Senin, 04 Agustus 2014

Doktrin Agama Menyatukan Yahudi





Jika berbicara soal keturunan Bani Israil modern, tentu tak bisa lepas dari sepak terjang sebagian kalangan Yahudi, terutama dalam upaya pencaplokan tanah Palestina melalui berbagai gerakan, terutama zionisme.

Sekalipun, Yahudi belum tentu pendukung zionisme, tetapi mereka dipertemukan dalam satu benang merah yang sama, yakni bagaimana agar kejayaan agama dengan berbagai mitosnya, seperti Kuil Solomon dan tanah yang dijanjikan, bisa terealisasikan.

Agak sedikit canggung membicarakan isu pencaplokan tanah Palestina dari aspek teologi saja. Sebab, ini bisa sangat simplistis alias terlalu menyederhanakan masalah, hanya soal urusan “agama an sich”. Bagaimanapun, masalah pendudukan Israel atas Palestina adalah isu kemanusiaan, melintasi batas-batas agama, bangsa, dan suku.

Namun, diakui atau tidak, kita tidak bisa terhindar dari aspek yang satu ini, yakni doktrin agama. Laju Israel dan zionisme bisa sangat signifikan dalam menjajah Palestina karena satu alasan, yakni doktrin agama! 

Jagat Purbawati dalam catatannya atas terjemahan karya Prof Paul W Van Der Veur yang berjudul Freemasonry di Indonesia menyebutkan, melalui kekuatan tersembunyi yang berdiri pada 37 M yang lantas diberi nama Free Masonry oleh Forum London pada 1717, sembilan pendeta Yahudi mendirikan gerakan ini untuk menghancurkan agama Kristen sebagai balas dendam dari berita al-Masih tentang kehancuran Haikal Sulaiman. Ini dengan harapan melangsungkan kehidupan Yahudi dan memperbarui bentuk bangunan yang sudah rusak.

Inilah yang menurut hemat saya menjadi inspirasi penulisan buku monumental karya almarhum Prof Muhammad Sayyid Thanthawi, mantan grand syekh al-Azhar Mesir, yang berjudul Bani Israil fi al-Quran wa as-Sunnah. Seakan Syekh Thanthawi hendak mengisyaratkan bahwa interaksi apa pun dengan Israil lihatlah perspektif Alquran dan sunah serta jangan lupakan sejarah.

Dalam bukunya tersebut memang Thanthawi sempat menuai kritikan. Hal itu biasa dalam dinamika keilmuan dan topik ini di luar kapasitas saya untuk berkomentar. Melalui karyanya ini, Thantawi menjelaskan berbagai hal yang menyangkut Bani Israil, berdasarkan Alquran dan sunah, dan tentu fakta sejarah.

Di antara subbab yang ia uraikan ialah mengenai karakter-karakter negatif yang identik dengan Bani Israil. Ada banyak, tetapi yang menjadi konsentrasi pada tulisan ini adalah soal watak mereka yang gemar ingkar janji. Meski watak tersebut tidak bisa digeneralisasi, hal itu cukup menjadi patokan umum
Ada banyak dalil Alquran yang menegaskan karakter mereka ini, antara lain surah al-Baqarah ayat 83-84.

Di ayat yang pertama, sebagian Bani Israil dikisahkan melanggar perjanjian berupa tidak menyembah selain Allah SWT, berbuat kebaikanlah kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.

Janji berikutnya yakni mengucapkan kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat, dan tunaikanlah zakat. “Dan kamu selalu berpaling,” tertulis dalam pengujung ayat 83. Sedangkan di ayat berikutnya, Bani Israil berjanji untuk tidak saling membunuh. Tetapi, janji itu diabaikan.

Thanthawi pun berkomentar, uraian Alquran tentang Bani Israil berkorelasi secara tegas dengan karakter masa lalu dan masa kini. Ini pertanda jelas bahwa sikap anti-Islam yang ditujukan oleh sebagian kalangan Yahudi terhadap Islam merupakan warisan buruk dari nenek moyang mereka.

Hipotesis Thanthawi sangat berdasar tentunya. Berbagai upaya perjanjian perdamaian yang dilangsungkan antara Israel dan Palestina selalu kandas. Konferensi Madrid yang dihelat pada 1991 adalah upaya multilateral akhirnya gagal.

Ada pula Perjanjian Oslo I pada 1993. Kesepakatan Oslo menyetujui pemerintahan mandiri rakyat Palestina atas wilayah Gaza, Jericho, dan Tepi Barat melalui pembentukan Otoritas Palestina dengan Yasser Arafat sebagai pemimpinnya.

Pembentukan Otoritas Palestina secara langsung membatalkan Deklarasi Kemerdekaan Palestina pada 1988 di Aljazair, yang tidak pernah diakui oleh PBB tersebut. Tidak terhenti di sini tentunya, berbagai inisiatif damai dengan Israel selalu menemui jalan buntu.

Isu Palestina memang tak bisa terlepas dari doktrin agama. Ironisnya, justru terkadang pendekatan yang sama (doktrin agama) kurang begitu menyentuh oleh para penentu kebijakan, tak terkecuali para pemimpin Arab.

Bangsa Yahudi di seluruh dunia disatukan oleh satu asa yang kental dengan nuansa teologi, mitos Haikal Sulaiman, tanah yang dijanjikan, dan manusia pilihan (choosen people). Sementara, doktrin agama Islam sendiri tak pernah berhasil menyatukan miliaran Muslim guna merebut kembali Palestina dari cengkeraman Zionis Israel. 



Oleh: Nashih Nashrullah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar