Kamis, 10 Juni 2010

Aku Hanya Berharap Ada Kavling Surga di Salah Satu Kaki Ibu

“Aku berharap, dari kedua telapak kakinya yang masih tinggal satu ini, masih ada kavling surga bagiku.”

Hidayatullah.com--Bagi sebagian orang, ujian adalah sesuatu hal yang sulit diterima. Apalagi, jika ujian tersebut pelik, dan datang silih berganti. Tetapi, bagi saya tak ada ujian, yang ada hanyalah proses tarbiyah (pendidikan) dari Allah untuk hamba-Nya. Saya mencoba untuk menerima setiap ujian dengan selalu berbaik sangka pada-Nya.

Seperti yang terjadi dalam kehidupan keluargaku. Seolah tak pernah sepi dari terpaan ujian. Terutama yang menimpa ibuku. Sejak kecil, ibuku ditinggal pergi kedua orangtuanya, kakek-nekekku. Praktis, untuk menghidupi kebutuhan hidup, dia harus mati-matian bekerja. Dari jualan keliling sampai kerja di tempat orang. Karena sibuk kerja, sampai-sampai tak sempat mengenyam pendidikan di sekolah.

Ketika menginjak usia sekitar 15 tahun, dia hijrah ke Lampung. Tanah Jawa, tempat dia lahir ditinggalkan. Ia hijrahnya untuk mengadu nasib. Di tempat baru, tak ada teman dan sanak saudara. Lalu, dia bekerja membantu orang. Dia sempat menikah dan dikaruniai empat orang anak.

Naasnya, ayahku, melepas tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Berbulan-bulan tidak memberi nafkah keluarga. Dia pergi entah kemana. Usut punya usut, ayah, ternyata telah menikah lagi. Semenjak itulah, ibuku memutuskan untuk bercerai.

Dari perceraian itu, ibu lebih fokus membesarkan empat anaknya. Sambil membuka warteg kecil-kecilan dan modal seadanya, ibu berjualan nasi pecel dan makanan ringan. Saya bisa merasakan beban berat sebagai seorang orantua tunggal mengurusi keempat anak. Meski begitu, ia tetap menjalaninya dengan ikhlas. Tak ada kata-kata mengeluh dan putus asa. Setiap hari, hanya ada kata semangat dan optimisme yang tinggi. Begitulah dia mengajarkan pada kami, anak-anaknya.

Allah memang sayang. Usaha ibuku pelan-pelan berjalan lancar. Setiap hari, warteg ibuku ramai pembeli. Dari situ ibuku menyimpan setiap laba untuk meningkatkan usahanya. Usaha ibuku pun makin besar. Bisa membeli rumah bahkan membeli mobil.

Sayang, nasib baik itu tak bertahan terlalu lama. Ibarat roda yang berputar, ibuku kembali berada di bawah. Petaka itu muncul ketika ibuku memutuskan untuk menikah lagi. Alkisah, ada seorang lelaki yang setiap hari menawari akan menikahinya. Niatnya, katanya, ingin membantu mengurusi keluarga. Sangat lama ibu berfikir masalah ini. Namun, karena terus didesak, akhirnya ia luluh juga. Ibu pun setuju dan menikah.

Ternyata, apa yang dikatakan suami barunya itu bohong belaka. Bukannya ikut membantu meringankan beban ibu, justru menguras harta ibuku. Harta ibu ludes diambil. Mobil dan rumah sudah tidak ada lagi.

Dari pernikahan itu, lahirlah aku. Tapi Ayah, dari lahir hingga aku dewasa, tidak pernah memberikan sentuhan kasih sayangnya kepadku. Kewajiban seorang ayah mendidik dan memberi nafkah tidak pernah dia berikan. Aku hidup terasa tanpa ayah. Ternyata, ayahku menikahi ibu hanya menginginkan hartanya saja. Setelah harta ludes, ditinggal pergi, dan menikah lagi dengan perempuan lain.

Musibah itu..

Sungguh satu hal yang tak bisa aku temukan pada banyak wanita adalah melihat ibuku. Ia begitu sabar dan tabah. Ia tidak menyerah begitu saja dengan takdir. Semangat mengurusi kelima anaknya juga masih menggelora. Dengan sisa-sisa modal dia mulai berjuang lagi. Sayang, di usianya yang terus bertambah, fisiknya tak lagi kuat seperti dulu. Tanganya yang kekar dan ototnya yang besar kini mulai melemah. Keriput di kedua belah pipinya juga terlihat jelas. Meski demikian, demi anak-anaknya ibu tetap bekerja. Tak kenal waktu. Siang dan malam tetap bekerja. Baginya tak ada kata lelah.

Sebagaimana hukum alam, semuanya ada masanya. Dan, ibuku tak bisa menolak hal itu. Meski semangatnya masih berkobar, dia tidak bisa mencegah tubuhnya yang semakin rapuh. Hingga suatu ketika, di tahun 2004, di jempol kaki kanannya tumbuh sebuah benjolan kecil. Tanpa berfikir panjang, benjolan tersebut diiris dan ditusuk menggunakan jarum.

Tak beberapa lama setelah luka di kakinya mengering, rupanya timbul masalah baru. Bekas irisan tersebut berdampak baru bagi tubuhnya. Dokter yang memeriksa mengabarkan, ia, menderita diabetes. Gula darahnya mendadak naik 500. Karena takut menjalar, kaki ibuku harus diamputasi.

Kini, wanita yang paling aku hormati itu sudah tak lagi memiliki kaki sebelah. Padahal, kaki tersebut yang selama ini menemaninya dan menghadapi pahit-getirnya kehidupan.

Praktis, hari-harinya, dia habiskan di atas kursi roda.

Tak berhenti di situ, awal 2008, gula darah ibuku turun menjadi 40. Dia pun koma hingga tak sadarkan diri selama satu minggu. Ketika sadar, kondisi fisiknya sangat lemas. Awal september 2009, ibu kembali koma selama tiga hari. Gula darahnya hanya 50. Namun, Allah memberinya kesembuhan.

Kisah kesedihan rupanya masih terus menyertai ibuku. Rumah yang selama ini ditempatinya untuk membesarkan anak-anaknya, diambil sang pemilik. Bukan apa-apa, pasalnya, selama ini kami hanya disuruh tinggal dan merawat rumah tersebut selama beberapa tahun. Tak pelak, kita pun tinggal dikontrakan.

Subhanallah, hebatnya, ibu melarang kami semua berputus asa. Dalam keadaan seperti ini dia masih menyuruh saya sabar dan tabah. Bagi kami, ia benar-benar bak pahlawan. Lebih dari itu dia adalah inspirasi bagiku. Inspirasi dan penyemangat hidup.

Berharap Surga


Kini, tatkala semua saudara besarku telah hidup sendiri-sendiri dengan keluarganya masing-masing, saya ingin tetap menemani ibuku sampai batas waktu yang tidak ditentukkan, kecuali hanya Allah yang tahu. Meski tak memiliki banyak keahlian, saya akan berjuang dengan sekuat tenaga menemaninya.

Sementara ini, yang bisa saya lakukan hanya mengajar ngaji Al-Quran di sebuah masjid. Tidak hanya itu, saya juga mengajar bahasa Inggris di sebuah pesantren di Lampung dan sebuah sekolah MTS swasta.

Agar mendapatkan tambahan biaya hidup, saya pun mengajar les pelajaran sekolah ke rumah-rumah. Semua honor yang didapat saya gunakan untuk keperluan ibuku dan kebutuhan sehari-hari.

Kini, umurku memasuki 23 tahun, sebuah masa senang-senangnya mengejar cita-cita. Tapi, saya harus mengabaikan dahulu cita-citaku. Setiap pagi, saya harus memandikan, menyuapin dan membawanya keluar sekedar jalan-jalan kecil mencari sinar matahari.

Hal yang tidak pernah saya lewatkan adalah selalu membimbingnya berzikir. Memotivasi hidup serta mengatakan bahwa sakit adalah bentuk kasih sayang Allah.

Tak hanya itu, usai mengajar, setelah zuhur, saya kembali menyuapinnya. Memijat-mijat kaki kanannya, salah satu karunia Allah yang kini masih tersisa. Saat itu pula saya bimbing dia mengucapkan kalimat-kalimat tauhid. Saya ingin, meski tubuhnya sakit, tapi jiwa dan imannya sehat. Sehingga semangat hidup akan selalu berkobar dalam hidupnya. Begitu juga di malam hari, saya suapi dia dan ajak dia mengucap kalimat tauhid. Demikian setiap hari saya lakukan.

Meski sibuk mencari nafkah dan mengurusi ibu, saya tetap giat belajar. Saat ini saya berada pada tahap akhir kuliah di perguruan tinggi negeri dan sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah. Index prestasi komulatif (IPK)-ku juga cukup besar, 3.7. Selama kuliah, beberapa kali menjadi asisten dosen.

Saya menilai, ujian ini adalah anugerah dari Allah. Ada tujuan yang Allah selipkan di balik tiap ujian tersebut. Karena itu, saya bukan menyebutnya ujian, tetapi proses tarbiyah keimanan dan kesabaran dari Allah. Pada diriku, dan saya juga bilang ke ibu, Allah tidak akan memberi ‘pendidikan’ itu kecuali sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.

“Laa yukallifullahu nafsan illa wus’aha,” demikian dalam sebuah ayat dalam Al Quran. Dan ayat ini yang senantiasa saya pegang. Di setiap shalat, tak pernah aku lupakan untuk berdoa; “Ya Allah, kuatkanlah kesabaran dalam menghadapi ini semua, terkhusus pada ibuku.”

Dalam tarbiyah ini, saya sangat yakin. Nanti, suatu saat, entah itu kapan, pasti ada kemudahan. Entah kemudahan itu ada di dunia ataukah di surga. Saya sangat yakin akan janji Allah dalam Al Quran. “Inna ma’al ‘Usri yusro.” (Sesungguhnya, dalam setiap kesusahan, pasti ada kemudahan).

Jika ada yang bertanya, “Siapakah orang yang paling berharga dalam hidupku? Jawabnya adalah ibuku. Karena itu, saya pun berazam untuk mengabdikan hidupku kepadanya. Saya berharap, dari kedua telapak kakinya yang masih tinggal satu ini, masih ada kavling surga bagiku. [Kisah ini diceritakan Abdullah, kepada wartawan hidayatullah.com]

http://www.hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/11165-aku-hanya-berharap-ada-kavling-surga-di-salah-satu-kaki-ibu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar