpangan padanya.”(Diriwayatkan Ahmad).
Oleh karena itu,kelompok-kelompok yang disebutkan dalam hadits bahwa bahwa Allah melindungi mereka di bawah naungan Arsy-Nya itu disebabkan karena kesempurnaan kesabaran mereka dan kesulitannya. Sesungguhnya kesabaran seorang penguasa ialah adil dalam pendistribusian kekayaan negara, keputusannya, keridhaannya dan emosinya. Kesabaran seorang pemuda ialah ibadah kepada Allah dan mekawan hawa nafsunya.Kesabaran seseorang ialah dengan ketekunannya di masjid.Kesabaran yang bersedekah terletak dalam merahasiakan sedekahnya dari orang yang lain.Kesabaran orang yang diajak berbuat mesum, padahal pihak pengajaknya dan jabatannya amat sempurna,kesabarannya dua orang yang saling mencintai karena Allah pada saat pertemuan dan perpisahan keduanya,dan kesabaran orang yang menangis karena takut kepada Allah dengan merahasiakannya dan tidak menampakkannya kepada manusia, itu semua adalah kesabaran yang paling sulit.
Oleh karena itu pula,sabar dari maksiat lisan dan kemaluan termasuk jenis sabar yang paling sulit,karena kuatnya dorongan kepada keduanya dan adanya kemudahan kepada keduanya. Oleh karena itu ,Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Mu’adz,
“Jagalah lisanmu.” Mu’adz berkata, ”Apakah kita dihukum karena apa yang kita katakan?”Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,” Adakah yang menjungkir manusia di neraka kalau tidak karena lisan mereka.” (Diriwayatkan Ibnu Majah,At-Tirmidzi,dan Ahmad).
Apalagi jika kemaksiatan lisan sudah menjadi kebiasan bagi seseorang, maka bersabar darinya menjadi sangat sulit baginya.

BAB KELIMA BELAS: NASH-NASH AL-QUR’AN TENTANG SABAR

Imam Ahmad Rahimahullah berkata,”Allah Ta’ala mnyebut sabar di dalam Al-Qur’an di sembilan puluh tempat.Kami sebutkan jenis-jenis redaksi bahasa sabar;
  • Pertama,perintah untuk bersabar,seperti firman Allah Ta’ala,
“Dan bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan Allah.” (An-Nahl:127).
“Dan bersabarlah terhadap hukum Tuhanmu,sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (Ath-Thur:48).
  • Kedua,larangan dari hal-hal yang berlawanan dengan sabar, seperti firman Allah Ta’ala,
“Janganlah kamu minta disegerakan(adzab) bagi mereka.” (Al-Ahqaf:35).
“Dan janganlah kalian lemah dan bersedih hati.” (Ali Imran:139)
“Dan janganlah kamu seperti orang(Yunus) yang berada dalam perut ikan.” (Al-Qalam:48).
Semua hal-hal diatas adalah hal-hal yang dilarang dan ia berlawanan dengan sifat sabar yang diperintahkan.
  • Ketiga,keterkaitan keberuntungan dengan sifat sabar,seperti firman Allah Ta’ala,
“Hai orang-orang yang beriman,bersabarlah kalian,dan mushabarahlah dan murabathahlah kalian dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung.” (Ali Imran:200).
  • Keempat,pemberitaan tentang berlipatgandanya pahala orang-orang yang sabar daripada orang lain,seperti firman Allah Ta’ala,
“Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka,” (Al-Qashash:54)
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar:10).
  • Kelima,keterkaitan kepemimpinan dalam agama dengan sifat sabar dan yakin.Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar,dan mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah:24)
Jadi dengan sabar dan yakin,kepemimpinan dalam agama didapatkan.
  • Keenam,kemenangan orang-orang yang sabar dengan penyertaan Allah kepada mereka.Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:153).
Abu Ali Ad-Daqqaq,”Orang-orang yang sabar beruntung dengan kemuliaan dunia dan akhirat,karena mereka mendapatkan penyertaan Allah.”
  • Ketujuh,Allah mengumpulkan tiga hal bagi orang-orang yang sabar dan ketiga hal tersebut tidak diberikan kepada selain mereka,yaitu shalawat Allah atas mereka,rahmat-Nya kepada mereka,dan petunjuk-Nya kepada mereka.Allah Ta’ala berfirman,
“Dan sampaikan berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah,mereka mengucapkan, ”Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun”. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan(shalawat) dari Tuhan mereka dan rahmat,dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah:155-157).

Sebagian generasi salaf merasa terhibur dengan musibah yang menimpanya.Ia berkata,”Kenapa aku tidak bersabar,padahal Allah telah berjanji akan memberi tiga hal kepadaku dan satu dari ketiga hal tersebut lebih baik daripada dunia dan seisinya?”
  • Kedelapan,Allah menjadikan sabar sebagai penolong,bekal,dan memerintahkan orang-orang beriman berbekal dengannya.Allah Ta’ala berfirman,
“Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian,” (Al-Baqarah:45).
Maka barangsiapa tidak bersabar,maka tidak ada pertolongan baginya.
  • Kesembilan,Allah mengkaitkan kemenangan dengan sabar dan takwa.Allah Ta’ala berfirman,
“Ya(cukup),jika kalian bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kalian dengan tiba-tiba,niscaya Allah menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.” (Ali Imran:125).
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Dan ketahuilah, bahwa kemenangan itu bersama dengan sabar.” (Diriwayatkan Ahmad).
  • Kesepuluh,Allah Ta’ala menjadikan sabar dan takwa sebagai benteng kokoh dari tipu daya dan makar syetan.Allah Ta’ala berfirman,
“Jika kalian bersabar dan bertakwa,niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan bahaya kepada kalian.” (Ali Imran:120).
  • Kesebelas,Allah Ta’ala menjelaskan,bahwa para Malaikat-Nya memberi salam kepada orang-orang sabar di surga karena kesabaran mereka, seperti difirmankan Allah Ta’ala,
“Dan malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengatakan),’Kesejahteraan atas kalian karena kesabaran kalian,maka alangkah baiknya tempat kesudahan ini’.” (Ar-Ra’du:23-24).
  • Kedua belas,Allah Ta’ala membolehkan orang-orang yang sabar untuk membalas atas perlakuan yang mereka terima, kemudian Allah menegaskan bahwa kesabaran mereka itu lebih baik bagi mereka.Allah Ta’ala berfirman,
“Dan jika memberi balasan,maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian, akan tetapi jika kalian bersabar, maka sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (An-Nahl:126).
  • Ketiga belas,Allah Ta’ala mengkaitkan ampunan dan pahala yang besar dengan sabar dan amal shalih. Allah Ta’ala berfirman, “Kecuali orang-orang yang sabar(terhadap musibah) dan mengerjakan amal-amal shalih,maka mereka itu memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (Huud:11).
  • Keempat balas,Allah Ta’ala menjadikan sabar terhadap musibah sebagai sifat yang paling utama dan mulia,Allah Ta’ala berfirman,
“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan,sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (Asy-Syura:43)’
Luqman berkata kepada anaknya, “Dan suruhlah (manusia) mengerjakan perbuatan yang baik,dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.” (Luqman:17).
  • Kelima belas, Allah Ta’ala menjanjikan kemenangan dan kejayaan kepada orang-orang beriman.Allah juga menjelaskan,bahwa mereka mendapat kemenangan karena kesabaran mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Dan telah sempurnalah firman Tuhanmu yang baik kepada Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.” (Al-A’raf:137).
  • Keenam belas,Allah Ta’ala mengkaitkan kecintaan-Nya dengan sabar dan memberikan kecintaan-Nya kepada orang-orang yang sabar. Allah Ta’ala berfirman, “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa.Mereka tidak menjadi lemah karena musibah yang menimpa mereka di jalan Allah,dan tidak lesu,dan tidak menyerah,Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran:146).
  • Ketujuh belas,Allah Ta’ala menjelaskan tentang sifat-sifat yang baik dan menjelaskan bahwa sifat-sifat tersebut tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang yang sabar di dalam dua tempat dalam Kitab-Nya; dalam surat Al-Qashash tentang kisah Qarun dan bahwa orang-orang yang diberi ilmu berkata kepada orang-orang yang ingin mendapatkan seperti yang diterima Qarun,
“Kecelakaan yang besar bagi kalian,pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih,dan tidak diperoleh pahala tersebut,kecuali oleh orang-orang yang sabar.” (Al-Qashash:80).
Di dalam surat Fushshilat,Allah memerintahkan hamba-Nya membalas kejahatan dengan sikap yang lebih baik.Jika hal tersebut ia lakukan,maka musuhnya menjadi teman yang akrab dengannya.Allah Ta’ala berfirman,
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat:35).
  • Kedelapan belas, Allah Ta’ala menjelaskan,bahwa orang-orang yang bisa mengambil faidah dari ayat-ayat-Nya ialah orang-orang yang sabar dan orang-orang yang bersyukur.Allah Ta’ala berfirman, “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di atas laut dengan nikmat Allah,supaya diperlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya,sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.” (Luqman:31).
  • Kesembilan belas, Allah Ta’ala menyanjung hamba-Nya.Ayyub dengan sanjungan yang sangat indah karena kesabarannya. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami dapati dia(Ayyub) seorang yang sabar,dialah sebaik-baik hamba, sesungguhnya dia amat taat.” (Shaad:44).
Pada ayat di atas,Allah menamakan Ayyub sebagai sebaik-baik orang,karena Dia mendapatinya bersabar. Ini menunjukkan,bahwa barangsiapa tidak sabar ketika diuji,maka ia seburuk-buruk orang.
  • Keduapuluh,Allah Ta’ala memvonis rugi bagi semua orang yang tidak beriman dan tidak termasuk orang yang benar dan sabar.Ini menandakan bahwa orang yang tidak termasuk kelompok yang benar dan bersabar itu tidak mendapatkan keberuntungan.
“Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih,dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran,dan nasihat menasihat supaya menetapi kesabaran.” (Al-Ashr;1-3).
  • Keduapuluh satu, Allah Ta’ala menamakan golongan kanan adalah orang-orang yang sabar dan berkasih sayang. Mereka berdiri kokoh di atas landasan kedua pilar tersebut dan mewasiatkannya kepada orang lain. Allah Ta’ala berfirman. “Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling menasihati untuk bersabar dan saling menasihati untuk berkasih sayang.Mereka adalah golongan kanan.” (Al-Balad:17-18).
  • Keduapuluh dua, Allah Ta’ala menggabungkan sabar dengan rukun-rukun Islam dan tingkatan-tingkatan iman. Misalnya Allah menggabungkan sabar dengan shalat,seperti dalam firman-Nya, “Jadikan sabar dan shalat sebagai penolong kalian.” (Al-Baqarah:45).
Atau Allah menggabungkan sabar dengan amal-amal yang shalih secara umum,seperti dalam firman-Nya. “Kecuali orang-orang yang sabar dan mengerjakan amal-amal yang shalih.” (Huud:11).
Allah menjadikan sabar sebagai pasangan takwa,seperti disebutkan dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar.” (Yusuf:90).

Atau Allah menjadikan sabar sebagai pasangan syukur,seperti dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar lagi banyak bersyukur.” (Ibrahim:5, Luqman:31, Saba’:19, dan Asy-Syura:33).

Atau Allah menjadikan sabar sebagai pasangan kebenaran,seperti dalam firman-Nya,
“Dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran,dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-Ashr:3).

Atau Allah menjadikan sabar pasangan kasih sayang,seperti dalam firman-Nya,
“Dan saling menasihati untuk bersabar dan saling menasihati untuk berkasih sayang.” (Al-Balad:17).

Atau Allah menjadikan sabar sebagai pasangan keyakinan,seperti dalam firman-Nya,
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petuinjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar,dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah:24).

Allah juga menjadikan sabar sebagai pasangan kejujuran,sepert dalam firman-Nya,
“Dan laki-laki yang jujur dan wanita-wanita yang jujur,dan laki-laki yang sabar dan wanita-wanita yang sabar.” (Al-Ahzab:35).

Selain itu, Allah menjadikan sabar sebagai penyebab kecintaan-Nya, penyertaan-Nya,pertolongan-Nya, bantuan-Nya, dan balasan-Nya yang baik. Itu semua sudah cukup sebagai sebuah kemuliaan dan keistimewaan, wallahu a’lam.

BAB KEENAM BELAS: NASH-NASH SUNNAH TENTANG SABAR

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu,bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Sesungguhnya sabar itu pada awal terjadinya musibah.”
Bahwa dalam hadits ini terdapat banyak ilmu;
Pertama, kewajiban bersabar terhadap musibah dan bahwa itu adalah takwa yang diperintahkan kepada seorang hamba.
Kedua ,amar ma’ruf dan nahi mungkar,dan bahwa kesulitan musibah dan kedahsyatannya tidak menggugurkan status seseorang sebagai penegak amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Ketiga, amar ma’ruf dan nahi mungkar harus dilakukan secara berulang-ulang hingga seseorang mempunyai alasan ketika menghadap Tuhannya.

Dalam Abu Daud mngenai hadits dari Ummu Salamah yang berkata,bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika musibah menimpa salah seorang dari kalian,maka hendakah  ia berkata,’Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.Ya,Allah, aku mengharap keridhaan di sisi-Mu dari musibah ini,maka berilah aku pahala di dalamnya,dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya’.Ketika Abu Salamah hendak meninggal dunia,ia berdoa,’Ya Allah berilah ganti di keluargaku yang lebih baik daripadaku’.Ketika Abu Salamah meninggal dunia,Ummu Salamah berkata,”Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Aku mengharap keridhaan di sisi Allah atas mjusibahku ini.” (Diriwayatkan Abu Daud).
Lihatlah hasil dari sabar,mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun,mematuhi Rasul,ridha dengan Allah membuat Ummu Salamah menikah dengan manusia paling mulia di sisi Allah.
Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu  Anhu,bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Allah Ta’ala berfirman,’Jika Aku menguji hamba-Ku dengan orang yang dicintainya,kemudian ia bersabar,maka Aku menggantinya dengan surga.” (Diriwayatkan Al-Bukhari).
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata,bahwa Rasulullah Shallallahu Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Tiadalah satu musibah yang menimpa seorang Muslim,melainkan dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahannya hingga duri yang mengenainya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
“Tiadalah seorang Muslim menderita kelelahan, sakit, kegalauan, kesedihan,siksaan,gelisah hingga duri yang mengenainya melainkan Allah menghapus dengannya dosa-dosanya,” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam Shahih Muslim disebutkan hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
“Seorang Mukmin tidak terkena duri dan yang lebih besar dari duri kecuali dengannya Allah mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu kesalahan,” (Diriwayatkan Muslim).
Dalam Al-Musnad disebutkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
“Tidaklah musibah senantiasa mendera seorang Mukmin dan Mukminah dalam tubuhnya,hartanya,dan anaknya melainkan ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (Diriwayatkan Ahmad).
Disebutkan dalam mursal Al-Hasan Al-Basri dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Sesungguhnya Allah pasti menghapus seluruh dosa-dosa dari seorang Mukmin dengan demam semalam.”
Aisyah Radhiyallahu Anha berkata,bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Salam bersabda,
“Sesungguhnya demam itu merontokkan dosa-dosa sebagaimana pohon merontokkan daun-daunnya.”

BAB KETUJUH BELAS :
ATSAR-ATSAR DARI PARA SAHABAAT,DAN TABI’IN
TENTANG KEUTAMAAN SABAR

Imam Ahmad berkata,bahwa berkata kepada kami Abu Muawiyah yang berkata,bahwa berkata kepada kami Al-A’masy dari Mujahid yang berkata, bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata,
“Kami mendapatkan kebaikan hidup kami dengan bersabar.”
Umar bin Khaththab berkata, ”Kehidupan yang terbaik kami dapatkan dengan sabar,jika sabar itu berasal dari seseorang,pasti ia tergolong orang dermawan,”
Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata, ”Ketahuilah,bahwa posisi sabar bagi iman adalah seperti posisi kepala bagi tubuh. Jika kepala terputus,maka matilah badan. ”Kemudian ia meninggikan suaranya,”Ketahuilah,bahwa tidak beriman orang yang tidak bersabar.”
Al-Hasan berkata ,”Sabar adalah anugerah yang tidak habis-habisnya.”
Sulaiman bin Al-Qasim berkata, ”Setiap amal perbuatan,maka pahalanya bisa diketahui kecuali sabar,karena Allah Ta’ala telah berfirman,’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.’ (Az-Zumar:10). Sabar itu seperti air yang mengalir deras.

BAB KEDELAPAN BELAS :
MASALAH-MASALAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN MUSIBAH;
MENANGIS,MERATAP,MEROBEK BAJU,DAN LAIN SEBAGAINYA

Menangisi Mayit
Madzhab Ahmad dan Abu Hanifah membolehkan menangisi mayit sebelum kematiannya dan sesudahnya.
Imam Syafi’i dan sebagian besar sahabat-sahabatnya memandangnya makruh menangisi mayit setelah kematiannya dan memberi keringanan sebelum ruh keluar dari si mayit.Mereka berhujjah dengan hadits Jabir bin Atik,
“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjenguk Abdullah bin Tsabit dan mendapatinya dalam keadaan kritis.Beliau memanggilnya,namun ia tidak memberi jawaban,lalu beliau mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun.Beliau berkata,”Kami kalah olehmu wahai Abu Ar-Rabi’.”Para wanita pun menjerit dan menangis,kemudian Ibnu Atik memerintahkan mereka diam. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam b ersabda,”Biarkan mereka.Jika ia telah wajib,maka janganlah kalian menangis lagi.” Oranhg-orang berkata,”Apa yang dimaksud dengan wajib,wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,”Kematian.” (Diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasai).

Meratapi Mayit
Ibnu Abdul Bar berkata, ”Para ulama telah mengadakan ijma’ bahwa meratap itu tidak boleh bagi laki-laki dan wanita.”
Disebutkan dalam Shahih Muslim hadits dari Abu Malik Al-Asy’ari Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  bersabda,
“Ada empat perkara dalam umatku yang merupakan perkara jahiliyah yang belum mereka tinggalkan;berbangga diri dengan keturunan,mencela nasab,meminta air kepada bintang,dan meratap.” Beliau juga bersabda, ”Wanita yang meratap,jika ia tidak bertaubat sebelum meninggal dunia,maka ia dibangkitkan pada hari kiamat dengan memakai jubah dari ter dan baju besi dari kulit.” (Diriwayatkan Muslim).
Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim hadits dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu,bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Bukan termasuk golongan kami orang yang memukul pipi,merobek baju,dan mengatakan ucapan jahiliyah.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).


BAB KESEMBILAN BELAS:
SABAR ADALAH SEPAROH IMAN

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkata, ”Iman adalah dua paroh;separoh sabar dan separoh syukur.Oleh karena itu,Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatukan sabar dan syukur dalam surat Ibrahim:5, Asy-Syura:33, Aba’:19, dan Luqman:31,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sabar dan bersyukur.”
Ada beberapa alasan mengenai pembagian tersebut;
  • Pertama,bahwa iman adalah kata yang menghimpun perkataan, perbuatan,dan niat.Ia kembali kepada dua paroh;mengerjakan dan meninggalkan.Mengerjakan adalah melakukan ketaatan kepada Allah.Itulah hakikat syukur.Dan meninggalkan ialah bersabar dari maksiat.Sedang agama,maka ia dalam dua hal ini;mngerjakan hal-hal yang diperintahkan,dan meninggalkan hal-hal yang dilarang.
  • Kedua, bahwa iman dibangun di atas dua pilar;keyakinan dan kesabaran.Kedua pilar tersebut disebutkan dalam firman Allah Ta’ala, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah:24).
  • Ketiga, bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan.Perkataan adalah mencakup perkataan hati dan lisan,dan perbuatan ialah mencakup perbuatan hati dan anggota badan.Barangsiapa mengenal Allah dengan hatinya,dan tidak mengakui dengan lisannya,maka ia tidak dikatakan orang beriman,seperti difirmankan Allah tentang kaumnya Fir’aun, “Dan mereka mengingkarinya karena kedzaliman dan kesombongan(mereka),padahal mereka meyakininya.” (An-Naml:14).
Begitu juga orang yang lisannya mengatakan apa yang tidak ada dalam hatinya,ia juga tidak dinamakan orang beriman,hingga ia melakukan pekerjaan hati yaitu cinta,marah,setia,dan memusuhi, mencintai Allah dan Rasul-Nya, setia kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh-Nya, menyerahkan diri dengan hatinya kepada Allah saja, iitiba’ kepada Rasul-Nya, taat kepadanya,dan konsisten dengan syariat-Nya secara lahir dan batin.Jika ia mengerjakan itu semua,keimanannya tidak sempurna hingga ia mengerjakan apa saja yang diperintahkan kepadanya. Jadi iman menjadi dua paroh;Pertama,sabar.Kedua hasil dari kesabaran yaitu ilmu dan amal perbuatan.\
  • Keempat, bahwa jiwa mempunyai dua kekuatan;kekuatan untuk maju(ofensif) dan kekuatan untuk menghadang (defensif). Jiwa selalu berputar pada kedua kekuatan tersebut.Ia maju terhadap apa yang disukainya,dan menolak apa saja yang tidak disukainya. Sementara itu, agama itu secara keseluruhan adalah maju dan mundur.Maju pada ketaatan,dan mundur dari maksiat kepada Allah.Dan masing-masing dari keduanya tidak dapat diperoleh kecuali dengan sabar.
  • Kelima, agama secara umum adalah berharap dan cemas.Orang Mukmin adalah orang yang cinta dan benci.Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam kebaikan-kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas.” (Al-Anbiya’:90).
Jadi Anda tidak melihat seorang Mukmin,melainkan dia orang yang berharap dan cemas.Berharap dan cemas ini tidak bisa tegak kecuali di atas batang sabar.Harapan itu membawa orang Mukmin kepada sabar, dan kecemasannya menghusungnya kepada syukur.
  • Keenam, sesungguhnya apa saja yang dikerjakan seorang hamba di dunia tidak keluar dari apa yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat,atau apa yang merugikannya di dunia dan akhirat, bermanfaat baginya di salah satu negeri,dan merugikannya di negeri satunya.Jadi mengerjakan apa saja yang  bermanfaat baginya adalah syukur,dan meninggalkan apa saja yang merugikannya adalah sabar.
  • Ketujuh, bahwa seseorang tidak terlepas dari perintah yang harus ia kerjakan, larangan yang harus ia tinggalkan,dan takdir yang terjadi padanya. Kewajibannya terhadap tiga hal tersebut ialah bersabar dan bersyukur. Jadi mengerjakan apa saja yang diperintahkan adalah syukur. Meninggalkan apa saja yang dilarang adalah bersabar dan terhadap takdir adalah sabar.
  • Kedelapan, sesungguhnya dalam diri seorang hamba terdapat dua penyeru;penyeru yang mengajaknya kepada dunia, syahwatnya, dan kelezatannya, dan penyeru yang mengajaknya kepada Allah, negeri akhirat, dan apa saja yang telah disiapkan Allah di dalamnya berupa kenikmatan yang abadi. Jadi ketidakpatuhannya terhadap penyeru syahwat dan hawa nafsu adalah sabar,dan responnya kepada penyeru Allah dan negeri akhirat adalah syukur.
  • Kesembilan, sesungguhnya agama,porosnya adalah dua hal; tekad dan tegar. Keduanya adalah dua prinsip yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, dan An-Nasai dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Ya Allah,aku memohon kepadamu ketegaran dalam perintah, dan tekad kuat dalam petunjuk.” (Diriwayatkan Ahmad dan An-Nasai).
Akar syukur ialah tekad yang benar, dan akar sabar ialah kekuatan ketegaran. Jika seorang hamba didukung dengan tekad kuat dan tegar,sungguh ia telah didukung dengan pertolongan dan petunjuk.
  • Kesepuluh, sesungguhnya agama itu dibangun di atas dua landasan;kebenaran dan kesabaran.Keduanya telah disebutkan Allah Ta’ala dalam firman-Nya,
“Dan nasihat menasihat supaya mentaati kebenaran, dan nasihat menasihati menetapi kesabaran.” (Al-Ashr:3).
Karena yang dituntut pada seorang hamba adalah merealisir kebenaran pada dirinya dan orang lain, maka itulah hakikat syukur, dan tidak mampu melaksanakannya dengan optimal kecuali dengan bersabar terhadapnya. Jadi sabar adalah separoh iman,wallahua’lam.


BAB KEDUA PULUH:
PERBEDAAN PENDAPAT MANUSIA TENTANG MANA YANG
LEBIH BAIK ANTARA SABAR DENGAN SYUKUR

Abu Al-Faraj bin Al-Jauzi berkata,ada tiga pendapat dalam hal ini; 
Pertama,s abar lebih baik daripada syukur. 
Kedua,syukur lebih baik daripada sabar.
Ketiga,keduanya sama,seperti dikatakan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, “Seandainya sabar dan syukur itu dua unta, maka aku tidak peduli mana diantara keduanya yang aku naiki.”

BAB KEDUA PULUH SATU:
PEMBAHASAN TENTANG KEDUA KELOMPOK  DAN KATA PEMUNGKAS TENTANG KEDUANYA

Syukur seorang hamba berputar di atas tiga tiang dan ia tidak dinamakan orang yang bersyukur melainkan dengan ketiga tiang tersebut ;
Pertama,pengakuannya akan nikmat Allah padanya.
Kedua, sanjungannya kepada Allah atas nikmat tersebut.
Ketiga,menggunakan nikmat tersebut dalam keridhaan-Nya
Ada yang berkata, syukur ialah mengetahui ketidakmampuan diri untuk melakukan syukur.Ada yang berkata,syukur ialah mengerahkan segenap tenaga dalam mentaati Allah.
Jika telah dipahami,bahwa kekayaan dan kemiskinan,sakit dan kesehatan adalah ujian dan cobaan dari Allah kepada hamba-Nya, dan bahwa dengan itu semua,Allah menguji kesabaran hamba dan kesyukurannya,maka bisa diketahui,bahwa sabar dan syukur ialah pemberian iman,iman tidak dibangun kecuali di atas keduanya,setiap orang Mukmin harus memiliki salah satu dari keduanya,dan masing-masing dari keduanya adalah lebih baik dari yang lain pada tempatnya masing-masing.
Sabar pada tempatnya adalah lebih baik dari syukur,dan syukur pada tempatnya adalah lebih baik dari sabar.
Jiwa itu mempunyai dua kekuatan;Pertama,kekuatan sabar,menahan dan mengendalikan diri.Kedua, kekuatan memberi,mengerjakan kebaikan,dan keinginan mengerjakan apa saja yang membuat dirinya sempurna
Manusia dalam hal ini terbagi ke dalam empat tingkatan;manusia yang paling tinggi tingkatannya ialah orang yang terkumpul padanya kedua kekuatan di atas dan manusia yang paling rendah tingkatannya ialah yang tidak memiliki kedua kekuatan tersebut. Di antara manusia,ada orang yang kesabarannya lebih sempurna daripada kekuatan mengerjakan perbuatan yang baik,dan memberi. Dan di antara manusia ada orang yang sebaliknya.

BAB KEDUA PULUH DUA :
PERBEDAAN PENDAPAT MANUSIA TENTANG MANA YANG LEBIH BAIK ANTARA ORANG KAYA YANG BERSYUKUR DENGAN ORANG MISKIN YANG BERSABAR,DAN PENDAPAT YANG BENAR DALAM MASALAH INI

Permasalan inilah yang seringkali diperdebatkan antara orang-orang kaya dengan orang-orang miskin.Masing-masing kelompok berhujjah terhdap kelompok lain dengan dalil yang tidak bisa ditolak;dari Al-Qur’an,Sunnah,atsar,dan ibrah.
Firman Allah Ta’ala, “Mereka itulah yang dibalasi dengan martabat yang tinggi karena kesabaran mereka.”  (Al-Furqan:75).
Muhammad bin Ali bin Al-Husain berkata, ”Yang dimaksud dengan kata al-ghurfah pada ayat diatas ialah surga karena kesabaran mereka terhadap kemiskinan di dunia.”
Al-Qur’an juga menyebutkan pahala bagi orang-orang yang bersyukur,
“Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran:145).
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya tentang permasalan ini, ia menjawab, ”Banyak ulama khalaf berbeda pendapat mengenai orang kaya yang bersyukur dan orang miskin yang sabar,manakah yang paling baik di antara keduanya? Sekelompok ulama dan hamba-hamba Allah memilih orang yang kaya yang bersyukur lebih baik daripada orang miskin yang sabar dan sekelompok ulama dan hamba-hamba Allah lainnya memilih orang miskin yang sabar lebih baik daripada orang kaya yang bersyukur. Kelompok ketiga berkata,masing-masing kelompok tidak memiliki kelebihan atas kelompok lainnya kecuali dengan takwa. Jika iman dan takwa kedua kelompok sama,maka keduanya sama-sama terbaik. ”Kata Ibnu Taimiyah lebih lanjut, ”Pendapat terakhir inilah yang paling benar,karena nash-nash Al-Kitab dan Sunnah menyatakan,bahwa kelebihan itu dengan iman dan takwa.Allah Ta’ala berfirman,
“Jika ia kaya atau miskin,maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.” (An-Nisa’:135).

BAB KEDUA PULUH TIGA:
HUJJAH ORANG-ORANG MISKIN DARI AL-QUR,AN, SUNNAH, ATSAR, DAN , IBRAH

Orang-orang miskin berkata,Allah Subhanahu wa a’ala tidak menyebutkan orang kaya,dan harta di dalam Al-Aqur’an kecuali dalam salah satu dari konteks-konteks berikut;
  • Pertama, konteks mencela,seperti firman Allah Ta’ala, “Ketahuilah,sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas. Karena ia melihat dirinya serba cukup.” (Al-Alaq:6-7).
  • Kedua, Allah menyebutnya dalam konteks ujian dan cobaan, “Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan, di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (At-Taghabun:15).
  • Ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan,bahwa harta dan anak-anak sedikit pun tidak mendekatkan pemiliknya kepada-Nya dan yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya dan yang bisa mendekatkan diri kepada-Nya hanyalah iman dan amal perbuatan yang shalih,
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan anak-anak kalian yang mendekatkan kalian kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih,mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan, dan mereka aman sentausa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (Saba’: 37).
  • Keempat, penjelasan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa dunia,orang kaya,dan harta dijadikan Allah sebagai kesenangan bagi orang yang tidak mendapatkan pahala di akhirat, dan bahwa akhirat Dia sediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka,sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai  mereka dengannya,dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha:131).
  • Kelima,Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyebutkan orang-orang yang mewah dan orang-orang kaya,melainkan dalam konteks mencela,seperti firman-Nya, “Sesungguhnya mereka sebelum itu hidup bermewah-mewah.” (Al-Waqiah:45).
  • Keenam, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela pecinta harta.Allah Ta’ala berfirman, “Dan kalian memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan(yang halal dan yang batil).Dan kalian mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (Al-Fajr:19-20)
  • Ketujuh, sesungguhnya Allah Subhanahu Ta’ala mencela orang yang mengharapkan dunia,dan harta yang banyak di dunia.Sebaliknya,Dia memuji orang yang berbeda dengan mereka dan menentang mereka.Allah Ta’ala berfirman tentang orang paling kaya(Qarun) pada zamannya, “Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya, berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, ’Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang diberikan kepada Qarun,sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntunghan yang besar.’ Berkatalah orang-orang yang dianugerahi imu, ‘Kecelakaan yang besar bagi kalian,pahala  Allah itu lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal shalih, dan tidak diperoleh pahala tersebut kecuali oleh orang-orang yang sabar’.” (Al-Qashash:79-80).
  • Kedelapan, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menolak asumsi orang bahwa kemuliaan itu dengan harta yang dibutuhkan sebagai modal untuk menduduki kursi kerajaan. Allah Ta’ala berfirman, “Nabi mereka berkata kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripada dia, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak.’ (Nabi mereka) berkata,’Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’” (Al-Baqarah:147).

Pada ayat di atas, Allah menolak perkataan mereka dan menjelaskan bahwa kemuliaan itu tidak dengan harta seperti yang mereka asumsikan,namun dengan ilmu.Allah berfirman,
“Katakanlah,’Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya,hendaklah dengan itu mereka bergembira.Karunia Allah dan rahmat-Nya  itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus:58).
Karunia Allah dan rahmat-Nya ialah ilmu,iman, dan Al-Qur’an,sedang apa yang mereka kumpulkan ialah harta bunda dan sarana-sarananya .
  • Kesembilan,sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa persaingan dalam mengumpulkan harta,dan lain sebagainya adalah melalaikan manusia dan melupakan mereka dari negeri akhirat dan persiapan untuknya.Allah juga mengancam perbuatan tersebut.Allah Ta’ala berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian. Sampai kalian masuk ke dalam kubur.Janganlah begitu,kelak kalian akan mengetahui.Janganlah begitu,jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.”  (At-Takatsur:1-4)

BAB KEDUA PULUH EMPAT :
HUJJAH ORANG-ORANG KAYA DARI AL-QUR’AN,SUNNAH ,ATSAR DAN IBRAH

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Kitab-Nya memuji banyak sekali amal perbuatan,dan menyanjung para pelakunya. Kesemua amal perbuatan tersebut tidak terjadi kecuali pada orang kaya seperti zakat, berinfak di pos-pos kebaikan, jihad di jalan Allah dengan   kekayaan, mempersiapkan perbekalan pasukan, membantu orang yang membutuhkan, memerdekakan budak, memberi makan pada saat paceklik terjadi.
Orang-orang kaya berkata, kekayaan dengan syukur adalah tambahan karunia dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman, “Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Al-Baqarah:105).
Disebutkan dalam Shahih Ibnu Khuzaimah hadits dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menyebutkan tentang bulan Ramadhan,kemudian beliau bersabda, “Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka itu adalah ampunan bagi dosa-dosanya, dan membebaskan lehernya dari neraka, serta ia mendapatkan pahala sebesar pahalanya (orang yang berpuasa) tanpa mengurangi sedikit pun dari pahalanya.”
Jadi orang kaya yang bersyukur mendapatkan pahala puasanya, dan pahala sebesar pahala orang yang berpuasa yang ia beri makan untuk berbuka puasa.
Diriwayatkan An-Nadhr bin Syamil dari Qurrah, dari Sa’id bin Al-Musayyib yang berkata,bahwa ia berkata dari Umar bin Khaththab yang berkata, ”Dikisahkan, bahwa amal-amal shalih saling membanggakan dirinya.Sedekah berkata, “Akulah yang terbaik dari kalian (amal-amal shalih yang lain).”
Orang-orang kaya berkata, sedekah adalah pembenteng seseorang dari neraka, dan orang yang bersedekah dengan diam-diam pada hari kiamat berteduh dengan sedekahnya di bawah naungan Allah.
Amr bin Al-Harits dan Yazid bin Abu Habib meriwayatkan dari Abu Al-Khair dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, “Sesungguhnya sedekah itu pasti mematikan panasnya kubur bagi penghuninya, dan sesungguhnya seorang Mukmin pada hari Kiamat berteduh di bawah naungan sedekahnya.”
Disebutkan dalam hadits Mu’adz dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
“Dan sedekah itu mematikan kesalahan sebagaimana air mematikan api.” (Diriwayatkan At-Tirmidzi,Ibnu Majah dan Ahmad).
Al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari Abu Yusuf Al-Qadhi dari Al-Mukhtar bin Fulful dari Anas dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, “Bersegeralah melakukan sedekah,karena musibah itu tidak bisa melewati sedekah,”

BAB KEDUA PULUH LIMA:
HAL-HAL YANG BERTENTANGAN DENGAN SABAR

Karena sabar ialah menahan lisan dari mengadu kepada selain Allah, menahan hati dari marah,dan menahan organ tubuh dari menampar pipi, merobek-robek baju, dan lain sebagainya, maka apa saja yang bertentangan dengan sabar juga terjadi pada ketiga bagian diatas.
Diriwayatkan dalam atsar,bahwa orang sakit,jika ia memulai dengan memuji Allah kemudian ia menceritakan keadaan dirinya,maka itu tidak dikatakan mengeluh.
Imam Ahmad berkata,bahwa berkata kepada kami Kahmas dari Abdullah bin Syaqiq yang berkata,bahwa Ka’ab Al-Ahbar berkata, ”Sesungguhnya di antara perbuatan yang baik ialah membersihkan pembicaraan dan di antara perbuatan yang buruk ialah tahdzif.” Ditanyakan kepada Abdullah, “Apa yang dimaksud dengan membersihkan pembicaraan?” Abdullah menjawab ”Yaitu ucapan subhanahu wa bihamdihi di sela-sela pembicaraan.” Ditanyakan lagi ,”Apa yang dimaksud dengan tahszif” Abdullah menjawab, ”Yaitu manusia pada suatu pagi berada dalam kebaikan.Namun ketika mereka ditanya,mereka menjawab bahwa tidak dalam kebaikan.”
Hammad bin Salamah berkata dari Ali bin Zaid dari Yusuf bin Mahran dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
“Apa saja yang berasal dari mata dan hati,maka itu berasal dari Allah dan rahmat.Apa saja yang berasal dari tangan dan lisan, maka berasal dari syetan.” (Diriwayatkan Ahmad).
Di hal-hal lain yang mencoreng sabar ialah memperlihatkan musibah,dan mebicarakannya.Merahasiakan musibah adalah akar kesabaran.
Hal lain yang bertentangan dengan sabar yaitu berkeluh kesah , yaitu sedih ketika mendapatkan musibah dan tidak memberi ketika mendapatkan nikmat.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya manusia diciptakan berkeluh kesah dan kikir. Apabila ia ditimpa musibah,ia berkeluh kesah.Dan apabila ia mendapatkan kebaikan,ia amat kikir.” (Al-Ma’arij:18-20).

BAB KEDUA PULUH ENAM:
MASUKNYA SABAR DAN SYUKUR KE DALAM SIFAT-SIFAT ALLAH DAN PENAMAAN ALLAH SEBAGAI DZAT YANG MAHA PENYABAR DAN MAHA MENSYUKURI

Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari  dan Shahih Muslim hadits dari Al-Masy dari Sa’id bin Jubair dari Abu Abdurrahman As-Sulami dari Abu Musa dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
“Tidak ada seorang pun yang lebih bersabar terhadap kata-kata menyakitkan yang didengarnya daripada Allah Azza wa Jalla. Mereka menuduh-Nya mempunyai anak, padahal Allah yang memberi mereka kesehatan dan rezki.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim).
Di antara Nama-nama Allah yang agung ialah Ash-Shabur(Yang Mahasabar). Kata tersebut lebih sempurna daripada kata Ash-Shabir atau Ash-Shabbar.Kesabaran Allah Ta’ala tidaklah sama dengan kesabaran makhluk dan tidak bisa dibandingkan dengannya apa pun alasannya. Di antara perbedaannya,bahwa kesabaran Allah itu berasal dari kemampuan yang sempurna. Perbedaan lain bahwa Allah tidak mengkhawatirkan tidak mendapatkan bantuan.Sedang manusia, maka ketakutan membuatnya meminta bantuan.Perbedaan lain bahwa kesabaran-Nya tidak menimbulkan sakit, kesedihan,dan kekurangan. Kemunculan pengaruh Nama tersebut di dunia bisa dilihat oleh mata seperti kemunculan Nama-Nya yang lain yaitu Al-Halim (Yang Maha mengendalikan diri).

Perbedaan antara sabar dengan pengendalian diri (Al-Hilmu), ialah bahwa sabar adalah hasil dari pengendalian diri(Al-Hilmu). Bobot Al-Hilmu(pengendaliab diri) itu berbanding lurus dengan bobot sabar.Al-Hilmu dalam Sifat-sifat Allah Ta’ala lebih luas daripada sifat sabar. Oleh karena itu, Nama Allah yaitu Al-Halim (Yang Maha Mengendalikan diri) disebutkan di dalam Al-Qur’an tidak hanya dalam satu ayat. Dan juga karena saking luasnya Allah Subhanahu wa Ta’ala menggabungkan Nama-Nya Al-Halim dengan Nama-Nya yang lain yaitu Al-Alim seperti dalam firman-Nya,
“Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengendalikan diri.” (Al-Ahzab:51).
“Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengendalikan diri.” (An-Nisa’:12).

Sesungguhnya manusia mengendalikan diri karena ketidaktahuannya dan memaafkan karena ketikdakmampuannya.Sedang Allah Ta’ala, Dia mengendalikan diri dengan kesempurnaan ilmu-Nya dan memaafkan dengan kesempurnaan kemampuannya.

Adapun kesabaran Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia terkait dengan kekafiran hamba-hamba-Nya, kesyirikan mereka, cacian mereka terhadap-Nya, berbagai macam maksiat mereka dan kejahatan mereka. Itu semua tidak membuat-Nya buru-buru menurunkan siksa kepada mereka, namun Dia bersabar terhadap hamba-Nya,memberi kelonggaran waktu kepada mereka,menyuruh mereka memperbaiki diri, bersikap lemah lembut kepada mereka, dan santun kepada mereka hingga ketika tidak tersisa pada-Nya tempat untuk bersikap diam, tidak tepat kalau Dia masih memberi kelonggaran waktu, bersikap lemah lembut, bersikap santun, dan hamba tersebut tidak bertaubat kepada Tuhannya serta menghadap kepada-Nya tidak dari pintu kebaikan dan nikmat, tidak pula dari pintu ujian dan musibah, maka Allah menyiksanya sebagai adzab dari Yang Mahaperkasa setelah sebelumnya memberi nasihat kepadanya dan mengajaknya kepada-Nya dari semua pintu. Ini semua adalah tuntutan sifat pengendalian diri Allah dan sifat tersebut adalah sifat asli Allah yang tidak hilang.

Adapun sabar, maka jika variabelnya telah hilang, maka ia sama seperti semua perbuatan-perbuatan yang ada karena keberadaan hikmah dan hilang karena hilangnya hikmah,maka renungkanlah hal ini!
Adapun penamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan Asy-Syakur (Yang Maha Mensyukuri), maka ini disebutkan dalam hadits Abu Hurairah dan di dalam Al-Qur’an, Allah dinamakan Asy-Syakir (Yang Maha Mensyukuri).Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (An-Nisa’:147).
“Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengendalikan Diri.” (At-Taghabun:17).
“Sesungguhnya ini adalah balasan untuk kalian dan usaha kalian adalah disyukuri.”  (Al-Insan:17).
Pada ayat di atas, Allah menggabungkan untuk mereka dua hal; bahwa Allah mensyukuri(menerima) usaha mereka dan memberi balasan atas usaha mereka. 
Allah Ta’ala mensyukuri (menerima) hamba-Nya jika ia taat kepada-Nya dengan baik dan mengampuninya jika ia bertaubat kepada-Nya. Jadi Allah mengumpulkan dua hal untuk seorang hamba, yaitu syukur-Nya (penerimaan-Nya) karena kebaikannya, dan ampunan-Nya karena kejahatannya.Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Mensyukuri.

PENUTUP

Hai orang yang bertekad bepergian kepada Allah dan negeri akhirat, sungguh ilmu telah diangkat darimu, maka bersungguh-sungguhlah kepada-Nya dan jadikan perjalananmu itu di antara memperhatikan nikmat-nikmat-Nya dan mengakui kekurangan diri, dan amal perbuatan.Pengakuan akan nikmat dan dosa tidak menyisakan bagi orang yang berilmu selain kebaikan.

Apalah arti amal perbuatanmu, seandainya amal perbuatan tersebut diantar untuk dihapus dengan salah satu nikmat terendah yang diberikan kepadamu? Anda tergadaikan dengan mensyukurinya sejak nikmat tersebut diberikan kepada Anda. Apakah Anda memelihara nikmat tersebut dengan pemeliharaan yang sebaik-baiknya ketika nikmat tersebut berada dalam pengaturan Anda dan pengendalian kedua tangan Anda?

Maka bergantunglah kepada tali harapan dan masuklah dari pintu taubat dan amal shalih, karena Allah adalah Maha Pengampun dan Maha Mensyukuri!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar