Jumat, 08 Agustus 2014

Lisa Vogl Membuat Dokumenter Jilbaba, Hidayah Menyapa



Lisa Vogl.

Islam membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Jika tidak meninggalkan peker jaannya sebagai pegawai bank dan mendalami ketertarikannya di dunia fotografi, Lisa Vogl mungkin tak akan menemukan cahaya Islam. Begitulah alur perkenalan perempuan 31 tahun ini dengan agama samawi ini. Berniat membuat tugas videografi tentang jilbab, Lisa justru tertarik mendalami Islam.

Padahal, Lisa begitu akrab disapa, besar dalam keluarga Kristiani. Secara keseluruhan, keluarga tidak ter la lu religius, tapi ibu Lisa sangat memer hatikan spiritualitas. Seperti itulah Lisa dibesarkan.

Ia menuturkan kisah perjalanan hidupnya. Saat berusia 18 tahun, Lisa masuk kampus perempuan, Chatham College, Pittsburgh, Negara Bagian Pennsylvania, Ame rika Serikat. Ia memilih aktif di klub softball.Setahun perta ma berkuliah, ia lantas memilih cuti selama satu tahun.Ia sem pat magang di bebe rapa tempat, antara lain, Disney World, sembari bekerja di tempat lain.

Dari uang yang ia kumpulkan, sosok yang besar di East Lansing, Michigan, AS, ini melancong ke berbagai wilayah dunia untuk mengenal aneka budaya. Tak disangka, perjalanan yang dilakukan sulung dari enam bersaudara ini tak hanya meninggalkan kesan tentang budaya bangsa lain, tapi juga cahaya Islam di hatinya.

Maroko menjadi destinasi petualangannya. Selama tiga bulan berada di Maroko, ia tinggal bersama warga lokal di ruangan dengan luas sekitar 200 meter persegi. Mereka makan dan tidur di ruangan yang sama.Tak ada air panas, tak ada kamar mandi yang memadai. Untuk bertahan hidup, ia mengajar bahasa Inggris di American Language Center. Di sinilah titik balik kehidupannya bermula. Ma roko merupakan pengalaman paling menak jubkan dan berkesan dalam hidupnya.

Sadar atau tidak, perjalanan Lisa ke Maroko itu pulalah yang turut menyum bang pandangannya soal perempuan di masyarakat. Kesan itu ia tuangkan ketika menulis ihwal perempuan dan eksploitasinya di dunia Barat sebagai tugas wajib akhir kuliah.

Berhenti Lulus kuliah, ia mendapat pekerjaan di sebuah bank di Chicago. Meski ia tidak tahu bekerja dengan sistem berbunga adalah haram dalam Islam, ia merasakan kebimbangan. `'Tapi, saya merasa hati saya tidak senang bekerja di sana," ungkap Lisa seperti dikutip laman aquila-style.com.

Lisa memutuskan berhenti. Ia memulai karier yang ia dipandang lebih sejalan dengan minatnya, yakni fotografi. Ia bahkan sengaja mengikuti kuliah fotografi di Daytona State University, Florida, untuk mengasah minatnya tersebut.Tahun pertama kuliah, ia mendapat tugas membuat video di kelas videografi.Tugasnya sederhana, membuat video dokumenter singkat tentang satu topik atau objek yang diminati.

Muncul ide di benak Lisa mengangkat tema tentang jilbab guna memenuhi tugas kuliahnya. Gagasan tersebut mencuat ketika ia aktif di kegiatan amal lokal, Project Downtown, yang memberi makan an para tunawisma setiap Ahad di masjid kota. Selama menjalani aktivitas sosialnya tersebut, ia berkerudung. Keru dung, bagi Lisa, bukan hal asing. Ia telah terbiasa sejak di Maroko meski motifnya sekadar menghormati tradisi warga lokal di Maroko.

Gayung bersambut, Lisa memulai dengan mewawancarai Nadine Abu Jubbara, rekan kerjanya di Project Downtown.Meski tanpa ia sadari, sentuhan hidayah telah begitu dekat dari hatinya.Berbagai pertanyaan ia sodorkan un tuk Nadine. Jawaban demi jawaban membuka pintu hati Lisa ihwal alasan Muslimah berhijab."Hijab dalam Islam sebagai pelindung dan penghormatan perempuan,"kata Lisa yang kini tinggal di Las Cruce, Negara Bagian New Mexico, AS, bersama suami dan ibu mertuanya.Hatinya tergerak. Rasa penasarannya memuncak.

Lisa menelusuri ayat-ayat Alquran tentang hijab. Ia semakin tertarik mempelajari Islam. Ia menemui sejumlah ulama, melihat video ceramah mereka di Youtube, dan menelaah Alquran lebih menyeluruh.

Selama sembilan bulan, ia juga sempat membandingkan dua kitab suci, Alkitab dan Alquran. Ada beberapa kesamaan, tetapi keduanya tetap berbeda. Injil telah beberapa kali diubah, sementara Alquran tidak demikian.

Syahadat Akhirnya, pada Jumat, 29 Juli 2011, sebelum Ramadhan, Lisa Vogl meng ikrarkan dirinya sebagai Muslimah. Ia me rasa kan berkah yang amat sangat betapa hidupnya mengalami perubahan.

Keluarganya tidak keberatan dengan keputusannya itu. Tapi, saat Lisa mulai berjilbab, ibunya merasa `kehilangan' putri kesayangannya. Dengan jil bab, ber arti Lisa tidak hanya menunjukkan identitasnya sebagai Muslimah di depan keluarganya, tapi kepada semua orang.

Lisa mencoba menjelaskan kepada keluarganya menggunakan jilbab justru merupakan keberkahan dan menjadi jalan akwahnya. Penjelasan ini juga yang Lisa sampaikan kepada mereka yang bertanya mengapa ia berjilbab.Berbagai inspirasi Lewat video yang ia buat tentang jilbab, ia berharap bisa berbagi inspirasi yang sama melalui ketertarikannyanya di bidang fotografi.

Beberapa Muslimah yang lebih senior dari Lisa bahkan mengaku terinspirasi segera berjilbab usai berkaca pada Lisa.
Bagaimanapun, meski bukan Muslimah sejak lahir, ia tetap berjilbab ke manapun pergi.

Lisa juga tidak menutup mata atas beragam penilaian orang-orang di seki tar nya soal jilbab yang ia kenakan. Ia hanya berkeyakinan perubahan hanya bisa dirasakan dengan menghadapinya.

"Sebagai Muslim, kita harus berupaya mengubah perspektif buruk tentang jilbab itu,'' tutur Lisa.Setelah merasakan nikmatnya hida yah, Lisa berbagi nasihat bagi saudara Muslim. Pertama, jangan pernah takut menunjukkan jati diri. Jika seorang Mus lim bangga dengan keislamannya, orang lain akan menghormati.Kedua, jilbab adalah bentuk dakwah.

Perempuan lebih berpeluang dibanding laki-laki untuk menyebarkan Islam lewat busana yang dipakai. `'Kita gunakan kesempatan dan berkah itu untuk menunjukkan Islam,'' ajak Lisa.Dan, sebagai Muslim, tak ada alasan berhenti mengejar mimpi dan cita-cita.

Setelah semua yang ia lewati, ia bersyukur meninggalkan banyak hal dan memilih fotografi yang justru mem pertemukannya dengan Islam.


Alana Blockley , Liburan Membawa Hidayah

Pemberitaan media cukup memengaruhi pandangan Alana Blockley tentang Islam.Kesan yang melekat di benaknya, agama ini suka kekerasan, pria boleh memukul wanita, dan wanita hanya dikungkung di rumah.

Tapi, stigma miring itu kontras dengan apa yang dilihatnya langsung selama berkenalan dengan orang Islam sewaktu berlibur musim panas ke Fuerteventura di Kepulauan Canary, Spanyol, usai lulus sekolah pada usia 18 tahun.

Meski rencananya berlibur selama enam pekan gagal akibat badai debu di Canary, selama liburan dua pekan dan berinteraksi dengan komunitas Muslim di sana, penilaiannya tentang risalah samawi ini berubah. Banyak hal kecil yang membuatnya tertarik terhadap Islam.Kehidupan Muslim jujur dan sederhana.

Muslim tidak minum alkohol, berhati-hati dengan makanan, dan hal-hal keseharian lain. Ia takjub ketika teman Muslim yang ia kenal mengembalikan uang kembalian yang berlebih kepada pemiliknya.

Peristiwa demi peristiwa yang ia alami itu mendorongnya menggali lebih jauh tentang Islam, termasuk tentang pribadi Rasulullah SAW, malaikat, hidup setelah mati. Konsep-konsep Islam yang ia temukan ternyata cocok dengan keyakinannya yang terpendam selama ini, jauh sebelum ia mengenal Islam. Seperti apakah kisah lengkap perjalanan spiritual gadis yang akrab disapa Alana ini? Simak penuturannya di rubrik "Oase" edisi yang akan datang.  rep:Fuji Pratiwi ed: nashih nashrullah



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar