Jumat, 16 Oktober 2009

Cinta Dunia


Oleh : Imam Al-Ghazali

Cinta dunia adalah pangkal dari segala dosa. Dunia tidaklah sama dengan harta dan tahta saja. Harta dan tahta hanyalah bagian terkecil dari kehidupan dunia yang amat luas itu. Kehidupan dunia adalah kondisi obyektif Anda sebelum meninggalkan dunia. Sedangkan akhirat adalah kondisi obyektif

Anda setelah meninggal. Apa pun isi kehidupan yang Anda hadapi sebelum meninggal, maka itu adalah kehidupan dunia, kecuali ilmu pengetahuan, ma’rifat dan kebebasan. Kehidupan duniawi itu amat variatif.

Apa yang ada setelah kematian, juga merupakan wahana kenikmatan, bagi yang memiliki matahati. Tetapi wahana setelah meninggal itu bukanlah dunia, walaupun muncul di dunia. Bagian-bagian duniawi tersebut saling terkait satu sama lain, berkaitan pula dengan upaya perbaikan kerja Anda, yang kembali pada harta-benda yang ada dan bagian Anda di dalamnya, serta kesibukan Anda untuk memperbaikinya.

Yang berupa harta-benda (materi) adalah bumi beserta isinya. Allah swt. berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya...” (Q.s. Al-Kahfi: 7).


Kepentingan manusia terhadap bumi itu pun bervariasi, bergantung pada sisi bumi itu sendiri. Tanahnya secara umum dimanfaatkan oleh manusia sebagai tempat tinggal dan kebun. Tetumbuhannya sebagai obat dan makanan. Barang tambangnya sebagai sumber devisa, bahan-bahan produksi dan berbagai peralatan. Sedangkan binatang-binatang difungsikan sebagai alat kendaraan dan bahan makanan. Adapun manusia itu sendiri berperan sebagai khalifah Allah yang bertugas memakmurkan bumi dengan melakukan berbagai kebajikan dan mengembangkan keturunan. Semua itu telah terhimpun dalam firman Allah swt.:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak...” (Q.s. Ali Imran: 14).


Sedangkan bagian duniawi Anda di muka bumi, telah diungkapkan Al-Qur’an melalui kata “hawa nafsu”.
Allah swt. berfirman: “... dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya ...”
(Q.s. An-Nazi’at: 40).

Kemudian sebagai rincian terhadap ayat tersebut, Allah swt. berfirman pula:
“... Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permaianan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak...” (Q.s. Al.-Hadid: 20).


Di balik semua itu berbagai ancaman terselubung terhadap batin, berupa kedengkian, kesombongan, riya’, hipokrit, berfoya-foya, cinta dunia dan gila sanjungan. Semua itu adalah dunia batin. Sementara kekayaan fisik adalah dunia lahiriah. Kesibukan Anda untuk memakmurkan dan mengolah dunia melalui industri dan profesi, yang membuat manusia sibuk sehingga lupa diri, lupa prinsip dan kehilangan makna hidup, semata karena kelelapan mereka terhadap kesibukan duniawi itu.

Kesibukan itu muncul akibat dua kaitan: ketergantungan hati karena cinta dunianya, dan ketergantungan fisik dengan sibuk mengolahnya.
Itulah hakikat dunia, yang -apabila -mencintainya merupakan pangkal dari segala dosa. Padahal dunia diciptakan semata sebagai bekal menuju akhirat. Hanya saja gemerlap dunia itu seringkali membuat orang tersesat sehingga lupa pada tujuan hidupnya sebagai musafir menuju alam akhir. Ibarat pemula yang menunaikan ibadat haji, dia pasti disibukkan dengan segala persiapan dan perbekalan maupun perlengkapan kendaraannya, sehingga akhirnya dia pun tertinggal oleh rombongannya dan gagal menunaikan ibadat haji, malah dimangsa oleh binatang buas di padang pasir.

Itulah dunia yang tercela dan yang menghancurkan. Padahal substansinya adalah ladang akhirat. Kehidupan dunia merupakan salah satu fase perjalanan menuju Allah swt. Ia ibarat perumahan yang dibangun di tengah jalan. Di situ segala bekal perjalanan dipersiapkan dan disimpan. Siapa pun yang mempersiapkan dan mengambil bekal perjalanannya di situ sekadar kebutuhan, seperti bekal makanan, pakaian, menikah dan kebutuhan lain, maka la benar-benar menanam tanaman dan akan dipetiknya kelak di akhirat. Tetapi, barangsiapa melebihi batas dalam mengambil bekal dan terlena olehnya, maka dia bakal binasa.

Hidup di dunia, ibarat suatu kaum yang mengendarai sebuah kapal. Di suatu pulau, kapal itu berlabuh. Para awak kapal menyuruh penumpang turun untuk melihat-lihat kondisi alam di pulau tersebut dan sekaligus memenuhi hajat yang diperlukan. Akan tetapi, mereka diliputi kekhawatiran tertinggal oleh kapal dan tempatnya diambil alih orang lain. Maka, reaksi mereka pun berbeda-beda satu sama lain. Ada yang segera turun dan memenuhi hajat kebutuhannya, lalu segera kembali ke kapal sehingga mendapatkan tempat yang luas dan masih kosong. Ada yang terlena menyaksikan panorama pulau itu, sehingga terlambat naik ke kapal dan akibatnya dia pun tidak mendapatkan tempat yang cukup luas untuk dirinya berikut buah tangan yang dibawanya. Karenanya, buah tangannya itu terpaksa dipikul di atas bahunya hingga ke tempat tujuan.
Dan bahkan ada yang amat terlena hingga masuk ke dalam belantara yang berpanorama sangat indah, terpesona oleh keindahan bunga-bunga, tidak ingat ancaman binatang buas, keganasan alam, dan sebagainya. Ketika tiba di pantai, dia mendapatkan bahwa dirinya ternyata tertinggal seorang diri di tepi pantai. Selang beberapa saat kemudian datanglah binatang buas dan binatang berbisa yang siap memangsanya.

Demikianlah ilustrasi kehidupan di alam dunia bila dikaitkan dengan kehidupan akhirat. Cobalah kita renungkan!

Orang yang mengenal dirinya sendiri, akan mengenal Tuhannya. Siapa yang mengenal perhiasan dunia dan mengenal akhirat, maka la akan menyaksikan dengan cahaya jiwa, betapa kehidupan dunia itu bertentangan dengan kehidupan akhirat. Salah satunya adalah, bahwa seseorang tidak akan mencapai kebahagiaan di akhirat, kecuali jika menghadap Allah swt. dengan ma’rifat dan mahabbah kepada-Nya. Dan mahabbah tidak akan bisa dicapai, kecuali dengan melanggengkan dzikir.

Demikian pula ma’rifat kepada-Nya tidak akan teraih, kecuali dengan terus “mencari” dan “berpikir”. Dan keduanya tidak dapat dilakukan, kecuali menghindarkan diri dari kesibukan duniawi. Sebab, cinta dan ma’rifat kepada Allah tidak akan pernah bersandar di hati, kecuali bila hati itu sendiri terlepas dari rasa cinta kepada selain Allah swt. Dan teosofi seperti ini hanya dapat dihampiri oleh orang-orang yang tergolong ahli bashirah. Jika Anda memiliki matahati (bashirah), Anda adalah ahli rasa (dzauq) dan musyahadah. Bila Anda tidak mungkin seperti mereka, cukuplah Anda menjadi kelompok taqlid dan ahli iman saja. Namun perhatikan peringatan Allah dalam Al-Qur’an dan AsSunnah.

Allah swt. berfirman:

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna...” (Q.s. Hud:15).

“Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat...”
(Q.s. An-Nahl: 107).

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia...”
(Q.s. An-Nazi’at: 37-8).

Sepertiga dari Al-Qur’an, ayat-ayatnya mengecam dunia dan para pengabdi dunia.
Rasulullah saw bersabda:
“Sesungguhnya dunia itu dilaknat, berikut segenap isinya juga dilaknat, kecuali jika disertai untuk tujuan kepada Allah swt.” (Al-Hadits).

“Dunia adalah manisan hijau. Dan Allah mengangkat kamu sebagai khalifah di atasnya, dan Dia menyaksikan bagaimana cara kamu bekerja.” (Al-Hadits).

“Sesungguhnya Allah tidak menciptakan suatu makhluk yang paling dibenci-Nya, melebihi dunia. Semenjak diciptakan, Dia tidak pernah memandangnya.” (Al-Hadits).

Sabdanya pula, “Barangsiapa di waktu paginya menjadikan dunia sebagai cita-cita utama, dia tidak akan mendapatkan apa pun dari Allah swt. Justru Dia akan senantiasa menyiksa hatinya dengan empat perkara: Kesusahan yang tidak ada putus-putusnya, kesibukan yang tiada akhirnya, kemiskinan yang tiada mencapai kekayaannya, dan angan-angan yang tidak akan pernah sampai tujuannya selama-lamanya. “
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dia berkata,
“Rasulullah saw bersabda, ‘Hai Abu Hurairah, maukah kamu bila kuperlihatkan dunia secara keseluruhan?’Aku menjawab, `Ya.’

Lalu beliau memegang tanganku dan menjulurkannya ke tempat sampah yang di dalamnya terdapat tengkorak kepala manusia, kotoran, kain lusuh dan tulang-belulang. Kemudian beliau bersabda, ‘Hai Abu Hurairah, kepala-kepala (tengkorak) ini adalah ketamakan dan angan-angan manusia, kini ia telah menjadi tulang tanpa kulit dan akan menjadi debu. Sedangkan kotoran ini adalah aneka makanan yang dimakan dan hasil usaha manusia, yang kemudian mereka buang dari perutnya, sehingga mereka saling menjaganya. Dan kain lusuh ini adalah pakaian mereka yang dicerai-beraikan oleh hembusan angin. Sedang tulang-belulang ini adalah tulang-belulang binatang yang mereka cari dan pelihara sampai ke berbagai penjuru. Barangsiapa menangisi dunia, maka menangislah!”

Dalam hadits lain beliau bersabda, “Kelak pada hari Kiamat akan datang suatu kaum yang amal perbuatan mereka seperti Gunung Tihamah; tetapi mereka digiring ke neraka.”Para sahabat berkata, “Termasuk orang yang mengerjakan salat wahai Rasulullah?” Nabi saw. menjawab, “Ya, mereka salat, puasa dan bangun di sebagian tengah malam. Dan bila ditawarkan nilai dunia, maka mereka sama-sama bergegas merebutnya.”

Nabi Isa as. menegaskan, “Cinta pada dunia dan juga pada akhirat tidak bisa menempati hati seorang Mukmin, seperti air dan api tidak bisa berada pada satu tempat.”

Rasulullah saw bersabda, “Waspadalah terhadap dunia, karena lebih dini daripada Malaikat Harut dan Marut.”

Nabi Isa as. bersabda, “Wahai Hawariyun, relakanlah dirimu mendekati dunia disertai keselamatan agama, sebagaimana penghuni dunia rela mendekati agama disertai keselamatan dunia.”

Diriwayatkan, bahwa Isa as. diperlihatkan substansi dunia dengan gambaran wanita tua yang buruk rupa, walaupun diberi perhiasan macam-macam. Isa as. berkata, “Berapa kali engkau menikah?”Wanita tua itu menjawab, `Aku tidak bisa menghitung suami-suamiku.” Isa as. bertanya lag’, “Mereka menceraikan kamu atau kamu ditinggal mati mereka?” Wanita itu berkata, “Kubunuh semuanya.” Isa as. berkata, “Sungguh mengejutkan sekali, suami-suamimu yang terakhir, mengapa mereka tidak mengambil pelajaran pada suami-suami terdahulu?”

Perlu Anda ketahui, orang yang menyangka bahwa memakai pakaian dunia pada badannya, sementara hatinya tetap sunyi dari dunia, berarti orang tersebut tertipu. Sebab Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan orang yang cinta pada dunia ibarat orang yang berjalan di atas air. Dapatkah orang berjalan di atas air, kakinya tidak basah?” (Al-Hadits).

Suatu ketika Ali bin Abi Thalib r.a. berkirim surat kepada Salman Al-Farisi r.a, “Dunia itu laksana ular, halus disentuh, tetapi bisanya membahayakan. Berpalinglah dari dunia yang mengagumkan diri Anda, karena Anda bersahabat sedikit dengannya; letakkan segala kegelisahan dunia, karena Anda yakin akan berpisah dengannya; jadilah diri Anda sebagai orang yang senang dengan apa adanya, karena lebih waspada dari bahayanya; sebab, pemilik dunia ketika merasa tentram la akan dikejutkan oleh sesuatu yang dibencinya.”

Nabi Isa as. berkata, “Dunia ibarat orang yang minum air laut, semakin banyak semakin terasa haus, sehingga membinasakan diri sendiri.” Ketahuilah, orang yang merasa tentram pada dunia dengan keyakinannya, bahwa la telah lari dari dunia, itu tergolong orang yang sombong.

Dunia, bahkan, seperti rumah yang disiapkan pemiliknya, dihiasi untuk menerima tamu-tamu yang datang. Kemudian la memasuki salah satu rumahnya, lalu disodorkan mangkuk emas berisi dupa yang harum, agar la mencium baunya.Dupa itu dibiarkan untuk orang-orang yang menemuinya, tetapi tidak untuk dimiliki. Tetapi, pikirannya bodoh, orang tersebut menyangka dupa dan mangkuk emas itu diberikan kepadanya. Ketika hatinya mulai berhasrat la menuntut, lalu la gelisah dan rakus. Kalau saja la cerdas dan mengetahui pasti la cukup mengambil manfaatnya, dan berterima kasih, lalu mengembalikannya dengan hati yang bersih dan dada yang lapang.

Begitu pula Sunnatullah di dunia. Dunia adalah rumah jamuan bagi orang yang lewat. Bahkan rumah para penghuni, agar orang-orang yang lewat memanfaatkan mengambil bekal perjalanan, seperti pemanfaatan barang pinjaman. Kemudian dipindahkan kepada orang berikutnya dengan hati yang lapang tanpa ada ketergantungan hati terhadap apa yang beralih dari tangannya. Bukannya seperti orang yang menyesal ketika dunianya berakhir ke tangan orang lain.

http://www.sufinews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=397:cinta-dunia&catid=85:artikel&Itemid=281

Tidak ada komentar:

Posting Komentar